Ruang check in keberangkatan penumpang, Stasiun Senen

Sebenarnya saya belum sembuh total dari sakit typus yang menyerang saya sehingga terkapar istirahat total di kos selama seminggu, plus pemulihan juga sekitar seminggu. Tapi saat mendapat undangan ke luar daerah, rasa sakit itu sekejap menghilang. Walau harus bangun jam 1 dinihari, nggak masalah. Semua dijalani dengan sukacita dan rasa bahagia.

Walau sudah bangun dari jam 01.00, tapi karena kereta berangkat pukul 06.45. Saya tidak buru-buru berangkat ke Stasiun Senen. Sambil menunggu azan subuh, saya membenahi peralatan yang akan saya bawa. Setelah selesai, rehat sejenak. Tak lama kemudian azan subuhpun terdengar memanggil dari masjid dekat rumah. Selesai shalat subuh saya lalu memesan ojek online. Tak lama menunggu ojeknyapun datang. Melewati jalanan yang masih sepi, kamipun menembus pagi yang dingin itu menuju stasiun Senen.

Ruang pencetakan tiket mandiri

Memasuki stasiun Senen yang tampilannya sudah berubah total sejak beberapa tahun belakangan ini, menimbulkan inspirasi buat saya untuk mengabadikannya dengan kamera saya. Melalui duet yang cantik antara kamera Canon DSLR dan Smartphone Lenovo P70 A yang berkemampuan 13 MP, saya mengambil foto dari beberapa sudut stasiun. Kesibukan petugas yang mulai aktif dengan mulai berdatangannya kereta malam dari arah timur, memperlihatkan geliat stasiun pagi itu. Penumpang yang bermalam di stasiun, baik diruang tunggu maupun yang di teras depan mulai bangun, bersiap dan berkemas hendak menuju alamat masing-masing. Saya sendiri begitu datang  tidak lupa mencetak tiket yang sudah dibelikan sponsor, di tempat pencetakan tiket kereta api di stasiun Senen tersebut. Saya dapat tiket rangkaian kereta Gajahwong menuju Yogyakarta, saya berangkat sendiri dan sponsor saya sudah menunggu di sana.

Ruang pemesanan/penjualan tiket

Sambil berpindah-pindah untuk mengabadikan suasana stasiun pagi itu, mata saya sebentar-sebentar melirik ke LED runing text yang bertuliskan kereta yang akan berangkat saat itu. Saya juga memasang telinga saya baik-baik saat ada pengumuman kedatangan dan keberangkatan kereta ke dan dari stasiun Senen. Saya berusaha fokus untuk mendengarkan pengumuman itu karena suara anouncer laki-laki yang menyampaikan pemberitahuannya tidak jelas tengah mengatakan apa. Nampaknya pemilihan warna suara announcer tidak diselaraskan dengan sound system yang ada. Suara anouncer laki-laki yang bernada rendah dipaksakan untuk menyampaikan pengumuman melalui soundsystem yang juga disetting lebih condong ke nada rendah, atau bahasa operator soundsystem menyebutnya ngebass. Sehingga apa yang disampaikan melalui penguat suara itu menjadi tidak efektif karena kedengarannya seperti orang bergumam. Saya lalu merekam saat ada pemberitahuan berikutnya disampaikan, kemudian lalu memutar ulang rekaman tersebut, namun tetap saja saya tidak bisa mengetahui pengumuman apa yg tengah disampaikan.

Peron tempat menaikkan menurunkan penumpang

Setali tiga uang dengan itu, pemberitahuan kereta apa yang tengah menunggu penumpang dan akan berangkat, juga rancu. Kerancuan nya terletak pada LED running text-nya yang tulisannya cukup besar dan terang serta kelihatan dari jauh hanya menampilkan satu nama kereta dengan tujuan sama yaitu Tawang Semarang  dan tidak pernah berganti. Saat saya menunjukkan tiket Gajahwong saya kepada petugas menanyakan kapan datang atau berangkatnya, sang petugas malah mengatakan bahwa keretanya sudah berangkat lima menit yang lalu.

Ruang tunggu keberangkatan

Saya akui karena keasyikan memotret suasana stasiun, saya jadi terlambat menunjukkan tiket saya pukul 06.50, sementara kereta berangkat pukul 06.45 busyet dah…. Gara-gara terlalu percaya dengan tehnologi modern yang ditampilkan melalui melalui LED running text-nya yang ternyata tidak diimbangi dengan sumberdaya manusia yang mengoperasikannya, untuk mengganti nama kereta maupun tujuannya pada setiap jadwalnya, akhirnya hanguslah tiket Gajahwong yang berada di tangan saya. Rupanya nama kereta yg akan berangkat itu masih memakai cara manual dengan memakai papan yang diletakkan di atas pintu masuk penumpang yang ukurannya jauh lebih kecil dari ukuran LED running text yang berada di bagian depan pintu.

Ruang Check in bagasi

Tanpa berfikir panjang lagi saya lalu menuju loket penjualan tiket, dan menanyakan kereta jurusan Yogya. Petugas loket lalu menyebutkan nama keretanya dan mengatakan jam berangkatnya yang ternyata siang nanti.
“Apa tidak ada yang lebih cepat, yang berangkat pagi ini?
“Ada pak Sawunggalih, tapi hanya sampai Kutoarjo, nanti dari sana bapak menyambung kereta lagi ke Yogya”. Kata petugas penjual tiket. Saya lalu menerima solusi yang ditawarkannya, membeli tiket baru. Saat mengetahui usia saya sudah lebih 60 tahun, sipetugas loket lalu mengatakan kalau saya dapat diskon 20 persen dengan melampirkan fotocopy KTP. Karena tidak mempunyai fotocopy KTP, dia lalu menunjukkan dimana saya bisa minta bantuan foto copy.

Ruag tunggu yang diberi fasilitas buat mencharge baterai HP

Setelah tiket di tangan, saya lalu kembali ke depan ruang keberangkatan, menunggu lebih satu jam sambil sarapan roti, sambil memperhatikan petugas mengganti papan nama kereta secara manual lalu menggantungkannya di bagian atas pintu masuk penumpang. Saya tidak mau tiket saya hangus dua kali dan gagal bertemu dengan sponsor saya yg sudah menunggu di sana. Sementara itu LED running text-nya masih bertuliskan kereta yang akan berangkat tujuan Semarang, Tawang. Bah… modernisasi tanpa persiapan matang.

Teras stasiun yang juga sering dipakai untuk istirahat bagi penumpang kereta yang kemaalaman, selain di ruang tunggu

 

Koridor ini juga sering dipakai untuk istirahat bagai penumpang yang kemalaman


read more