Hasil Karya Bertahun-tahun Hilang Begitu Saja

1985–1987

Begitu saya diterima bekerja di sebuah perusahaan pengeboran minyak bumi yang berkantor di gedung Ratu Plaza, Jakarta. Saya menempati ruang kerja berukuran 3×3 meter bersama seorang teman yang juga berprofesi sebagai fotografer.

Selain meja kerja dan perlengkapan kantor lainnya, saya juga diberi sebuah lemari arsip yang semuanya terbuat dari besi, untuk menyimpan arsip foto dan film hasil karya saya dan teman pada setiap acara kantor dan juga kegiatan operasional di lapangan minyak perusahaan yang berada di pulau Sumatera yaitu Bangkinang, Lirik, Pendopo, Jene, Palembang dan Tabuan.

Karena tinggal di rumah kontrakan sederhana yang juga rawan banjir di daerah Kalideres, akhirnya saya juga menyimpan arsip foto-foto pribadi di lemari arsip kantor tersebut.

Pertengahan 1986, kantor melakukan pembersihan. Karena ruangan kantor sudah terlalu padat dengan berbagai file, buku, buletin maupun majalah. Maka pihak manajemen memerintahkan agar semua file yang masih berupa kertas itu disimpan di gudang perusahaan yang berada di jalan Senopati yang berjarak sekitar 300 meter dari gedung Ratu Plaza.

Diantara arsip-arsip yang disuruh pindahkan tersebut, adalah juga arsip-arsip foto maupun film negatif maupun film positif atau slide. Sehingga lemari arsip di ruangan saya tersebut nyaris kosong, kecuali foto-foto terbaru yang masih dibutuhkan untuk penerbitan buletin bulanan maupun majalah perusahaan yang terbit 2 kali setahun.

Karena berfikir kalau arsip-arsip tersebut masih bisa diambil saat dibutuhkan, saya juga mengikutkan arsip-arsip foto dan film negatif pribadi saya dimasukkan ke dalam kotak karton, bergabung dengan arsip kantor dan ikut digotong ke gudang Senopati.

Saat kontrak saya habis tahun 1987, saya harus mengemasi semua barang-barang pribadi yang juga ada di kantor. Saat saya datang ke gudang di Senopati, saya kaget, karena puluhan karton-karton yang berisi arsip-arsip lama dari berbagai departemen perusahaan tersebut, bertumpuk bercampur aduk, sehingga sulit untuk diperiksa satu persatu karena ukurannya yang sebesar karton rokok Gudang Garam. Bagaimana mau memeriksa dan memindahkannya. Jangankan di angkat, digeser saja susah karena beratnya tumpukan kertas yang berada di dalam karton tersebut.

Dengan perasaan penuh penyesalan saya meninggalkan gudang tersebut. Hilanglah hasil karya selama 2 tahun lebih. Hasil dari berbagai pemotretan acara maupun traveling saya ke beberapa daerah di Sumatera maupun Jawa. Penyesalan yang harus saya rasakan seumur hidup, karena begitu banyak hasil karya saya yang jadi korban dan tidak bisa saya selamatkan.

Nenek Meninggal di Hadapanku

Setelah empat orang kakakku pergi merantau, tinggallah aku di kampung bersama dengan Inan kakak tertua, bersama nenek yang semenjak umi pergi dan tak kembali, selalu sakit-sakitan dan tak pernah bangun dari tempat tidur.

Semenjak etek dan keluarganya membangun rumah baru di sudut rumah gadang yang lebih dekat ke jalan, walaupun belum pindah kesana, tapi etek bersama anaknya Fitrizal sehari-hari berada disana. Memasak sekaligus mengawasi tukang yang bekerja, menyediakan bila ada bahan yang dibutuhkan. Mereka baru kembali ke rumah gadang bila hari telah sore menjelang magrib, saat tukang telah pulang kerumahnya.

Sejak itu aku tinggal sendirian di rumah gadang, bermain sendiri tanpa ada yang menemani, menunggui nenek yang lagi sakit-sakitan. Kakakku melarang aku bermain ke luar rumah, karena harus selalu menjagai nenek, kalau dia membutuhkan apa-apa. Sementara kakakku sibuk dengan bekerja ke kebun di sekeliling rumah atau ke ladang, pergi mengais rejeki untuk menyambung hidup kami bertiga.

Di umurku yang enam tahun aku tidak tahu apa penyakit nenekku, keluarga kami hanya mengatakan bahwa beliau sakit tua, karena umurnya yang memang sudah lanjut. Tapi aku merasakan penyakit nenek semakin parah semenjak umi tak lagi ada di samping kami.

Nenek sering meracau semenjak kejadian itu, sehingga sering terlontar di mulut keluarga kami nenek sudah tere. Bila datang kumatnya, nenek selalu menyebut-nyebut nama ibuku, dan menyumpah serapahi orang-orang yang memfitnah dan yang menyebabkan kematiannya. Namun bila kesadarannnya pulih, nenek tak ada bedanya dengan nenek-nenek yang lain.

Semakin hari sakit nenek semakin parah, segalanya sudah di tempat tidur. Tidur nenek juga sudah pindah ke luar kamar. Di depan kamar di tengah ruangan rumah gadang. Itulah sebabnya aku ditugaskan oleh kakakku untuk selalu mengawasi dan menemani nenek, sehingga aku tak bisa lagi bermain di luar rumah, walau hanya sekadar di halaman rumah gadang, apalagi bermain bersama Fitrizal di rumah barunya.

Di hari meninggalnya nenek, seperti biasa aku sendirian di rumah. Etek bersama anaknya Fitrizal sudah pergi kerumah barunya. Kakakkupun sudah turun ke bawah, memasak di dapur yang berada di belakang rumah gadang.

Kondisi nenek yang sudah bertahun sakit dan tak pernah berobat karena keluargaku tak punya biaya, dan juga sudah berbulan-bulan tak beranjak dari tempat tidur mencapai puncaknya. Rupanya Tuhan mendengarkan do’a kami, agar nenek tidak menderita lebih lama lagi.

Aku sedang bermain di rumah gadang ketika kakakku memanggil, lalu kemudian menyuruh aku membangunkan nenek untuk makan pagi. Nenek memang sudah tidak bisa makan sendiri, beliau makan disuapi oleh kakakku. Tapi aku selalu disuruh oleh kakakku untuk membangunkan nenek bila saatnya makan telah tiba. Sehingga ketika dia sudah naik ke rumah gadang, kakakku tinggal menyuapinya.

Pertama aku membangunkannya, nenek menjawab dengan mengeluarkan suara: “uuugghhhh…!”

Setelah itu aku lalu bermain lagi, tidak jauh dari tempat nenek tidur.

“Lah jago nenek, Mi?” kedengaran suara kakakku bertanya sambil berteriak dari dapur.

Aku lalu melihat kearah nenek, rupanya nenek belum bergerak, masih seperti tadi, tidur dalam posisi miring kekiri menghadap dinding dengan posisi kaki di tekuk. Biasanya nenek kalau sudah bangun dia akan tidur menelentang, agar kakakku mudah menyuapinya.

“Nek, nenek jagolah makan lai…!” aku kembali membangunkan nenek sambil menggoyangkan badannya.

Kembali terdengar lenguhanpendek: “uugh…!” akupun menyahutinya: “ Jagolah makan lai…!”

Tak ada suara yang keluar dan tak ada lagi jawaban. Aku coba terus menggoyang badan nenek di pundaknya, diam dan membisu…!.

Nenek telah pergi menghadap Tuhannya pada lenguhannya yang terakhir dalam ketidak tahuan dan ke tidak mengertianku, bocah kecil yang belum mengerti dan belum tahu apa-apa. Di mataku hanya terlihat sosok tua yang telah letih menanggung beban kehidupan, kini sosok itu terbujur kaku dan pergi tanpa meninggalkan pesan apa-apa.

Aku lalu pergi ke pintu belakang rumah gadang, satu-satunya jalan untuk keluar masuk kadalam rumah. Dibelakang rumah gadang, di dapur aku melihat kakakku sedang memasak.

“Kak aniang sen liau di imbau, indak ado manggarik lai….” kataku memberitahu kakakku.

Kak Inan segera naik ke rumah gadang, lalu mencoba lagi untuk membangunkan nenek, hasilnya: nihil…! Nenek telah pergi untuk selamanya untuk menemui Tuhannya, memenuhi panggilanNya. Yang di sampaikan melalui malaikat Izrail. Demikian sering di ceritakan ibuku ketika beliau masih hidup dan berkumpul di tengah-tengah kami anak-anaknya.

Dalam situasi yang belum sepenuhnya di yakininya. Kakakku yang baru berusia belasan tahun itupun lalu pergi memberitahu etekku di rumah barunya, kemudian amai Uda, yang rumahnya berada di seberang jalan rumah kami. Sementara aku dalam ketidak tahuan seorang anak berumur 6 tahun, menunggu di rumah gadang, duduk di samping nenek yang telah terbujur kaku.

Akhirnya berita itu menyebar di kampung kami, Ladang Darek. Beduk di suraupun telah di bunyikan, dengan pukulan nada khusus membawa berita kematian.

Satu persatu keluarga dekat berdatangan, diikuti oleh orang-orang kampung lainnya. Aku yang tadinya duduk menunggui nenek, disuruh bermain di halaman. Hal yang tak pernah kunikmati semenjak nenek sakit dan tak beranjak dari tempat tidur. Tapi aku juga tak bisa bermain, karena suasana hatiku tidak di sana.

Setiap tamu yang datang selalu melihat kepadaku, menyapaku dan diakhiri dengan mengelus kepalaku. Karena kata mereka, mengelus kepala anak yatim adalah sunnah Nabi Muhammad, dan mereka melakukan itu padaku.

Baru kali ini pulalah aku melihat rumah gadang penuh sesak, sehingga ada yang hanya berdiri di halaman. Obrolan yang berkembang pun tak jauh dari cerita tentang nenek, umi, kakak-kakakku yang bercerai berai bagai anak ayam kehilangan induk, dan si kecil yang kini tak lagi punya siapa-siapa.

Banyaknya keluarga yang membantu, membuat proses penyelenggaraan pengurusan jenazah nenek hingga penguburan tak berlangsung lama. Nenek dimandikan dan dishalatkan di rumah gadang. Dikuburkan di pekuburan keluarga yang tak begitu jauh dari rumah. Sebelum asyar semua selesai, dan para sanak keluargapun kembali ke rumahnya masing-masing.

Ketika malam menjelang, rumah gadang kembali sepi. Tinggal kami berlima, keluarga etekku yang tidur di kamarnya bertiga dan aku dengan kakakku yang tidur di tengah rumah gadang, karena sejak nenek sakit, kami tak pernah lagi tidur di kamar..

Disamping nenek yang sudah tidak ada lagi bersama kami, hanya satu yang membedakan malam ini dengan malam-malam sebelumnya. Aroma wanginya kembang bunga rampai dan air mawar yang menyebar di sekelilng kami. Pengantar tidur dengan mata yang sulit terpejam…..

Artikel ini juga pernah dimuat di Kompasiana

https://www.kompasiana.com/diankelana/54ff1697a33311274450f8cf/nenek-meninggal-di-hadapanku

Ketika Keinginan Tak Terpenuhi

1965, Kisah yang mengandung penyesalan.

Bila teringat kisah ini, saya jadi malu sendiri, karena memang sangat memalukan, menyebalkan atau mungkin juga menyedihkan.

Saya masuk Panti Asuhan sejak awal masuk Sekolah Dasar tahun 1964 di Bunian, yang terletak di tengah kota Payakumbuh, Sumatera Barat.

Masuk tahun ajaran baru 1965, kami pindah ke asrama baru yang berada di pinggir kota Payakumbuh, di tengah kampung Padang Tiakar yang terletak 1,5 kilometer dari asrama sebelumnya.

Di Panti Asuhan yang berada dibawah pengelolaan Aisyiyah, organisasi ibu-ibu yang berada di lingkungan Muhammadiyah, yang berisi lebih dari 50 anak asuh itu, saya bertemu dengan salah seorang anak asuh wanita yang usianya beberapa tahun diatas saya, sebut saja namanya Ema yang sehari-hari saya panggil uni Ema.

Saya merasa dekat dengan uni Ema ini karena berasal dari kampung yang sama dengan saya, yang jauhnya 30 kilometer dari kota Payakumbuh.

Pada suatu ketika saya ingin sekali membeli sesuatu, yang saat ini saya sudah lupa barang apa yang saya ingin beli tersebut.

Karena tidak punya uang sebagaimana keseharian kami yang memang tak pernah punya uang jajan, saya lalu memintanya kepada uni Ema. Awalnya dia bilang tidak punya, tapi karena saya merengek sambil menangis, dia lalu memberi saya uang kertas merah 25 sen seperti pada foto yang saya tampilkan di atas.

Karena tidak cukup untuk membeli barang yang saya inginkan, saya lalu meminta lagi tambahannya dengan menangis lebih keras lagi sambil duduk menghantam-hantamkan kaki di lantai teras depan kamar asrama yang berbaris memanjang seperti rumah bedeng tersebut.

Karena memang mungkin dia tidak punya uang lagi dia tetap mengatakan tidak punya, hal itu membuat saya kesal lalu merobek-robek uang kertas 25 sen yang ada di tangan saya hingga menjadi potongan kertas kecil sehingga sulit untuk dikenali selain dari warnanya yang merah.

Karena dibiarkan lama menangis dan tidak dihiraukan, akhirnya tangisan saya berhenti sendiri, tinggal hanya isakan disertai airmata yang pelan-pelan juga berhenti mengalir.

Setelah terdiam sekian lama, pelan-pelan kesadaran saya timbul. Saya sadar kalau uni Ema itu bukanlah kakak kandung saya, kami adalah teman senasib sebagai penghuni panti asuhan ini. Teringat akan hal itu, datanglah penyesalan dalam hati yang diiringi datangnya bayangan ibu dan ayah yang telah tiada. Airmata saya kembali mengalir deras mengiringi isak tangis mengenang nasib tiada ayah dan ibu serta 5 saudara yang keberadaannya entah dimana dibawa nasibnya masing-masing.

Bila tadi tangis saya adalah tangis kemarahan karena keinginan yang tak terpenuhi, kini tangis saya adalah tangis kesedihan yang sulit untuk diungkapkan karena diiringi dengan penderitaan dan pengalaman hidup yang dijalani sejak di tinggal ibu saat usia 4 tahun, dan ditinggal ayah saat masih dalam kandungan ibu. Penyesalan susulan adalah melihat sobekan uang yang sudah tidak lagi berbentuk berserakan di sekitar saya.

Dibawah tatapan mata anak asuh lain yang melihat saya dengan tatapan dan perasaan yang tidak saya ketahui, saya lalu berjalan ke kamar, lalu tidur di kasur sambil terisak, hingga akhirnya tertidur.

Bila teringat kisah ini saya merasa berdosa terhadap uni Ema, semoga dia memaafkan adiknya yang tidak tahu diri ini.

O2 Plus Urban Pop, Hunian Millenial di Grand Wisata

O2 Plus Urban Pop, demikian Sinar Mas Land, pengembang papan atas Indonesia memberi nama produk baru mereka yang berlokasi di Grand Wisata Residensial, di kota yang berada di Timur Jakarta, Bekasi.

Peluncuran yang dilakukan kemarin tersebut yang ditayangkan secara langsung melalui IG Live 
https://www.instagram.com/grandwisata.sinarmasland/live/ sayangnya tidak bisa dinikmati secara utuh, karena adanya gangguan suara yang hilang timbul, karena menggunakan direct sound HP yang melakukan siaran langsung. Mudah-mudahan saja para undangan khusus yang menikmati siaran ini melalui zoom bisa menikmatinya dengan lebih baik.

Sebagaimana tema yang dipilih, produk baru ini memang didesain dengan memperhitungkan gaya dan selera para millenial. Disamping Anda hanya tinggal angkat koper, karena semua sudah tersedia, furnishing lengkap, ruang kerja, kamar tidur, ruang makan maupun dapur, semua sudah tinggal pakai.

Begitu lengkapnya desain dan perencanaan bangunannya, pemilik tak perlu lagi berpikir untuk melakukan renovasi sebagaimana yang sering dilakukan oleh pemilik di komplek-komplek perumahan lainnya. Disini pemilik tinggal menikmati semua fasilitas yang sudah lengkap itu yang dimiliki dengan hasil usaha maupun bekerja selama ini.

Sebagai sebuah hunian yang perencanaan dan pembangunannya sudah dipikirkan sedemikain matang, banyak hal yang bisa dinikmati disini. Sistim keamanan dengan Double Security Gate, kepadatan penduduk yang rendah, infrastruktur yang baik, bersih, lingkungan sekitarnya yang alami, keuntungan dalam bentuk uang dalam investasi dengan harga yang semakin meningkat setiap tahunnya, bebas banjir dan satu lagi, Grand Wisata ini sudah siap menjadi Kotapraja Mandiri.

Dibangun di lokasi eksklusif yang memang sudah menjadi komunitas kalangan atas, semua fasilitas sudah sangat lengkap, begitu juga dengan infrastruktur lingkungan sekitarnya. Jalanan yang lebar, mall, bahkan hanya berjarak 200 meter dari Living World. Begitu juga hanya dibutuhkan waktu 15 menit untuk menuju Jakarta.

Cicilan yang hanya 5 jutaan, tentu tidak akan terasa berat bagi para millenial yang sudah sukses menduduki posisi strategis di perusahaan tempat mereka bekerja tersebut.

Sebagaimana diketahui Sinar Mas Land Limited bergerak dalam bisnis properti melalui operasinya di Indonesia, Cina, Malaysia dan Singapura.  Sinar Mas Land dengan proyek dalam pengembangan kota, perkampungan, perumahan, komersial, ritel, kawasan industri, dan properti perhotelan, termasuk layanan terkait properti, tidak diragukan lagi sebagai perusahaan properti terbesar dan paling beragam di Indonesia

Dengan area seluas 1.100 hektar, Grand Wisata Bekasi adalah konsep Live, Play & Work Township. Yang menciptakan sinergi antara lingkungan perumahan dan pusat bisnis komersial yang nyaman dan indah.

Berada di dua sisi jalan toll, masing-masing Tol Jakarta–Cikampek di utara dan Jakarta Outer Ring Road atau JORR di timur, serta jalur non tol melalui Mustika Jaya di barat, menjadikan penghuni Grand Wisata ini mempunya jalur alternatif untuk keluar dari komplek perumahan mereka, sesuai kemana daerah yang mereka tuju.

Bukan hanya itu, tak lama lagi para penghuni yang akan ke Bandung, akan bisa menikmati jalur kereta cepat melalui stasiun Halim yang jaraknya hanya 15 menit dari Grand Wisata. Atau bagi yang ingin menikmati kereta LRT menuju Jakarta, malah hanya 3 menit dari Grand Wisata.

Bagi Anda yang ingin berbelanja, 20 mall di sekeliling Grand Wisata ini sebentar lagi akan hadir di wilayah ini, melengkapi beberapa yang sudah ada sekarang ini.

Ingin melakukan wisata bersama keluarga menikmati berbagai arena wisata air, mulai dari kolam renang maupun tempat seluncuran dengan aneka bentuk dan tantangan yang mengasyikkan, datanglah ke Go Wet Water Park, all out, semua tersedia disini.

Masih penasaran? Silakan langsung datang kesana, Customer Service Grand Wisata yang professional akan melayani kedatangan Anda. Atau telpon saja ke nomor 021 2908 8000.

Kepala Sekolah itu Jadi Murid Saya

Sekolah kami setelah di renovasi, aslinya memanjang 6 lokal, seperti terlihat sisa pondasi di sebelah kanan

Sebuah kejadian saat saya duduk di kelas 4 SD tahun 1967. Saya lupa, apakah kejadian ini saat kami masuk sekolah lagi setelah libur habis menerima rapor pertama atau kedua.

Saat masuk sekolah hari pertama, kami belum sepenuhnya belajar, karena sekolah begitu kotor oleh debu maupun daun kayu yang ikut masuk ke dalam kelas, laba-laba pun tidak mau ketinggalan ikut berpartisipasi membuat sarang dengan jaringnya yang bergetah, sehingga mudah melekat dimana saja ketika tersenggol, sehingga tak jarang saya dan teman-teman rambutnya seperti beruban kena jaring laba-laba tersebut.

Selain itu juga ada sampah kotoran kucing dan tikus serta musang. Sekolah kami memang dikelilingi oleh kebun milik orang kampung yang tinggal dekat sekolah.

Habis apel pagi, kami para murid disuruh pulang lagi oleh kepala sekolah, dengan satu perintah semua murid besoknya harus datang ke sekolah membawa peralatan kebersihan, seperti; sapu lidi, sapu ijuk, cangkul, parang, sabit atau apapun yang kami punyai di rumah masing-masing. Karena besok kami diperintahkan gotong royong membersihkan sekolah maupun pekarangannya yang cukup luas, hampir setengah lapangan bola.

Sampai di rumah saya lalu mencari daun kelapa kering di kebun depan rumah, yang jatuh dari pohonnya karena sudah tua. Setelah ketemu lalu memotong lidinya di pangkal daun dan mengumpulkannya. Setelah terkumpul cukup banyak saya lalu membawa daun kelapa tersebut ke dekat tangga rumah. sambil duduk di tangga, saya lalu memisahkan lidi dari daun kelapa kering tersebut.

Setelah lidi terkumpul cukup banyak, saya lalu mengikatnya dengan tali yang terbuat dari pelepah pisang yang sudah mati dan kering karena buahnya sudah dipetik. Saya sengaja mengikatnya dengan tali pelepah pisang tersebut karena tidak punya tali yang terbuat dari ijuk pohon enau yang dijalin. Untuk sementara ikatan tersebut cukuplah, karena saya sudah berencana akan membuat pengikat sapu tersebut dari rotan yang telah dibelah tipis.

Rotan yang sudah dibelah tipis ini cukup banyak di kampung saya karena kampung saya terkenal dengan tukang perabot yang ahli membuat peralatan rumah tangga seperti lemari, meja, kursi makan maupun kursi tamu yang di kampung kami disebut Sice. Rotan tipis ini dianyam untuk jadi alas duduk maupun sandaran kursi Sice tersebut.

Selesai mengumpulkan dan mengikat lidi, saya lalu pergi ke rumah kakak sepupu saya yang mempunyai bengkel perabot dan mempunyai beberapa orang pekerja dengan keahlian masing-masing, seperti membuat kursi, lemari, meja dan sebagainya. Begitu sampai di rumahnya saya lalu meminta satu rotan yang sudah dibelah tipis tersebut. Ketika ditanyakan untuk apa bagi saya rotan tersebut, saya lalu mengatakannya “untuk simpai.” Simpai adalah nama pengikat sapu lidi yang terbuat dari rotan. Kalau sudah jadi bentuknya seperti jalinan yang terdapat pada bola takraw, tapi rajutannya lebih rapat dan bersilang, bukan seperti bola takraw yang lurus.

Saya lalu diberi satu rotan yang panjangnya sekitar 6 meter, lalu membawanya pulang. Karena sudah capek membenahi lidi, saya tidak langsung mengerjakan menjalin rotan tersebut. Saya lalu pergi main ke Simpang Labuah, simpang empat yang letaknya persis di tengah kampung, yang menjadi pusat keramaian di kampung saya.

Pagi besoknya saya berangkat ke sekolah berbarengan dengan adik sepupu saya dan juga teman-teman lainnya. Dengan mengapit sapu di ketiak tangan kiri, di sepanjang jalan ke sekolah yang jaraknya 1 km dari rumah saya tersebut, kedua tangan saya asyik menjalin “Simpai” untuk pengikat sapu lidi agar kuat dan tahan lama. Karena belum selesai hingga sampai di sekolah, saya meneruskan pekerjaan saya di dalam kelas, sambil menunggu lonceng berbunyi dan kerja bakti gotong royong dimulai.

Karena cukup banyak teman-teman yang melihat saya menjalin rotan tersebut, rupanya menarik perhatian kepala sekolah yang juga sudah datang. Kepala sekolah lalu masuk ke kelas kami. Melihat kepala sekolah masuk teman-teman yang tadinya berkerubung mulai menghindar dan membuka jalan buat kepala sekolah mendekati saya.

“Membuat apa kamu?” Kepala sekolah langsung bertanya ketika melihat apa yang saya kerjakan.

“Membuat simpai untuk sapu lidi, Pak…”

“Bisa kamu membuatnya?”

“Bisa, Pak…”

“Masih ada rotannya, coba kamu ajari saya…”

Karena pekerjaan saya sudah hampir selesai dan sisa rotan masih cukup panjang, saya lalu memotong rotan dengan parang yang dibawa teman sambil memperkirakan kecukupannya untuk saya. Untuk sementara sisa pekerjaan saya ditunda dulu, lalu memperagakan bagaimana awal jalinan pembuatan simpai tersebut, lalu saya serahkan melanjutkannya kepada bapak Kepala Sekolah. Begitu jalinan rotan tersebut sudah terbentuk, Kepala sekolah lalu mengatakan:

“Sekarang bapak yang jadi murid kamu…” yang disambut ketawa oleh teman-teman sehingga kelas menjadi ramai. Karena saya orangnya pemalu, saya hanya tersenyum simpul sambil tertunduk dan perasaan serba salah karena mendapat pujian dari kepala sekolah.
Karena waktu sudah pukul 8, kepala sekolah lalu menyuruh salah satu teman memukul bel yang ada di depan kantor guru, gotong royong membersihkan sekolah pun dimulai.