Gambar: Liputan 6.com

 

Bertempat di Hooks Restaurant, Blok S, Jakarta Selatan. Kamis, 30 November lalu, saya mengikuti Mayapada Gathering, yang diadakan oleh Rumah Sakit Mayapada bekerjasama dengan Indonesia Blogger Interpreneur. Topik yang dipresentasikan oleh dr. Yuslam Fidianto, Sp.OG. Yaitu topik yang sedang ramai dibicarakan saat ini, yaitu tentang Kanker Serviks atau Kanker Leher Rahim.

 

 

Mengenal Kanker Serviks.

Kanker Serviks atau disebut juga kanker leher rahim, adalah sejenis kanker yang 99,7% disebabkan oleh human papilloma virus (HPV) yang menyerang leher rahim. Virus HPV ditemukan oleh Harald zur Hausen dari Jerman. Penemuan ini mengantar dia jadi pemenang Hadiah Nobel bidang Kedokteran tahun 2008.

Harald zur Hausen, lahir 11 Maret 1936 di Gelsenkirchen, Jerman. Peneliti berusia 71 ini tahun bekerja selama puluhan tahun untuk meneliti penyebab kanker leher rahim. Jenis penyakit kanker yang paling sering terjadi di negara berkembang dan jenis kedua yang paling sering diderita wanita di seluruh dunia. Sekitar 500.000 kasus baru didiagnosa setiap tahun. Zur Hausen meneliti virus jenis papilloma pada manusia dan mengidentifikasi dua jenis utama yang ditemukan di banyak kasus kanker leher rahim. Temuannya mendorong pengembangan vaksin-vaksin yang dapat melindungi wanita muda agar tidak diserang kanker leher rahim.

Harold zur Hausen berhasil melawan dogma bahwa human papilloma virus (HPV) adalah penyebab kanker leher rahim, jenis kanker kedua yang paling sering ditemukan pada perempuan. Hausen berpandangan, HPV-DNA seharusnya dideteksi dengan pencarian secara spesifik karena merupakan virus yang heterogen. Hanya beberapa tipe HPV yang menyebabkan kanker. Hausen bekerja keras membuktikan pandangannya tersebut dengan lebih dari 10 tahun meneliti berbagai tipe HPV. Dia menemukan tipe HPV 16 yang menyebabkan tumor pada tahun 1983 dan setahun kemudian mengklon HPV 16 dan 18 dari pasien yang terkena kanker. HPV tipe 16 dan 18 secara konsisten ditemukan pada sekitar 70 persen biopsi kanker rahim di seluruh dunia.

Gambar kiri leher rahim yang sehat, kanan terkena kanker Serviks.  Grafis: www.hanahanif.com

Karena kurangnya informasi dan ketidak tahuan, di Indonesia hanya 5 persen wanita yang melakukan Penapisan Kanker Leher Rahim. Dari yang 5 persen itu 76,6 persen pasien ketika terdeteksi sudah memasuki Stadium Lanjut (IIIB ke atas), ini disebabkan karena Kanker Leher Rahim biasanya tanpa gejala apapun pada stadium awalnya, sehingga penderita tidak merasakan gejala apapun pada tubuhnya. Penapisan dapat dilakukan dengan melakukan tes Pap Smear dan juga Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA). Di negara berkembang, penggunaan secara luas program pengamatan leher rahim mengurangi insiden kanker leher rahim yang invasif sebesar 50 persen atau lebih. Dari hasil penelitian, mayoritas menemukan bahwa infeksi HPV adalah penyebab utama semua kasus kanker leher rahim. Perawatan pada stadium awal adalah dengan operasi, sedang perawatan lanjutannya adalah dengan kemoterapi dan/atau radioterapi pada stadium akhir penyakit.

Di tahun 2014, WHO menyatakan kematian pada penduduk wanita yang diakibatkan kanker ada 92 ribu kasus. Dari angka tersebut, 10,3 persennya disebabkan oleh kanker serviks. Sedangkan jumlah kasus baru kanker serviks hampir mencapai 21 ribu.

Semakin hari, semakin muda usia wanita yang terserang kanker serviks, yaitu kisaran usia 21-22 tahun di tahun 2000 dan mencapai usia di bawah 20 tahun pada tahun 2012. Hal ini ditengarai karena kurangnya tindakan skrining penyakit kanker di Indonesia. Masyarakat kita masih awam dengan test pap smear dan tak jarang yang menganggapnya sebagai tes yang menakutkan serta harganya yang mahal. Akibatnya, keberadaan kanker sudah menyebar ke organ lain di dalam tubuh ketika seseorang memeriksakan kondisinya. Padahal, di kondisi ini pengobatan makin sulit dilakukan dan juga biayanya mahal. Hal ini  berpengaruh pada jumlah kematian kanker serviks di Indonesia yang tergolong tinggi karena sebagian besar disebabkan oleh keterlambatan dalam diagnosis.

 

Penemu Vaksin Pencegahan Kanker Serviks

Kita telah mengetahui siapa penemu kanker Serviks. Tapi sudahkah kita juga mengetahui siapa penemu vaksin pencegah kanker serviks itu?

Dialah Richard Rianto Rustandi. Pria 53 tahun asal Bogor yang kini bekerja sebagai salah seorang ilmuwan di perusahaan penyedia layanan kesehatan global terkemuka asal Amerika, Merck Sharp and Dohme (MSD). Profesor dari Universitas Chicago ini mengaku bekerja siang malam selama delapan tahun sejak 2001 lalu, hanya untuk meneliti seberapa bahayanya virus HPV.

Kerja keras itupun akhirnya berbuah manis dengan lahirnya vaksin HPV quadrivalent. “Vaksin ini merupakan penelitian pertama saya sejak bekerja di MSD. Itu penelitiannya sampai delapan tahun,” ujarnya.

Menurut Richard, virus HPV yang memiliki 130 tipe, sangat berbahaya. Bahkan organisasi kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2010 lalu memerkirakan, 11,4 persen wanita dengan pap smear normal, terinfeksi HPV. Selain itu virus juga dapat dideteksi pada 99,7 persen wanita yang terdiagnosis menderita kanker serviks.*

 

Apakah itu Pap Smear?

Pap Smear yaitu sebuah prosedur untuk menguji keberadaan kanker serviks pada pasien wanita. Dengan peralatan khusus yang disebut spatula dokter akan mengambil sampel sel-sel serviks, lalu meneliti dan menganalisa di laboratorium apakah pasien yang sedang menjalani test Pap Smear tersebut menemukan virus HPV 16 atau 18 yang berbahaya di leher rahimnya. Dari hasil pemeriksaan dan analisa di laboratorium, akan diketahui apakah pasien bersih dari virus HPV yang sangat berbahaya itu atau sebaliknya pasien tersebut tidak dalam keadaan terinfeksi oleh Virus HPV tersebut. Bila dari hasil analisa laboratorium ditemukan pasien positif kena virus HPV juga dapat dilihat apakah pasien masih pada tahap stadium 1 atau stadium lanjut diatasnya. Hal ini akan berpengaruh pada proses pengobatan yang akan dilakukan oleh pihak rumah sakit. Apakah harus dengan pengobatan standar atau harus dengan kemoterapi dan/atau operasi pengangkatan rahim. Bila pasien ternayata bersih dari virus HPV, maka pengobatan yang dianjurkan dokter adalah vaksinasi dengan vaksin HPV.

Pap smear sebaiknya dilakukan 5 hari setelah haid atau 10-20 hari setelah hari pertama haid agar leher rahim bersih dari sisa-sisa darah haid. Dalam 2 hari sebelum pap smear sebaiknya hindari membersihkan vagina dengan krim atau sabun apapun, juga douching (penyemprotan obat atau larutan tertentu ke arah liang vagina).
Hindari penggunaan tampon atau obat-obatan yang dimasukkan ke dalam vagina dan hindari dahulu berhubungan intim. Jika sedang keputihan ataupun ada keluhan lainnya seperti rasa gatal, sakit atau panas di area mulut vagina sebaiknya segera konsultasi ke dokter.

Chaca yang sudah melakukan pap smear  dan Ibu Elly, penyandang Kanker Serviks

 

Ibu Eli dan kisah inspiratif penyandang Kanker Serviks

Ditengah acara blogger gathering ini juga dihadirkan Chaca Chatib, bintang tamu yang diundang karena telah melakukan papsmear dan vaksin, serta seorang penyandang Kanker Serviks juga kanker Colon, yaitu ibu Elly Mawati.

Karena peduli terhadap keluarga serta kesadaran terhadap kesehatan cukup tinggi, tanpa didampingi oleh suami atau anggota keluarga lainnya, bila dirinya merasa sakit maka Ibu Elly ini berangkat sendirian ke rumah sakit, begitu juga untuk menjalani pemeriksaan Pap Smear ini. Selesai pemeriksaan, betapa kagetnya saat dia divonis menyandang Kanker Serviks. Awalnya hal ini sempat membuat dia shock kalau dirinya mengidap penyakit mematikan tersebut, namun sebaliknya setelah dia merenung dan berdoa kepada Tuhan, akhirnya dia ikhlas menerima kenyataan ini dan juga bersyukur karena sakitnya tersebut bisa diketahui pada stadium awal.

Untuk menjaga agar keluarga juga tidak kaget atau ikut shock dia mendiamkan hal ini dan menyimpannya seorang diri. Apalagi saat itu anak-anaknya tengah menghadapi masa ujian di sekolahnya masing-masing. Keputusan operasi pengangkatan rahim yang seharusnya ditanda tangani oleh suaminya, diambil alih langsung oleh Ibu Elly, yang sempat membuat pihak rumah sakit juga heran.  Hal itu disebabkan suaminya tidak bisa mengantar ke rumah sakit, bukan karena tidak menyayangi istrinya, tapi karena sedang sibuk di bengkel tempat dia bekerja dan berusaha keras untuk mencari biaya pengobatan istrinya juga kebutuhan sekolah anak-anaknya. Ibu Elly menceritakan sambil menangis mengenang kondisi keluarganya di saat masa kritis tersebut. Namun karena ibu Elly bisa meyakinkan pihak rumah sakit, maka operasipun bisa dijalankan.

Operasi pengangkatan rahim yang dijalankan oleh lbu Elly berjalan lancar dan mulus. Dalam masa perawatan, sadar akan dirinya tak lagi bisa melayani suami memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Ibu Elly sempat berkata kepada suaminya. “Bapak, kalau bapak ingin menikah lagi, saya ikhlas…” Saat ibu Elly menceritakan hal ini, semua peserta yang ikut dalam acara blogger gathering ini terdiam, hening, sibuk dengan perasaan masing-masing. Saya sendiripun, sebagai seorang suami dan ayah tiga orang anak, tak sanggup menahan tetesan air mata yang tergenang di pelupuk mata. :'(  Namun situasi tersebut tak berlangsung lama, karena Ibu Elly melanjutkan: “itu suami saya silakan tanya langsung ke dia…!” Suasana yang tadi cukup hening sontak diliputi canda tawa, saat teman-teman yang berada dekat suami ibu Elly malah meledek suami ibu Elly sambil mengatakan: “Nah, pak! Sudah dapat lampu hijau dari Ibu…!” yang disambut tawa heboh dari teman-teman lainnya.

Dari apa yang dialaminya, dan kedekatannya dirinya yang semakin intens pada Sang Maha Kuasa, Ibu Elly selanjutnya menyadari bahwa apa yang dialaminya adalah takdir Tuhan yang tak mungkin dielakkannya. Tak mau larut dan hanyut dalam derita yang dialami, dia akhirnya bangkit. Ibu Elly bangkit menjadi motivator bagi lingkungannya, membarikan nasihat bagi mereka yang masih ragu-ragu untuk melakukan Pap Seamer dan melakukan pendampingan bagi mereka yang terinfeksi virus HPV. Semangat hidup Ibu Elly yang tinggi akhirnya berhasil menginspirasi banyak orang yang mengenal dia, termasuk kami yang hadir malam itu.

Walau dirinya kini telah menopause dini, kondisi di mana seorang perempuan sudah tidak mungkin lagi hamil dan melahirkan pasca operasi, Ibu Elly tetap sabar dan tabah menjalani hidup. Dia bersyukur saat mendapatkan penyakit itu saat dia telah dikaruniai anak serta suami yang setia dan menerima keberadaan dirinya apa adanya. Baginya, itu adalah kebahagian yang tak terkira.

Selain keluarga yang selalu memberi semangat untuk terus tabah, tegar dan ikhlas menjalani hidup, keberadaan komunitas dengan kondisi yang sama, tak kalah besar pengaruhnya dalam memberikan semangat hidupnya.

Mari jaga keluarga kita dengan Vaksinasi HPV, sekarang juga!

Diantara banyak rumah sakit yang sudah dapat melakukan vaksinasi HVP adalah Rumah Sakit Mayapada, Jakarta dan Rumah Sakit Mayapada, Tangerang. Peralatan yang lengkap dan tenaga medis serta dokter berpengalaman menjamin mutu pelayanan rumah sakit ini.
Di kedua rumah sakit tersebut kita dapat memilih paket vaksinasi HPV yang kita butuhkan. Paket Rose dengan vaksin Gardasil dan pemeriksaan Obstetric & Gynecology dan 3 kali vaksinasi dengan biaya 3,1 juta atau dengan Paket Lavender dengan vaksin Cervarix sebanyak 3 kali dan pemeriksaan yang sama dengan paket Rose dengan biaya 2,6 juta. Kedua paket promosi di atas berlaku hingga 31 Desember 2017. Butuh info lebih lanjut Anda bisa menghubungi 021-29217777 ext. 7124. Atau 021-5578 1888.
Informasi lainnya seputar kesehatan yang ada di Mayapada Hospital bisa juga Anda lihat di:
Instagram: @mayapadahospital
Facebook Fanpage: Mayapada Hospital
Twitter: @rsmayapada

 

*Data pelengkap dari Wikipedia.


read more