Pulang…

Pertengahan Juni lalu saya pulang, bagaimana ceritanya sudah saya tulis Disini.

Jam-jam penuh ketegangan

Nah 20 Desember kemarin saya pulang lagi. Tapi kepulangan saya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.

Pulangnya kami kali ini sudah direncanakan 4 tahun lalu. Saat itu putra saya Alfajri bersama kakaknya Nurul, membuat rencana untuk pulang bersama seluruh anggota keluarga, termasuk mantu dan cucu yang belum pernah melihat kampung keluarga besarnya. Namun rencana yang sudah dicetuskan 4 tahun lalu itu, selalu saja ada halangannya. 

Begitu juga akhir tahun kemarin, hal ini disebabkan oleh kondisi Nurul yang lagi hamil berat menjelang 8 bulan. Terlalu besar resikonya bila dia memaksakan diri untuk ikut pulang lewat jalan darat. Kalaupun dia tetap pulang, paling pakai pesawat, tapi selama di kampung mau tak mau akan tetap juga naik mobil. Resiko paling besar adalah karena rumah keluarga istri saya ada di perbukitan, dan itu harus dilewati dengan berjalan kaki. Sesuatu yang tak mudah bagi orang hamil.

Tapi karena Alfajri sudah siap, maklum saja karena dia sudah 20 tahun tidak pernah pulang, saat dia masih di SMP. Sementara sekarang dia sudah punya istri dan anak yang juga sudah sekolah kelas 2 SD. Jadi dia memang sudah kangen berat untuk pulang, hingga akhirnya kami tetap berangkat, 6 orang dengan satu mobil Honda Mobilio. Kebetulan ada 2 mobil lagi teman Alfajri, yang juga ingin berlibur dan menyambut tahun baru di kampung halaman masing-masing. Sehingga kami bisa berjalan bareng berkonvoi menelusuri hutan belantara Sumatera.

Meninggalkan Jakarta melewati tol Tangerang-Merak  (Dokpri)

 Karena ingin melewati Lampung dan Sumatera Selatan siang hari, maka kami sengaja berangkat malam hari dari Rawamangun, tempat rombongan ngumpul dan mulai berjalan menjelang tengah malam. 

Karena jalanan tidak begitu ramai,  hanya macet 2 kilometer menjelang pelabuhan Merak, kami bisa mencapai Merak hanya beberapa menit setelah melewati penggantian hari dari Jum’at ke Sabtu, 21 Desember 2019. Beruntung, kami tak harus antri saat sampai di pelabuhan. Kami bisa langsung naik kapal penyeberangan.

Meninggalkan Pelabuhan Merak menjelang pukul 1 dinihari

Setelah berlayar menyeberangi Selat Sunda sekitar 4 jam, pukul 05.00 pagi selesai shalat subuh, kapal mulai merapat di Pelabuhan Bakauheni. Matahari pagi menyambut perjalanan non stop kami pagi itu. Melintasi jalan tol baru Bakauheni – Terbanggi Besar – Kayu Agung sepanjang 330 km. Selanjutnya menelusuri hutan Bukit Barisan yang berselingan dengan masuk kota, kampung dan hutan, sepanjang jalan Lintas Sumatera. 

Pelabuhan Bakauheni
Merapat di Pelabuhan Bakauheni pukul 5 pagi

Ada sedikit kesalahan saat membaca rute perjalanan, gara-gara Google Maps menyarankan kami memperlihatkan dua jalur jalan, yang satu berwarna merah menandakan jalur padat, dan satu lagi berwarna hijau sebagai tanda jalanan sepi. Karena pimpinan rombongan mengambil jalanan sepi, akhirnya kami tersasar ke arah jalan Lintas Timur Sumatera, namun sebelum tersasar terlalu jauh kami mengambil jalan kekiri memotong jalur menuju jalan Lintas Tengah Sumatera, melewati jalan SM Badaruddin II. Akibatnya lumayan juga waktu terbuang, sehingga kami sampai di Lahat pukul 8 malam. 

Melewati hutan karet di Sumatera Selatan

Berasa sudah berada di kampung sendiri, anak saya mengatakan ingin melanjutkan perjalanan, tapi saya melarangnya. Mengingat kondisi fisiknya yang butuh istirahat, karena sudah mengemudi sekitar 26 jam, dipotong 4 jam pelayaran dari Merak ke Bakauheni. Akhirnya kami beristirahat semalam di Losmen Sigma, Lahat.

Istirahat di Lahat, Sumsel.

Minggu pagi 22 Desember. Selesai sarapan nasi dengan goreng yang disediakan oleh losmen Sigma, kami bergerak meninggalkan Lahat. Baru separo perjalanan yang kami tempuh dari Jakarta ke Lahat yang berjarak 697 km, seperti yang saya lihat di Google Maps. Masih ada sekitar 700 km lagi untuk mencapai kampung halaman istri saya di pinggir Danau Singkarak. Walau sedikit lebih jauh dibanding Jakarta-Lahat, kami lebih bisa menikmati perjalanan karena sudah merasa di kampung sendiri. 

Shalat Zuhur dan istirahat di Lubuk Linggau

Sampai di Lubuk Linggau kami istirahat untuk shalat Zuhur dan sekalian makan siang. Kami berhenti di sebuah masjid yang berada di pinggir jalan Lintas Sumatera. Sayangnya kami tidak menemukan rumah makan di sekitar masjid yang berdekatan dengan sungai tersebut. Di samping masjid yang juga bersebelahan dengan sungai kami menemukan taman wisata yang nampaknya lebih didominasi area bermain anak-anak. Lumayan banyak warung disana, beruntung ada sebuah warung yang juga menjual nasi goreng. Maka jadilah makan siang kami dengan nasi goreng yang lumayan enak, sehingga kami tak harus mencari lagi rumah makan yang lain. 

Jalan Bergelombang di Lintas Sumatera

Setelah menempuh perjalanan sejauh 300 kilometer selama hampir 5 jam, kami sampai di Muaro Bungo. Istirahat parkir sejenak di halaman Masjid Assu’udiyah yang lokasinya strategis, karena berada persis di jalur Lintas Sumatera dan juga Pasar Muaro Bungo. Keluar dari halaman masjid, durian menantang kami di kaki lima depan masjid. Sebenarnya sejak dari Lampung kami sudah melihat banyak pedagang durian di sepanjang jalan Lintas Sumatera ini. Tapi karena tidak ingin mabok sepanjang jalan, niat makan durian terpaksa ditunda dulu. 

Pedagang durian di Muaro Bungo

Kami meninggalkan kota Muaro Bungo menjelang matahari terbenam. Perjalanan hampir 300 kilometer menyusuri beberapa kota serta perkampungan, maupun hutan Bukit Barisan di sepanjang jalur tengah jalan Trans Sumatera itu, akan kami lewati malam hari. Google Maps memberi kami perkiraan sekitar 5 jam, tapi saya kurang yakin dengan hal itu. Masalahnya kami jalan berombongan 3 mobil yang tentu saja dengan kecepatan yang tidak bisa maksimal, karena harus menjaga jarak dengan teman yang berada di belakang agar tidak tertinggal. Dugaan saya tidak meleset, kami memasuki kota Solok pukul 00.30 dini hari Senin. 

Keterlambatan ini juga disebabkan hujan menyambut kedatangan kami sejak dari Kiliran Jao. Hingga kami sampai di Solok, hujan belum benar-benar berhenti. Setelah dua mobil memisahkan diri dari rombongan, kami melanjutkan jalan menuju Pasir Jaya. Desa kampung istri saya yang berada di pinggir Danau Singkarak yang sudah masuk kabupaten Tanah Datar. Pukul 01.30 akhirnya kami sampai di rumah. Disambut oleh kakak ipar sudah menunggu kedatangan kami sejak sore harinya. Perjalanan sekitar 1.400 kilometer itupun berakhir sudah. Tinggal menyambung kampung saya Kamang Hilir, Bukittinggi, dua hari kemudian. 

Singkarakpun menghampar di depan mata

Suatu Pagi di Talang Babungo

BIMTEK Penulisan Buku Ajar yang dilaksanakan di SDN 09 Talang Babungo, Solok. Masih meninggalkan banyak kesan yang layak disajikan dalam bentuk tulisan, agar tak hilang ditelan waktu.

Setelah menjemput 3 nara sumber ke Bandara Minangkabau, Padang. Masing-masing Omjay alias Wijayakusumah dan ibu Betti Resnalenni dari Kogtik, Jakarta serta pak Edi S. Mulyanta dari penerbit Andi, Yogyakarta. Kami langsung menuju Desa Tabek, Nagari Talang Babungo.

Karena hari sudah malam, kami langsung diantar menuju homestay yang sudah disiapkan panitia, yaitu homestay 13 milik pak Toni yang sehari-harinya juga adalah kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Rumah dengan 4 kamar ini nampaknya memang sudah disiapkan sebagai homestay bagi para tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Talang Babungo. Setiap kamar sudah dilengkapi dengan kamar mandi berikut dengan shower air panas dan dingin. Di setiap kamar terdapat dua dipan ukuran besar untuk dua orang. Sehingga kamar tersebut bisa dipakai untuk 4 orang. Untuk mengurangi dinginnya udara malam, juga disediakan selimut tebal di setiap tempat tidur.

Bangun pagi, selesai shalat subuh, ada kejutan buat kami. Sepiring nasi goreng panas datang menemani. Bukan sekadar nasi goreng seperti yang dihidangkan hotel buat sarapan gratis, tapi benar-benar nasi goreng yang nikmat dengan bumbu yang lengkap berwarna kemerahan. Sehingga kami benar-benar menikmati hidangan lezat di pagi yang dinginnya menusuk tulang itu. Dua hari nginap di homestay 13, dua hari pula kami menikmati nasi goreng yang nikmat tersebut.

Karena acara hanya dua hari, maka jatah homestay kami juga hanya dua malam di homestay 13. Namun karena masih ada bonus acara liburan dari panitia, maka di malam ketiga kami dipindahkan ke rumah ibu Gusmaletri, salah seorang panitia yang sebenarnya juga berupa homestay, dan sebelumnya diisi oleh peserta Bimtek yang saat itu telah kembali ke tempat masing-masing, sehingga homestay 6 milik ibu Gusmaletri tersebut kosong.

Karena rumah ibu Gusmaletri ini berdampingan dengan masjid, begitu subuh tiba kami dibangunkan suara azan. Bersama Omjay yang juga sudah bangun, kami berjalan ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.

Saat masuk masjid dan berjalan menuju sajadah untuk melaksanakan shalat sunat, saya melihat suatu pemandangan yang cukup unik. Seperti yang saya posting di di facebook, sebagian besar jamaah yang memakai kain sarung dan sedang melaksanakan shalat sunat sebelum shalat subuh berjamaah, tidak memakai sarungnya sebagaimana biasa dengan melilitkannya di pinggang, tapi mereka menyangkutkan kain sarung tersebut di leher, sehingga kain sarung tersebut juga berfungsi sebagai selimut, untuk menutupi tubuh mereka dari dinginnya udara di kaki Gunung Talang yang memang dingin menusuk hingga ke tulang. Sebuah pemandangan yang belum pernah saya lihat dimanapun sebelumnya. Tapi hal ini saya maklumi, karena mereka yang memakai kain sarung seperti itu tidak memakai jaket untuk menghangatkan tubuhnya dan melindungi tubuh mereka dari hembusan udara pagi.

Kembali ke homestaynya ibu Gusmaletri, tawaran kopi atau teh manis diajukan tuan rumah kepada kami. Untuk menghangatkan badan, saya memilih kopi.

Baru sempat menghirup kopi yang disuguhkan, hidangan istimewa untuk sarapan pagi menyusul datang. Sebagaimana di homstay 13 sebelumnya, kembali kami disuguhi nasi goreng panas dan masih mengepul. Dalam hati saya bergumam, mungkin hal ini sudah menjadi tradisi di nagari Talang Babungo ini, sajian hangat untuk meredam hawa dingin pegunungan.

Nasi goreng panas ini juga saya dapatkan saat saya menginap di rumah ibu Sri Melni di nagari Koto Gadang Guguak keesokan harinya. Sehabis mengantar Omjay, bu Betti dan pak Edi ke Bandara Minangkabau hari sebelumnya. Saya kembali ke kecamatan Gunung Talang karena ada keperluan lain disana, disamping itu juga untuk mengirimkan buku #BalitaPRRI kepada 10 guru yang beruntung saat saya mengajukan quiz dadakan di acara Bimtek Talang Babungo.

10 hari berada di Kabupaten Solok, khususnya di Nagari Talang Babungo, Koto Gadang Guguak dan Talang, banyak kenangan yang terbawa kembali ke tanah rantau di pulau Jawa. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk bermain ke sana lagi. Insya Allah.

Artikel Diplagiat? Laporkan ke Google!

Artikel ini saya salin dari Blog https://blog.ryanmintaraga.com/ untuk mengantisipasi kejadian yang sama terulang lagi baik di blog saya ini atau blog saya yang lainnya.

Ramainya cerita YouTuber top Indonesia yang dituding mencuri konten YouTuber lain mengingatkan saya pada peristiwa serupa.

Beberapa kali saya menjumpai tulisan saya muncul di web/blog lain. Dari sekadar mencuplik tulisan saya lalu memasang tautan yang mengarah ke sini maupun Kompasiana, atau menyalin utuh tulisan saya sampai ke judulnya, bahkan hingga menyalin utuh tulisan saya tapi judulnya diganti.

Meski kadang dongkol dengan ulah copaser yang dengan seenaknya mengubah judul tulisan, seringnya saya tidak memperpanjang urusan. Biasanya saya hanya meninggalkan komentar berupa ucapan terimakasih karena sudah ikut men-share tulisan saya sekaligus menambatkan tautan aslinya.

Biar begitu, saya pernah ‘memberi pelajaran’ pada seorang blogger karena tulisan saya diaku sebagai tulisannya, ditambah lagi yang bersangkutan mencantumkan amaran bahwa siapapun yang hendak mengkopi tulisannya harus mendapat izin darinya sebagai penulis.

Saya pun meradang.

Sudahlah tulisannya hasil ngopi kok bisa-bisanya minta orang lain untuk menghargai hak intelektual atas ‘karyanya’ itu.

Sewaktu melihat alamat blognya, senyum iblis saya mengembang.

Saya tahu bagaimana cara ‘menghajar’ blogger semacam itu karena blognya di-host di blogspot.com.

Bagaimana Caranya?

Langkah pertama, bukalah alamat di bawah ini :

https://support.google.com/legal/contact/lr_dmca?product=blogger&contact_type=lr_dmca&rd=1

Alamat di atas adalah halaman Google untuk menerima klaim atas suatu konten (dalam kasus saya, saya bermaksud melaporkan penjiplakan yang dilakukan seorang blogger terhadap sebuah artikel yang ada di blog saya). Berikutnya, Google meminta semacam verifikasi dan kita diminta mengakses halaman tersebut sebagai Google User.

Kemudian akan muncul halaman ini:

halaman google untuk melaporkan adanya tindakan penjiplakan terhadap sebuah konten (screenshot)

Scroll saja sampai terlihat kolom-kolom yang perlu kita isi sbb :

perhatikan bahwa ada beberapa kolom yang harus diisi (screenshot)

Untuk bagian ini, perhatikan bahwa:

  1. Kolom 1 diisi nama lengkap kita sebagai pelapor (wajib diisi).
  2. Next, kolom 2 diisi nama organisasi tempat kita bernaung (waktu itu saya mengisinya dengan nama blog saya tanpa ‘http’ dan ‘www’).
  3. Adapun untuk kolom 3 sebenarnya diisi nama lengkap pemegang hak cipta atas karya/artikel yang dilaporkan jika kita bertindak sebagai perwakilan (agen) dari seseorang/institusi.  Berhubung waktu itu saya bertindak atas nama pribadi sekaligus pemegang hak atas karya/artikel yang dilaporkan, maka kolom ini diisi nama lengkap (wajib diisi).
  4. Untuk kolom 4 diisi alamat surel (e-mail) kita.  Kelihatannya tidak wajib diisi, tapi jika diisi akan memudahkan Google menghubungi kita bukan?
  5. Lalu kolom 5 yang berbunyi ‘Country of Residence‘, isi saja dengan negara di mana kita tinggal.  Maaf, kolom ini lupa saya tandai.

Menginformasikan Artikel Kita yang Mana yang Diplagiat

Berikutnya, scroll lagi hingga muncul kolom-kolom berikut:

perhatikan lagi bahwa ada beberapa kolom yang harus diisi (screenshot)

Perhatikan bahwa:

  1. Kolom 1 diisi URL lengkap dari artikel kita yang dibajak, misalnya https://blog.ryanmintaraga.com/precognitive-dream-atau-second-sight-mimpi-yang-menjadi-kenyataan/ (wajib diisi).
  2. Berikutnya, kolom 2 diisi penjelasan dari alamat tersebut.  Saran saya, isi dengan keterangan tanggal berapa kita mem-publish tulisan tersebut, misalnya ‘That URL is my orginal content, created on January 1st, 2015‘.  Jika ada konten berupa foto yang memang jepretan kita, tuliskan juga informasi dengan kamera apa dan kapan serta dalam momen apa foto tersebut diambil (wajib diisi).
  3. Nah, kolom 3 (lupa lagi saya tandai, maaf) yang berbunyi ‘Location of the allegedly infringing material‘, isi dengan URL lengkap di situs mana artikel tersebut tampil.  Atau dalam bahasa gampangnya, kolom tersebut diisi URL si copaser yang kita temukan (URL lengkap artikel untuk memudahkan identifikasi).  Jika kita menemukan lebih banyak lagi situs yang men-copas artikel kita, klik tautan ‘Add additional‘ di bawahnya untuk menambahkan pihak yang kita laporkan (wajib diisi).

Lakukan scroll sampai kita diminta mengkonfirmasi pernyataan-pernyataan sbb:

konfirmasi pernyataan-pernyataan di atas (screenshot)

Di sini, yang harus diperhatikan adalah:

  1. Untuk kolom 1 dan 2, kita cukup memberi tanda centang sebagai pernyataan bahwa memang benar kita yang memiliki hak atas konten yang dilaporkan tersebut (kelihatannya tidak wajib, tapi waktu itu saya centang berhubung saya yakin akan orisinalitas konten yang saya buat).
  2. Kolom 3 diisi tanggal pelaporan dengan format bulan – tanggal – tahun menggunakan angka (wajib diisi).
  3. Kolom 4 diisi kembali dengan nama lengkap.

Terakhir, di bagian paling bawah, kita akan menemukan tombol [Submit], klik saja untuk mengirimkan klaim kita pada Google.

Selanjutnya Apa?

Setelah kita menekan [Submit], Google akan mengirimi kita surel yang memberitahukan bahwa pengaduan sudah diterima dan akan diproses.

Di sini yang bisa kita lakukan hanya menunggu.

Waktu itu saya menunggu kira-kira dua minggu hingga mendapat pemberitahuan dari Google bahwa klaim kita disetujui dan konten yang kita laporkan sudah dihapus dari blog si copaser.

Luar biasa!

Akhirnya, cara terbaik untuk menggunakan karya orang lain adalah kita meminta izin terlebih dahulu pada pemiliknya.

Saya sendiri sebenarnya tak keberatan tulisan saya di-copas sana-sini asalkan sesuai dengan amaran yang saya cantumkan di bagian paling bawah setiap tulisan saya.

Semoga tulisan saya kali ini bermanfaat!

Catatan:

  1. Kasus yang dialami teman ini adalah pencurian artikel, tapi mengingat YouTube dan Blogspot dimiliki perusahaan yang sama, saya yakin langkah pelaporannya sama.
  2. Urutan form/kolom untuk pelaporan ini kadang berubah, di-compare saja dengan apa yg sudah saya share di sini.

Tautan luar:

Artikel ini disalin dari https://blog.ryanmintaraga.com/artikel-diplagiat-laporkan-ke-google/

Realme XT, Smartphone Dengan Kamera 64MP

Sebuah produk baru peralatan komunikasi canggih, setahun belakangan ikut meramaikan pasar telekomunikasi Indonesia. Produk dengan merek Realme tersebut malah dengan cepat melesat masuk kelompok 10 besar Smartphone di pasaran domestic.

Rabu, 23 Oktober kemarin, mengambil tempat di The Tribrata convention hall, Jakarta Selatan. Realme kembali meluncurkan produk smartphone teranyarnya, Realme XT.

Realme XT hadir dengan layar FHD+ Super AMOLED 16,3cm (6,4”) yang tajam dan jelas. Peningkatan di segi teknologi warna yang presisi dan teknologi pengemasan COF memungkinkan mencapai rasio layar sebesar 91,9%.

Berbagai keunggulan yang ditawarkan smartphone ini, dapat kita lihat, yaitu kamera dengan 64 MP. Seperti terlihat pada foto di atas, Realme XT ini datang dengan 4 kamera di bagian belakang.

Lensa paling atas, adalah lensa ultra sudut lebar dengan sensor berkemampuan 8 MP. Kamera ultra wide-angle dengan 119° membuat sudut pandang 50% lebih lebar dan teknologi realme DLDC untuk memastikan kualitas dari setiap jepretan.

Di bawahnya, adalah lensa utama dengan kemampuan luar biasa. Realme XT dibekali sensor resolusi tinggi 64MP, sensor dengan resolusi tertinggi dalam smartphone. Teknologi Tetracell dan 3D HDR mampu mengambil foto dengan jelas dalam kondisi apapun. Lensa GW1 buatan Samsung ini memiliki sensor yang sanggup menangkap subyek yang berada di depannya dengan kapasitas maksimal 64 MP, atau sama dengan resolusi 9216×6912. Ukuran foto 4x lebih besar dari foto yang diambil menggunakan kamera 16MP, menghasilkan foto luar biasa yang jelas dan sangat detil meskipun saat diperbesar.

Dengan memakai sensor besar 1/1.72” 64MP GW1 lebih besar 34% daripada sensor 48MP dan dibekali teknologi piksel binning four-in-one, bukaan besar f/1.8 dan lensa 6P untuk penerimaan cahaya. Menjadikan realme XT sebagai smartphone untuk fotografi kelas atas.

Dua lensa di bawahnya adalah lensa standar untuk pemotretan potrait, dan lensa macro yang masing-masing berkekuatan 2 MP.

Prosessor Snapdragon 712 dari Qualcomm

Untuk menjaga agar Smartphone Anda tetap terlindungi saat terjatuh atau terbentur. Realme menghadirkan dua macam XT Iconic Case dengan warna yang berbeda.

Mengubah tampilan siang atau malam.

Saat ini Realme XT hadir dengan Dark Mode yang bisa diaktifkan secara otomatis atau manual saat malam hari, seperti terlihat pada gambar di atas, atau pada situasi normal di siang hari, seperti gambar di bawah. Dapat diaplikasikan untuk memberikan pengalaman beraktifitas yang lebih nyaman.

Rp.5,6 Milyard, Hadiah Untuk Para Juara Predator League

Predator Triton 300

Sekitar 300 penonton yang terdiri dari awak media, blogger maupun gamer mania, berkumpul di Aluca International yang berada di Lot 8 Kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Menyaksikan Kick Off Predator League 2020 yang berlangsung meriah.

Setelah menuai sukses dan menjadi ikon perhelatan kompetisi eSport terbesar di Asia Pasifik selama dua tahun berturut-turut, tahun ini Acer kembali menyelenggarakan Asia Pacific Predator League 2020 yang lebih besar, spektakuler dan akan diikuti oleh semakin banyak talenta eSport.

Leny Ng dari Acer bersama Aldrian R Susantio mengapit Icon Predator League 2020

Negara yang berpartisipasi pun semakin banyak, menjadikan acara tahunan Acer ini semakin mendunia dan disukai oleh garners mancanegara. Ribuan team di Asia Pasifik akan berpartisipasi untuk berlaga dalam dua kategori game yang dipertandingkan, yaitu DOTA 2 & Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG).

Ribuan pemain yang bertarung itu akan memperebutkan total hadiah sebesar USD 400.000 atau hampir 5,6 milyard rupiah. Dengan mengikuti babak penyisihan secara online, Predator League 2020 memberi kesempatan lebih luas bagi talenta muda di seluruh Indonesia untuk menguji kemampuan bertanding di kancah internasional.

Di Indonesia, babak penyisihan secara online akan berlangsung selama dua bulan sejak akhir Oktober hingga Desember 2019, memperebutkan hadiah sebesar Rp200.000.000. Selama turnamen ini berlangsung, Acer akan hadir juga di lima kota seperti Medan, Surabaya, Yogyakarta, Samarinda dan Makassar. Keseruan di tiap region dilengkapi dengan acara nonton bareng bersama dengan Brand Ambassador Predator Gaming, caster dan acara komunitas. Acer berharap bisa terus menjalin hubungan erat dan semakin mengerti keinginan serta kebutuhan gamers yang selalu menjadi landasan utama inovasi jajaran produk Acer terbaru.

Untuk menghadapi beratnya tantangan pertarungan di pertandingan eGame ini. Acer, sang pemilik merek Pradator, mempersembahkan sebuah laptop gaming terbaru, yaitu;  Predator Triton 300 yang dipersenjatai dengan prosesor Intel i7 generasi ke 10., dan 16 GB memory.

Laptop tipis dengan performa dan fitur andalan yang dibungkus dalam desain kompak dengan solid metal chasing. Memiliki cooling system terbaik dengan 4th gen aeroblade 3D fan yang memiliki 59 bionic blade sehingga menghasilkan 45% airflow improvement.

Dengan senjata petarung hebat ini, kini gamers yang mobile bisa bertanding dari mana saja, karena Predator Triton 300 tetap nyaman dibawa bermain game di manapun

Predator, brand dengan deretan perangkat gaming terlengkap, melalui Asia Pacific Predator League 2020 ini akan mengumpulkan para gamer dari 17 negara mulai dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Australia, India, Singapura, Hong Kong, Macau, Japan, Korea Selatan, Taiwan, Mongolia, Sri Lanka, Bangladesh, dan Myanmar. Para gamer yang bertarung untuk PUBG dan Dota 2 dengan strategi terbaik akan berkesempatan untuk memenangkan prize pool sebesar USD 400,000. Babak grand final Asia Pasifik akan diadakan di Manila pada 22 — 23 Februari 2020 mendatang di SM Mall of Asia Arena, Kota Pasay.