Mission Completed

Walau dengan suasana hati yang tidak karuan, saya tetap berusaha secepatnya meninggalkan bank, menemui pengemudi Grab yang dengan sabar menunggu di sudut halaman. Melihat saya keluar dari bank dengan langkah yang tergesa, sang pengemudi nampaknya juga sudah mulai mengerti kalau saya sedang berkejaran dengan waktu. Diapun segera naik dan menyalakan motornya. Tanpa banyak omong lagi saya juga segera membonceng di belakang.

Baru saja kami keluar dari halaman bank dan masih berada di gerbang, sebagaimana saat kedatangan saya kesana tadi, kemacetan belum terurai. Otak saya bekerja cepat dan mengambil keputusan, tidak mungkin saya dengan cepat menuju kedutaan dengan kondisi lalulintas yang amburadul begini.

Saya turun dari Grab, mengambil selembar uang yang tadi saya mabil di ATM dan memberikannya kepada pengemudi Grab. “Sudah mas, ya…” kata saya kepada sang pengemudi yang menerima uang dalam keadaan bingung.

Saya berlari keluar dari gerbang, belok kanan melewati trotoar yang sudah tidak ketahuan bentuknya, sehingga saya lebih sering berlari di pinggir jalan menuju selatan, melawan arus kendaraan yang datang dari arah Pasar Minggu. Sesekali saya memperlambat lari untuk menormalkan nafas yang sesak, lalu kemudian mempercepat langkah saya lagi.

Walau mungkin sudah tahu bahwa dollar sudah ada di tangan saya, namun karena saya tidak merespon setiap panggilan telepon yang masuk maupun pesan melalui WhatsApp, maka sepanjang jalan yang saya lewati sambil berlari maupun bergantian dengan jalan cepat itu, dering telpon maupun denting pesan WhatsApp ikut berkejaran di handphone saya. Saya tidak mempedulikan lagi semua dering panggilan telpon maupun pesan WhatsApp itu. Keterlambatan sekian menit dari tenggat waktu lebih memacu adrenalin saya untuk bergerak lebih cepat lagi agar sampai di kedutaan.

Saya tidak tahu berapa menit waktu yang terpakai dalam perjalanan yang benar-benar menguras energi maupun emosi saya itu, hingga saya sampai di gedung yang saya tuju. Baru saja saya tiba di depan pintu lobby gedung dimana kedutaan berada, saya sudah disongsong seorang laki-laki yang usianya tak beda jauh dengan saya dengan wajah perawakan keturunan Asia Selatan.

Setelah bersalaman, tanpa banyak bicara dan nafas masih ngos-ngosan saya langsung menyerahkan dollar yang ada di tangan saya kepadanya. Mata saya berkeliling mencari kursi buat beristirahat melepaskan capek dan sesak nafas saya, tapi saya malah diajak untuk ikut bersama dia.

Kami menuju lift yang terletak tidak jauh dari meja resepsionis. Sang agen mengaktifkan tombol lift dengan visitor card yang diberikan oleh resepsionis, memencet nomor lantai yang kami tuju dan beberapa saat kemudian lift bergerak naik.

Hanya dalam beberapa detik kemudian lift berhenti dan pintunya terbuka. Sebuah ruang tunggu yang juga terdapat meja resepsionis dan seorang wanita muda yang duduk di belakang meja serta seorang petugas security menyambut kedatangan kami. Sang agen berjalan menuju meja resepsionis, berbicara singkat sambil menyerahkan dollar yang ada di tangannya.

Sang resepsionis lalu mengajak agen mengikuti dia melewati pintu yang ada di samping security, lalu kemudian keduanya menghilang dibalik pintu. Saya lalu duduk di kursi tamu, sekilas saya lihat sang petugas security melirik saya dengan pandangan menyelidik. Tapi saya cuek saja.

Ruangan berpendingin itu menyerap keringat saya yang tadi mengucur membasahi seluruh tubuh. Nafas sayapun sudah kembali normal. Sambil duduk, mata saya sekilas mencoba menyapu rangan yang tidak begitu luas tersebut. Di dinding yang berada di belakang meja resepsionis terdapat sebuah tulisan: “Embassy of the…”, sebuah nama negara Asia Timur tertulis disana.

Tidak lama kemudian, kedua orang tadi kembali dari dalam ruangan yang mereka masuki tadi. Sang resepsionis kembali ke meja kerjanya, sementara sang agen berjalan mendekati tempat saya duduk dan kemudian duduk di kursi yang ada di samping saya.

Agen menyerahkan dokumen yang baru saja dibawanya dari ruangan dalam kedutaan. Sebuah pasport berwarna hijau yang di salah satu halamannya telah di tempel dengan sticker visa kunjungan ke negara bersangkutan. Di samping pasport juga terdapat uang kembalian pecahan kecil US Dollar.

Saya menerima pasport tersebut berikut uangnya dan memasukannya ke dalam tas. Selanjutnya kami kembali menuju lift yang turun ke lantai dasar, meninggalkan kedutaan.

Setelah menyerahkan visitor card, saya dan agen lalu berpisah di lobby.

Saya berjalan meninggalkan gedung tempat pertemuan kami tersebut. Saat sampai di jalan, saya melihat lalu lintas sudah agak lancar. Saya lalu berjalan menuju perhentian bus pengumpan Transjakarta jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang. Pulang ke studio dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Saya tak lagi terburu-buru, karena saya berangkat ke Padang dengan penerbangan terakhir Lion Air pukul 8 malam.
********

Setelah shalat ashar, saya naik Grab menuju Slipi, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus Transjakarta menuju Pluit. Di halte Penjaringan saya turun dari bus, lalu menyeberang menuju jalan Pluit Selatan. Berjalan sekitar 50 meter dari persimpangan, saya melihat sebuah taksi behenti dalam keadaan kosong.

Saya mendekati taksi tersebut, sang pengemudi menurunkan kaca pintu depan. Saya memberikan kode kepada sang pengemudi, dia mengangguk, sayapun lalu masuk ke dalam taksi. Tak lama berselang dua penumpang lagi datang dan ikut masuk ke dalam taksi, setelah itu taksi bergerak menuju bandara.

Taksi mengantar kami ke halte shuttle bus bandara. Saya lalu naik bus yang sudah menunggu. Setelah bus berjalan dan sampai di tujuan, baru saya sadar kalau bus tersebut menuju terminal 3. Oleh petugas bandara saya lalu diarahkan untuk naik kereta gantung yang menghubungkan ketiga terminal. Sebuah pengalaman barupun saya dapatkan saat menikmati perjalanan dengan kereta gantung tersebut menuju terminal 1.

Setelah cek in, saya langsung menuju ruang tunggu, lalu shalat magrib di mushalla gate 5. Selesai shalat dan menunggu boarding, baterai handphone maupun powerbank saya habis, lalu menyempatkan diri mengecas handphone di tempat yang sudah disediakan pihak bandara. Panggilan untuk masuk pesawat terdengar saat pas saya selesai shalat isya. Bersama penumpang lain kami masuk pesawat, setelah semua selesai boarding. Pesawatpun bergerak menuju landas pacu, dan beberapa saat kemudian lepas landas meninggalkan Jakarta menuju BIM, Padang.

Setelah terbang sekitar 1,5 jam, kurang beberapa menit pukul 10 malam, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Minangkabau.

Baru saja handphone saya nyalakan, sebuah pesan WhatsApp tampil di layar, dar sebuah nomor baru yang sudah dikirimkan kepada saya sebelumnya.

“Ambo tunggu di Minang Mart” demikian pesan yang tampil di layar, yang kemudian saya balas. “OK!”

Keluar dari bandara, berjalan menuju Minang Mart, tak lama sang teman datang menyongsong kedatangan saya. Dia langsung mengajak saya menuju mobil yang berada di tempat parkir. Begitu berada di dalam mobil, saya lalu menyerahkan dokumen beserta dollar dan sisa uang yang saya mabil di ATM pagi tadi. Setelah selesai serah terima, beberapa saat kemudian kami meninggalkan bandara. Saya diantar menuju rumah adik saya di Padang Baru.

“Mission completed”

Demikian sebuah pesan dari agen Jakarta yang belum sempat saya baca siang tadi, ketika saya membuka handphone setelah mobil yang mengantar meninggalkan saya di Padang Baru dan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, dimana sang bigboss berada.

Alhamdulillah…

Kegagalan Membayang di Ambang Mata!

Google

Kisah sebelumnya:
http://diankelana.web.id/detik-detik-yang-menentukan/

Pada jarak sekitar seratus meter dari posisi Grab yang saya tumpangi, saya melihat sebuah neon box ATM BCA dan memberitahukannya kepada pengemudi Grab. Untunglah posisinya ada di sebelah kiri jalan sehingga kami tak harus memutar lagi di jalan yang tersendat itu.

Belum lagi Grab parkir dengan benar, saya sudah turun dari sepeda motor buatan Jepang itu. Segera berlari menuju ATM yang kebetulan kosong, mengeluarkan kartu ATM dari tas selempang yang tergantung di pundak saya, memasukkan kartu ke mesin ATM, menunggu mesin loading, memasukkan password, memencet pilihan tarikan tunai, lalu mengetikkan angka 4.500.000 lalu mengklik tombol mesin ATM.

Sambil menghela nafas, saya menunggu mesin ATM itu bekerja. Saya biasanya cukup sabar menunggu mesin ATM bekerja, tapi saat itu saya merasakan mesin uang itu bekerja lambat sekali, sementara waktu berjalan terus dan saya harus menuntaskan pekerjaan saya dalam waktu kurang dari 20 menit!

Masalah muncul di saat tak diharapkan, mesin ATM itu tidak mengeluarkan uang yang saya minta! Panik, stress, kesal bercampur aduk menjadi satu.

Silakan masukkan nilai yang lebih rendah untuk mengambil uang anda

Membaca tulisan yang terpampang di monitor mesin ATM itu, baru saya ingat kalau mesin hanya bisa mengeluarkan maksimal 25 lembar uang kertas dalam setiap tarikan. Huh, kenapa hal ini tidak terpikirkan sebelumnya? Karena mesin ATM itu hanya mempunyai uang pecahan 50 ribu rupiah di dalamnya, maka tarikan maksimal yang bisa saya lakukan hanya 1.250.000 rupiah. Saat akan mengetikkan jumlah maksimal yang akan saya tarik itu, sekilas mata saya melihat kalau jumlah tersebut sudah tersedia sebagai salah satu pilihan auto di monitor. Ah, kenapa di saat terdesak waktu yang semakin mepet ini hal sepele seperti ini kok jadi hilang di ingatan?

Walau uang yang ditransfer hanya 4,5 juta, untuk menghemat waktu saya memencet tombol pilihan maksimal tarikan itu sebanyak empat kali. Setiap mesin ATM memuntahkan 25 lembar uang kertas berwarna biru itu, saya kembali memencet tombol yang sama, hingga akhirnya seratus lembar uang 50 ribu itu memenuhi tangan kiri saya. Setelah memasukkan uang ke dalam tas, saya segera menuju Grab yang dengan sabar menunggu.

Setelah naik Grab dan bergerak keluar dari lokasi ATM, saat menunggu jalan di depan kami agak renggang dari padatnya lalu lintas, di seberang jalan tidak jauh dari posisi kami berhenti, saya melihat ada Bank BRI. Saya segera turun dari Grab dan mengatakan kepada pengemudinya agar menunggu saya di halaman parkir Bank BRI yang ada di seberang jalan tersebut. Saya tidak mau kehilangan waktu untuk ikut memutar bersama Grab di tempat pemutaran jalan raya Pasar Minggu tersebut, yang lokasinya cukup jauh dari tempat kami berdiri.

Tanpa menunggu jawaban pengemudi Grab, saya berjalan cepat menyeberang jalan, memotong arus di sela-sela kendaraan yang berjalan lambat di kedua sisi jalan.

Sampai di pintu masuk BRI, kembali seorang petugas security menyambut saya. Setelah mengatakan akan membali dollar, sang petugas lalu menekan tombol mesin yang ada di sampingnya untuk mengambil nomor antrian, dan beberapa saat kemudian menyerahkan selembar kertas bernomor yang keluar dari mesin tersebut kepada saya, lalu menunjukkan teller yang akan melayani saya nantinya. Sambil mendengarkan arahan dari sang petugas, mata saya sekilas melihat jam yang menempel di dinding, persis di belakang meja sang teller. jam menunjukkan Pukul 10.50.

Saya melihat nomor antrian yang diberikan kepada saya, di kertas tersebut tertulis C2. Saya lalu melihat layar monitor informasi, terlihat saat itu teller sedang melayani customer C1. Alhamdulillah, saya tidak akan menunggu terlalu lama.

Dengan adanya kepastian saya bisa membeli dollar di BRI tersebut, rencana awal membeli dollar di MayBank, Pancoran, terpaksa saya batalkan. Karena posisi saya saat itu sudah cukup jauh dari lokasi bank tersebut.

Menunggu giliran untuk dilayani teller, baru saya sempat menjawab panggilan telepon yang sedari tadi berbunyi sambung menyambung dari dua lokasi berbeda, Bukittinggi dan dari sang agen yang saat itu sudah menunggu di Kedutaan, yang berdasarkan informasi yang diberikan, lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat saya berada.

Karena tidak ingin mengganggu suasana di ruang tunggu bank dan juga karena sedang berkonsentrasi menunggu panggilan teller, saya hanya menjawab singkat dengan mengatakan bahwa saya saat itu sedang berada di BRI.

Berselang dua menit, terdengar suara teller memanggil nomor C2. Saya segera merapat ke meja panjang dimana sang teller berada. Tanpa menunggu sang teller bertanya, saya langsung mengatakan ingin membeli US dollar sebanyak 300 dollar.

“Kita cek dulu rate hari ini, ya, pak!” jawab sang teller sambil memainkan mouse dan keyboard komputer yang ada di hadapannya. Karena sudah tahu kisaran harga nilai tukar yang berlaku hari itu, sebenarnya saya ingin mengatakan untuk langsung transaksi saja, agar tidak menghabiskan waktu saya yang semakin pendek, hanya tinggal 8 menit!
Tapi, karena sadar itu adalah prosedur standar yang harus dilakukan sang teller, saya harus menahan diri.

Tanpa melihat rate yang ditulis sang teller di secarik kertas yang disodorkan, saya dengan cepat mengatakan “Oke, saya butuh 300 dollar…” Lalu segera membuka tas dan mengeluarkan uang yang barusan saya ambil di ATM. Sementara sang teller menghitung berapa nilai transaksi yang harus saya bayarkan untuk pembelian dollar sebanyak itu.

Kembali sang teller mengulurkan secarik kertas yang berisi angka total harga yang harus saya bayar. Setelah melihatnya nilainya, saya langsung menyerahkan sejumlah uang yang ada di genggaman saya, yang tak lama kemudian teller memberikan uang kembalian berikut invoice bukti transaksi.

“Tunggu ya, pak!” kata sang teller, yang kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu yang berjarak hanya beberapa langkah di samping kanannya, membuka pintu dan menghilang ke ruang lain yang ada di belakang ruang kerjanya.

Begitu dia menghilang di balik pintu, mata saya segera beralih ke jam yang menempel di dinding, pukul 10.56 dan rasanya jam bergerak begitu cepat, sementara pelayanan terasa berjalan begitu lambat.

Sebenarnya cukup banyak bangku yang disediakan untuk tempat duduk para nasabah atau tamu yang mempunyai urusan dengan bank tersebut. Tapi suasana tegang mengingat waktu yang semakin pendek, membuat saya tak punya keinginan untuk duduk. Yang saya inginkan saat itu adalah sang teller segera keluar dari ruang belakang sambil memegang dollar dalam genggamannya, menyerahkannya kepada saya, dan saya segara kabur dari sana.

10.57, pintu belakang belum terbuka.
10.58, teller masih belum muncul. Panggilan telepon kembali sambung menyambung, tapi saya sengaja mendiamkannya, karena saya tidak ingin kepanikan mereka ikut mempengaruhi saya yang mungkin saja bisa membuat saya ikut “meledak”, sementara saya sendiri juga sudah merasakan tekanan yang cukup berat menunggu lambatnya sang teller kembali ke tempat saya menunggu.

10.59, beberapa pesan WhatsApp juga masuk, tapi saya tidak membacanya. Karena tanpa membacanya saja tensi saya juga sudah di atas normal, dan saya sudah bisa menduga pesan apa saja yang ada disana.

11.00 Teng!!!
Saya mengalihkan pandangan saya dari pintu tempat menghilangnya teller tadi. Saya tidak ingin nafas saya semakin sesak, tenggat waktu saya sudah habis. Saya juga sudah membayangkan kepanikan di dua tempat berbeda. Yang jauhnya ratusan kilometer dari tempat saya berdiri, maupun yang mungkin hanya sekitar 1 kilometer di selatan sana.

Beratnya tekanan yang saya rasakan, apalagi telah melewati deadline, membuat saya hanya bisa pasrah. Apapun yang akan terjadi setelah ini, hingga saya bertemu dengan sang agen nanti, saya akan menerimanya dengan segala konsekwensinya. Saya hanya menjalankan amanah yang menurut saya saya laksanakan dengan penuh ikhlas, tapi entahlah menurut penilaian Tuhan, maupun oleh orang yang memberi kepercayaan kepada saya. Saya tidak tahu apakah ini nanti akan berakibat panjang atau pendek, berakhir baik atau buruk buat saya.

Mata saya terasa berat, namun bunyi pintu terbuka menyadarkan saya dari lamunan. Dari balik pintu sang teller berjalan mendatangai saya, terlihat jelas di genggamannya terselip apa yang saya tunggu.

“Maaf ya, pak, agak lama. Bapak tidak duduk di kursi, ya?” tanya sang teller sambil menyerahkan uang yang ada dalam genggamannya. Saya hanya menjawab sapaan sang teller dengan senyuman, lalu memasukkan 3 lembar dollar ratusan yang baru saya terima ke dalam tas, lalu bergegas berjalan keluar bank.

Bersambung

Detik-detik yang menentukan

Jalan Raya Pasar Minggu

Kisah sebelumnya:
http://diankelana.web.id/jam-jam-penuh-ketegangan/

Masih ada waktu 50 menit kata saya dalam hati, sambil berjalan menuju jalan MT Haryono yang berada di depan saya, kemudian terus menyeberang melewati kolong jalan layang dan tiba di sisi selatan jalan tersebut.

Dari pinggir jalan saya melihat gedung berwarna coklat. Posisinya yang strategis pas di sudut persimpangan jalan MT Haryono dan jalan Pasar Minggu, pasti akan memudahkan siapapun yang mencarinya. Agar tak repot mencari, saya langsung bertanya kepada petugas security yang berada di gerbang pintu masuk. Menanyakan pintu masuk MayBank. Setelah dijelaskan sambil melihat ke arah gedung, saya berjalan mengikuti arahan petugas security tersebut.

Dalam perjalanan menuju bank, sebuah pesan WhatsApp masuk. Terlihat sebuah gambar hasil tangkapan layar laporan transaksi bank yang menyatakan transferan yang dikirim ke rekening saya, sudah masuk. Berikut pesan selanjutnya yang menyuruh saya untuk membeli US 300 dollar. Hanya saja karena tulisan di gambar tangkapan layar tersebut cukup kecil, saya tidak bisa membacanya dengan jelas, sayapun tak menanyakannya lebih lanjut karena saya sudah sampai di depan pintu MayBank.

Seorang petugas security menyambut saya di balik pintu MayBank, dan pertanyaan standar kembali dia ajukan.

“Ada yang bisa kami bantu, pak?”
“Saya mau beli US dolar, pak, bisa?”
“Bisa pak, tapi kita akan lihat dulu berapa rate hari ini…” kata sang petugas sambil menunjuk sebuah monitor yang menempel di dinding salah satu sisi lobby bank itu. Saya mengikuti dengan mata arah telunjuknya. Kami menunggu sejenak, sambil tetap melihat pergerakan tampilan nilai tukar uang rupiah terhadap uang asing hari itu, yang bergantian tampil di layar monitor. Sang petugas pun menyiapkan selembar kertas dan ballpen di tangannya.

“Nah itu dia, pak!” kata sang petugas yang dengan sigap mencatat di kertas yang sudah disiapkannya. Kertas tersebut lalu diserahkannya kepada saya, dan sayapun membaca catatan nilai tukar yang tertulis di kertas tersebut.

“Oke, pak. Saya akan beli, tapi saya akan mengambil uang dulu. ATM BCA ada nggak dekat sini, pak?”
“Nggak ada, pak. Coba bapak lihat di samping gedung kita ini ada Indomaret, mungkin disana ada…”
“Oke, pak. Terimakasih, saya akan coba lihat ke sana…”

Keluar dari bank, hal pertama yang saya lakukan adalah membalas pesan di WhatsApp, menanyakan berapa uang yang barusan di transfer. Sambil berjalan menuju Indomaret, pesan di WhatsApp kembali masuk, dan di sana tertulis angka 4,5 juta, berikut di bawahnya gambar tangkapan layar bukti transfer yang dia kirim ulang. Di sudut kanan bawahnya juga tertera waktu pengiriman pesan, pukul 10.25.

Saya tidak menemukan Indomaret di samping bank yang bersisian dengan jalan raya Pasar Minggu tersebut, seperti yang dikatakan petugas tadi. Saya lalu menanyakan dimana ATM BCA kepada seorang petugas parkir yang ada disana. Sang petugas mengatakan bahwa tidak ada ATM BCA dekat sana, tapi dia menyarankan untuk pergi ke SPBU Pertamina yang berada di seberang jalan raya Pasar Minggu tersebut.

“Di pom bensin itu ada ATM, pak…” kata sang petugas parkir.

Setelah mengucapkan terimakasih, saya mengikuti arahan petugas parkir. Menyeberangi jalan raya Pasar Minggu, lalu berjalan ke arah selatan beberapa meter menuju pom bensin, seperti yang dikatakannya.

Saat saya sampai, saya lihat area pom bensin atau SPBU Pertamina tersebut cukup luas dan memanjang ke arah barat. Sekitar 100 meter dari pinggir jalan.

Sebenarnya saya agak ragu untuk masuk kesana, karena saya tidak melihat neon box ATM BCA, yang biasanya selalu ada disetiap lokasi ATMnya. Tapi, agar tidak penasaran saya tetap masuk, walau harus dengan langkah yang semakin dipercepat.

Benar saja, saya menemukan ada dua ATM di bagian ujung lokasi pengisian BBM. Tapi keduanya bukan ATM BCA!

Dengan langkah yang semakin dipercepat saya meninggalkan lokasi pom bensin. Sambil celengukan kiri-kanan jalan diiringi pesan melalui WhatsApp yang datang bertubi-tubi menanyakan posisi dan perkembangan perjalanan saya dalam mendapatkan ATM dan membeli dollar. Begitu juga telepon yang bergantian masuk dari Bukittinggi dan agen yang sudah menunggu saya di kedutaan sebuah negara di Asia Tengah.

Capek berjalan dengan langkah yang boleh dikatakan setengah berlari dengan tubuh yang sudah mandi keringat, akhirnya saya memesan Grab. Tak lama ada pengemudi yang menerima order saya, tapi di aplikasi saya melihat waktu kedatangannya 4 menit, rasanya itu terlalu lama, apalagi kemacetan yang putus sambung di sepanjang jalan raya Pasar Minggu tersebut. Ingin saya membatalkan order, untung saja kesadaran saya mengingatkan, apakah saya akan mendapatkan penggantinya dalam wakru yang cepat dan waktu kedatangan yang juga seketika? Sementara jam di aplikasi sudah menunjukkan pukul 10.31.

Saya segera naik ojek yang saya order, dan berpesan kepada pengemudinya agar membantu melihat ATM BCA dalam perjalanan menyusuri jalan. Ojek saya arahkan menuju ke Selatan, dengan pertimbangan semakin dekat ke titik temu kami dengan agen yang sudah pasti tak mungkin lagi di Gelael.

Handphone saya tak berhenti berdering, tapi saya tidak bisa menjawabnya karena berada di kantong samping celana saya. Saya khawatir bila saya mengeluarkannya dari kantong, alat komunikasi saya satu-satunya itu jatuh dan rusak, sehingga malah akan mengacaukan mission impossible yang saya jalani saat itu. Dan lagi berisiknya suara kendaraan dan hembusan angin sepanjang jalan, akan membuat saya tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

Saya tidak tahu bagaimana kepanikan dua orang yang tak putusnya mengontak saya itu. Karena deadline kami adalah pukul 11.00. Sementara saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10.37, belum ketemu ATM, belum mencari money changer lalu berjalan lagi mencari dimana lokasi sang agen!

Bersambung

Jam-jam Penuh Ketegangan

Soho Pancoran. Foto: Lucky I. Ismail

Senin, 17 Juni 2019

Jam menunjukkan pukul 9 lewat beberapa menit. Saya naik bus Transjakarta menuju Pancoran. Teman yang di Bukittinggi telah memberikan nama orang yang harus saya temui. Saya telah mengontak dia melalui WA, dan kami berjanji bertemu pukul 11.00 di Supermarket Gelael, yang lokasinya tidak begitu jauh dari Patung Dirgantara, Pancoran. Disanalah nanti transaksi kami akan berlangsung.

Turun dari bus Transjakarta, bergegas saya berjalan menuju gedung terdekat. Ada hal lain yang juga harus saya selesaikan sesegera mungkin. Timer yang secara alami telah memberikan isyarat, membuat saya tidak bisa santai membuang waktu, sebelum meledak di tempat yang sedang saya tuju.

Saya menyeberangi jalan MT Haryono yang mengarah ke Cawang. Saya memasuki halaman sebuah gedung pencakar langit yang berada di sebelah kiri jalan. Sebuah plank merek bertulisan SOHO terpampang di dinding gedung. Saya lalu membuntuti seorang wanita yang akan masuk gedung di lobby utama. Setelah sampai di lobby saya menahan langkah saya dan membiarkan si wanita yang tadi saya buntuti berjalan sendirian.

Saya berhenti sejenak diruangan yang cukup lega tersebut. Lobby gedung itu masih sepi, yang terlihat hanya seorang petugas kebersihan menunaikan tugasnya. Merapikan lagi ruangan yang sudah tertata rapi itu.

Mata saya menyapu seluruh ruangan, lalu melihat sebuah tanda yang saya cari, lalu tanpa menimbulkan kecurigaan petugas security yang berada dekat pintu masuk, saya berjalan menuju tanda yang saya lihat barusan. Saya berjalan lebih cepat namun tetap berusaha tidak menimbulkan kecurigaan. Begitu saya sampai di tanda yang saya lihat tadi, saya lalu cepat-cepat menyelinap masuk lewat pintu yang ada di sampingnya. Sementara alarm yang berada di tubuh saya berdetak makin cepat.

Ada beberapa pintu di ruangan yang saya masuki, namun saya tak bisa berpikir lebih lama lagi pintu mana yang harus saya masuki. Saya langsung menerobos salah satu pintu yang setengah terbuka, begitu sampai di dalam dengan cepat saya menutup dan mengunci pintunya. Untung tak seorangpun yang berada di dalam ruangan itu.

Setelah membuka tali ikatan yang membelit pinggang dan yang lainnya, pelan-pelan saya duduk di satu-satunya tempat duduk di ruangan itu. Dengan tenang saya lalu membuang benda yang memicu alarm yang ada di tubuh saya tadi aktif dan bereaksi.

Begitu benda itu nyemplung di lubang bangku yang saya duduki, saya pun bernafas lega. Beberapa saat kemudian saya lalu memutar sebuah tombol yang ada di samping, seketika air muncrat dari bawah membersihkan apa yang harus dibersihkan. Setelah merapikan pakaian, hal terakhir yang saya lakukan adalah menekan sebua tombol yang ada di belakang bangku yang saya duduki tadi. Dengan segera air mengucur kencang menghanyutkan benda yang baru saja saya buang, aman!

Saya keluar dari ruangan itu, lalu menuju ruangan lain di sebelah lobby, di sana beberapa meja dan kursi tertata dengan apik. Di dekatnya terdapat sebuah bar atau meja panjang yang di belakangnya terlihat ruangan tempat memasak. Rupanya sebuah cafe yang masih tutup.

Saya melihat jam yang ada di handphone, pukul 09.40. Saya lalu duduk di salah satu kursi, menunggu pukul 11.00, waktu yang kami sepakati untuk bertemu dengan sang penghubung.

Sambil duduk, saya melihat seorang laki-laki masuk ke ruangan yang saya tinggalkan tadi. Begitu pintu tertutup, mata saya beralih ke tulisan yang ada di sana. Dari tempat duduk saya, tulisan itu masih terbaca dengan jelas: TOILET.

Sambil memegang handphone, dalam hati saya bergumam; masih ada cukup waktu buat santai dan fesbukan. Saya lalu bersandar di kursi yang saya duduki.

Tapi dugaan saya salah, belum sampai lima menit, handphone saya berdering. Setelah saya angkat terdengar suara seoran wanita, dia yang telah membelikan saya tiket pesawat ke Padang untuk menunaikan tugas yang tengah saya jalani saat ini.

“Assalamualaikum, Ci…”

“Alaikumsalam, pak. Ada tempat penjualan uang dollar ndak di tempat bapak sekarang?”

“Belum tahu Ci, saya akan lihat dulu…”

“Minta tolong ya, pak, soalnya visanya harus dibayar dengan dollar…” Cici, nama panggilan wanita yang barusan menelpon itu, memutuskan hubungan telepon.

Saya segera bangkit dari kursi, lalu mendekati petugas kebersihan yang masih berada di lobby. Setelah dekat, saya menanyakan apakah ada money changer di sekitar gedung ini. Sang petugas kebersihan menjawab “money changer nggak ada pak, tapi coba bapak naik ke lantai dua, di sana ada travel biro. Mereka kadang juga suka jual dollar…”

Saya bergegas naik escalator, menuju lantai dua dan mencari travel biro yang dimaksud. Saat saya menemukannya, pas juga ada seorang sedang membuka kunci pintunya. Rupanya dia juga baru datang.
“Permisi, mas, numpang tanya. Disini ada jual dollar, nggak?”
“Maaf, pak. Kita nggak menjual dollar…”
“Oke, terimakasih, mas…”

Saat memutar badan hendak menuju escalator, tidak jauh dari travel biro, masih di lantai yang sama, saya melihat kantor Bank Mandiri. Segera saya berjalan menuju bank tersebut. Begitu sampai di pintu, seorang petugas security menyambut saya. Tanpa basa-basi saya lalu menanyakan, apakah Bank Mandiri menjual dollar, yang kemudian dijawab oleh sang petugas kalau mereka tidak menjualnya, sambil menyarankan saya untuk pergi ke MayBank yang berada di seberang gedung SOHO.

Saya lalu bergegas menuju escalator, lalu turun sambil tetap berjalan melangkahi anak tangga escalator yang sedang bergerak turun itu. Sampai di lobby saya lalu berjalan cepat mendekati petugas security. Sebelumnya, sebuah pesan melalui WhatsApp dari Cici, masuk, menanyakan nomor rekening saya.

Begitu sampai di tempat petugas security berdiri, saya lalu menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang saya tanyakan kepada orang-orang sebelumnya. Sang petugas lalu menyarankan saya untuk pergi ke seberang jalan, dan menanyakan di beberapa bank yang ada di seberang gedung SOHO Pancoran tersebut.

Setelah mengucapkan terima kasih, saya lalu berjalan meninggalkan gedung tersebut. Namun saat masih di halaman gedung, saya menyempatkan diri membalas pesan Cici di WhatsApp, mengirimkan nomor rekening saya. Jam di handphone saya sudah menunjukkan pukul 10.10. Nafas saya mulai sesak karena berjalan cepat sejak dari lobby hingga ke lantai dua, lalu kembali ke lobby lagi dan kini siap menyeberangi jalan MT Haryono.

Bersambung

Artikel sebelumnya: Allah Menyuruh Saya Pulang Dengan Mengirimi Tiket Pesawat

Allah menyuruh saya pulang dengan mengirimi tiket pesawat

Sebuah salinan bukti pembelian tiket pesawat Lion Air, mendarat mulus di layar handphone saya melalui sebuah pesan di WhatsApp. Di sana tertera nama lengkap saya, persis seperti yang tertulis di KTP seumur hidup saya.

Sambil menatap foto tangkapan layar handphone tersebut dengan perasaan yang belum sepenuhnya yakin, saya membatin. Allah menjawab doa-doa yang saya panjatkan pada setiap selesai shalat, maupun pada setiap kesempatan saya bisa melafazkan doa melalui mulut, ataupun hanya bisikan dalam hati.  

Pulang kampung, demikianlah ucapan jutaan perantau yang hidup jauh, mulai yang hanya berjarak puluhan hingga ratusan, bahkan ribuan kilometer dari kampung halaman mereka, bila hari raya Idulfitri tiba.

Sebuah perjalanan yang sebenarnya bersifat pribadi, namun secara serentak diikuti oleh jutaan manusia yang menyebut diri mereka perantau. Tidak ada komando, perintah atau himbauan. Namun kerinduan akan orang tua, para kerabat dan sanak saudara maupun tanah kelahiranlah yang menggerakkan mereka untuk pulang setahun sekali. Bergembira sekaligus juga memohon maaf terhadap orang tua maupun anggota keluarga lainnya serta handai tolan sekampung dan sehalaman.

Tidak semua perantau punya kesempatan untuk pulang, banyak alasan yang menyebabkan mereka tak bisa bertemu orang tua tercinta, maupun sanak saudara. Bagi mereka yang kurang beruntung, tidak bisa pulang karena tidak bisa meninggalkan tugas atau situasi keuangan yang tidak memungkinkan, kiriman doa lah yang mereka antarkan di setiap saat dan kesempatan, atau ketika melaksanakan ibadah yang dilakukan.

Saya termasuk kelompok kedua, tidak bisa pulang kampung. Walau kami pada awalnya bersama anak-anak, menantu dan cucu-cucu telah merencanakan untuk pulang, namun pada hari H-nya kami gagal berangkat.

Kerinduan akan kampung halaman maupun sanak saudara, tetap terpendam dalam hati. Apalagi di keluarga kami, tiga orang kakak saya yang semuanya telah berusia di atas 70 bahkan ada yang sudah lebih dari 80 tahun. Serta ketiganya juga sudah kehilangan suami yang telah lebih dahulu pergi dipanggil Sang Pemiliknya, tetap terbayang di ruang mata.

Kakak tertua yang berusia lebih dari 80 tahun. Walau punya 5 anak, tapi semuanya berada di perantauan, kini hidup sendiri apa adanya. Hanya berbatas dinding rumah, kakak kedua juga tinggal sendiri. Satu-satunya anak yang masih hidup, tinggal dan bekerja di Jakarta dan alhamdulillah bisa pulang setiap lebaran tiba. Kakak ketiga yang tadinya juga tinggal di kampung, saat ini tinggal bersama anaknya di Duri, Riau.

Dalam kehidupan, saya mempercayai, selalu ada hikmah pada setiap kejadian. Begitupun dengan tiket yang mengantarkan saya pulang kampung ini. Bagaimana kisahnya, akan saya ceritakan pada artikel berikutnya, setelah saya sampai di kampung nanti. Insya Allah.