Ngobrol Santai Bersama Arif Gunawan Dewa SEO

Arif Gunawan di tengah karyawan Dewa SEO

Tujuh tahun lalu adalah awal pertemanan saya dengan Arif Gunawan melalui Facebook. Tidak sampai setahun, bersama beberapa teman blogger lainnya kami diundang untuk datang ke markas Dewa SEO di ITC Kebon Kelapa, Bandung.

Saat itu saya belum tahu ada acara apa, tapi karena yang diundang juga teman-teman blogger lain yang juga berasal dari luar Bandung saya ikut saja. Setelah semua berkumpul di Bandung, kami lalu diajak ke Pangalengan, Bandung Selatan. Rupanya kami diajak ke sebuah tempat wisata yang mempunyai fasilitas arung jeram, flying fox dan perang-perangan dengan paint ball.

Silakan baca: Bertualang Bareng Dewa SEO di Pangalengan

Rabu, 04/03 kemarin, saya sempat berkunjung ke kantor Dewa SEO yang berada di daerah Soreang, Bandung.

Berangkat sehabis shalat subuh dengan travel Daytrans dari Thamrin City, Jakarta. Alhamdulillah pukul 08.05 saya sampai di Pasteur, Bandung. Dengan memesan Gojek saya berangkat ke Soreang. Karena belum sempat sarapan di Jakarta, begitu turun Gojek saya langsung mencari tempat sarapan, ketemu warteg dan sarapan disana.

Setelah urusan perut tuntas ditunaikan, saya lalu mengontak Arif melalui WA dan menyebutkan posisi saya. Tak lama kemudian masuk jawaban dari Arif yang mengatakan kalau saya tinggal menyeberang saja dan masuk ke jalan Ciharum.

Lanjutkan dengan: Bertualang Bareng Dewa SEO: Cileunca Kami Datang!

Benar saja, begitu saya masuk jalan Ciharum, seratus meter dari posisi saya berdiri, saya melihat satu sosok dengan memakai sarung dan kaos oblong berdiri di pinggir jalan sambil melihat ke arah saya. Karena jalan Ciharum saat itu sepi dan satu-satunya orang yang berada disana, maka saya langsung menduga kalau yang berdiri disana itu adalah Arif Gunawan sang owner Dewa SEO.

Tebakan saya rupanya tidak salah, karena setelah dekat kepastian itu langsung terjawab. Setelah mengucap assalamualaikum dan bersalaman, Arif langsung mengajak saya masuk pekarangan lalu istirahat sejenak di kursi yang ada di teras rumahnya. Tak lama kemudian segelas teh manis berikut camilan hadir di atas meja.

Saya cukup beruntung bisa bertemu langsung dengan sang pemilik Dewa SEO, Arif Gunawan, yang dikalangan teman-teman netizen lebih akrab dipanggil dengan Kang Argun.

Ngobrol sambil duduk santai sejenak di teras rumah.

Enam tahun tak bertemu, tak banyak perubahan yang  terlihat di penampilan bung Arif Gunawan ini. Terakhir berjumpa saat dia masih berkantor di ITC Kebon Kelapa. Berbeda dengan penampilannya yang masih energik, rupanya banyak hal terjadi selama kami tak bertemu. Pasang surut bisnis jasa SEO sempat membuat Arif pindah kantor dari ITC Kebon Kelapa, juga karena gara-gara musim batu akik, sehingga suasana di sekitar kantornya tidak lagi kondusif, Arif lalu membubarkan perusahaannya.

Sempat pindah ke Margahayu,  Arif membangun lagi bisnisnya. Mulai dari bekerja sendiri dengan mengontrak sebuah kamar, tak lama kemudian pindah lagi ke Pasundan. Karena sudah punya client yang tetap setia sejak di ITC serta bertambahnya client baru, pelan-pelan Arif kembali bangkit dan merekrut pegawai baru. Kontrakan yang tadinya hanya satu kamar buat kantor, akhirnya bertambah menjadi empat kamar, sebagian diantaranya untuk kost karyawan yang tinggalnya cukup jauh dari kantor.

Dengan semakin meningkatnya jumlah client dan juga jumlah karyawan, sehingga tempat di Pasundan tak lagi memadai. Arif lalu mencari kantor yang lebih pantas lagi. Akhirnya Arif mendapat sebuah rumah di jalan Ciharum, Soreang. Rumahnya cukup besar dan mempunyai paviliun di sampingnya. Sehingga Arif dan keluarga bisa sekalian tinggal disana, sementara paviliun dipakai untuk kantor 10 0rang karyawannya. Bahkan 2 karyawan yang berasal dari luar kota, yaitu Garut dan Surabaya, bisa sekalian tinggal di rumah tersebut tanpa harus mencari tempat kost lagi.

Arif di ruang kerja yang juga merangkap studio, sehingga dindingnya terpaksa ditutup dengan kain polos agar memudahkan saat editing video.

Walau hanya pakai sarung dan kaos oblong, tak mengurangi keakraban kami. Sayangnya saat itu Arif sedikit batuk setelah pulang umrah bersama sang istri, sehingga Argun terpaksa memakai masker dan obrolan kami terkadang diselingi batuk. 

Ngobrol dengan Arif seakan tidak ada habisnya. Pengalaman dan perjalanan hidup maupun yang berkaitan dengan bisnisnya. Bisnis yang berawal dari penjaga warnet sang adik, tanpa digaji, selain hanya makan dan jajan serta rokok yang hingga kini belum bisa ditinggalkannya. Tiga tahun mencari ilmu secara otodidak di warnet yang dikelolanya, Arif mendapatkan ilmu yang kini menopang kehidupan keluarga, bersama sang istri Dede Nuramilah dan dua putri serta satu putra mereka. Serta 10 karyawan yang kini mengantungkan mata pencahariannya di Dewa SEO.

Dikdik
Hadi

Dari teras rumah saya lalu dipersilakan untuk memasuki ruang kerja karyawan, berkenalan dan ngobrol dengan mereka. Satu-satunya karyawan yang saya kenal karena pernah bertemu saat masih berkantor di ITC Kebon Kelapa adalah Dikdik. Dikdik saat ini memegang jabatan sebagai SEO Officer. Satu ruangan bersama Dikdik adalah Hadi sebagai webmaster Dewa SEO dan seorang staf Dewa SEO lainnya.

Di ruangan depan yang lebih besar, 6 karyawan wanita menatap monitor komputer, sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Dipimpin oleh Zia dibagian operasional. Dari dua ruangan inilah Dewa SEO menangani ratusan client mereka yang berada di beberapa kota besar Indonesia.

Makan siang bersama di ruang kerja.

Memupuk rasa kebersamaan diantara karyawan, dilakukan Arif dengan menanggung makan siang semua karyawan di kantornya. setiap hari. Istri dan asisten rumahtangga paruh waktunya, memasak untuk keluarga dan seluruh karyawan. Sayapun ikut menikmati makan siang bersama mereka. Sebuah contoh yang layak untuk ditiru bagi pengusaha lainnya.

5 jam lebih berlalu tak terasa karena keasyikan ngobrol bersama Arif dan karyawannya, yang diselingi dengan shalat zuhur dan makan siang. Lewat pukul 14 saya mohon pamit untuk kembali ke Jakarta. Sebenarnya saya juga ingin singgah dan ngobrol dengan bebearap teman yang lain di Bandung, sayang waktu dan kondisi yang tak memungkinkan. Karena diantara teman itu ada yang sedang berada di Jakarta dan juga di Batam serta di tempat kerja mereka masing-masing.

Selamat Beristirahat Pak Kusjaman

Ada kisah persahabatan selama 22 tahun di meja kerja ini.

Secara formal ini adalah hubungan bisnis antara saya dengan client. Awal kehadiran saya di ruangan ini tahun 1997 adalah sebagai teknisi komputer.

Perkenalan pertama saya dengan beliau ketika saya di telpon saat dalam perjalanan bersama keponakan sekeluarga. Client mendapat nomor saya dari iklan service komputer yang saya pasang di harian Republika. Karena tidak bisa menulis saat memegang HP dan mobil sedang berjalan, saya lalu minta tolong kepada Dewi, istri keponakan saya untuk menuliskan alamat si penelpon.

Esok harinya saya mendatangi alamat yang diberikan. Sejak itu hubungan ini berlanjut hingga 22 tahun lebih.

Saat saya berada Solok untuk suatu tugas 9 Januari lalu, sebuah pesan lewat WA masuk ke HP saya, dari Dudu, asisten yang sudah bekerja di rumah tersebut jauh lebih lama dari saya.

“Ayah,
Aki Kusjaman sudah tidak ada.”

Innalillaahi wa inna ilaihi rajiuun.

Saya tertunduk setelah membaca pesan itu. Persahabatan kami selama 22 tahun lebih segera membayang, airmata saya berlinang.

Saat pertama saya datang ke rumah di Wijaya Timur ini, saya memperkenalkan diri dengan nama asli saya. Dan hingga kepergiannya, pak Kusjaman dan keluarga inilah satu-satunya diantara sekian banyak client saya yang memanggil saya dengan nama asli saya tersebut, sementara yang lain tetap memanggil saya pak Dian Kelana atau pak Dian.

22 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pertama saya menangani komputer beliau di ruang kerja pribadi di rumah pensiunan sebuah perusahaan tambang milik negara ini, saya menemui sebuah personal komputer di ruang kerjanya, yang setelah saya cek sebenarnya tidak mengalami kerusakan. Masalahnya hanya pada media penyimpanan data atau harddisk yang sudah hampir penuh, hanya menyisakan sedikit ruangan untuk menyimpan data tambahan. Begitu juga RAM yang kecil, membuat komputer bekerja tidak leluasa mengolah data yang sedang dikerjakan. Saran saya saat itu hanya penambahan harddisk dengan kapasitas yang lebih besar, sekalian juga kartu memori-nya. Setelah saran saya dipenuhi, komputer tersebut pun bekerja dengan lebih leluasa.

22 tahun saya menangani komputer di rumah pak Kusjaman ini, saya tidak pernah menemukan kerusakan serius di perangkat yang ada. Karena komputer tersebut juga tidak pernah dipakai untuk bekerja berat, aplikasi yang sering dipakai hanya MS Excel dan MS Word.

Penyakit yang sering dikeluhkan hanya masalah komputer sering hang, sehingga membuat pak Kusjaman sering kehilangan kesabaran. Tapi saat komputer saya periksa dan mencoba memakai kedua program tersebut, saya tidak pernah menemukan trouble atau hang.

Nah, komputer hang saat saya menyaksikan bagaimana beliau bekerja dengan MS Excel, lalu tiba-tiba komputer ngadat. Setelah saya perhatikan rupanya terjadi kesalahan saat memasukkan rumus Excel yang tidak dikenal oleh program, sehingga komputer membutuhkan waktu yang lebih lama dari seharusnya sebelum menyatakan kalau rumus yang dimasukkan tidak dikenal oleh sistem. Setelah MS Excelnya di tutup dan kemudian dibuka lagi, semua berjalan lancar.

Seringnya Excel dan Word dipakai, karena pak Kusjaman memiliki sebuah sekolah SMK di dekat Pondok Cabe, tidak jauh dari kampus Universitas Terbuka.

Seringnya saya dipanggil, membuat saya sudah diperlakukan sebagai keluarga di rumah tersebut. Saya tak pernah lagi ditanya berapa uang jasa untuk apa yang saya kerjakan. Setiap pekerjaan selesai sering nasi sudah terhidang di meja. Bahkan tak jarang saya makan bersama tuan rumah.

3 tahun belakangan pak Kusjaman mulai sering masuk rumah sakit. Faktor usia dan mungkin juga beban kerja yang berat semasa masih bekerja, membuat fisik beliau menurun begitu cepat.

Olah raga golf yang sering beliau jalani mulai ditinggalkan. Inspeksi ke sekolah yang biasanya sekali seminggu semakin jarang, hingga hampir dua tahun terakhir, beliau tak bisa lagi lepas dari tempat tidur dan kursi roda.

Sebagai pekerja saya memang kehilangan client, tapi sebagai sahabat dan rasa kekeluargaan dan jalinan silaturrahmi, saya masih sering berkunjung ke rumah beliau. Ngobrol tentang apa saja. Kedatangan saya malah kadang menjadi obat dari kejenuhan tidur di pembaringan. Obrolan tentang perkembangan sekolah yang prestasinya semakin baik, sehingga siswanya selalu lulus 100 persen, membuat wajah yang tadi muram berubah menjadi cerah, semangat hidupnya pun kembali menyala, walau fisik tak mendukung dan bicara juga sudah mulai sulit. Tidak hanya di rumah, saya juga sempat mengunjungi beliau saat dirawat di rumah sakit yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat saya bekerja.

Sebagaimana saya tulis di Postingan sebelumnya, 20 Desember lalu saya pulang kampung. Karena ada acara dan pekerjaan yang saya tangani, saya di berada di Ranah Minang selama 20 hari, di hari ke 19 saya menerima pesan WA seperti yang saya tulis di atas.

Menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bagaimana perjuangan pak Kusjaman ini melawan sakit yang beliau derita dengan selalu didampingi istri beliau.

“Rasanya kepergian beliau adalah satu-satunya jalan untuk melepaskan beliau dari rasa sakitnya.” Seperti yang dikatakan istri pak Kusjaman saat saya berkunjung ke rumah.

“Ibu sudah ikhlas melepas kepergian bapak, setelah melihat dan merawat sakit beliau selama sekian tahun. Rasa kehilangan itu ada dan masih sangat terasa. Tapi Allah lebih tahu apa yang terbaik buat beliau. Apa yang terjadi ini, juga sudah tertulis jauh hari sebelum kita lahir ke dunia ini.”

Pulang…

Pertengahan Juni lalu saya pulang, bagaimana ceritanya sudah saya tulis Disini.

Jam-jam penuh ketegangan

Nah 20 Desember kemarin saya pulang lagi. Tapi kepulangan saya kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.

Pulangnya kami kali ini sudah direncanakan 4 tahun lalu. Saat itu putra saya Alfajri bersama kakaknya Nurul, membuat rencana untuk pulang bersama seluruh anggota keluarga, termasuk mantu dan cucu yang belum pernah melihat kampung keluarga besarnya. Namun rencana yang sudah dicetuskan 4 tahun lalu itu, selalu saja ada halangannya. 

Begitu juga akhir tahun kemarin, hal ini disebabkan oleh kondisi Nurul yang lagi hamil berat menjelang 8 bulan. Terlalu besar resikonya bila dia memaksakan diri untuk ikut pulang lewat jalan darat. Kalaupun dia tetap pulang, paling pakai pesawat, tapi selama di kampung mau tak mau akan tetap juga naik mobil. Resiko paling besar adalah karena rumah keluarga istri saya ada di perbukitan, dan itu harus dilewati dengan berjalan kaki. Sesuatu yang tak mudah bagi orang hamil.

Tapi karena Alfajri sudah siap, maklum saja karena dia sudah 20 tahun tidak pernah pulang, saat dia masih di SMP. Sementara sekarang dia sudah punya istri dan anak yang juga sudah sekolah kelas 2 SD. Jadi dia memang sudah kangen berat untuk pulang, hingga akhirnya kami tetap berangkat, 6 orang dengan satu mobil Honda Mobilio. Kebetulan ada 2 mobil lagi teman Alfajri, yang juga ingin berlibur dan menyambut tahun baru di kampung halaman masing-masing. Sehingga kami bisa berjalan bareng berkonvoi menelusuri hutan belantara Sumatera.

Meninggalkan Jakarta melewati tol Tangerang-Merak  (Dokpri)

 Karena ingin melewati Lampung dan Sumatera Selatan siang hari, maka kami sengaja berangkat malam hari dari Rawamangun, tempat rombongan ngumpul dan mulai berjalan menjelang tengah malam. 

Karena jalanan tidak begitu ramai,  hanya macet 2 kilometer menjelang pelabuhan Merak, kami bisa mencapai Merak hanya beberapa menit setelah melewati penggantian hari dari Jum’at ke Sabtu, 21 Desember 2019. Beruntung, kami tak harus antri saat sampai di pelabuhan. Kami bisa langsung naik kapal penyeberangan.

Meninggalkan Pelabuhan Merak menjelang pukul 1 dinihari

Setelah berlayar menyeberangi Selat Sunda sekitar 4 jam, pukul 05.00 pagi selesai shalat subuh, kapal mulai merapat di Pelabuhan Bakauheni. Matahari pagi menyambut perjalanan non stop kami pagi itu. Melintasi jalan tol baru Bakauheni – Terbanggi Besar – Kayu Agung sepanjang 330 km. Selanjutnya menelusuri hutan Bukit Barisan yang berselingan dengan masuk kota, kampung dan hutan, sepanjang jalan Lintas Sumatera. 

Pelabuhan Bakauheni
Merapat di Pelabuhan Bakauheni pukul 5 pagi

Ada sedikit kesalahan saat membaca rute perjalanan, gara-gara Google Maps menyarankan kami memperlihatkan dua jalur jalan, yang satu berwarna merah menandakan jalur padat, dan satu lagi berwarna hijau sebagai tanda jalanan sepi. Karena pimpinan rombongan mengambil jalanan sepi, akhirnya kami tersasar ke arah jalan Lintas Timur Sumatera, namun sebelum tersasar terlalu jauh kami mengambil jalan kekiri memotong jalur menuju jalan Lintas Tengah Sumatera, melewati jalan SM Badaruddin II. Akibatnya lumayan juga waktu terbuang, sehingga kami sampai di Lahat pukul 8 malam. 

Melewati hutan karet di Sumatera Selatan

Berasa sudah berada di kampung sendiri, anak saya mengatakan ingin melanjutkan perjalanan, tapi saya melarangnya. Mengingat kondisi fisiknya yang butuh istirahat, karena sudah mengemudi sekitar 26 jam, dipotong 4 jam pelayaran dari Merak ke Bakauheni. Akhirnya kami beristirahat semalam di Losmen Sigma, Lahat.

Istirahat di Lahat, Sumsel.

Minggu pagi 22 Desember. Selesai sarapan nasi dengan goreng yang disediakan oleh losmen Sigma, kami bergerak meninggalkan Lahat. Baru separo perjalanan yang kami tempuh dari Jakarta ke Lahat yang berjarak 697 km, seperti yang saya lihat di Google Maps. Masih ada sekitar 700 km lagi untuk mencapai kampung halaman istri saya di pinggir Danau Singkarak. Walau sedikit lebih jauh dibanding Jakarta-Lahat, kami lebih bisa menikmati perjalanan karena sudah merasa di kampung sendiri. 

Shalat Zuhur dan istirahat di Lubuk Linggau

Sampai di Lubuk Linggau kami istirahat untuk shalat Zuhur dan sekalian makan siang. Kami berhenti di sebuah masjid yang berada di pinggir jalan Lintas Sumatera. Sayangnya kami tidak menemukan rumah makan di sekitar masjid yang berdekatan dengan sungai tersebut. Di samping masjid yang juga bersebelahan dengan sungai kami menemukan taman wisata yang nampaknya lebih didominasi area bermain anak-anak. Lumayan banyak warung disana, beruntung ada sebuah warung yang juga menjual nasi goreng. Maka jadilah makan siang kami dengan nasi goreng yang lumayan enak, sehingga kami tak harus mencari lagi rumah makan yang lain. 

Jalan Bergelombang di Lintas Sumatera

Setelah menempuh perjalanan sejauh 300 kilometer selama hampir 5 jam, kami sampai di Muaro Bungo. Istirahat parkir sejenak di halaman Masjid Assu’udiyah yang lokasinya strategis, karena berada persis di jalur Lintas Sumatera dan juga Pasar Muaro Bungo. Keluar dari halaman masjid, durian menantang kami di kaki lima depan masjid. Sebenarnya sejak dari Lampung kami sudah melihat banyak pedagang durian di sepanjang jalan Lintas Sumatera ini. Tapi karena tidak ingin mabok sepanjang jalan, niat makan durian terpaksa ditunda dulu. 

Pedagang durian di Muaro Bungo

Kami meninggalkan kota Muaro Bungo menjelang matahari terbenam. Perjalanan hampir 300 kilometer menyusuri beberapa kota serta perkampungan, maupun hutan Bukit Barisan di sepanjang jalur tengah jalan Trans Sumatera itu, akan kami lewati malam hari. Google Maps memberi kami perkiraan sekitar 5 jam, tapi saya kurang yakin dengan hal itu. Masalahnya kami jalan berombongan 3 mobil yang tentu saja dengan kecepatan yang tidak bisa maksimal, karena harus menjaga jarak dengan teman yang berada di belakang agar tidak tertinggal. Dugaan saya tidak meleset, kami memasuki kota Solok pukul 00.30 dini hari Senin. 

Keterlambatan ini juga disebabkan hujan menyambut kedatangan kami sejak dari Kiliran Jao. Hingga kami sampai di Solok, hujan belum benar-benar berhenti. Setelah dua mobil memisahkan diri dari rombongan, kami melanjutkan jalan menuju Pasir Jaya. Desa kampung istri saya yang berada di pinggir Danau Singkarak yang sudah masuk kabupaten Tanah Datar. Pukul 01.30 akhirnya kami sampai di rumah. Disambut oleh kakak ipar sudah menunggu kedatangan kami sejak sore harinya. Perjalanan sekitar 1.400 kilometer itupun berakhir sudah. Tinggal menyambung kampung saya Kamang Hilir, Bukittinggi, dua hari kemudian. 

Singkarakpun menghampar di depan mata

Suatu Pagi di Talang Babungo

BIMTEK Penulisan Buku Ajar yang dilaksanakan di SDN 09 Talang Babungo, Solok. Masih meninggalkan banyak kesan yang layak disajikan dalam bentuk tulisan, agar tak hilang ditelan waktu.

Setelah menjemput 3 nara sumber ke Bandara Minangkabau, Padang. Masing-masing Omjay alias Wijayakusumah dan ibu Betti Resnalenni dari Kogtik, Jakarta serta pak Edi S. Mulyanta dari penerbit Andi, Yogyakarta. Kami langsung menuju Desa Tabek, Nagari Talang Babungo.

Karena hari sudah malam, kami langsung diantar menuju homestay yang sudah disiapkan panitia, yaitu homestay 13 milik pak Toni yang sehari-harinya juga adalah kepala sekolah Madrasah Tsanawiyah yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Rumah dengan 4 kamar ini nampaknya memang sudah disiapkan sebagai homestay bagi para tamu atau wisatawan yang berkunjung ke Talang Babungo. Setiap kamar sudah dilengkapi dengan kamar mandi berikut dengan shower air panas dan dingin. Di setiap kamar terdapat dua dipan ukuran besar untuk dua orang. Sehingga kamar tersebut bisa dipakai untuk 4 orang. Untuk mengurangi dinginnya udara malam, juga disediakan selimut tebal di setiap tempat tidur.

Bangun pagi, selesai shalat subuh, ada kejutan buat kami. Sepiring nasi goreng panas datang menemani. Bukan sekadar nasi goreng seperti yang dihidangkan hotel buat sarapan gratis, tapi benar-benar nasi goreng yang nikmat dengan bumbu yang lengkap berwarna kemerahan. Sehingga kami benar-benar menikmati hidangan lezat di pagi yang dinginnya menusuk tulang itu. Dua hari nginap di homestay 13, dua hari pula kami menikmati nasi goreng yang nikmat tersebut.

Karena acara hanya dua hari, maka jatah homestay kami juga hanya dua malam di homestay 13. Namun karena masih ada bonus acara liburan dari panitia, maka di malam ketiga kami dipindahkan ke rumah ibu Gusmaletri, salah seorang panitia yang sebenarnya juga berupa homestay, dan sebelumnya diisi oleh peserta Bimtek yang saat itu telah kembali ke tempat masing-masing, sehingga homestay 6 milik ibu Gusmaletri tersebut kosong.

Karena rumah ibu Gusmaletri ini berdampingan dengan masjid, begitu subuh tiba kami dibangunkan suara azan. Bersama Omjay yang juga sudah bangun, kami berjalan ke masjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.

Saat masuk masjid dan berjalan menuju sajadah untuk melaksanakan shalat sunat, saya melihat suatu pemandangan yang cukup unik. Seperti yang saya posting di di facebook, sebagian besar jamaah yang memakai kain sarung dan sedang melaksanakan shalat sunat sebelum shalat subuh berjamaah, tidak memakai sarungnya sebagaimana biasa dengan melilitkannya di pinggang, tapi mereka menyangkutkan kain sarung tersebut di leher, sehingga kain sarung tersebut juga berfungsi sebagai selimut, untuk menutupi tubuh mereka dari dinginnya udara di kaki Gunung Talang yang memang dingin menusuk hingga ke tulang. Sebuah pemandangan yang belum pernah saya lihat dimanapun sebelumnya. Tapi hal ini saya maklumi, karena mereka yang memakai kain sarung seperti itu tidak memakai jaket untuk menghangatkan tubuhnya dan melindungi tubuh mereka dari hembusan udara pagi.

Kembali ke homestaynya ibu Gusmaletri, tawaran kopi atau teh manis diajukan tuan rumah kepada kami. Untuk menghangatkan badan, saya memilih kopi.

Baru sempat menghirup kopi yang disuguhkan, hidangan istimewa untuk sarapan pagi menyusul datang. Sebagaimana di homstay 13 sebelumnya, kembali kami disuguhi nasi goreng panas dan masih mengepul. Dalam hati saya bergumam, mungkin hal ini sudah menjadi tradisi di nagari Talang Babungo ini, sajian hangat untuk meredam hawa dingin pegunungan.

Nasi goreng panas ini juga saya dapatkan saat saya menginap di rumah ibu Sri Melni di nagari Koto Gadang Guguak keesokan harinya. Sehabis mengantar Omjay, bu Betti dan pak Edi ke Bandara Minangkabau hari sebelumnya. Saya kembali ke kecamatan Gunung Talang karena ada keperluan lain disana, disamping itu juga untuk mengirimkan buku #BalitaPRRI kepada 10 guru yang beruntung saat saya mengajukan quiz dadakan di acara Bimtek Talang Babungo.

10 hari berada di Kabupaten Solok, khususnya di Nagari Talang Babungo, Koto Gadang Guguak dan Talang, banyak kenangan yang terbawa kembali ke tanah rantau di pulau Jawa. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk bermain ke sana lagi. Insya Allah.

Artikel Diplagiat? Laporkan ke Google!

Artikel ini saya salin dari Blog https://blog.ryanmintaraga.com/ untuk mengantisipasi kejadian yang sama terulang lagi baik di blog saya ini atau blog saya yang lainnya.

Ramainya cerita YouTuber top Indonesia yang dituding mencuri konten YouTuber lain mengingatkan saya pada peristiwa serupa.

Beberapa kali saya menjumpai tulisan saya muncul di web/blog lain. Dari sekadar mencuplik tulisan saya lalu memasang tautan yang mengarah ke sini maupun Kompasiana, atau menyalin utuh tulisan saya sampai ke judulnya, bahkan hingga menyalin utuh tulisan saya tapi judulnya diganti.

Meski kadang dongkol dengan ulah copaser yang dengan seenaknya mengubah judul tulisan, seringnya saya tidak memperpanjang urusan. Biasanya saya hanya meninggalkan komentar berupa ucapan terimakasih karena sudah ikut men-share tulisan saya sekaligus menambatkan tautan aslinya.

Biar begitu, saya pernah ‘memberi pelajaran’ pada seorang blogger karena tulisan saya diaku sebagai tulisannya, ditambah lagi yang bersangkutan mencantumkan amaran bahwa siapapun yang hendak mengkopi tulisannya harus mendapat izin darinya sebagai penulis.

Saya pun meradang.

Sudahlah tulisannya hasil ngopi kok bisa-bisanya minta orang lain untuk menghargai hak intelektual atas ‘karyanya’ itu.

Sewaktu melihat alamat blognya, senyum iblis saya mengembang.

Saya tahu bagaimana cara ‘menghajar’ blogger semacam itu karena blognya di-host di blogspot.com.

Bagaimana Caranya?

Langkah pertama, bukalah alamat di bawah ini :

https://support.google.com/legal/contact/lr_dmca?product=blogger&contact_type=lr_dmca&rd=1

Alamat di atas adalah halaman Google untuk menerima klaim atas suatu konten (dalam kasus saya, saya bermaksud melaporkan penjiplakan yang dilakukan seorang blogger terhadap sebuah artikel yang ada di blog saya). Berikutnya, Google meminta semacam verifikasi dan kita diminta mengakses halaman tersebut sebagai Google User.

Kemudian akan muncul halaman ini:

halaman google untuk melaporkan adanya tindakan penjiplakan terhadap sebuah konten (screenshot)

Scroll saja sampai terlihat kolom-kolom yang perlu kita isi sbb :

perhatikan bahwa ada beberapa kolom yang harus diisi (screenshot)

Untuk bagian ini, perhatikan bahwa:

  1. Kolom 1 diisi nama lengkap kita sebagai pelapor (wajib diisi).
  2. Next, kolom 2 diisi nama organisasi tempat kita bernaung (waktu itu saya mengisinya dengan nama blog saya tanpa ‘http’ dan ‘www’).
  3. Adapun untuk kolom 3 sebenarnya diisi nama lengkap pemegang hak cipta atas karya/artikel yang dilaporkan jika kita bertindak sebagai perwakilan (agen) dari seseorang/institusi.  Berhubung waktu itu saya bertindak atas nama pribadi sekaligus pemegang hak atas karya/artikel yang dilaporkan, maka kolom ini diisi nama lengkap (wajib diisi).
  4. Untuk kolom 4 diisi alamat surel (e-mail) kita.  Kelihatannya tidak wajib diisi, tapi jika diisi akan memudahkan Google menghubungi kita bukan?
  5. Lalu kolom 5 yang berbunyi ‘Country of Residence‘, isi saja dengan negara di mana kita tinggal.  Maaf, kolom ini lupa saya tandai.

Menginformasikan Artikel Kita yang Mana yang Diplagiat

Berikutnya, scroll lagi hingga muncul kolom-kolom berikut:

perhatikan lagi bahwa ada beberapa kolom yang harus diisi (screenshot)

Perhatikan bahwa:

  1. Kolom 1 diisi URL lengkap dari artikel kita yang dibajak, misalnya https://blog.ryanmintaraga.com/precognitive-dream-atau-second-sight-mimpi-yang-menjadi-kenyataan/ (wajib diisi).
  2. Berikutnya, kolom 2 diisi penjelasan dari alamat tersebut.  Saran saya, isi dengan keterangan tanggal berapa kita mem-publish tulisan tersebut, misalnya ‘That URL is my orginal content, created on January 1st, 2015‘.  Jika ada konten berupa foto yang memang jepretan kita, tuliskan juga informasi dengan kamera apa dan kapan serta dalam momen apa foto tersebut diambil (wajib diisi).
  3. Nah, kolom 3 (lupa lagi saya tandai, maaf) yang berbunyi ‘Location of the allegedly infringing material‘, isi dengan URL lengkap di situs mana artikel tersebut tampil.  Atau dalam bahasa gampangnya, kolom tersebut diisi URL si copaser yang kita temukan (URL lengkap artikel untuk memudahkan identifikasi).  Jika kita menemukan lebih banyak lagi situs yang men-copas artikel kita, klik tautan ‘Add additional‘ di bawahnya untuk menambahkan pihak yang kita laporkan (wajib diisi).

Lakukan scroll sampai kita diminta mengkonfirmasi pernyataan-pernyataan sbb:

konfirmasi pernyataan-pernyataan di atas (screenshot)

Di sini, yang harus diperhatikan adalah:

  1. Untuk kolom 1 dan 2, kita cukup memberi tanda centang sebagai pernyataan bahwa memang benar kita yang memiliki hak atas konten yang dilaporkan tersebut (kelihatannya tidak wajib, tapi waktu itu saya centang berhubung saya yakin akan orisinalitas konten yang saya buat).
  2. Kolom 3 diisi tanggal pelaporan dengan format bulan – tanggal – tahun menggunakan angka (wajib diisi).
  3. Kolom 4 diisi kembali dengan nama lengkap.

Terakhir, di bagian paling bawah, kita akan menemukan tombol [Submit], klik saja untuk mengirimkan klaim kita pada Google.

Selanjutnya Apa?

Setelah kita menekan [Submit], Google akan mengirimi kita surel yang memberitahukan bahwa pengaduan sudah diterima dan akan diproses.

Di sini yang bisa kita lakukan hanya menunggu.

Waktu itu saya menunggu kira-kira dua minggu hingga mendapat pemberitahuan dari Google bahwa klaim kita disetujui dan konten yang kita laporkan sudah dihapus dari blog si copaser.

Luar biasa!

Akhirnya, cara terbaik untuk menggunakan karya orang lain adalah kita meminta izin terlebih dahulu pada pemiliknya.

Saya sendiri sebenarnya tak keberatan tulisan saya di-copas sana-sini asalkan sesuai dengan amaran yang saya cantumkan di bagian paling bawah setiap tulisan saya.

Semoga tulisan saya kali ini bermanfaat!

Catatan:

  1. Kasus yang dialami teman ini adalah pencurian artikel, tapi mengingat YouTube dan Blogspot dimiliki perusahaan yang sama, saya yakin langkah pelaporannya sama.
  2. Urutan form/kolom untuk pelaporan ini kadang berubah, di-compare saja dengan apa yg sudah saya share di sini.

Tautan luar:

Artikel ini disalin dari https://blog.ryanmintaraga.com/artikel-diplagiat-laporkan-ke-google/