Artikel Diplagiat? Laporkan ke Google!

Artikel ini saya salin dari Blog https://blog.ryanmintaraga.com/ untuk mengantisipasi kejadian yang sama terulang lagi baik di blog saya ini atau blog saya yang lainnya.

Ramainya cerita YouTuber top Indonesia yang dituding mencuri konten YouTuber lain mengingatkan saya pada peristiwa serupa.

Beberapa kali saya menjumpai tulisan saya muncul di web/blog lain. Dari sekadar mencuplik tulisan saya lalu memasang tautan yang mengarah ke sini maupun Kompasiana, atau menyalin utuh tulisan saya sampai ke judulnya, bahkan hingga menyalin utuh tulisan saya tapi judulnya diganti.

Meski kadang dongkol dengan ulah copaser yang dengan seenaknya mengubah judul tulisan, seringnya saya tidak memperpanjang urusan. Biasanya saya hanya meninggalkan komentar berupa ucapan terimakasih karena sudah ikut men-share tulisan saya sekaligus menambatkan tautan aslinya.

Biar begitu, saya pernah ‘memberi pelajaran’ pada seorang blogger karena tulisan saya diaku sebagai tulisannya, ditambah lagi yang bersangkutan mencantumkan amaran bahwa siapapun yang hendak mengkopi tulisannya harus mendapat izin darinya sebagai penulis.

Saya pun meradang.

Sudahlah tulisannya hasil ngopi kok bisa-bisanya minta orang lain untuk menghargai hak intelektual atas ‘karyanya’ itu.

Sewaktu melihat alamat blognya, senyum iblis saya mengembang.

Saya tahu bagaimana cara ‘menghajar’ blogger semacam itu karena blognya di-host di blogspot.com.

Bagaimana Caranya?

Langkah pertama, bukalah alamat di bawah ini :

https://support.google.com/legal/contact/lr_dmca?product=blogger&contact_type=lr_dmca&rd=1

Alamat di atas adalah halaman Google untuk menerima klaim atas suatu konten (dalam kasus saya, saya bermaksud melaporkan penjiplakan yang dilakukan seorang blogger terhadap sebuah artikel yang ada di blog saya). Berikutnya, Google meminta semacam verifikasi dan kita diminta mengakses halaman tersebut sebagai Google User.

Kemudian akan muncul halaman ini:

halaman google untuk melaporkan adanya tindakan penjiplakan terhadap sebuah konten (screenshot)

Scroll saja sampai terlihat kolom-kolom yang perlu kita isi sbb :

perhatikan bahwa ada beberapa kolom yang harus diisi (screenshot)

Untuk bagian ini, perhatikan bahwa:

  1. Kolom 1 diisi nama lengkap kita sebagai pelapor (wajib diisi).
  2. Next, kolom 2 diisi nama organisasi tempat kita bernaung (waktu itu saya mengisinya dengan nama blog saya tanpa ‘http’ dan ‘www’).
  3. Adapun untuk kolom 3 sebenarnya diisi nama lengkap pemegang hak cipta atas karya/artikel yang dilaporkan jika kita bertindak sebagai perwakilan (agen) dari seseorang/institusi.  Berhubung waktu itu saya bertindak atas nama pribadi sekaligus pemegang hak atas karya/artikel yang dilaporkan, maka kolom ini diisi nama lengkap (wajib diisi).
  4. Untuk kolom 4 diisi alamat surel (e-mail) kita.  Kelihatannya tidak wajib diisi, tapi jika diisi akan memudahkan Google menghubungi kita bukan?
  5. Lalu kolom 5 yang berbunyi ‘Country of Residence‘, isi saja dengan negara di mana kita tinggal.  Maaf, kolom ini lupa saya tandai.

Menginformasikan Artikel Kita yang Mana yang Diplagiat

Berikutnya, scroll lagi hingga muncul kolom-kolom berikut:

perhatikan lagi bahwa ada beberapa kolom yang harus diisi (screenshot)

Perhatikan bahwa:

  1. Kolom 1 diisi URL lengkap dari artikel kita yang dibajak, misalnya https://blog.ryanmintaraga.com/precognitive-dream-atau-second-sight-mimpi-yang-menjadi-kenyataan/ (wajib diisi).
  2. Berikutnya, kolom 2 diisi penjelasan dari alamat tersebut.  Saran saya, isi dengan keterangan tanggal berapa kita mem-publish tulisan tersebut, misalnya ‘That URL is my orginal content, created on January 1st, 2015‘.  Jika ada konten berupa foto yang memang jepretan kita, tuliskan juga informasi dengan kamera apa dan kapan serta dalam momen apa foto tersebut diambil (wajib diisi).
  3. Nah, kolom 3 (lupa lagi saya tandai, maaf) yang berbunyi ‘Location of the allegedly infringing material‘, isi dengan URL lengkap di situs mana artikel tersebut tampil.  Atau dalam bahasa gampangnya, kolom tersebut diisi URL si copaser yang kita temukan (URL lengkap artikel untuk memudahkan identifikasi).  Jika kita menemukan lebih banyak lagi situs yang men-copas artikel kita, klik tautan ‘Add additional‘ di bawahnya untuk menambahkan pihak yang kita laporkan (wajib diisi).

Lakukan scroll sampai kita diminta mengkonfirmasi pernyataan-pernyataan sbb:

konfirmasi pernyataan-pernyataan di atas (screenshot)

Di sini, yang harus diperhatikan adalah:

  1. Untuk kolom 1 dan 2, kita cukup memberi tanda centang sebagai pernyataan bahwa memang benar kita yang memiliki hak atas konten yang dilaporkan tersebut (kelihatannya tidak wajib, tapi waktu itu saya centang berhubung saya yakin akan orisinalitas konten yang saya buat).
  2. Kolom 3 diisi tanggal pelaporan dengan format bulan – tanggal – tahun menggunakan angka (wajib diisi).
  3. Kolom 4 diisi kembali dengan nama lengkap.

Terakhir, di bagian paling bawah, kita akan menemukan tombol [Submit], klik saja untuk mengirimkan klaim kita pada Google.

Selanjutnya Apa?

Setelah kita menekan [Submit], Google akan mengirimi kita surel yang memberitahukan bahwa pengaduan sudah diterima dan akan diproses.

Di sini yang bisa kita lakukan hanya menunggu.

Waktu itu saya menunggu kira-kira dua minggu hingga mendapat pemberitahuan dari Google bahwa klaim kita disetujui dan konten yang kita laporkan sudah dihapus dari blog si copaser.

Luar biasa!

Akhirnya, cara terbaik untuk menggunakan karya orang lain adalah kita meminta izin terlebih dahulu pada pemiliknya.

Saya sendiri sebenarnya tak keberatan tulisan saya di-copas sana-sini asalkan sesuai dengan amaran yang saya cantumkan di bagian paling bawah setiap tulisan saya.

Semoga tulisan saya kali ini bermanfaat!

Catatan:

  1. Kasus yang dialami teman ini adalah pencurian artikel, tapi mengingat YouTube dan Blogspot dimiliki perusahaan yang sama, saya yakin langkah pelaporannya sama.
  2. Urutan form/kolom untuk pelaporan ini kadang berubah, di-compare saja dengan apa yg sudah saya share di sini.

Tautan luar:

Artikel ini disalin dari https://blog.ryanmintaraga.com/artikel-diplagiat-laporkan-ke-google/

Realme XT, Smartphone Dengan Kamera 64MP

Sebuah produk baru peralatan komunikasi canggih, setahun belakangan ikut meramaikan pasar telekomunikasi Indonesia. Produk dengan merek Realme tersebut malah dengan cepat melesat masuk kelompok 10 besar Smartphone di pasaran domestic.

Rabu, 23 Oktober kemarin, mengambil tempat di The Tribrata convention hall, Jakarta Selatan. Realme kembali meluncurkan produk smartphone teranyarnya, Realme XT.

Realme XT hadir dengan layar FHD+ Super AMOLED 16,3cm (6,4”) yang tajam dan jelas. Peningkatan di segi teknologi warna yang presisi dan teknologi pengemasan COF memungkinkan mencapai rasio layar sebesar 91,9%.

Berbagai keunggulan yang ditawarkan smartphone ini, dapat kita lihat, yaitu kamera dengan 64 MP. Seperti terlihat pada foto di atas, Realme XT ini datang dengan 4 kamera di bagian belakang.

Lensa paling atas, adalah lensa ultra sudut lebar dengan sensor berkemampuan 8 MP. Kamera ultra wide-angle dengan 119° membuat sudut pandang 50% lebih lebar dan teknologi realme DLDC untuk memastikan kualitas dari setiap jepretan.

Di bawahnya, adalah lensa utama dengan kemampuan luar biasa. Realme XT dibekali sensor resolusi tinggi 64MP, sensor dengan resolusi tertinggi dalam smartphone. Teknologi Tetracell dan 3D HDR mampu mengambil foto dengan jelas dalam kondisi apapun. Lensa GW1 buatan Samsung ini memiliki sensor yang sanggup menangkap subyek yang berada di depannya dengan kapasitas maksimal 64 MP, atau sama dengan resolusi 9216×6912. Ukuran foto 4x lebih besar dari foto yang diambil menggunakan kamera 16MP, menghasilkan foto luar biasa yang jelas dan sangat detil meskipun saat diperbesar.

Dengan memakai sensor besar 1/1.72” 64MP GW1 lebih besar 34% daripada sensor 48MP dan dibekali teknologi piksel binning four-in-one, bukaan besar f/1.8 dan lensa 6P untuk penerimaan cahaya. Menjadikan realme XT sebagai smartphone untuk fotografi kelas atas.

Dua lensa di bawahnya adalah lensa standar untuk pemotretan potrait, dan lensa macro yang masing-masing berkekuatan 2 MP.

Prosessor Snapdragon 712 dari Qualcomm

Untuk menjaga agar Smartphone Anda tetap terlindungi saat terjatuh atau terbentur. Realme menghadirkan dua macam XT Iconic Case dengan warna yang berbeda.

Mengubah tampilan siang atau malam.

Saat ini Realme XT hadir dengan Dark Mode yang bisa diaktifkan secara otomatis atau manual saat malam hari, seperti terlihat pada gambar di atas, atau pada situasi normal di siang hari, seperti gambar di bawah. Dapat diaplikasikan untuk memberikan pengalaman beraktifitas yang lebih nyaman.

Rp.5,6 Milyard, Hadiah Untuk Para Juara Predator League

Predator Triton 300

Sekitar 300 penonton yang terdiri dari awak media, blogger maupun gamer mania, berkumpul di Aluca International yang berada di Lot 8 Kawasan SCBD, Jakarta Selatan. Menyaksikan Kick Off Predator League 2020 yang berlangsung meriah.

Setelah menuai sukses dan menjadi ikon perhelatan kompetisi eSport terbesar di Asia Pasifik selama dua tahun berturut-turut, tahun ini Acer kembali menyelenggarakan Asia Pacific Predator League 2020 yang lebih besar, spektakuler dan akan diikuti oleh semakin banyak talenta eSport.

Leny Ng dari Acer bersama Aldrian R Susantio mengapit Icon Predator League 2020

Negara yang berpartisipasi pun semakin banyak, menjadikan acara tahunan Acer ini semakin mendunia dan disukai oleh garners mancanegara. Ribuan team di Asia Pasifik akan berpartisipasi untuk berlaga dalam dua kategori game yang dipertandingkan, yaitu DOTA 2 & Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG).

Ribuan pemain yang bertarung itu akan memperebutkan total hadiah sebesar USD 400.000 atau hampir 5,6 milyard rupiah. Dengan mengikuti babak penyisihan secara online, Predator League 2020 memberi kesempatan lebih luas bagi talenta muda di seluruh Indonesia untuk menguji kemampuan bertanding di kancah internasional.

Di Indonesia, babak penyisihan secara online akan berlangsung selama dua bulan sejak akhir Oktober hingga Desember 2019, memperebutkan hadiah sebesar Rp200.000.000. Selama turnamen ini berlangsung, Acer akan hadir juga di lima kota seperti Medan, Surabaya, Yogyakarta, Samarinda dan Makassar. Keseruan di tiap region dilengkapi dengan acara nonton bareng bersama dengan Brand Ambassador Predator Gaming, caster dan acara komunitas. Acer berharap bisa terus menjalin hubungan erat dan semakin mengerti keinginan serta kebutuhan gamers yang selalu menjadi landasan utama inovasi jajaran produk Acer terbaru.

Untuk menghadapi beratnya tantangan pertarungan di pertandingan eGame ini. Acer, sang pemilik merek Pradator, mempersembahkan sebuah laptop gaming terbaru, yaitu;  Predator Triton 300 yang dipersenjatai dengan prosesor Intel i7 generasi ke 10., dan 16 GB memory.

Laptop tipis dengan performa dan fitur andalan yang dibungkus dalam desain kompak dengan solid metal chasing. Memiliki cooling system terbaik dengan 4th gen aeroblade 3D fan yang memiliki 59 bionic blade sehingga menghasilkan 45% airflow improvement.

Dengan senjata petarung hebat ini, kini gamers yang mobile bisa bertanding dari mana saja, karena Predator Triton 300 tetap nyaman dibawa bermain game di manapun

Predator, brand dengan deretan perangkat gaming terlengkap, melalui Asia Pacific Predator League 2020 ini akan mengumpulkan para gamer dari 17 negara mulai dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Australia, India, Singapura, Hong Kong, Macau, Japan, Korea Selatan, Taiwan, Mongolia, Sri Lanka, Bangladesh, dan Myanmar. Para gamer yang bertarung untuk PUBG dan Dota 2 dengan strategi terbaik akan berkesempatan untuk memenangkan prize pool sebesar USD 400,000. Babak grand final Asia Pasifik akan diadakan di Manila pada 22 — 23 Februari 2020 mendatang di SM Mall of Asia Arena, Kota Pasay.

Menguber Ikan Salmon ke Bekasi

Salmon Guriru

“Ingin mencoba makan ikan Salmon nggak, pak Dian?”
Demikian tawaran yang disampaikan Dhevi Anggarakasih kepada saya lewat WhatsApp. Tanpa berfikir panjang lagi, saya langsung menjawab: “Mau…!”

Saking semangatnya, habis shalat subuh pukul 5 lewat sepuluh menit, saya langsung jalan kaki ke stasiun Tanah Abang. Nggak sabaran ingin segera tiba di lokasi. Nggak taunya jadwal Commuterline ke Bekasi itu pukul 6 pagi!. Busyet, terpaksa nongkrong berteman nyamuk nungguin kereta 45 menit… 🙂

Tepat pukul 6, Rabu, 24 Juli kemarin, sayapun meluncur naik kereta Commuterline dari Tanah Abang ke Kranji, dan disambung dengan Grab ke Taman Harapan Indah, dimana salah satu gerai Hokben berada.

Ketika menyebut ikan Salmon, maka yang terbayang adalah makanan bergizi tinggi santapan orang Jepang. Kalaupun ingin mendapatkannya, maka kita hanya akan menemukannya di hotel-hotel berbintang 5, ataupun restoran-restoran khusus yang menyajikan makanan Jepang, dengan harga yang hanya bisa dijangkau kalangan atas dan mapan dalam masalah finansial.

This image has an empty alt attribute; its file name is 3.jpg
Management Hokben dan para Blogger di Hokben Harapan Indah

Hokben menyambut tahun 2019 dengan sajian bertema Health Food. Diantara banyak pilihan, Hokben kini mulai menyajikan ikan salmon sebagai salah satu sajian pilihan utamanya. “Menu dengan bahan dasar ikan, menjadi pilihan banyak masyarakat yang mengikuti trend gaya hidup sehat” demikian Fransisca Lucky, menyampaikan.
Marketing Communication Hokben tersebut menambahkan, bahwa “ikan Salmon merupakan sumber protein berkualitas kaya lemak sehat omega 3, vitamin dan mineral, yang baik untuk kesehatan kulit dan daya ingat.

Komitmen ingin memberikan kebaikan kepada pelanggan, itulah yang membuat Hokben mulai menyajikan menu Salmon Guriru. Mendampingi menu sehat lainnya yang tersedia disetiap gerai Hokben saat ini, seperti Furi Furi Salad, Tokyo Salad Bowl, Sulit aku, juga Shirasaki Soup, disamping menu khas Teriyaki dan Yakiniku.

Apa yang dikatakan itu, sesuai dengan apa yang kami dapatkan saat Blogger Gathering kemarin di Hokben Harapan Indah, Bekasi. Saya benar-benar menikmati santapan ikan mahal itu, dengan tiga pilihan saus yang semuanya maknyus.

Saya sampai di Harapan Indah kepagian, Hokben belum buka

Salmon fillet yang dipanggang dengan saus Teriyaki, disajikan dengan salad dan irisan lemon, benar-benar memancing selera makan saya.

Pada potongan pertama saat saya menikmati hidangan istimewa tersebut, lidah saya merasakan seakan saya makan ikan tongkol. Tapi setelah meneruskan makan dengan tiga macam saos, yaitu saos mayoneis original Hokben, saos Siza dan Japanesse Sauce. Baru lidah saya merasakan sesuatu yang beda pada ikan Salmon ini, yaitu tekstur dagingnya yang halus dan lembut, berbeda dengan ikan-ikan yang pernah saya makan sebelumnya.

Mengingat kandungan gizi dan vitaminnya yang hebat, memang pantas kalau harga ikan Salmon ini cukup tinggi. Namun dibanding dengan harga di restoran hotel bintang 5, atau restoran khusus makanan Jepang, maka Salmon Guriru Hokben ini, termasuk murah, karena tidak mencapai ratusan ribu, yaitu hanya 80 ribu rupiah perpaketnya.

Kini, bagi warga Jabodetabek, bisa mendatangi 23 gerai Hokben yang berada dekat rumah masing-masing untuk menikmati santapan luar biasa ini.

Yang berada di luar Jabodetabek, mohon bersabar dulu, ya. Hokben akan segera menyediakan santapan nikmat dan halal itu untuk Anda, tidak lama lagi.

Berikut saya sajikan video penjelasan Chief Hokben Harapan Indah Didi Darmadi, mengenai menu baru Salmon Guriru ini.

#hokben
#salmonguriru
#healthyandoishii
#healthywithHokBen

Mission Completed

Walau dengan suasana hati yang tidak karuan, saya tetap berusaha secepatnya meninggalkan bank, menemui pengemudi Grab yang dengan sabar menunggu di sudut halaman. Melihat saya keluar dari bank dengan langkah yang tergesa, sang pengemudi nampaknya juga sudah mulai mengerti kalau saya sedang berkejaran dengan waktu. Diapun segera naik dan menyalakan motornya. Tanpa banyak omong lagi saya juga segera membonceng di belakang.

Baru saja kami keluar dari halaman bank dan masih berada di gerbang, sebagaimana saat kedatangan saya kesana tadi, kemacetan belum terurai. Otak saya bekerja cepat dan mengambil keputusan, tidak mungkin saya dengan cepat menuju kedutaan dengan kondisi lalulintas yang amburadul begini.

Saya turun dari Grab, mengambil selembar uang yang tadi saya mabil di ATM dan memberikannya kepada pengemudi Grab. “Sudah mas, ya…” kata saya kepada sang pengemudi yang menerima uang dalam keadaan bingung.

Saya berlari keluar dari gerbang, belok kanan melewati trotoar yang sudah tidak ketahuan bentuknya, sehingga saya lebih sering berlari di pinggir jalan menuju selatan, melawan arus kendaraan yang datang dari arah Pasar Minggu. Sesekali saya memperlambat lari untuk menormalkan nafas yang sesak, lalu kemudian mempercepat langkah saya lagi.

Walau mungkin sudah tahu bahwa dollar sudah ada di tangan saya, namun karena saya tidak merespon setiap panggilan telepon yang masuk maupun pesan melalui WhatsApp, maka sepanjang jalan yang saya lewati sambil berlari maupun bergantian dengan jalan cepat itu, dering telpon maupun denting pesan WhatsApp ikut berkejaran di handphone saya. Saya tidak mempedulikan lagi semua dering panggilan telpon maupun pesan WhatsApp itu. Keterlambatan sekian menit dari tenggat waktu lebih memacu adrenalin saya untuk bergerak lebih cepat lagi agar sampai di kedutaan.

Saya tidak tahu berapa menit waktu yang terpakai dalam perjalanan yang benar-benar menguras energi maupun emosi saya itu, hingga saya sampai di gedung yang saya tuju. Baru saja saya tiba di depan pintu lobby gedung dimana kedutaan berada, saya sudah disongsong seorang laki-laki yang usianya tak beda jauh dengan saya dengan wajah perawakan keturunan Asia Selatan.

Setelah bersalaman, tanpa banyak bicara dan nafas masih ngos-ngosan saya langsung menyerahkan dollar yang ada di tangan saya kepadanya. Mata saya berkeliling mencari kursi buat beristirahat melepaskan capek dan sesak nafas saya, tapi saya malah diajak untuk ikut bersama dia.

Kami menuju lift yang terletak tidak jauh dari meja resepsionis. Sang agen mengaktifkan tombol lift dengan visitor card yang diberikan oleh resepsionis, memencet nomor lantai yang kami tuju dan beberapa saat kemudian lift bergerak naik.

Hanya dalam beberapa detik kemudian lift berhenti dan pintunya terbuka. Sebuah ruang tunggu yang juga terdapat meja resepsionis dan seorang wanita muda yang duduk di belakang meja serta seorang petugas security menyambut kedatangan kami. Sang agen berjalan menuju meja resepsionis, berbicara singkat sambil menyerahkan dollar yang ada di tangannya.

Sang resepsionis lalu mengajak agen mengikuti dia melewati pintu yang ada di samping security, lalu kemudian keduanya menghilang dibalik pintu. Saya lalu duduk di kursi tamu, sekilas saya lihat sang petugas security melirik saya dengan pandangan menyelidik. Tapi saya cuek saja.

Ruangan berpendingin itu menyerap keringat saya yang tadi mengucur membasahi seluruh tubuh. Nafas sayapun sudah kembali normal. Sambil duduk, mata saya sekilas mencoba menyapu rangan yang tidak begitu luas tersebut. Di dinding yang berada di belakang meja resepsionis terdapat sebuah tulisan: “Embassy of the…”, sebuah nama negara Asia Timur tertulis disana.

Tidak lama kemudian, kedua orang tadi kembali dari dalam ruangan yang mereka masuki tadi. Sang resepsionis kembali ke meja kerjanya, sementara sang agen berjalan mendekati tempat saya duduk dan kemudian duduk di kursi yang ada di samping saya.

Agen menyerahkan dokumen yang baru saja dibawanya dari ruangan dalam kedutaan. Sebuah pasport berwarna hijau yang di salah satu halamannya telah di tempel dengan sticker visa kunjungan ke negara bersangkutan. Di samping pasport juga terdapat uang kembalian pecahan kecil US Dollar.

Saya menerima pasport tersebut berikut uangnya dan memasukannya ke dalam tas. Selanjutnya kami kembali menuju lift yang turun ke lantai dasar, meninggalkan kedutaan.

Setelah menyerahkan visitor card, saya dan agen lalu berpisah di lobby.

Saya berjalan meninggalkan gedung tempat pertemuan kami tersebut. Saat sampai di jalan, saya melihat lalu lintas sudah agak lancar. Saya lalu berjalan menuju perhentian bus pengumpan Transjakarta jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang. Pulang ke studio dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke bandara Soekarno-Hatta. Saya tak lagi terburu-buru, karena saya berangkat ke Padang dengan penerbangan terakhir Lion Air pukul 8 malam.
********

Setelah shalat ashar, saya naik Grab menuju Slipi, lalu melanjutkan perjalanan dengan bus Transjakarta menuju Pluit. Di halte Penjaringan saya turun dari bus, lalu menyeberang menuju jalan Pluit Selatan. Berjalan sekitar 50 meter dari persimpangan, saya melihat sebuah taksi behenti dalam keadaan kosong.

Saya mendekati taksi tersebut, sang pengemudi menurunkan kaca pintu depan. Saya memberikan kode kepada sang pengemudi, dia mengangguk, sayapun lalu masuk ke dalam taksi. Tak lama berselang dua penumpang lagi datang dan ikut masuk ke dalam taksi, setelah itu taksi bergerak menuju bandara.

Taksi mengantar kami ke halte shuttle bus bandara. Saya lalu naik bus yang sudah menunggu. Setelah bus berjalan dan sampai di tujuan, baru saya sadar kalau bus tersebut menuju terminal 3. Oleh petugas bandara saya lalu diarahkan untuk naik kereta gantung yang menghubungkan ketiga terminal. Sebuah pengalaman barupun saya dapatkan saat menikmati perjalanan dengan kereta gantung tersebut menuju terminal 1.

Setelah cek in, saya langsung menuju ruang tunggu, lalu shalat magrib di mushalla gate 5. Selesai shalat dan menunggu boarding, baterai handphone maupun powerbank saya habis, lalu menyempatkan diri mengecas handphone di tempat yang sudah disediakan pihak bandara. Panggilan untuk masuk pesawat terdengar saat pas saya selesai shalat isya. Bersama penumpang lain kami masuk pesawat, setelah semua selesai boarding. Pesawatpun bergerak menuju landas pacu, dan beberapa saat kemudian lepas landas meninggalkan Jakarta menuju BIM, Padang.

Setelah terbang sekitar 1,5 jam, kurang beberapa menit pukul 10 malam, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Minangkabau.

Baru saja handphone saya nyalakan, sebuah pesan WhatsApp tampil di layar, dar sebuah nomor baru yang sudah dikirimkan kepada saya sebelumnya.

“Ambo tunggu di Minang Mart” demikian pesan yang tampil di layar, yang kemudian saya balas. “OK!”

Keluar dari bandara, berjalan menuju Minang Mart, tak lama sang teman datang menyongsong kedatangan saya. Dia langsung mengajak saya menuju mobil yang berada di tempat parkir. Begitu berada di dalam mobil, saya lalu menyerahkan dokumen beserta dollar dan sisa uang yang saya mabil di ATM pagi tadi. Setelah selesai serah terima, beberapa saat kemudian kami meninggalkan bandara. Saya diantar menuju rumah adik saya di Padang Baru.

“Mission completed”

Demikian sebuah pesan dari agen Jakarta yang belum sempat saya baca siang tadi, ketika saya membuka handphone setelah mobil yang mengantar meninggalkan saya di Padang Baru dan melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi, dimana sang bigboss berada.

Alhamdulillah…