Buah Baurai

Rumah gadang tempat kami tinggal, dikelilingi oleh kebun yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman pangan. Dikebun bagian depan rumah gadang, tumbuh tiga pohon kelapa yang tingginya melebihi tinggi gonjong rumah gadang. Pisang dan pepaya menjadi tumbuhan abadi disana disamping kelapa. Pisang berbuah secara estafet bahkan sering berbarengan beberapa batang sekaligus, setelah yang satu matang Team dan dipetik dan kemudian mati, dipohon yang lain disampingnya telah menyusul buah yang masih muda atau malah baru berupa jantung pisang.

Di setiap tandan pisang yang matang, jarang kami menemukan buahnya yang kurang dari sepuluh sisir dan setiap sisir berisi dua belas sampai dua puluh butir. Jenis pisangnyapun beraneka ragam; pisang batu yang sering dibikin kolak untuk berbuka pada bulan puasa, atau digoreng dan dimakan bersama ketan ditemani kopi manis pagi hari diwarung, pulang dari shalat subuh di surau. Pisang mas yang buahnya imut-imut namun paling manis diantaranya. Pisang lidi yang bentuknya panjang tapi kurus-kurus, pisang gadang, alias pisang buai atau pisang ambon. Pisang gajah yang ukuran buahnya paling besar tapi berbiji, dan pisang raja walaupun tanpa mahkota.

Selain dimakan mentah sebagai makanan penutup atau sekadar kudapan. Pisang-pisang ini juga sering diolah menjadi makanan yang dimasak, seperti kolak, limpiang atau lepat dan bubur pisang, serta digoreng atau rebus. Semuanya merupakan makanan nikmat kesukaan kami sekeluarga.

Jantung pisangpun sering di masak jadi sayur, lalap atau gulai. Khususnya pisang batu, yang telah berbuah merata, namun masih menyisakan jantung yang sudah tak mungkin lagi mekar menjadi buah, lalu dipetik dan dijadikan sayur atau di gulai. Dipetiknya jantung ini juga bermakna ganda. Disamping jadi sayur juga agar buah pisang menjadi gemuk dan padat karena sari makanannya tidak lagi menuju jantung yang masih menggantung di ujung tandan, akan tetapi ke buah pisang yang membutuhkan sari makanan agar buahnya bagus.

Pepayapun tak pernah berhenti berbuah, Buahnya yang tak begitu besar seperti pepaya Bangkok namun begitu manis, dengan buah yang berwarna kuning. Daun pepaya inipun tak luput sebagai sebagai teman makan nasi. Digulai maupun di anyang atau di bikin urap bercampur kelapa yang sudah diparut plus cabe giling, sedaap…

Adakalanya disela-sela pohon kelapa, pisang dan pepaya ini disisipi tanaman muda seperti jagung, singkong, ubi jalar serta sayuran seperti kacang panjang, kacang buncis, terong, tomat dan bayam serta cabe keriting. Etekku termasuk orang yang rajin menanam sayur-sayuran dan tanaman muda ini. Sehingga untuk sayur-sayuran kami tak pernah kehabisan bahan dan tak pernah membeli!

Disebelah kanan atau barat rumah gadang ada pohon jambu air, yang bila berbuah begitu lebat, sering dahannya ditopang dengan bambu agar tidak patah. Pohonnya yang rendah dengan dahan yang bercabang-cabang, menjadi arena latihan memanjat bagi aku dan uda Des, serta sepupuku Fitrizal yang sehari-hari kami panggil An. Begitu lebatnya buah jambu ini, bila pagi-pagi kami mendekati pohonnya, dibawahnya telah berserakan buah-buah jambu matang dan sebagian membusuk. Aku tidak tahu, apakah umi dulu tak pernah terinspirasi untuk menjual buah jambu yang telah matang ini, dan membiarkannya rontok dan membusuk. Kami sering memetik buah jambu yang rasanya manis ini memasukkannya kedalam kibang tas yang dianyam dari pohon mansiro atau kumbuh.

Jambu pilihan yang buahnya besar dan berwarna merah pucat ini, kami bawa kerumah untuk dimakan bersama. Tapi jambu yang kami petik inipun sering juga tak terhabiskan, hingga akhirnya busuk dan terbuang. Tapi setelah aku dewasa, akhirnya aku mengerti kenapa jambu ini dibiarkan terbuang percuma. Sebab ketika jambu ini sedang musim berbuah, pada saat yang sama jambu-jambu lain dimana-mana didaerah kami juga berbuah, sehingga terjadi over produksi. Padahal jambu air ini buah yang tidak dapat bertahan lama dan akan segera membusuk How dalam dua atau tiga hari setelah dipetik.

Berdampingan dengan pohon jambu air ini tumbuh pula pohon alpukat. Berbeda dengan pohon jambu air yang tumbuh subur bercabang dan beranting banyak serta daunnya yang rimbun menutupi pohon. Pohon alpukat ini tumbuh dengan cabang dan ranting yang tidak seberapa, sehingga kelihatan kurus dan menjulang tinggi. Padahal tingginya tidak bebeda jauh dengan pohon jambu. Karena posisi dahannya tak seimbang, pohon alpukat ini tumbuh agak miring kearah halaman samping rumah. Tapi kemiringan ini menguntungkan kami, bila alpukat ini berbuah. Bila ada buah alpukat ini yang terlihat matang, tuan Salim pun siap dengan panggalan atau galah bambunya dan kakak-kakakku yang lain siap dibawah menyambut dengan tangan buah alpukat yang jatuh dijuluak tuan Salim, agar tidak pecah dan kotor bila jatuh ketanah.

Alpukat matang ini dibawa kedapur, dibelah dua, bijinya dibuang, dagingnya dikeluarkan dengan sendok dan dimasukkan kedalam gelas, ditambah gula diaduk dan hmm… sedaap!. Jadilah jus alpukat ala kampung, tanpa tambahan sirup, tanpa susu kental manis dan bahan pewarna atau pewangi lainnya. Walau masing-masing hanya kebagian dua atau tiga sendok, namun inilah pesta kami yang takkan terlupakan.

Masih dikebun yang sama sebelah barat rumah, tumbuh juga dua batang pohon kokoa. Tapi kami menamainya pohon coklat, karena dari cerita orang tua kami dari pohon inilah coklat yang lezat itu dibikin. Pohon kokoa yang tumbuh dikebun kami ini buahnya berwarna ungu. Karena tidak tahu bagaimana proses pembuatan coklat yang lezat itu, dan lagi karena pohonnya hanya ada dua batang, maka buahnya ini lebih sering dibiarkan begitu saja. Selalu berbuah tapi dibiarkan tua dan jatuh membusuk. Pernah juga kami mencoba memetik buah mengupas dan kemudian memakan isinya. Rasanya terasa manis bercampur asam dan terasa agak sepat dilidah. Kami juga tidak tahu buah yang kami makan Kesawah itu seperti apa, buah yang masih muda atau sudah tua dan boleh dimakan begitu saja.

Disamping kiri atau timur rumah gadang yang berhadapan langsung dengan jalan raya isi kebun lebih beragam. Diantaranya durian, cubadak atau nangka, baweh atau paraweh alias jambu biji, jambak (jambu bol), dan tentu saja pisang. Juga terdapat tanaman keras seperti pohon surian dan bayur. Disela-sela pohonnya tumbuh talas, kamumu atau talas putih yang tangkai daunnya buat lalap atau sayur serta paku atau pakis yang daunnya dipakai untuk gulai yang lebih sering dipakai untuk menemani ketupat. Yang lebih populer dengan Ketupat Gulai Paku. Dipagar yang membatasi kebun kami dengan kebun amai Uda tumbuh dan merambat labu siam dengan suburnya.

Karena rapatnya pohon buah-buahan yang berada dikebun ini mengakibatkan pertumbuhan tidak maksimal. Dua pohon durian selalu berbuah disetiap musim, satu batang persis berada dipinggir jalan dekat pagar, durian ini sudah tua, pohonnya tinggi menjulang, namun hasilnya tidak seberapa dibanding dengan durian yang tumbuh di ladang depan rumah diseberang kebun etek Timah. Sementara pohon yang satu lagi masih kecil, tapi cukup subur baru berbuah satu-satu. Nangka berbuah sepanjang tahun, tapi buahnya sering cacat. Putiknya sering di petik untuk lalapan, di bikin anyang atau urap seperti halnya daun pepaya. Rasanya yang kelat atau sepat menjadi penambah selera makan. Gulai cubadak atau nangka adalah salah satu masakan wajib dalam acara perhelatan di nagari Kamang. Nangka matang? Selalu jadi rebutan kami anak-anak umi

Jambak atau jambu bol yang buahnya tidak hanya tumbuh di ranting dan cabang, tapi sering juga di batang adalah buah-buahan yang ikut meramaikan isi kebun kami. Nama buah Jambak ini juga di abadikan sebagai salah satu nama suku kaum adat di kampungku, disamping Pisang, nama suku keluarga kami.

Di sudut kebun yang menghadap ke halaman rumah, tumbuh jambu biji. Kami menyebut buah pohon ini baweh atau dalam bahasa Minang paraweh. Pohonnya hanya sebesar betis orang dewasa, namun menjulang sekitar lima meter. Buahnya yang sering di ujung ranting menyulitkan kami untuk memetiknya, karena pertumbuhannya tidak merata. Disamping buah yang sudah matang juga berkumpul buah yang masih muda bahkan baru putik. Bila memetiknya pakai galah bambu, ada kemungkinan buah yang masih muda ikut jatuh.

Tapi tuan Salim punya cara unik untuk memetik buah yang sudah matang ini. Dia memanjat jambu yang pohonnya kecil itu. Keberatan beban tubuh kakakku pohon jambu itu merunduk, semakin tinggi dia memanjat pohonnya semakin merunduk, hingga akhirnya pucuk pohon jambu ini hampir menyentuh tanah. Tuan Salim yang tadinya bergelantungan, kini kakinyapun telah kembali mendarat ditanah sambil tetap berpegangan pada pohon jambu. Dari ranting pohon yang sudah nyaris menyentuh tanah itu tuan salim memetik buah jambu yang matang dengan sebelah tangannya, sementara tangan yang satu lagi tetap berpegangan sambil menahan pohonnya.

Kadang-kadang kakak-kakakku yang lain ikut memetih buah jambu yang sudah masak itu tanpa harus memanjatnya lagi. Begitu selesai pohon jambu tadi lalu dilepaskan, dan pohonnya melenting dan berayun kembali keposisi berdiri awalnya. Ilmu tuan Salim ini menurun kepada uda Des dan kemudian aku.

Dibagian belakang rumah gadang atau utara, kebun kami ditumbuhi kepundung, manggis, mangga, serta langsat. Pohon Langsat ini sebenarnya bukanlah milik kami, tapi milik pemilik kebun tetangga kami. Tapi karena posisi tumbuhnya persis diperbatasan tanah kami dan tanah tetangga tersebut kami juga dapat menikmati buah langsat tersebut bila berbuah. Posisi tumbuh dan tinggi pohon-pohon ini, menyiratkan bahwa kesemuanya di tanam pada saat yang bersamaan oleh nenek moyang keluarga kami. Tumbuh subur dengan tinggi mendekati sama dengan gonjong rumah gadang. Seakan membentengi bagian belakang rumah kami, melapisi benteng bukit barisan yang membentang sekitar hampir dua kilometer dari rumah kami.

Kami hidup ditengah surga buah-buahan yang masing-masing punya musim berbuah sendiri-sendiri. Manggis yang kulitnya berwarna ungu tua kehitaman, namun ketika di kupas memperlihatkan isi yang begitu putih bersih. Kepundung yang berwarna kuning, dengan isi yang transparan, memperlihatkan bijinya yang berwarna kemerahan. Langsat yang berwarna kuning muda, dengan isi putih dan biji hijau. Serta mangga yang berwarna kuning seperti isinya.

Disamping musiman, ada juga yang berbuah sepanjang tahun tanpa mengenal musim, seperti pepaya dan pisang serta nangka. Musim buah-buahan adalah saat yang selalu kami nantikan, kami dapat menikmati sepuasnya.

Karena subur dan beragamnya pohon buah-buahan disekitar rumah kami, maka disebut oranglah tempat kami tinggal tersebut dusun Buah Baurai atau Baburai, atau buah yang beraneka ragam dan lebat.


read more