Menghitung hari

Sejak kejadian aku kehilangan umi, aku dan uda Des tidak diperbolehkan lagi ikut menemani umi di bok. Kami enam orang kakak beradik, kembali berkumpul lengkap di rumah setap hari. Kehidupan kami sejak umi ditahan sudah tidak karuan. Umi yang selama ini adalah tulang punggung keluarga, tidak lagi berada ditengah-tengah kami. Tidak ada lagi yang jadi panutan ditengah keluarga kami, kakak-kakakku yang masih berusia belasan tahun, belum satupun yang bisa menjadi pengganti umi, menjadi pengendali ditengah keluarga, maupun yang melanjutkan usaha umi sebagai pedagang kopi bubuk.

Kehadiran umi yang hanya beberapa jam sehari disiang hari, tidak cukup untuk mempertahankan keadaan, apa lagi untuk memperbaikinya. Kami bagaikan kapal kehilangan nakoda, tidak tahu harus berbuat apa, mengarungi samudra kehidupan dengan gelombang yang siap menggulung dan badai yang dapat menenggelamkan kami semua. Tidak ada yang memimpin dan tak satupun yang berbakat sebagai pemimpin, karena semuanya masih muda belia.

Kami enam orang bersaudara, dengan dua ayah yang berbeda.

Kakakku 4 orang, pertama sampai yang ke empat, tiga perempuan dan yang terakhir satu laki-laki, punya ayah berasal dari desa Balai Panjang. Ketika ayah mereka menceraikan umi dan menikah lagi, umi menikah dengan ayahku yang berasal dari desa Guguk Rang Pisang, dan umi melahirkan dua anak laki-laki, uda Des dan aku. Ketika umi hamil tujuh bulan, ayahku meninggal karena sakit, dan lahirlah aku sebagai anak yatim. Karena tidak ada lagi kepala keluarga ditengah keluarga kami, ayah kakak-kakakku kembali rujuk dengan umi, uda Des dan akupun lalu memanggilnya ayah.

Umi dengan naluri keibuannya, berhasil mendidik kami menjadi keluarga yang utuh antara aku dan uda Des dengan kakak-kakakku yang lain.

Ditangkapnya umi karena fitnah anggota OPR binaan PKI yang saat itu begitu erat bersanding dengan Soekarno, membuat segalanya berubah.

Umi yang menjadi tulang punggung keluarga, karena ayah juga mempunyai anak dengan istri yang lain dan jarang dirumah, menghidupi kami anak-anaknya dengan berjualan kopi bubuk yang di jajakan berkelililng kampung di nagari Kamang. Kami memang mempunyai beberapa petak sawah serta kebun untuk menghidupi keluarga. Tapi itu tidak cukup untuk satu keluarga dengan enam anak yang masih kecil-kecil. Dari balita seperti aku dan uda Des, serta kakak-kakakku yang baru menginjak remaja berusia belasan tahun dan masih bersekolah.

Dengan ditahannya umi, apa yang dapat dilakukan oleh kakak-kakakku yang masih remaja itu beserta kami berdua yang masih balita? Sementara ayah juga ikut mengungsi, karena tak ingin juga jadi sasaran fitnah OPR dan ditangkap oleh tentara APRI, yang saat itu menahan umi.

Memang ada etek, adik umiku yang tinggal serumah engan kami di rumah gadang. Tapi dia bukan pula adik kandung umi, hanya adik sepupu. Dia juga punya anak yang usianya hanya berbeda enam bulan lebih muda dariku. Suaminya yang pegawai negeri, saat itupun ikut mengungsi. Satu lagi saudara sepupu umi yang lain, tinggal agak jauh dari kami, bersuamikan seorang guru dengan dua anak wanita sebaya dengan kakakku.

Kami saat itu, bagaikan hanya tinggal menghitung hari. Untuk menuju dan memasuki arena perjuangan hidup yang sesungguhnya!


read more