Hari menjelang sore. Aku duduk di palanta di teras rumah tuan Maie, menunggu dengan tidak sabar kedatangan tuan Salim. Aku tidak tahu, sudah berapa kali aku bolak-balik keluar masuk rumah tuan Maie, melihat ke dua ujung jalan, sambil berharap tuan Salim memperlihatkan dirinya di salah satu ujung jalan itu.

Sebuah oplet berhenti di depan rumah tuan Maie, sekilas aku melihat seorang wanita turun. Dengan rasa kesal dan kecewa aku kembali masuk rumah, karena yang kuharapkan turun dari oplet itu adalah tuan Salim. Aku merebahkan badanku telungkup di balai-balai. Rasanya waktu berjalan begitu lambat, aku sudah tak sabar untuk bertemu dengan tuan Salim dan kakak-kakakku yang lain.


read more