Gara-gara bermain di panas terik setengah hari di sungai Siak, malamnya badanku meriang. Anduang Ipah maupun anduang Pidan kebingungan. Kepalaku di kompres pakai kain basah, akupun di belikan obat, aku tidak tahu namanya. Tapi diantara obat itu satu diantaranya selembar kertas kecil yang ada lemnya yang kemudian ditempelkan di pelipisku, aku mendengar kakakku menyebut kertas yang ada lemnya itu koyok.

Aku tak pernah takut minum obat bagaimanapun pahitnya, karena aku sudah terbiasa sejak perutku pernah kena borok sewaktu umi masih hidup. Tapi selama ini aku belum pernah memakai koyok. Bau koyok yang di tempelkan di pelipis kiri dan kananku itu membuat perutku mual, sehingga semakin membuat aku pusing. Tapi keinginan agar segera sembuh, membuat aku juga tak mau membuangnya. Untunglah obat lain yang aku minum mulai terasa bereaksi, membuat mataku mengantuk, hingga kemudian aku tertidur pulas.


read more