Aku duduk ditangga dekat pintu yang menuju rumah mak Linuh. Sejak di kampung, duduk di anak tangga paling atas rumah gadang, yang dikampung dinamai kapalo janjang, adalah kesenanganku. Dari sana aku bebas mengamati orang-orang yang bekerja di halaman rumah maupun di dapur, atau kesibukan kakak-kakakku membantu umi menumbuk kopi dibawah pohon manggis. Tapi kesenanganku ini sering menjadi bencana bagiku. Sepupuku Fitrizal, sering mendorongku dari belakang tempat dudukku, hingga aku jatuh terguling ke dasar tangga, disambut oleh batu tempat pijakan mencuci kaki dari air cibuak. Alhamdulillah, Tuhan masih melindungi aku. Aku tak pernah luka serius, setiap jatuh dari tangga yang tingginya melebihi tingginya orang dewasa itu!


read more