Pagi menjelang jam 9, aku sampai di rumah itu. Sebuah rumah yang cukup besar di daerah Jakarta Selatan. Begitu sampai aku disodori ringkasan permasalahan yang timbul di komputernya, setelah itu dia pamit untuk pergi ke tempat kerjanya. Begitu juga sang istri, ikut keluar ada urusan lain.

Tinggallah aku sendiri di ruang kerjanya, seorang pembantu berusia diatas 50 tahunan sibuk di dapur, yang terletak jauh dari ruang kerja.

Ditinggal sendiri di rumah besar dan luas tanpa ada penghuni lain, aku merasakan kesunyian mulai menyelimutiku. Pekerjaanku yang hanya mengutak-atik program komputer, tak cukup kuat untuk menghindarkan aku dari suasana yang sunyi itu.

Sendiri, berteman sepi…. 🙁

Aku membuat status itu di FB, agar dalam kesendirian dan kesunyianku itu aku masih bisa berkomunikasi dengan teman-teman di luar sana.

Walaupun statusku itu mendapat tanggapan dari beberapa orang teman, namun rupanya itu tak cukup untuk mengusir kesepian yang ku rasakan. Pikiranku menerawang dan melayang, jauh dari rumah yang saat itu ku tunggui. Terbayang anakku di Bekasi yang tengah sakit, yang aku tahu pasti saat itu juga di rumah sendiri hanya di temani pembantu. Sementara suaminya menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga, pergi bekerja. Sepasang cucukupun tengah pergi ke sekolah, menuntut ilmu untuk masa depannya.

Aku mengambil telepon genggamku, lalu menelpon anakku. Nihil, tak ada nada panggil yang terdengar, aku gelisah, ada apa dengannya sehingga telepon genggamnya di matikan? Konsentrasiku buyar, namun aku berusaha untuk tenang, namun tak bisa. Dadaku berdegup kencang, selama ini tak pernah dia mematikan telepon genggamnya. Aku berusaha agar tidak panik, aku lalu teringat seorang temannya yang rumahnya tidak begitu jauh dari rumahnya. Aku lalu menelpon dan mendapat sambungan, aku lalu mengatakan kalau telepon anakku tak menyala, dan minta tolong dia untuk  membantu menghubunginya.

Aku kembali meneruskan pekerjaanku, kembali ke alam kesunyian, kesunyian yang menyiksa hatiku. Pikiranku kembali melayang, kini yang melintas adalah kenangan semalam, pesta ulang tahun Kompasiana yang dijuluki Kompasianival.

Aku datang ke Kompasianival bersama anakku yang baru pulang dari Malaysia, disamping peralatan tempurku. Kami juga membawa sekarung kaus BHSB, untuk di jual kepada para mereka yang senang dengan perjuangan BHSB, menghibahkan buku-buku pelajaran ke sekolah-sekolah yang terletak di pelosok negeri.

Aku memang tidak melibatkan diri secara penuh pada salah satu grup yang aku ikuti, arena aku tidak ingin ada kecemburuan dari banyak grup lain yang aku juga menjadi anggotanya. Sebagai orang tua, aku ingin bersikap adil kepada mereka semua. Dengan tidak terikatnya aku dengan salah satu grup dalam Kompasianival ini, aku bebas mengunjungi mereka semua di both masing-masing grup, mensupport dengan semangat dan menghargai kerja keras mereka yang begitu antusias dan bersemangat mempersiapkan diri.

Dengan bebasnya aku menelusuri setiap grup, akhirnya aku berhasil menemui anak-anakku, adik-adikku maupun teman sebaya serta yang lebih tua yang datang dari seluruh pelosok Indonesia. Kami bersalaman, berpelukan melepaskan rasa rindu. Betapa mengharukan sekaligus juga membahagiakan pertemuan itu. Sebuah kerinduan yang terpendam begitu lama di dunia maya, persahabatan yang terjalin oleh tertulisnya rangkaian kata, dalam tawa dan canda terkadang juga fatwa, saat itu menjelma menjadi nyata, mereka hadir di depan mata.

ada yang terasa hangat dibalik pelupuk mataku…

Pertemuan sejenak malam itu, sungguh tak bisa kulupakan. Kerinduan yang belum sepenuhnya terbebaskan, kini kita harus berpisah lagi. Kembali ke habitat masing-masing di kehidupan yang sepenuhnya nyata, kehidupan sehari-hari sebagaimana adanya aku saat ini. Ditinggal sendiri berkawan sunyi berselimutkan sepi.

Aku tak ingin mendustai diri, khususnya pada anak-anakku atau juga adik-adikku. Belum cukup rasanya aku melepaskan rindu pada kalian. Pada tawamu, pada candamu dan pada tingkahmu, aku akan senantiasa merindukan kalian.

Pesta memang sudah usai, lampu-lampu sudah dimatikan, pintu-pintu sudah ditutup, kitapun melangkah gontai meninggalkan gedung itu. Tapi di hatiku pesta itu tak pernah berakhir, mungkin dalam waktu yang lama, karena kalian senantiasa ada di hatiku, apakah kalian akan senantiasa disana, hingga akhir hayatku? Entahlah, biarlah perjalanan waktu yang menjawabnya.

 

 

 


read more