Tulisan sebelumnya : Merantau ke Pekanbaru (31 Tamat)

Setibanya aku dan Tuan Maia di kampung, aku terpaksa menginap di rumah keluarga istrinya, di Pintu Koto, perhentian terakhir oplet yang menambang dari Kamang Ilia ke Bukittinggi. Karena kami sampai di Pintu Koto hari sudah tengah malam. Dari perhentian oplet ke rumahnya kami berjalan kaki hanya beberapa menit.

Besoknya setelah makan pagi, kami pulang ke Ladang Darek, berjalan kaki hampir tiga kilometer. Sewaktu mau berangkat, aku di beri sepasang sepatu baru dan langsung di suruh pakai. Seingatku, inilah baru pertama kali aku memakai sepatu. Rasa senang dan juga canggung bercampur menjadi satu. Selama ini aku kemana-mana selalu berkaki ayam, alias tanpa alas kaki walau hanya sekadar tarompa Japang atau sandal jepit.

Kutimang-timang sepatu itu dengan perasaan senang yang tak dapat kulukiskan, tanpa kusadari aku sering tersenyum simpul sendiri, hadiah yang sangat tak terduga. Aku tidak tahu siapa yang membelikan sepatu ini, tuan Maia atau mungkin kakakku? Entahlah, siapapun itu yang membelikannya, nyatanya sekarang sepatu itu telah berada di hadapanku.


read more