Masjid itu terletak persis di sudut jalan. berlantai dua, serta kubah yang bertengger di lantai tiga. Posisi mihrabnya sejajar dengan jalan yang membentang dari arah barat laut ke tenggara. Sisi kanan masjid langsung berhadapan dengan tebing, yang tingginya sejajar dengan langit-langit lantai dua. Bagian kiri dan belakang masjid adalah jalan yang berfungsi ganda sebagai halaman masjid. Sedang dibagian depan masjid, terdapat bangunan lain berbentuk rumah, dipakai khusus buat belajar mengaji dan kegiatan lainnya, sebagai ruang serba guna atau acara peringatan keagamaan, seperti Isra’ Mi’raj, Maulid Nabi, maupun perayaan Khatam Al-Qur’an. Kalau malam berfungsi sebagai tempat tidur anak laki-laki remaja hingga menjelang dewasa dan belum berumah tangga. Bangunan ini disebut sebagai surau kampuang.

Disisi kiri atau selatan maupun belakang atau timur jalan, terdapat tebing sedalam hampir empat meter, yang dibawahnya di masing-masing sisi terdapat tabek, atau kolam ikan milik penduduk.

Persis disudut tikungan, terdapat jalan kecil menurun yang menikung kekanan beberapa derajat diantara dua tabek dan kemudian lurus kearah selatan dan berujung di Karan, rumah keluarga ayahku, sekitar tiga ratus meter dari masjid.

Aku sedang bermain di jalan yang juga merupakan halaman masjid yang diberi nama Sofia itu. Ketika seorang anak laki-laki yang beberapa tahun lebih tua dariku dan kupanggil tuan Man, lewat sambil menuntun sapi yang akan digembalakannya di sawah yang telah selesai di panen.


read more