Fatamorgana…

“Uda, biko sore tolong antakan awak ka Subarang Padang, da!

Srrr…, dadaku berdegup kencang. Gadis pemilik rumah yang disewa oleh bosku untuk studio reklame, yang kuincar diam-diam, minta tolong di antarkan kerumah kakaknya di Subarang Padang. Aku bagaikan kejatuhan bintang dari langit, mendengar permintaannya itu. Adakah selama ini dia juga memperhatikan aku, sebagaimana aku diam-diam tertarik dan mulai jatuh cinta padanya?

Konsentrasi kerjaku mulai buyar, khayalanku menerawang jauh. Aku tak sabar menunggu jam kerjaku selesai. Rasanya semua yang ada di hadapanku begitu indah, seindah bayangan-bayangan yang berkelebat di mataku, maupun rencana-rencana yang terbersit di hatiku.

Jam 5 sore aku membereskan semua peralatan kerjaku, lalu shalat ashar. Selesai shalat aku bersiap siap untuk berangkat dan nampaknya aku tak perlu menunggu lama. Dia muncul dari dalam rumah, aku tak bisa menyebutkan betapa cantiknya dia saat itu. Debaran jantungku semakin tak menentu, karena ini adalah pertama kalinya aku berjalan bersama seorang gadis, sejak aku merantau ke kota Padang ini.


read more