Belajar fotografi secara otodidak, memang berbeda jauh dengan mereka yang duduk di bangku sekolahan. Makanya saya menuliskan pengalaman pembelajaran ini sebagai  pelajaran dari kaki lima. Mungkin ada yang setuju atau tidak, tapi memang demikianlah adanya. Ilmu fotografi saya lebih banyak saya dapatkan dari menyusuri jalanan atau kaki lima.

Dari berbagai pengalaman yang saya dapatkan selama lebih dari tigapuluh tahun sebagai fotografer jalanan itu, tidak akan ada teori-teori fotografi jurnalistik yang dapat saya sampaikan pada Anda. Biarlah itu bagiannya orang-orang yang belajar fotografi secara serius di bangku sekolahan, berhadapan dengan guru atau dosen. Jadi bila Anda menemukan ada pemahaman yang berbeda dari yang didapatkan dari bangku kuliah atau klub fotografi atau pelatihan fotografi yang gratisan atau yang bayarnya jutaan dalam satu sesi, anggap saja pendapat saya itu angin lalu.

Fotografi jurnalistik adalah bagian dari banyak cabang fotografi. Fotografi jurnalistik adalah seni fotografi yang mengkhususkan diri pada pelaporan suatu kejadian melalui peralatan fotografi atau dalam hal ini kamera.

Proses mendapatkan foto yang bernilai jurnalistik itupun bisa dalam berbagai cara. Ada yang didapatkan secara spontan dalam suatu kejadian yang tak terduga. Misalnya kecelakaan lalulintas, dan ada juga yang didapatkan melalui proses yang direncanakan, seperti kegiatan atau acara-acara yang sudah di susun rapi di dalam suatu gedung ataupun di lapangan terbuka.

Lalu apa bedanya fotografi jurnalistik dengan cabang fotografi lainnya?

Sebagaimana dituliskan diatas, Fotografi Jurnailstik adalah foto kejadian atau peristiwa yang bernilai berita, juga berhubungan dengan waktu dan tempat. Memperlihatkan sesuatu kejadian yang menarik perhatian yang menimbulkan tanda tanya, atau bisa juga yang menimbulkan kekaguman. Juga pada umumnya, foto-foto jurnalistik ini berumur pendek dan mudah dilupakan orang. Kecuali sebuah foto kejadian yang nilai beritanya luar biasa, seperti misalnya foto pendaratan Neil Amstrong di bulan atau foto ditabraknya gedung kembar pusat bisnis dunia di New York dengan  pesawat  terbang, sehingga kedua gedung itu rubuh dan hancur.

Sementara banyak cabang fotografi lain yang tidak berhubungan dengan peristiwa, waktu dan tempat. Misalnya fotografi pemandangangaya hiduparsitektur dan lain-lain. Dimana foto-foto tersebut dapat di nikmati dimana saja dan kapan saja, atau menjadi bagian dari interior rumah Anda.

Kamera dan lensa.

Ada yang mengatakan bahwa untuk menjadi fotografer jurnalistik itu harus mempunyai perlengkapan kamera yang cukup, lensa dengan berbagai rentang sudut pandang, lensa sudut lebar, tele pendek, tele menengah dan tele panjang.  Lalu tentu timbul pertanyaan, jadi kalau saya tidak mempuyai semua itu, saya tidak bisa menjadi fotografer jurnalistik atau wartawan foto?

Saya tidak akan membantah semua itu. Tapi selama lebih dari tigapuluh tahun sebagai fotografer, sewaktu masih memakai kamera konvensional dengan memakai film sebagai media penyimpan foto, saya hanya memiliki lensa 28-70mm. Kini, sejak beralih ke kamera digital, saya juga hanya mempunyai satu lensa, yaitu lensa bawaan atau kit saat saya membeli kamera itu 7 tahun yang lalu, yaitu lensa 18-55mm. Hingga kini saya masih nyaman-nyaman saja dengan peralatan yang seadanya itu.

Bukannya saya mengingkari teori, bahwa seorang wartawan foto harus mempunyai peralatan yang super lengkap, tapi kalau kenyataan yang saya punya hanya itu, apakah kreatifitas saya menjadi terpasung? Tiga tahun saya bergabung di Kompasiana dengan aneka reportase bergambar, rasanya sudah cukup untuk mengatakan bahwa kreatifitas saya tak terganggu dengan hanya modal pas-pasan itu.

Ini saya ungkapkan, agar para calon jurnalis foto yang memang berniat untuk terjun kedunia potret memotret ini tidak putus asa dengan apa yang ada. Namun bila seandainya Anda punya cukup uang untuk melengkapi peralatan tambahan kamera Anda kenapa tidak?

Memang, dengan memakai lensa standar, mungkin ada momen-momen tertentu yang tidak bisa kita dapatkan. Tapi apakah kita akan menyesali nasib karena tidak mendapatkan momen tersebut? Kreatifitas, itulah kuncinya. Yang lemah harus cerdik, demikian sebuah pepatah yang saya baca di buku pelajaran saya, sewaktu masih kelas 4 SD di tahun enampuluhan. Dan pepatah itu selalu menemani saya dalam setiap momen kehidupan saya. Dengan segala kekurangan yang saya miliki, saya harus berjuang dengan segala akal yang saya punyai, untuk mendapatkan hasil yang mungkin bagi orang lain hanya seperti membalikkan telapak tangan.

Sebagai ilustrasi dari tulisan ini, saya akan menampilkan foto-foto yang semua diambil dengan kamera yang hanya diperlengkap dengan lensa standar 18-55mm.

 

Mengabadikan Jokowi hanya bermodal lensa standar (Foto: Kompas)

 

Foto ini saya abadikan saat Berkelana di Ranah Minang Desember 2010. Saat itu sebuah Toyota Hardtop terbakar di persimpangan jalan Dobi, Padang.

 

10 Desember 2010. Sebuah truk terperosok dijalan Lintas Timur Sumatera yang rusak, sehingga menimbulkan kemacetan yang cukup panjang.

 

 

Kegembiraan Indonesia saat mengalahkan Vietnam di Semi Final Sea Games 2011.

 

Kesedihan para supporter Indonesia, saat dikalahkan Malaysia di Final SEA Games 2011

 

Wajah letih Firdasari di Final Bulutangkis Sea Games 2011

 

Peluncuran Kompas TV 2011

 

 

 

Demonstrasi karyawan Indosat dan ancaman Kiamat Internet di Bundaran Hotel Indonesia

 

Trotoar yang dijadikan tempat Parkir Mobil, sehingga pejalan kaki harus menyabung nyawa di tengah keramaian lalu-lintas

 

 

Dari beberapa foto diatas, dapat kita saksikan bahwa dengan kamera yang memakai lensa standar pun kita bisa menghasilkan foto jurnalistik. Jadi jangan pernah ragu untuk memulai dan memanfaatkan apapun kamera Anda, walau dengan fasilitas seadanya.

Mempunyai peralatan lengkap itu adalah impian semua fotografer. Tapi dengan peralatan seadanya, Anda juga harus bisa menunjukkan, bahwa Anda bisa mengatasi segala kekurangan itu.


read more