Setelah hampir setahun tidak pernah haid, dua minggu lalu istri saya kaget karena dia mendapatkan haid lagi. Saat itu dia tenang-tenang saja dan tetap beraktifitas sebagaimana biasanya. Setelah berlangsung seminggu, baru dia merasakan keanehan. Karena biasanya setiap haid, dia mengalaminya hanya sekitar 3 atau empat hari. Saat membicarakannya dengan putri kami Nurul, dia mengatakan tidak apa-apa, karena dia pernah mengalaminya selama 15 hari, lalu berhenti sendiri. Walau masih dengan penuh tanda tanya, istri saya mengikuti saja apa yang dikatakan putri kami tersebut.

Setelah dua minggu berlalu, karena penasaran, hari Jum’at 2 Agustus lalu dia pergi ke Puskesmas. Karena sudah berpengalaman berurusan dengan pelayanan pengobatan gratis di Puskesmas, dia lalu melengkapi diri dengan surat-surat yang dibutuhkan. Diantaranya fotokopi Kartu Keluarga kami dan fotokopi KTP saya dan dia.

Rupanya dari apa yang dialaminya saat pemeriksaan dan konsultasi dengan dokter Puskesmas, dokter langsung menyuruh dia untuk berobat ke rumah sakit, untuk  mendapat perawatan dan penanganan yang lebih intensif. Dokter juga memberikan pilihan kepada dia mau dirawat di Rumah Sakit mana, RS Sumber Waras atau RS Tarakan. Dengan pertimbangan karena lebih dekat dengan rumah kami, istri saya lalu memilih RS Sumber Waras. Hanya saja karena hari sudah siang selepas Jum’at, maka dia memutuskan untuk mengunjungi RS Sumber Waras keesokan harinya, Sabtu 3 Agustus 2013.

Berbekal surat pengantar dari Puskesmas serta data penunjang lainnya, istri saya berangkat seorang diri ke RS Sumber Waras. Berdasarkan surat pengantar dan data pendukung itu juga, istri saya dinyatakan sebagai pasien yang ditanggung oleh program kesehatan Jakarta Sehat yang diusung oleh Gubernur DKI Jokowi bersama wakilnya Ahok.

Dari hasil pemeriksaan dokter, istri saya langsung diperintahkan untuk dirawat inap. Dokter juga memerintahkan untuk memanggil saya agar datang kerumah sakit untuk membicarakan hal itu. Bersama Rizqy putra kami yang bungsu, sayapun menyusul ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit di poli Kebidanan dan Kandungan, saya menemui dokter yang memeriksa istri saya. Secara singkat dia mengatakan bahwa istri saya harus di kuret, guna untuk membersihkan rahimnya juga untuk menganalisa sampel darahnya, untuk mengetahui dengan tepat penyakit yang dideritanya. Setelah menyetujui secara lisan, istri saya langsung dibawa ke ruang perawatan di lantai tiga gedung RN. Gedung Rawat Inap yang terletak di bagian belakang kanan RS Sumber Waras.

Sampai di Ruang perawatan saya harus menandatangani  beberapa surat, diantaranya surat izin pelaksanaan operasi kuret untuk istri saya. Setelah selesai saya kembali keluar ruangan. Beberapa saat kemudian dokter juga menyusul datang, yang kemudian diiringi kesibukan suster di ruang perawatan.

Capek bermain sendiri, Rizqy kehausan dan minta minum. Kami lalu pergi mencari air minum ke kakilima di depan rumah sakit yang cukup jauh juga dari gedung RN. Saya membeli dua botol air mineral kemasan ukuran 600 ml. membuka tutup salah satunya dan memberikan ke Rizqy.

Kami kembali ke gedung RN, kembali ke lantai 3, lantai khusus untuk pasien yang berhubungan dengan masalah kandungan, lalu duduk di bangku yang terdapat di depan ruangan tempat istri saya tengah dirawat. Tidak lama duduk di sana, pintu ruang perawatan terbuka. Dokter didampingi suster perawat keluar dari ruang perawatan lalu berjalan menuju kantor perawat. Saya lalu masuk ke ruang perawatan, mengantarkan air mineral untuk istri saya. Saya melihat istri saya tidak lagi tidur di tempat tidur yang berada di tengah ruangan, tapi sudah pindah ke tempat tidur yang berada di pinggir. Rupanya kuret terhadap istri saya sudah selesai dilaksanakan.

Istri saya, satu-satunya pasien di kamar 306

Sebelum memberikan air kepada istri saya, saya menanyakan kepada suster yang sedang berjaga, apakah istri saya boleh minum, yang kemudian dijawab tunggu hingga nanti setelah jam dua. Saya tidak tahu bahwa saat itu istri saya masih belum sadar dari pengaruh bius saat dia dikuret. Saya lalu meletakkan botol air mineral itu di meja yang di atasnya sudah tersedia makan siang untuk istri saya.

Menjelang asyar, setelah istri saya siuman dan pulih dari pengaruh bius total yang dijalaninya tadi. Rupanya dia kebingungan, karena tempat tidurnya telah pindah, dari tempat tidur yang berada di tengah ruangan, ke tempat tidur yang ada di pinggir.  Setelah benar-benar pulih, dikawal perawat dia di pindahkan ke kamar rawat inap.

Istri saya di tempatkan di kamar 306. Sebuah kamar dengan ukuran sekitar 6 x 6 meter yang didesain untuk 6 tempat tidur. Tapi saat itu hanya terdapat 5 tempat tidur di dalam ruangan itu. Tiga di sebelah utara, dan dua di sebelah selatan. Kami mengambil praktisnya saja menempati yang di sebelah selatan, yang  berada di dekat pintu masuk sebelah timur.

Saat kami masuk kamar 306 itu, kami tak mendapati satu orang pun pasien yang tengah dirawat di sana. Jadi istri saya adalah satu-satunya pasien yang berada di ruangan itu, berdua dengan saya sebagai pendampingnya. Suasana ini membuat saya lumayan nyaman, karena kami bisa beristirahat dengan tenang. Karena lapar belum makan dari pagi, istri saya segera menghabiskan ransum rumah sakit yang ikut di pindahkan dari ruang perawatan tadi. Untuk mengisi waktu, saya lalu mengambil netbook yang saya bawa dari rumah, lalu berselancar di dunia maya.

Menjelang magrib, kakak ipar datang membezuk bersama istrinya, dan satu teman lain yang masih sekampung dengan istri saya. Selepas magrib anak saya yang nomor dua Al Fajri, datang mengantar dua bungkus nasi. Rencananya nasi itu masing-masing untuk saya dan istri. Tapi karena dia sudah mendapat ransum dari rumah sakit, maka nasi yang sebungkus lagi saya simpan untuk sahur keesokan harinya.

Selesai shalat isya sekitar jam 20.00, karena kecapekan wara wiri di rumah sakit mengurus surat untuk perawatan istri saya yang ditanggung KJS, program kesehatan untuk warga Jakarta yang di luncurkan oleh gubernur DKI, Jokowi. Mata saya mulai mengantuk. Walau di kamar itu terdapat 4 tempat tidur yang kosong, tapi berdasarkan peraturan saya tidak boleh tidur di sana. Maka saya lalu menyusun bangku yang ada di ruangan itu, membariskannya empat buah, lalu tidur nyenyak di atasnya.

Rupanya sejuknya ruangan yang memakai pendingin udara itu, tidak melenakan saya dari kebiasaan yang hampir dua tahun belakangan ini saya lakukan. Bangun sekitar jam 23 lewat, lalu begadang sampai subuh. Sepinya suasana sekitar lantai tiga rumah sakit itu, menimbulkan banyak inspirasi di kepala saya. Sambil berselancar di dunia maya, saya juga berhasil menyiapkan beberapa foto acara yang belum sempat di publish. Hingga waktu berlalu tanpa terasa hingga duapertiga malam untuk tahajud, lalu diteruskan hingga datangnya saat sahur dan berlanjut ke waktu subuh.

Hari Minggu berjalan dengan baik, berkat pertolongan Allah melalui obat yang diminumnya, istri saya semakin membaik. Pendarahan sudah berhenti, sehingga suster pun memberikan harapan, besok hari Senin istri saya sudah bisa pulang.

Senin pagi lewat beberapa menit jam 7 saya berjalan menuju loket Askes/KJS. Loket masih tutup, tapi seorang petugas tengah merapikan ruangan, menyalakan lampu dan persiapan lainnya. Satu persatu petugas lain mulai berdatangan. Saat asyik membaca pesan di group WA Bloggerreporter, saya dipanggil petugas. Setelah mengantongi Lumia, saya lalu menyerahkan berkas yang sudah saya persiapkan sebelumnya. Setelah menunggu beberapa menit, saya kembali di panggil. Petugas menyerahkan satu berkas surat yang beberapa diantaranya harus saya fotokopi, dan nanti diserahkan kembali kepadanya.

Kembali dari memfotokopi berkas dokumen dan menyerahkan kepada petugas, saya menunggu arahan selanjutnya. Tak menunggu lama petugas tersebut memanggil saya, dan kembali menyerahkan satu berkas dokumen yang harus saya antarkan ke bagian keuangan, sambil menyebutkan nama orang yang harus saya temui dan ruangannya.

Sampai di bagian keuangan saya menyerahkan dokumen yang berlabel KJS tersebut kepada petugas yang menangani. Dia mempersilakan saya untuk meninggalkan saja dokumen tersebut kepadanya.

Saya kembali ke gedung RN, ke lantai 3 dan menuju kamar dimana istri saya dirawat. Melihat saya masuk kamar istri saya yang sudah tidak sabaran mau pulang, langsung bertanya: “Sudah bisa pulang?

Dengan perasaan kurang yakin saya menjawab saja sekenanya, “ya…! Soalnya saya belum memegang dokumen apapun, sebagai tanda istri saya sudah bisa meninggalkan rumah sakit ini.

Sekitar jam sepuluh dokter melakukan pemeriksaan akhir, setelah mengajukan beberapa pertanyaan, dokter lalu mengatakan kami boleh meninggalkan rumah sakit. Istri saya menyambutnya dengan antusias. Begitu dokter dan suster perawat meninggalkan kamar dia langsung berbenah, saya pun ikut membantu memasukkan barang-barang perlengkapan kami ke dalam tas. Dalam sekejap semuanya rapi!

Rupanya istri saya benar sudah tidak sabar untuk kembali kerumah. Begitu semua barang kami terkumpul dia menemui suster untuk pamit. Sambil tersenyum suster mengatakan agar istri saya bersabar dulu, karena dokumen dia tengah di urus di bagian lain, dia menganjurkan agar istri saya untuk istirahat saja dulu. Sambil tiduran menunggu kepulangan, rupanya istri saya masih mendapatkan jatah makan siang yang kemudian dinikmatinya dengan setengah hati, walau kemudian habis juga karena lapar! hehe…

Mendekati jam 12 siang saya dipanggil oleh suster. Dia lalu menyerahkan seberkas dokumen yang harus saya antarkan ke bagian keuangan. Dengan kondisi yang sudah agak sedikit drop, karena harus bolak balik beberapa kali dari gedung RN ke loket Askes/KJS dan bagian keuangan plus memfotokopi dokumen keluar rumah sakit dengan Flu yang mulai menggerogoti hidung dan tenggorokan. Saya berjalan menuruni lantai 3 melalui tangga darurat, karena lift rumah sakit belum selesai di perbaiki.

Sampai di bagian keuangan, saya kembali menemui petugas yang menerima dokumen tadi pagi. Menyerahkan dokumen yang diberikan suster tadi. Saya disuruh menunggu di ruang tunggu, sementara dia membawa dokumen yang saya serahkan ke ruangan lain. Tak lama kemudian saya dipanggil, setumpuk dokumen terletak dimejanya. Saya lalu disodori dokumen-dokumen tersebut untuk di tandatangani. Saya tidak menghitungnya secara detail, tapi rasanya lebih dari lima dokumen yang harus saya tandatangani. Salah satu diantaranya adalah kwitansi biaya perawatan dengan tujuh digit angka yang di depannya di mulai dengan angka 2. Disetiap dokumen itu sekilas saya lihat label KJS yang di tulis tangan.

Alhamdulillah, sudah boleh pulang

Selesai menandatangani semua dokumen itu, saya diberi secarik kertas kertas oleh sang petugas, dibagian atasnya tertulis dengan huruf kapital TANDA KELUAR PASIEN. Dengan perasaan lega saya keluar dari ruangan itu, tapi saya masih sempat mendengar si petugas mengatakan, “Jangan balik lagi kesini ya! “,  yang kemudian saya jawab “Amiinn…”

Saya segera kembali ke gedung RN, mendaki tanjakan landai memutar menuju lantai 3, menyerahkan kertas yang diberikan oleh petugas bagian keuangan kepada suster jaga di Kantor Perawat, lalu langsung menuju kamar. Sebelum meninggalkan kamar tempat istri saya dirawat, saya menyempatkan diri untuk shalat Zuhur. Saya ingin meninggalkan rumah sakit ini dengan hati yang tenang.

Selesai shalat, kami keluar kamar dan berjalan menuju Kantor Perawat untuk pamitan. Suster jaga terkejut juga melihat cepatnya kami berbenah. Dia lalu memberikan obat-obatan yang sudah disiapkan untuk istri saya, berikut data medis istri saya dalam amplop, untuk pengecekan berikutnya dua minggu berikutnya. Dia juga mengatakan bila terjadi keadaan darurat atas istri saya, agar segera mendatangi rumah sakit ini lagi.

Dengan menumpang bajaj, kami kembali kerumah. Diatas bajaj kami berdua bersyukur atas adanya KJS ini. Di saat perekonomian keluarga pas-pasan, biaya rumah sakit yang mencapai tujuh digit itu memang terasa berat untuk di tanggung. Pemda DKI telah berbuat nyata dengan program KJS-nya, dan itu harus kita syukuri. Alhamdulillah.

 

 

 

 

 

 


read more