IMG_5818a

Narsis adu ganteng dan adu cantik sebelum berangkat

Kembali dari Alun-alun Bandung, sampai di hotel kami sudah ditunggu agar segera berangkat menuju kantor Dewaseo di ITC Kebon Kelapa. Saya segera ke kamar dan mandi. Begitu selesai mandi langsung berbenah, memasukkan semua peralatan ke dalam tas. Kecuali kamera yang tadi ikut saya ajak jalan-jalan ke Alun-alun.

Sampai di lobby hotel sarapan sudah menunggu, nasi goreng dengan telor mata sapi, alias telor ceplok yang langsung saya sikat tak bersisa, tinggal piring kosong sama sendok dan garpu. Maklum, memang lagi lapar dan sudah terbiasa makan pagi .

Selesai sarapan, kami bertiga, Dudi Jaya dan isterinya Karmila Dwie serta saya, segera menuju kantor Dewaseo. Dudi sengaja membawa kendaraan sendiri dari Tasikmalaya, sebuah Toyota Rush hasil jerih payahnya dari ngeblog.

Briefing singkat sebelum berangkat

Briefing singkat dari Pimpinan Dewaseo Argun

 

Ada yang mendengar ada yang ngelamun

Ada yang mendengar ada yang ngelamun ada juga pasang aksi

 

Ada juga yang nggak kebagian kursi

Ada juga yang ingin lebih jangkung

Karena jam buka ITC Kebon Kelapa ini adalah jam 09.00, maka untuk masuk kekantor Dewaseo yang berada di lantai 2, kami harus melewati pintu khusus yang berada di bagian belakang gedung ITC. Pintu ini khusus untuk keluar masuk karyawan yang akan membuka tokonya di ITC. Pintu ini di jaga oleh beberapa petugas keamanan. Setiap yang masuk harus mencatatkan namanya di buku tamu yang sudah disediakan disana. Karena kami berombongan, maka petugas keamanan mengizinkan kami masuk dengan hanya mencatatkan satu nama disana.

Tidak mudah menemukan kantor Dewaseo ini. Karena pintu masuk kami, bloknya memang jauh dari blok tempat beradanya kantor Dewaseo. Kami harus melewati beberapa blok dulu, melewati toko atau kios yang masih tutup, lalu naik tangga berjalan atau escalator yang belum di nyalakan, sehingga harus naik ke lantai dua seperti biasanya naik tangga. Untung saja komunikasi lewat BBM saudara Dudi dan teman-teman di kantornya Dewaseo tak terputus, sehingga kami bisa di tuntun agar tak nyasar di gang-gang yang berliku di ITC Kebon Kelapa itu.

Menikmati macetnya Bandung

Menikmati macetnya Bandung

Sampai di kantor Dewaseo beberapa teman sudah duluan datang, termasuk diantaranya boss Dewaseo Argun dan juga Nchie Hanie, serta beberapa teman blogger Bandung lainnya yang belum saya kenal, juga beberapa diantaranya adalah karyawan Dewaseo yang masih muda-muda. Sambil mengobrol dan minum kopi serta makan camilan, kami menunggu beberapa teman lain yang belum datang.

Setelah semua berkumpul, ada sedikit pengarahan dari si boss Argun. Mengenai beberapa hal tentang daerah tujuan yang akan kami datangi yaitu raftingbandung, grouphousecileunca dan  airrisadventure  yang semuanya berada di Bukit Pangalengan yang berada sekitar 45 kilometer di selatan Bandung. Selesai briefing, kamipun turun dan meninggalkan gedung ITC Kebon Kelapa itu. Karena sudah jam 09.00 dan toko-toko di ITC itu sudah banyak yang buka, hanya dengan sekali turun tangga, kami langsung mendapati pintu keluar yang sudah tebuka lebar.

Rehat sejenak nyari minuman

Rehat sejenak nyari minuman

Dengan satu mobil berisi delapan penumpang dan tujuh sepeda motor, kami meninggalkan kota Bandung. Karmila Dwie, istri Dudi Jaya, dengan rela mempersilakan saya untuk duduk di bangku depan mendampingi suaminya yang sedang mengemudi. Rupanya Mila, demikian panggilan sehari-harinya,  memahami bahwa saya akan mengabadikan perjalanan ini dengan kamera saya. Terimakasih Mila, kursi kehormatanmu saya tempati selama di acara ini…

Dipandu oleh perlengkapan GPS yang terpampang di dashboard mobil, kami menelusuri jalanan Bandung menuju arah Selatan. Bandung yang juga sudah mulai mengenal macet, dengan sabar di lewati oleh Dudi. Sambil meliuk-liuk mengikuti arus jalan, di timpali oleh obrolan teman-teman, Karmila Dwie,  Mira Sahid, Fitri Rosdiani di bangku tengah, serta, Dann Julian, MF Abdullah dan Widya Herma di bangku belakang. Maka ramailah perjalanan menuju Pangalengan ini dengan aneka obrolan dan celetukan, sehingga perjalanan yang memakan waktu 2,5 jam itu tak terasa membosankan. Kami juga sempat berhenti beberapa kali, menunggu teman-teman yang naik sepeda motor yang tertinggal di belakang, dan sekali saat kami mengisi  bensin di SPBU Pertamina.

Ngisi Bensin dulu

Ngisi Bensin dulu

Lepas dari kemacetan kota Bandung, kami meluncur dengan tenang. Suara pemandu GPS yang kadang-kadang nyinyir juga menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Apalagi bila Dudi melawan perintahnya, di suruh belok kiri malah mutar ke kanan. Atau bila sudah dekat perempatan jalan, rajin sekali mengingatkan.

Semakin dekat ke pegunungan pemandangan semakin indah, sawah-sawah membentang. Perkebunan teh yang menghijau di perbukitan, mengundang kamera saya untuk mengabadikannya. Udara pegunungan yang semakin terasa menyejukkan, membuat kami semakin tak sabar untuk segera sampai di tujuan. Untuk menikmati sejuknya udara pegunungan itu, kamipun sepakat untuk mematikan AC mobil dan kemudian membuka kaca jendela, aroma pegunungan dengan hawanya yang sejuk serta merta menyergap kami, segarnya…

Antri bensin

Antri bensin

Tepat jam 11.29 kami sampai di grouphousecileunca. Kami disambut oleh seorang staf disana dan mengarahkan kami langsung menuju pondokan yang terletak di bagian paling atas resort. Karena saat shalat Jumat telah tiba, kami para pria segera menuju masjid yang tidak jauh dari resort. Sementara rombongan wanita shalat di mushalla yang berada di belakang barak.

Selesai shalat jumat, kami segera kembali ke barak. Setelah berkumpul semua dan perut sudah pada lapar, kami lalu berjalan menuju warung yang ada di luar resort. Soalnya, acara makan siang tidak termasuk dalam paket kunjungan kami saat itu. Sampai di warung, tidak sampai setengah jam, ludeslah makanan yang tersedia di sana. Karena pemilik warung juga tak menyangka akan kedatangan rombongan 19 orang yang kelaparan minta makan. Tak terkecuali pedagang bakso yang berada di seberang jalanpun jadi sasaran…

Narsis tak kunjung habis

Narsis tak kunjung habis

Selesai makan kami segera kembali ke barak. Acara pertama kami hari itu adalah rafting atau arung jeram. Menelusuri Sungai Palayangan, Pangalengan. Seperti dikatakan pemiliknya, Sungai Palayangan  menjadi pilihan terbaik kegiatan arung jeram di Bandung. Debit air yang stabil sepanjang tahun, pemandangan yang indah dan jarak yang cukup dekat menjadi nilai tambah sungai Palayangan ini.

Desa di kaki bukit

Desa di kaki bukit

Terletak 45 km di selatan Bandung, tepatnya di kota Pangalengan yang terkenal sebagai daerah penghasil susu dan sayuran. Titik start kegiatan arung jeram berada di lokasi wisata Situ Cileunca, pada ketinggian 1200 m dpl dengan suhu antara 18-26 derajat C. Situ Cileunca merupakan danau buatan dengan luas lebih dari 14.000 m2, di kelilingi oleh hutan pinus perkebunan teh serta kebun sayuran yang dimiliki oleh masyarakat setempat, menjadi sumber utama air sungai Palayangan. Pada kondisi normal, debit air adalah 2 m3 perdetik, sedang pada musim hujan dengan volume air yang melimpah debit air dapat mencapai lebih dari 4M3 per detik. Sungai Palayangan tergolong pada sungai dengan tingkat kesulitan Class III – IV (pada tingkat kesulitan I – IV), dengan lintasan pengarungan sepanjang 5 km dan gradien 30-60 derajat. Kegiatan arung jeram di Sungai Palayangan mampu memberikan tantangan yang menjanjikan, tidak hanya bagi pemula namun juga bagi peserta yang pernah mengikuti kegiatan arung jeram.

Perkebunan teh

Perkebunan teh

Setelah semua berganti pakaian, kami segera menuju danau buatan Situ Cileunca. Sampai di pinggir danau, para petugas yang akan menemani kami selama dalam perjalanan mengarungi sungai Palayangan sudah siap dengan perlengkapan mereka, 4 perahu karet yang bisa memuat 6 orang setiap perahunya, di tambah satu orang dari tuan rumah yang bertindak sebagai pengemudi dan pengawal para peserta. Sebelum meluncur ke danau, semua peserta di kumpulkan dulu untuk pembekalan tentang factor keselamatan berarung jeram, hal-hal yang boleh atau harus dilakukan dan yang dilarang dilakukan selama menelusuri sungai berarus deras dengan perahu karet itu. Selanjutya para peserta di pakaikan helm dan pelampung agar tak tenggelam bila perahu yang mereka tumpangi tebalik.

Cileunca, kami datang...!!!

Cileunca, kami datang…!!!


read more