Perteman antar bangsa itupun terjalin.

Perteman antar bangsa itupun terjalin tanpa hambatan

+Shalat tahajud yuuuk. SMS itu terkirim melalui WhatsApp

-Mari ayah…  Ayah Dian Jakartanya di mana? Saya lagi di Jakarta nih…

Saya terkejut dan merasa tak percaya membaca balasan dari Aisy.

+Ayah di Tomang ananda. Ananda nginap di mana?

-Ibis Arcadia, dekat Tanah Abang ayah. Jauhkah?

+Ya, ayah tahu hotelnya. Kira-kira 5 km dari rumah ayah. Sampai kapan ananda di Jakarta?

-Besok siang sudah pulang ayah, belanja di Tanah Abang ikut majikan. Besok libur ya ayah, Nyepi?

+Kita di Jakarta nggak ikut Nyepi ananda, tapi liburnya ya. Kalau gitu ayah akan datang pagi ini ke hotel. Jam berapa ayah boleh datang? Mau tak ananda datang kerumah. Sekalian jemput majikan.

-Nanti saya tanya bos dulu. Rencananya pagi ini mau ke Thamrin atau Mangga Dua, sebelum pergi mungkin bisa ketemu ayah dulu.

Naik Taksi ke Tomang berapa menit ayah?

+15 menit…

-Saya coba ajak majikan, kalau mereka mau saya ajak sekalian. Insya Allah semoga bisa ayah. Minta alamatnya ayah.

+Boleh, kalau mereka nak tengok rumah ayah yang sederhana. Rombongannya berapa orang semua?

-Empat orang dengan saya

+Tak apa, kalau mereka mau. Jam 7 ayah datang ke hotel.

-Sip ayah, terimakasih atas jemputannya.

***

Demikianlah saling balas pesan saya dan Aisy Laztatie, yang di kalangan temannya dipanggil Dessy, jam 3 dini hari Senin 31 Maret lalu. Saat sebelum kami melaksanakan shalat tahajud.

Jam 6.45, saya memanggil ojek langganan, tetangga satu RT. Dari Tomang Tinggi kami meluncur ke Tomang Raya, terus menuju arah Harmoni. Di Cideng dekat Rumah Sakit Tarakan, kami belok kanan memasuki Cideng Timur, lalu bablas menuju Tanah Abang. Karena belum tahu posisi hotel Ibis Arcadia, kami meluncur sampai ke jalan Mas Mansyur arah Karet, sambil tetap memperhatikan gedung di kiri kanan jalan. Dekat jalan Kebon Kacang kami belok kiri, lurus kearah Bunderan HI. Saya mulai ragu dimana posisi Hotel yang kami tuju. Dekat Plaza Indonesia, kami belok kiri, melewati jalan belakang Plaza Indonesia, lalu lurus menuju jalan Wahid Hasyim.Watch Full Movie Online Streaming Online and Download

Begitu masuk jalan Wahid Hasyim, kami berhenti sejenak. Lalu bertanya kepada tukang ojek yang lagi parkir menunggu penumpang. Saya menanyakan di mana hotel Ibis Arcadia.

“Lurus saja ke arah jalan Thamrin lalu menyeberang….

“Dibelakang Sarinah? Saya langsung memotong pembicaraannya

“Ya, di belakang Sarinah…” tukang ojek itu melanjutkan.

Setelah mengucapkan terima kasih, kami lalu bergegas menyusuri arah timur jalan Wahid Hasyim itu. Di perempatan Sarinah, kami menyeberangi jalan Thamrin lalu masuk sambungannya jalan Wahid Hasyim. Dari jauh saya melihat nama hotel Ibis di sebelah kanan jalan. Kami langsung menuju kesana.

Sampai di depan hotel, saya langsung menuju resepsionis, menanyakan hotel Ibis Arcadia. Resepsionis lalu mengatakan Ibis Arcadia ada di seberang jalan, kira-kira 100 meter arah barat dari hotel Ibis tempat kami berada saat itu. Saya segera berlari menuju ojek teman saya, sambil melihat kearah barat. Benar saja, dari tempa kami berdiri saya melihat cirri khas logo hotel Ibis diiringi tulisan Arcadia yang lebih besar.  Saya membayar ongkos ojek, kemudian dengan berlari kecil menuju hotel Ibis Arcadia.

Baru saja saya menginjak tangga atas lobby hotel mau menuju resepsionis, sebuah suara mengejutkan saya.

“Assalamu’alaikum ayah…”

Rupanya karena terburu-buru mau menuju resepsionis, saya tidak melihat Aisy Laztatie sudah berjalan menyongsong kedatangan saya di lobby hotel itu. Setelah bersalaman, Dessy lalu menunjuk ke arah rombongannya dan memperkenalkan saya ke majikannya.

Karena mereka telah siap, kami langsung menuju taksi yang banyak parkir di jalan depan hotel. Karena jumlah kami saat itu berlima, terpaksa kami memakai dua taksi. Jalanan yang masih sepi pagi itu, membuat perjalanan kami menuju Tomang, lancar tanpa dihadang kemacetan. Tidak sampai 15 menit kami sudah tiba di rumah.

Kedatangan tamu yang mendadak, membuat saya dan istri tidak sempat membuat penyambutan yang memadai. Setelah menyajikan air kemasan, saya bermaksud membeli sarapan pagi untuk mereka, lalu menawarkan nasi uduk atau lontong sayur. Tapi nampaknya mereka juga tidak bisa lama berkunjung ke rumah saya, mereka hanya ada waktu 15 menit. Mereka menolak tawaran sarapan pagi yang saya ajukan. Karena mereka juga belum selesai belanja, sementara mereka harus kembali ke Malaysia sore harinya.

Dengan perasaan nggak karuan saya berusaha memahami situasi mereka. Tapi dalam hati saya sangat merasa nggak nyaman dan malu tidak bisa menyajikan sesuatupun pagi itu untuk mereka, selain segelas air itu. Tapi di sisi lain, saya juga merasakan semacam kebahagiaan bisa bertemu dan berkenalan dengan mereka. Saudara serumpun dari Malaysia. Terutama dengan salah seorang anak maya saya, Aisy Laztatie, yang telah sering bertegur sapa di dunia maya, khususnya Facebook dan WhatsApp

Karena waktunya tak banyak, tak seberapa pula yang dapat kami obrolkan pagi itu. Tapi pertemuan itu telah meninggalkan kesan dan pesan persaudaraan atau pertemanan. Di dunia maya maupun dunia nyata.

Bersama taksi yang telah menunggu, merekapun meninggalkan rumah kami, menuntaskan urusan bisnis mereka di Jakarta. Memanfaatkan setengah hari yang tersisa sebelum kembali ke kampung halamannya, Malaysia.

 

 

Berpose sejenak sebelum meneruskan perjalanan.

Berpose sejenak sebelum meneruskan perjalanan.

 


read more