Novel Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI

Novel Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI

Lima tahun yang lalu, tepatnya 19 November 2009. Aku mulai sesuatu yang baru dalam kehidupanku. Sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya, namun bukan juga sesuatu yang sangat asing bagiku.

Saat itu aku mendaftarkan diri di Kompasiana, masuk dalam komunitas yang kehidupannya diselingi dengan satu kecintaan, yaitu, menulis. Menulis di dunia maya, dunia tanpa batas waktu dan tempat.

Menulis bukanlah sesuatu yang asing bagiku. Hal itu aku dapatkan saat aku bekerja serabutan di Harian Haluan Padang, tahun 1970. Di sana aku belajar mengetik, selanjutnya belajar dari mulai memperhatikan bagaimana para wartawan menulis berita, mengedit berita yang datang dari daerah, maupun berita yang datang dari kantor berita nasional atau asing, bahkan merekam berita dari radio asing seperti BBC Inggris, ABC Australia, atau VOA Amerika. Lalu menuliskan hasil rekaman itu, kemudian menyerahkannya kepada redaksi yang mengawal rubrik berita yang bersangkutan, yang saat itu di pegang oleh Rusli Marzuki Saria, yang dilingkungan Harian Haluan, sehari hari di panggil Papa. Seorang wartawan yang juga sastrawan atau penyair yang cukup disegani di kota Padang.

Alasanku masuk ke dunia blogger sangat sederhana. Ingin menuliskan sebuah otobiografi, kisah perjalanan hidup yang penuh liku. Syukur-syukur bisa menjadi sebuah buku. Untuk merealisasikannya, aku lalu menanamkan sebuah tekad dalam hati, bahwa aku hanya akan menulis hal itu di blog keroyokan itu, dan tidak akan mencampurnya dengan tulisan lain.

Pada awalnya aku memang bisa konsisten dengan apa yang pernah aku ucapkan. Tapi dunia blogger bukanlah dunia yang sunyi dari hingar bingar diantara para penulisnya. Apalagi Kompasiana memfasilitasi para anggotanya, untuk bisa saling bertemu di dunia nyata atau dalam kehidupan offline. Maka akhirnya akupun terseret dalam kehidupan offline itu, atau yang lebih populer disebut dengan kopdar atau kopi darat. Sebuah istilah yang pada awalnya diperkenalkan oleh para anggota radio amatir, atau citizen band yang sempat booming di tahun 80an.

Seringnya aku mengikuti acara offline yang diselenggarakan Kompasiana, membuat aku mulai lalai dengan postingan otobiografiku. Isi postinganku akhirnya lebih dikuasi oleh postingan reportase dari acara Kompasiana yang aku ikuti. Hobby serta profesiku sebagai fotografer, membuat sebuah branding melekat pada diriku sebagai fotografer Kompasiana, yang ditunggu kehadirannya pada setiap acara Kompasiana.

Keadaan ini diperparah lagi sejak aku punya akun di facebook, acara kopdar ataupun seminar serta workshop semakin mengikat diriku. Dalam satu sisi akau memang mendapatkan banyak hal, pertemanan yang semakin banyak dan ilmu yang semakin luas. Tapi disisi lain aku meninggalkan tekad yang pertama kali aku ucapkan, saat akan menjadi seorang blogger.

Kesadaran akan rencana awalku menjadi seorang blogger, terusik lagi sejak aku sering mengikuti peluncuran buku teman-teman yang telah berhasil membukukan hasil karya mereka. Sebuah bocoran yang di sampaikan bung Pepih Nugraha, sang pendiri Kompasiana, di saat kopdar setelah menghadiri peluncuran buku dua teman di kantor Kompasiana. Membangkitkan lagi semangatku agar segera ikut menerbitkan kumpulan tulisanku yang ada di Kompasiana.

Dengan semangat menyambut 5 tahun aku begabung di Kompasiana, serta pesta ulang tahun Kompasiana  yang diramaikan dengan acara Kompasianival 2014 dan Hari Blogger 2014. Akhirnya sebagian dari kumpulan tulisanku  yang pernah di publikasikan di Kompasiana, kini hadir dalam bentu sebuah novel dengan latar belakang sejarah pergolakan PRRI di Sumatera Barat berjudul “Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI”

Sebuah langkah awal yang telah tertanam sejak 5 tahun lalu, yang pertama tapi bukan yang terakhir.


read more