Nomor HP sang penipu

Nomor HP sang penipu yang diisi pulsa

Saya sedang berusaha untuk tidur dan mencoba untuk menahan perasaan gelisah, menunggu seseorang yang saat itu berjanji hendak datang. Seiring berjalannya waktu semakin malam, saat istri saya membangunkan dan mengatakan, “tuh orangnya datang!”

Dengan perasaan yang kurang nyaman saya bangkit, lalu berjalan menuju counter yang terdapat di bagian depan rumah kami. Seorang wanita berusia duapuluhan tahun berdiri di depan etalase. Memenuhi janjinya kemarin, sewaktu saya datang ke rumahnya, menagih pembayaran pulsa HP sebanyak Rp. 350.000,- Saat itu dia mengatakan, “besok saya antarkan ke counter, saya belum gajian” katanya. Saya sendiri maklum, karena tanggal 1 Februari kemarin jatuh pada hari Minggu. Mana ada orang gajian hari Minggu, tapi karena dia menjanjikan tanggal 1, saya hanya mencoba untuk menepati janji yang diucapkannya.

Perasaan tidak nyaman itu tetap saya rasakan, saat dia mengeluarkan uangnya dan memberikannya kepada saya. Uang yang didapatnya dari hasil menyucurkan keringat sebulan penuh, namun karena kekurang hati-hatiannya, uang itu terpaksa berpindah tangan kepada si penipu, dalam bentuk pulsa telpon cellular.

Saya masih menggenggam uang itu dengan perasaan tidak karuan, saat dia pergi meninggalkan counter sambil membawa tablet yang menjadi jaminan utangnya. Uang itu memang hak kami, sebagai pembayaran atas pulsa handphone yang dia beli. Tapi proses pembeliannya, saya yakin tidak seorangpun yang ingin mengalaminya.

Terjebak kawanan penipu.

Saat saya menunggui counter sambil online Rabu 21 Januari lalu, seorang wanita sambil tetap berbicara di telpon genggamnya, datang ke counter. Dia minta pulsa 100 ribu sambil mencatat nomor yang diberikan oleh lawan bicaranya di buku yang tersedia di counter. Setelah mencatat satu nomor, dia lalu menuliskan nomor lain sesuai dengan yang diterimanya dari lawan bicaranya. Karena dia mengisi pulsa dalam jumlah besar dan tidak hanya untuk satu nomor, saya lalu bertanya. “Mau nelpon kemana, nih? Banyak banget ngisi pulsanya.

“Mau nelpon keluar” jawabnya.

Karena saat itu dia beberapa kali menyebut pak haji. Pikiran saya lalu menduga, kalau lawan bicara si pemilik nomor yang diberikannya itu akan menelpon ke Mekah, atau setidaknya ada urusan dengan masalah haji atau umroh. Makanya setelah itu saya tidak bertanya lagi. Sementara dia terus menuliskan beberapa nomor lagi yang harus diisi, yang semuanya bernilai 100 ribu rupiah.

Setelah saya mengisi tiga nomor masing-masing bernilai Rp.100.000,- Pada pengisian ke empat, saya katakan bahwa deposit saya hanya bisa mengisi pulsa 50 ribu rupiah, karena saldo saya tidak sampai lagi 100 ribu. Saat itu dia terus berbicara dengan orang yang menyuruh mengisikan pulsa, sambil mengatakan bahwa nomor ke empat hanya bisa diisi 50 ribu rupiah.

Setelah saya mengisi nomor terakhir senilai 50 ribu, saya lalu meminta bayaran atas pulsa yang telah diisikan ke nomor yang dia berikan. Saat itulah dia bilang nggak bawa uang, dan mengatakan bahwa orang yang menelpon dia akan mentransfer ke rekening dia. Katanya dia akan mengambil buku tabungannya pulang dulu. Sebagai jaminan dia meninggalkan handphone yang saat itu di pakainya. Saat itu juga dia berbicara kepada si penelpon lawan bicaranya agar segera mentransfer uang pembayaran pulsa itu, sebelum dia pulang mengambil buku tabungannya.

Sungguh saya kaget dan tidak menyangka, kalau saat itu dia datang ke counter saya dan mengisi pulsa tanpa membawa uang!. Saat itulah saya mulai curiga, bahwa dia telah kena tipu. Tapi saya hanya memendamnya dalam hati, tidak ingin berprasangka buruk, dan membiarkannya pulang mengambil buku tabungan dan atmnya.

Saya masuk ke dalam rumah, setelah melihat hanphone yang ditinggalkan pelanggan itu, istri saya terdengar menggerutu. Mengatakan harga hanphone yang di tinggalkan orang tadi tidak senilai dengan pulsa yang telah saya isikan ke nomor yang diberikannya. Saya hanya diam, namun tetap berprasangka baik, bahwa si pemilik hanphone akan datang lagi.

Benar saja, tidak sampai 20 menit perempuan itu datang lagi sambil membawa kartu atm dan buku tabungannya. Sekilas saya melihat nama yang ada di buku tabungan dan atm yang digeletakkan di atas etalase itu, nama dia N. Dia lalu meminta handphone yang tadi ditinggalkan, karena ingin berbicara lagi dengan orang yang tadi meminta pulsa kepada dia. Disinilah persoalannya benar-benar terbuka. Rupanya si penelpon tadi ada dua orang, yang satu mengaku temannya N bernama Ari yang tengah ditahan polisi di kolong jembatan Tomang, minta tolong kepada N untuk mentransfer uang kepada polisi yang menangkapnya, karena saat itu dia tidak punya uang. Karena si polisi tidak punya rekening bank, maka dia minta dikirimi pulsa saja  sebanyak uang yang diminta polisi kepada Ari.

Dengan pembicaraan yang berbelit-belit si penipu yang mengaku polisi itu dan Ari memberikan macam-macam alasan, bahwa Ari belum bisa mentransfer uangnya. Saat itu baru N sadar bahwa dia telah terperangkap oleh gerombolan penipu. Saat itu juga dia lalu menelpon temannya yang namanya Ari yang saat itu dicatut oleh si penipu. Benar saja Ari sang teman sedang asyik santai di rumah kostnya.

Sambil berusaha menahan tangisnya, si perempuan korban penipuan ini memohon kepada Ari temannya, meminjamkan uang untuk membayar pulsa yang sudah dikirimkan kepada si penipu. Tapi Ari rupanya juga lagi tidak punya uang sebanyak itu, sehingga dia tidak bisa membantu. Akhirnya N bilang mau pulang meminjam uang kepada orang tuanya. Agar dia tidak bolak-balik ke counter untuk membayar pulsanya, saya lalu mengiringinya pulang.

Sampai di rumahnya dia berusaha meminjam uang kepada orang tuanya. Tapi nampaknya mereka juga tidak punya uang sebanyak itu, yang didapatkannya malah omelan atas kebodohannya mau saja ditipu orang. Saya juga tidak merasa nyaman mendengarkan omelan orang tua tersebut. Untungnya saya berdiri di luar rumah, sehingga tidak terlihat oleh orangtuanya. Gagal meminjam dari orangtua, N lalu meminjam ke tetangga. Rupanya gagal juga, hingga akhirnya N berkata kepada saya, apakah saya mau menerima jaminan lain, sampai tanggal 1 nanti, saat dia sudah gajian.

Karena ingin segera pergi juga dari rumah mereka, sebab tidak merasa nyaman berdiri lama-lama di sana, saya lalu menerima tawarannya. N lalu masuk rumah dan keluar membawa sebuah tablet.  sebagai jaminan utangnya sampai dia gajian nanti tanggal 1. Tanpa memeriksa lagi kondisi tabletnya, saya lalu pulang dan menyimpan tablet itu di laci meja saya. Hingga akhirnya N datang lagi pada tanggal 2 Februari kemarin melunasi utangnya dan mengambil kembali tabletnya.

Di saat dia meninggalkan counter kami, saya membatin. Seandainya dia berkata jujur dengan kasusnya, saat saya bertanya mau menelpon kemana saat dia menuliskan nomor HP si penipu. Mungkin dia tidak akan mengalami kerugian sebanyak itu. Karena sudah banyak kasus penipuan yang terjadi dengan modus seperti ini. Sehingga saya bisa mencegah dia untuk tidak mengikuti permintaan si penipu. Tapi bagaimana lagi, nasi sudah jadi bubur. Ini pengalaman berharga buat saya dan kita semua.

 

 


read more