IMG_3295a

Kehidupan ini bagaikan roda yang berputar dalam satu perjalanan. Suatu saat dia akan berada di atas, dan di saat berikutnya dia akan berada di bawah. Ketika sedang berada di atas, rasanya semua serba mudah dan indah. Kehidupan yang dijalani pun terasa berjalan cepat, nikmat, tanpa halangan berarti. Semua seakan berada dalam genggaman tangan.

Namun kebalikan yang terjadi saat berada di bawah, semua terasa begitu berat. Pintu-pintu yang tadinya begitu mudah terbuka lebar, pelan-pelan mulai tertutup dan terkunci dari dalam. Mereka yang tadinya begitu dekat berkerubung mengelilingi, mulai menjauh dan menjaga jarak.

Bagi mereka yang tidak mempunyai fondasi iman dan mental yang kuat,  hidup bagaikan di hutan belantara yang gelap dan tidak tahu ke mana akan melangkah. Tapi bagi mereka yang bermental baja dan selalu mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Kehidupan. Akan menjalani semuanya sebagai sebuah takdir, yang harus diterima dan dijalani tanpa harus mengeluh. Bahkan suasana seperti itu, akan semakin mendekatkan dirinya kepada Ilahi. Dengan doa yang semakin membasahi bibir, serta hati yang semakin sabar dan tawakal menjalani semua cobaan kehidupan.

Mau yang sedang atau  yang pedas?

Mau yang sedang atau yang pedas?

Situasi seperti inilah yang dialami oleh Okto Melandana, atau yang labih akrab dengan panggilan Dana. Sarjana akuntansi dengan master finansial aplikasi dan kemampuan analisa keuangan yang mumpuni. Suami dari Nurul Husnia yang lebih akrab disapa Nia ini menceritakan, bagaimana dia berada di puncak keemasan, lalu kemudian jatuh terhempas hingga ke dasar beberapa kali, yang tidak semuanya disebabkan oleh kesalahan dirinya.

Kejatuhannya yang terakhir, setelah jatuh dan bangun lagi dengan sukses beberapa kali, membuatnya berfikir lain. Dia membiarkan dirinya berada pada titik nadir tanpa berusaha untuk bangkit. Kekecewaannya hanya sebagai bumper dalam perusahaan yang dibesarkannya setelah nyaris tumbang, tanpa penghargaan yang sepadan, membuatnya lelah. Dalam keterpurukannya, Dana membiarkan dirinya hidup tanpa harapan dan keinginan, karena dia tidak ingin lagi menjadi pecundang di antara mereka yang mendapatkan keuntungan dari keahlian dirinya.

Dana dan Nia, dengan produk kebanggan mereka, Abon Jambrong Unia

Dana dan Nia, dengan produk kebanggaan mereka, Abon Jambrong Unia

Hidup pada strata paling bawah, dengan hanya bertemankan ikan asin jambrong setiap hari sebagai lauk teman makan nasinya. Namun dari sini pula inspirasi cemerlang itu dia dapatkan bersama Nia, istrinya.

Bosan dengan ikan jambrong yang rasanya begitu-begitu saja setiap hari, membuat Dana mendapatkan inspirasi bagaimana agar ikan itu tidak membosankan dirinya bila dimakan bersama keluarga. Dana lalu memulai kreasinya dengan berbagai cara, hingga akhirnya bersama Nia mendapatkan rasa yang pas di lidah mereka, yaitu berkreasi dengan membuat ikan jambrong itu menjadi abon.

Berasa dia mendapatkan sesuatu dari abon yang dibuatnya, Dana lalu menawarkannya kepada teman-temannya, sebagai tester dan tentu juga diiringi harapan mereka kelak akan jadi pelanggan abon produksi perusahaan rumahannya.

Abon Jambrong Unia

Abon Jambrong Unia

Gayung bersambut, secercah harapan muncul bagaikan matahari terbit di timur di pagi hari, membawa sinar terang dan membangkitkan semangat untuk bergerak lebih cepat dan berkreasi lebih baik. Abon yang diproduksi dari ikan Jambrong, yang ditawarkan atau dipasarkan hanya dengan SMS dan BBM itu, mendapat tanggapan positif dari teman-teman Dana maupun Nia. Pelan namun pasti, usaha mereka mulai bergerak naik. Pesanan dari teman-teman mulai mengalir masuk, beberapa di antara mereka malah ketagihan lalu berlangganan, minta dikirimi seminggu atau beberapa minggu sekali, atau berlangganan bulanan.

Pemasangan label produk

Pemasangan label produk

Meningkatnya permintaan membuat Dana dan Nia memutar otak mencari pemasok. Kalau biasanya mereka cukup dengan hanya membeli di pasar beberapa kilo sekali belanja, kini tidak bisa lagi. Mereka harus mencari pemasok dengan kapasitas lebih besar dari apa yang mereka dapatkan di pasar tradisional. Alhamdulillah, berkat kegigihan mereka dan rajinnya menyusuri pasar-pasar induk yang menjual bahan pokok ikan jambrong, akhirnya mereka menemukan pemasok yang mereka cari.

Dengan meningkatnya penjualan dan produksi, dan agar mudah dikenali, kini saatnya Dana dan Nia memikirkan merek dari produk abon ikan jambrong mereka. Hingga akhirnya keluarlah produk dengan merek Abon Jambrong Unia. Unia sendiri berasal dari Uni Nia, yaitu panggilan kakak perempuan orang Minangkabau, dimana Nia berasal. Pesatnya perkembangan Abon Jambrong Unia ini, membuat Nia juga terpaksa melepaskan bisnis lain yang dia jalankan sebelumnya, yaitu produksi kain seprai yang didesain khusus dengan corak khas Koto Gadang, Bukittinggi, kampung halaman Nia.

Pemasangan segel produksi

Pemasangan segel produksi

Di samping dipromosikan di media sosial maupun BBM, Abon Jambrong Unia ini kini juga bisa didapatkan di reseler khusus di sekitar Jabodetabek. Unia diproduksi dalam dua jenis, yaitu yang biasa dan yang pedas. Kedua jenis produk ini bisa dibedakan dengan warna kemasannya. Warna biru untuk yang biasa, dan merah untuk yang pedas. Keistimewaan Abon Jambrong Unia ini adalah, tidak memakai MSG dan tanpa bahan pengawet. Produk ini juga dipasarkan dalam dua kemasan, 150 gram dan 50 gram, dengan harga Rp. 25.000 dan Rp. 15.000.

Karena Abon Jambrong Unia ini berawal dari Depok namun besar di Jakarta. Maka dalam pemasarannya Abon Jambrong Unia ini memakai tagline: Oleh-oleh khas Jakarta & Depok. Dengan harapan, Abon Jambrong Unia ini bisa menjadi salah satu produk khas andalan Jakarta, bersamaan dengan Kerak Telor yang telah lebih dulu ada.

Ngobrol bareng bersama Dana dan Nia

Ngobrol bareng bersama Dana dan Nia

 

IMG_3228

 

***

Roda kehidupan itu mulai bergerak naik, walau pelan namun pasti. Semoga dia tak sampai berhenti di tengah jalan. Kalaupun dia akan berhenti, semoga dia berhenti ketika telah sampai di puncak.


read more