Sepucuk surat datang ke rumah kontrakan saya. Saya melihat pengirimnya, sebuah perusahaan asing yang bergerak dibidang eksplorasi minyak bumi  dengan inisial PTSI yang beralamat di Ratu Plaza, Jakarta. Saya membuka amplopnya, lalu membaca isinya yang singkat, namun langsung kepada persoalan.

…..kami menunggu kedatangan Saudara secepatnya….

Pagi besoknya saya mendatangi kantor itu. Seperti yang ditulis di surat tersebut saya naik lift menuju lantai 8. Setelah mengisi buku tamu dan menukar KTP dengan kartu pengunjung, petugas security menyuruh saya menunggu di ruang tunggu, sementara dia lalu menelpon orang yang mengirim surat kepada saya.

Tak lama kemudian, seorang laki-laki yang usianya tidak berbeda jauh dengan saya, dengan idcard tergantung di dadanya, datang ke ruang tunggu. Sambil menyebut nama saya dia melihat ke beberapa tamu yang juga sedang menunggu di sana. Saya lalu berdiri kemudian mengulurkan tangan saya untuk menyalaminya sambil memperkenalkan diri, mata saya pun melirik ke idcard yang dipakainya, saya lihat nama dengan inisial MIS. Setelah menyambut uluran tangan saya, dia lalu mengajak saya masuk ke dalam ruangan kerjanya.

Setelah ngobrol beberapa saat , saya lalu dibawa ke ruang sebelah. Kami memasuki ruangan yang lebih luas dari sebelumnya. Rupanya itu adalah ruangan atasan dari pak MIS. Setelah bersalaman dan diperkenalkan oleh pak MIS dengan pak S, Kami duduk, dari pembicaraan awal ini pula saya tahu bahwa departemen yang menangani publikasi dan dokumentasi ini bernama Public Affairs. Selanjutnya saya diwawancara, lebih tepatnya menanyakan tentang pengalaman fotografi saya, dan saya menjelaskan bahwa semua ilmu fotografi saya didapatkan secara otodidak, karena saya hanyalah tamatan Sekolah Dasar. Setelah wawancara, yang saya rasakan lebih banyak seperti ngobrol itu. Kalimat terakhir yang diucapkan sang atasan adalah: “Anda menolong kami, dan kami menolong Anda!”

Setelah kontrak ditanda tangani, beberapa hari berikutnya saya langsung di kirim ke ladang minyak perusahaan yang berada di Sumatera Selatan. Lapangan Tabuan, Jene dan Pendopo. Mendokumentasikan semua aktifitas di lapangan, untuk pembuatan laporan tahunan ke perusahaan induk di Houston, Amerika. Sebenarnya perusahaan juga mempunyai seorang fotografer lagi yang lebih dulu masuk dari saya. Tapi perusahaan memilih saya untuk diberangkatkan, karena teman yang satu lagi itu belum menguasai pemotretan memakai film slide dan kamera format medium.

Turun dari pesawat Garuda di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II atau sering disingkat sebagai Bandara SMB II, Palembang. Saya sudah ditunggu oleh sebuah mobil Jeep CJ5 berikut pengemudi, yang dari obrolan kami sepanjang perjalanan kemudian saya ketahui dia seorang petugas security yang mengenal dengan baik semua lapangan minyak milik perusahaan kami yang ada di propinsi Sumatera Selatan itu. Namun sebelum berangkat ke lapangan Tabuan, saya lebih dulu dibawa ke kantor  yang berada di jalan Diponegoro, Palembang. Setelah melapor ke field manager dan meletakkan tas pakaian di kamar tamu, kami berangkat ke lapangan Tabuan. Mengabadikan kegiatan eksplorasi dan produksi minyak bumi yang dilakukan oleh perusahaan.

Saat melakukan pemotretan di lapangan, di leher saya tergantung tiga kamera. Setiap kamera diisi dengan film yang berbeda. Film negatif warna, film slide ektachrome dan film hitam putih. Disamping itu saya juga membawa sebuah kamera format medium yang selalu saya letakkan di mobil, dan baru diambil kalau saya hendak melakukan pemotretan.

Selesai melakukan pemotretan di Tabuan, kami kembali ke kantor di jalan Diponegoro, beristirahat dan bermalam di sana. Selesai shalat subuh esok harinya saya lalu menikmati udara segar kota Palembang dengan berjalan kaki ke Jembatan Ampera yang membentang di atas sungai Musi yang tidak jauh dari jalan Diponegoro. Jembatan yang menjadi landmark kota Palembang.

Kembali dari Jembatan Ampera, saya bersiap untuk melanjutkan perjalanan tugas saya lebih ke utara, yaitu Pendopo. Selesai sarapan saya langsung berangkat menuju Bandara SMB II. Menunggu pesawat carteran King Air yang berkapasitas muatan 12 orang dari Jakarta, yang akan membawa saya dan karyawan lainnya ke Pendopo.

Setelah pesawat datang dan mendarat, beberapa penumpang dari Jakarta turun. Bersama karyawan lain yang juga akan ke Pendopo, kami lalu naik pesawat kecil tersebut. Tidak menunggu lama, pesawat segera lepas landas dari Bandara SMB II.  Berbeda dengan pesawat jet berkapasitas besar yang terbang tinggi di balik awan, pesawat yang kami tumpangi ini terbang cukup rendah. Sehingga saya bisa melihat pucuk-pucuk kelapa dan perkampungan yang kami lewati. Mungkin karena kecil dan ringan, pesawat ini juga terasa bergetar kalau pas diterpa angin. Saking asyiknya saya melihat pemandangan keluar, tak terasa kami tiba di Bandara Pendopo.

Di Pendopo, kembali saya juga sudah ditunggu mobil Jeep CJ5. Rupanya Jeep ini menjadi pilihan untuk bergerak lincah di lapangan. Maklum saja, jalan yang akan dilalui di lokasi pengeboran minyak ini, adalah jalan tanah yang becek di musim hujan dan berdebu di musim panas. Bila musim hujan, jeep ini bisa bermanuver dengan mesin yang berpenggerak 4 roda.

Dari Bandara kami lapor dulu di kantor Pendopo. Saya berkenalan dengan Publik Affairs head bapak SS dan juga diperkenalkan dengan Area Manager yang kini saya lupa namanya.

Selesai acara berkenalan saya di bawa ke Jene. Sebuah lokasi pengeboran yang baru saja berproduksi dan menjadi pembicaraan hangat di perusahaan, karena merupakan lapangan baru yang setelah dilakukan pengeboran dan berhasil berproduksi.

Selesai dari Jene saya dibawa ke lokasi lain yang saat itu baru dalam tahap seismic operation. Seismic operation merupakan tahap awal dari proses pencarian potensi minyak bumi. Di tengah hutan saya melihat bagaimana proses seismic operation itu bekerja. Pada wilayah yang telah dipetakan, beberapa lubang digali pada kedalaman tertentu, misalnya 60 feet atau kurang dari 20 meter. dan jarak masing-masing lubang sekitar 30 meter. Setelah lubang di bor dimasukkanlah sebuah alat peledak  berbentuk dinamit yang dikendalikan dari jarak jauh melalui kabel listrik.

Sebelum dinamit diledakkan, juga sudah harus terpasang geophone pada jarak dan tempat yang telah di tentukan. Geophone adalah sebuah alat yang akan menangkap pantulan gelombang elektromagnetik, yang dipantulkan dari perut bumi akibat ledakan dinamit. Hasil tangkapan geophone yang dihubungkan dengan kabel inilah yang akan di rekam oleh pesawat seismograf.

Hasil rekaman seismograf inilah nanti yang dianalisa oleh para insinyur, yang akan mengeluarkan keputusan apakah di lokasi tersebut ada minyak atau tidak, atau apakah perlu dilakukan pengeboran untuk mengetahui secara pasti di lokasi tersebut terdapat cadangan minyak bumi atau gas.

Dari pengalaman saya selama tiga tahun (1985-1987) bekerja di perusahaan pengeboran minyak bumi sebagai fotografer. Saya melihat langsung, bagaimana Indonesia mempunyai tenaga ahli dalam bidang operasi dan eksplorasi minyak. Bukti autentik lainnya adalah betapa banyaknya tenaga kerja perminyakan Indonesia yang bekerja di negara lain, seperti Malaysia dan negara-negara Timur Tengah.

Dari apa yang saya alami ini juga, betapa perusahaan asing lebih menghargai orang yang berpengalaman, walau pengalaman itu tidak didapat melalui pendidikan formal. Semoga hal ini juga menjadi inspirasi bagi mereka yang tidak punya latar belakang pendidikan yang tinggi, namun mau bekerja keras dalam mencari ilmu walau secara otodidak.


read more