Saat musim panas kemarin, karena air pompa di rumah berwarna putih kena lumpur, saya lalu membawa kain kotor ke tukang cuci, termasuk di dalamnya selembar kain sarung perlengkapan shalat. Saat serah terima, si ibu muda yang tengah mengasuh anaknya menimbang kain cucian saya, setelah ditimbang dia lalu menghitungnya, semua ada 12 lembar. Setelah memberikan surat tanda terima dia mengatakan waktu penyelesaian cucian tersebut 2 hari.

Tiga hari kemudian saya datang mengambil order pakaian ke tempat penerima jasa cucian tersebut. Setelah menyerahkan bon order cucian sayapun menerima pakaian saya yang sudah bersih dan licin disetrika yang dibungkus dengan plastik bening transparan dan disegel rapi. Tanpa memeriksa lagi saya memasukkan pakaian yang masih terbungkus tersebut ke dalam tas ransel. Setelah membayar saya langsung pulang.

Sampai di rumah, saya mengeluarkan bungkusan cucian dari ransel. Saat akan membuka segel dan mengeluarkan isinya saya teringat akan sarung yang juga ikut dicuci waktu saya mengantarkan ke tukang cuci. Saya lalu memperhatikan isi bungkusan plastik itu, sarungnya tidak ada!

Saya membatalkan untuk membuka segel yang masih menempel di bungkusan, saya tidak ingin segel yang sudah terbuka itu nanti menjadi alasan bagi tukang cuci untuk mengelak dari tanggung jawabnya menghilangkan sarung saya. Dengan perasaan agak dongkol saya kembali naik angkot ke tempat cucian itu.

Sampai di laundry rumahan tersebut saya mengeluarkan bungkusan pakaian saya dan menanyakan kepada si pengusaha laundry bahwa cucian saya kurang isinya, karena saya tidak melihat kain sarung saya di dalam bungkusan cucian tersebut. Saya katakan bahwa saya sengaja tidak membuka segel bungkus cucian agar dia percaya dengan komplain saya. Perempuan muda yang lagi menggendong anak pengusaha cucian tersebut mengiyakan omongan saya. Dihadapannya saya lalu membuka segel bungkusan cucian dan mengeluarkan isinya. Benar saja, jumlah cucian saya hanya ada 11 lembar, minus kain sarung.

Setelah menghitung cucian saya benar kurang satu lembar, dia lalu masuk ke ruang dalam mencari kain sarung saya yang tertinggal. Beberapa saat kemudian dia kembali sambil mengatakan sarung saya tidak ketemu. Dia lalu memanggil seseorang yang rupanya suaminya, lalu mengatakan perihal kain sarung saya yang tidak ketemu. Si suami lalu masuk lagi ke dalam cukup lama, lalu kembali lagi kehadapan saya juga dengan tangan kosong, keduanya tampak kebingungan.

Seakan ingat sesuatu, beberapa saat kemudian si suami masuk lagi keruang dalam, sebelum melewati pintu ruang dalam dia menanyakan warna kain sarung saya. “Warna hijau lumut garis-garis…” kata saya. Lalu diapun menghilang dibalik pintu.

Tak lama kemudian dia kembali dari ruang dalam sambil memegang sebuah kain sarung, dan saya sangat yakin itu adalah kain sarung milik saya.

“Seperti ini pak?” tanyanya. Dengan keyakinan penuh sayapun mengatakan bahwa benar itu kain sarung saya.

Setelah membawa kain sarung itu ke hadapan saya diapun bercerita, dia menyangka kain sarung itu milik tukang urut yang datang mengurut dia sesaat setelah saya datang mengantarkan pakaian saya yang kotor ketempat dia. Rupanya sebagai alas saat suaminya diurut suaminya, sang istri mengambil kain sarung saya yang masih kotor. Dalam pikirannya toh sarung itu nanti juga bakal di cuci.

Setelah selesai diurut dan tukang urutnya sudah pergi, baru si suami melihat kain sarung saya masih terbentang di lantai tempat dia diurut tadi, dan dia menyangka kain sarung itu milik si tukang urut, karena saat akan diurut tadi kain sarung tersebut telah terbentang di lantai. Dia tidak tahu bahwa yang membentangkan kain sarung itu adalah istrinya, karena saat istrinya membentangkan kain sarung tersebut si suami berada di kamar berganti pakaian. Setelah mengambil dan melipatnya, si suami meletakkan kain sarung itu di keranjang tempat tumpukan baju anaknya yang masih balita di sudut ruangan keluarga. Si istri yang punya ide menjadikan kain sarung saya sebagai alas urut suaminya, juga sudah tidak ingat lagi untuk mengambil dan mengembalikan kain sarung saya ke tumpukan pakaian saya yang hendak dicuci.

Setelah menerima kain sarung tersebut dan memasukkannya ke dalam ransel saya bersama kain cucian lainnya yang masih di dalam plastik, kedua suami istri tersebut minta maaf. Setelah menerima permintaan maaf mereka, saya segera kembali pulang. Sampai di rumah saya mengambil kain sarung tadi, lalu menciumnya. Bau minyak urut yang masih menempel di kain sarung itu membuat saya eneg, lalu melemparkannya ke tumpukan kain kotor lain. Kain sarung saya belum dicuci, setelah dipakai untuk alas urut sang tukang cuci. Aduh…

 

 


read more