Tidak lama lagi kita akan kedatangan tamu istimewa, sebuah fenomena alam yang selalu menjadi daya tarik manusia untuk melihat, mengamati, lalu mengkaji dan memperbincangkannya, yaitu: gerhana matahari total. Fenomena alam ini terjadi tidak setiap saat, tapi dalam jangka waktu yang lama, bertahun atau malah mungkin berpuluh tahun, apalagi kalau yang terjadi itu adalah gerhana matahari total, dimana sang matahari tertutup total oleh bulan, sehingga yang kelihatan hanya cahaya corona yang bagaikan cincin bermata berlian yang memantulkan cahaya mengelilingi bulan.

Kejadian langka ini juga tidak bisa disaksikan disemua tempat di seluruh penjuru bumi. Dia hanya bisa disaksikan pada siang hari di suatu tempat atau daerah di negara dimana posisi bumi, bulan dan matahari berada pada satu garis lurus. Sementara di tempat yang bersebelahan dengannya mungkin hanya bisa menikmati gerhana matahari yang tidak penuh, bisa 80 persen, setengahnya atau malah hanya sejumput kecil, yang tidak begitu terasa efeknya bagi yang menyaksikannya. Peristiwa alam yang langka ini tentu saja akan menjadi daya tarik bagi mereka yang suka atau senang belajar atau mengamati jagad raya atau astronomi. Para pengamat itu akan berbondong-bondong mendatangi negara atau tempat dimana kejadian alam itu bisa dinikmati dengan tuntas dan leluasa serta dalam keadaan matahari tertutup penuh oleh bulan.

Mereka yang datang itu bukan hanya para ahli yang akan mengkaji lebih dalam fenomena alam ini, tapi juga masyarakat awam yang ingin mengalami sensasi datangnya kegelapan disaat matahari bersinar terang benderang. Disamping itu, para para awak media dari seluruh duniapun akan datang mengabadikan peristiwa alam yang menarik tersebut, dan tidak sedikit dari mereka yang melakukan siaran langsung detik-detik saat bulan mulai menutup matahari hingga tertutup total, dan setelah itu pelan-pelan bergeser lagi sehingga matahari bagaikan bulan sabit yang terbit pada siang hari. Tapi tentu saja dengan cahaya yang lebih terang dan menyilaukan.

Saya teringat saat terjadi gerhana matahari total tahun 1983. Beberapa hari sebelum datangnya peristiwa alam yang di tunggu-tunggu itu, semua media yang ada saat itu telah ramai memberitakan. Media cetak mengulas fenomena alam itu dengan berbagai kajian ilmiah, sementara televisi yang saat itu hanya ada TVRI disamping memberikan ulasan dari pakar, tapi juga tak henti-hentinya menyerukan himbauan agar masyarakat tidak melihat langsung peristiwa alam yang menakjubkan itu, bahkan ada seruan yang menggelikan bahwa warga harap tetap berada di dalam rumah sambil menonton televisi dan dilarang melihat langsung kejadian alam tersebut. Sebuah pembodohan publik yang direkayasa oleh penguasa saat itu yang hanya jadi bahan tertawaan dan ejekan bagi mereka yang tahu dan mengerti bagaimana caranya menyaksikan kejadian alam yang langka tersebut.

Suatu kontradiksi yang sangat nyata terjadi adalah juga banyaknya diberitakan berdatangannya para turis dari manca negara ke Indonesia, khusus untuk menyaksikan secara langsung gerhana matahari total tersebut. Berdasarkan pengamatan para ahli astronomi, Tuban adalah daerah yang paling strategis saat itu untuk menyaksikan kejadian ini. Maka berbondong-bondonglah para awak media dari mancanegara datang kesana untuk mengabarkan peristiwa alam tersebut ke seluruh dunia. Sayangnya dunia internet saat itu belum ada, belum ada facebook, blog atau twiter dan aplikasi dunia maya lainnya. Sehingga kehebohan seputar gerhana matahari total itu hanya bisa dinikmati lewat berita suratkabar, televisi, radio dan majalah.

Saya sendiri saat itu tinggal di daerah Petojo, kebetulan istri saya juga tengah hamil anak kami yang pertama dengan usia kandungan 6 bulan. Saya dan teman-teman fotografer saat itu, yang tidak mau kehilangan momen langka tersebut dan juga tidak mau terprovokasi oleh rumor larangan melihat gerhana matahari total itu, punya cara sendiri untuk menikmati gerhana matahari total tersebut. Fotografi digital saat itu belum ada, jadi para fotografer saat itu masih memakai film celuloid untuk merekam foto di kamera. Ada istilah “film hangus” bagi kami saat itu, yaitu film terkena cahaya sebelum atau setelah keluar dari kamera, dan itu baru diketahui setelah film di proses di lab. Dimana film yang baru selesai diproses atau di cuci tersebut semuanya hitam gelap, tak satupun gambar yang kelihatan. Film hangus inilah yang kami manfaatkan untuk melihat gerhana matahari secara langsung, dan menyaksikan bagaimana proses berlangsungnya bulan menutupi matahari sedikit demi sedikit hingga tertutup total dan corona matahari terlihat memancar dari pinggir bulatan bulan. Sementara masyarakat awam yang termakan isyu gerhana matahari bisa membuat buta, asyik menonton parodi perempuan hamil yang ngumpet dibawah dipan, agar anak yang dikandungnya selamat dari gangguan gerhana matahari total, yang disiarkan sebelum siaran langsung gerhana matahari total ini oleh TVRI.

Bagaimana rasanya dunia yang terang benderang disiang hari, lalu perlahan-lahan gelap lalu remang-remang dan kemudian gelap mendekati total, lalu diiringi dengan kokok ayam dan tingkah aneh hewan lainnya? Tunggulah, Anda bisa menyaksikannya dalam waktu yang tidak lama lagi. Persiapkan diri Anda dengan peralatan secukupnya, agar bisa menikmati fenomena alam ciptaan Tuhan ini secara langsung dengan mata kepala Anda sendiri.

Melihat gerhana matahari memang bisa membuat mata buta, kalau kita melihat langsung dengan mata telanjang, Cornea mata kita akan terbakar. Pakailah alat yang memadai, tapi kalau memang tidak ada, tonton saja televisi yang mengadakan siaran langsung, lebih aman.

gmt


read more