Foto: note-why.blogspot.com

Foto: note-why.blogspot.com

Ini pengalaman saya lebih tigapuluhlima tahun yang lalu, sewaktu saya mengalami sakit kencing batu. Ketika saya masih tinggal di pasar Petojo Ilir atau lebih sering di sebut orang pasar Gang Hober, Petojo Utara, Jakarta Pusat.

Pagi itu setelah saya selesai membuka bengkel elektronik saya, saya kebelet mau buang air kecil. Ketika sampai di toilet yang keluar hanya tetesan air yang tidak seberapa, sementara di kantong kemih saya terasa sakit dan desakan urin yang ingin keluar dari tubuh saya. Karena buang air kecil saya tidak keluar lagi setelah beberapa tetes, saya kembali ke bengkel, sambil menahan sakit dan perasaan yang tidak nyaman.

Saat duduk di bengkel, saya tidak hanya merasakan sakit di sekitar kantong kemih, tapi juga rasa sakit di sekitar pinggang bagian belakang. Semakin lama saya duduk sakitnya semakin terasa, pinggang saya rasanya seakan ditarik ke bagian dalam tubuh saya. Jam saat itu menunjukkan pukul 08.30 lewat, saya masih ingat hari itu Jumat.

Setelah berusaha menahan sakit yang saya rasakan, akhirnya saya menyerah. Pukul sembilan lewat beberapa menit, bengkel saya tutup, dengan menumpang bajay, saya lalu pergi ke jalan KH Zainal Arifin yang lebih familiar disebut orang jalan Ketapang. Sampai di perempatan Ketapang  saya turun dari Bajay, terus menyeberangi jalan Gajah Mada dan jalan Hayam Wuruk yang mengapit Kali Ciliwung. Sampai di seberang di perempatan jalan Sawah Besar saya naik oplet Austin yang bentuknya seperti opletnya si Doel Anak Betawi.

Saya naik oplet sambil menahan sakit di bagian belakang pinggang. Untuk mengurangi rasa sakit, saya merunduk sampai kepala saya tertelungkup di atas lutut, sementara tangan kanan saya melingkar di perut sampai ke pinggang kiri. Saya melihat penumpang oplet itu ada empat orang, lima dengan sopir. Satu penumpang duduk di samping sopir, sementara saya dan dua orang lagi duduk di bangku belakang. Sambil tetap menahan sakit, saya mendengar pembicaraan dua orang penumpang yang berada di bangku belakang dekat saya. Dari obrolannya ketahuan bahwa keduanya orang Padang. Saya agak merasa sedikit nyaman, bila terjadi apa-apa setidaknya ada dua orang ini yang bisa saya harapkan pertolongannya.

Sampai di prapatan Kramat Bunder di samping Proyek Senen, saya turun dari oplet, kondisi fisik saya semakin melemah. Saat kaki saya menginjak aspal, badan saya serasa melayang tak menginjak tanah. Saya berpikir cepat, tidak mungkin rasanya saya pulang ke rumah kakak saya di Jalan Mardani, Johar Baru dengan kondisi seperti ini. Kebetulan sebuah taksi kosong berhenti di samping oplet, saya langsung membuka pintunya dan masuk. Sebelum taksi berjalan, saya tanyakan kepada sopir taksi berapa biasanya ongkos taksi ke Rumah Sakit Yarsi, Cempaka Putih. Sopir taksi menjawab limaratus rupiah. Ya, memang taksi saat itu masih murah, buka pintu 250 rupiah, dan setiap kilometer selanjutnya 200 rupiah. Saya langsung menyodorkan uang 500 rupiah kepada sopir taksi. Saya tidak ingin dia mengalami kerugian, bila nanti terjadi apa-apa dengan saya sebelum sampai di rumah sakit.

Selama taksi berjalan saya tiduran di jok belakang, seluruh badan rasanya tidak karuan, pinggang sakit, perut mual dan kepala pusing. Beberapa kali saya meludah ke jalan, agar tidak mengotori taksi. Saat saya meludah saya membuka pintu taksi, mendengar saya membuka pintu, sopir taksi melambatkan laju taksinya, setelah selesai dan pintu taksi sudah saya tutup, baru dia berjalan normal lagi.

Rupanya apa yang saya khawatirkan benar-benar terjadi. Saya tidak tahu, sejak darimana saya pingsan. Kesadaran saya mulai sedikit timbul saat taksi berhenti di rumah sakit. Saya melihat bagaimana pucatnya sang sopir, ketika dia ditanyai oleh petugas rumah sakit. Dia mengatakan bahwa saat naik taksinya, saya dalam keadaan baik-baik saja. Petugas juga memeriksa saya, apakah terdapat luka atau tidak. Selanjutnya dengan brandcar saya dibawa ke ruang UGD. Karena tidak tahu sakit apa yang saya derita, dokter dan perawat tidak bisa melakukan tindakan apa-apa.

Menyadari keadaan saya yang tidak mendapatkan perawatan apa-apa karena dokter dan perawat tidak tahu sakit apa yang saya rasakan, dan tindakan apa yang akan mereka lakukan. Dengan kesadaran yang semakin pulih walau seluruh tubuh saya lemah, saya berusaha untuk memberitahu dokter sakit apa yang saya rasakan. Saya berfikir cepat, bagaimana caranya saya menyampaikan kepada dokter tentang sakit yang saya derita. Untunglah saya teringat sebungkus jamu kencing batu yang masih tersisa di kantong kemeja saya. Saya lalu berusaha mengangkat tangan kiri yang tergeletak di kasur, menuju kantong kemeja saya. Tapi tenaga saya benar-benar sudah habis, jangankan untuk mengangkatnya. Untuk menggeser tangan saya agar lebih rapat ke badan saya saja, saya sudah kesulitan.

Untunglah salah seorang dari perawat yang berdiri di samping saya melihat pergerakan tangan saya, dia lalu memanggil dokter. Dokter lalu memegang tangan saya, dengan segenap sisa tenaga yang ada, saya berusaha mengarahkan tangan dokter itu agar memeriksa kantong baju saya. Karena untuk berbicarapun lidah saya kelu dan bibir terasa berat. Dokter lalu mengangkat tangan saya dan meletakkannya di dada saya, melihat tangan saya bergerak lemah menuju kantong, dokter lalu bertanya: “Ada yang mau di ambil di kantong bajunya?”

Saya mengangguk lemah sambil memejamkan mata, lalu dokter merogoh kantong baju saya dan mengeluarkan isinya. Melihat ada satu bungkus jamu kencing batu di kantong saya, dokter bertanya lagi: “Yang ini?” Kembali dengan anggukan lemah saya menjawabnya. Melihat hal itu dokter langsung memberikan perintah kepada perawat untuk menangani saya.

“Baral…” hanya itu yang terdengar oleh saya saat dokter bicara kepada perawat tersebut. Dengan cepat perawat itu lalu melaksanakan perintah dokter, mengambil ampul obat dan suntikan. Tidak sampai dalam hitungan menit, obat yang di masukkan kedalam tubuh saya melalui tusukan jarum suntik di lipatan dalam tangan kiri saya, mulai mengalir mengikuti aliran darah ke seluruh tubuh saya.

Saya tidak tahu berapa lama saya tertidur di atas brandcar rumah sakit itu. Yang pasti, saat saya terbangun hal pertama yang saya rasakan adalah sakit di pinggang saya sudah tidak terasa lagi, tanganpun sudah bisa digerakkan, walau masih belum pulih benar. Ketika tenaga saya sudah mulai kembali lagi, pelan-pelan saya bangkit dan mencoba duduk di atas brandcar itu.

“Kalau belum kuat, tidur saja dulu, pak!” kata si perawat, sambil membantu memegang punggung saya hingga saya duduk dengan kaki terjuntai di samping brandcar.

“Nggak apa-apa…” jawab saya lirih. Alasan sebenarnya saya bangun adalah karena saya tidak nyaman jadi perhatian orang-orang yang ada di ruang UGD itu.

Setelah stamina saya terasa sudah semakin pulih, pelan-pelan saya lalu turun dari brandcar lalu berjalan pelan-pelan kenuju kursi yang tidak jauh dari sana. Saat duduk di kursi saya menggerak-gerakkan kaki dan tangan yang semakin lama terasa semakin kuat dan normal lagi, lalu mencoba berjalan mondar-mandir beberapa langkah dari kursi yang saya duduki.

Merasa sudah cukup kuat untuk pulang ke rumah kakak, saya lalu mendekati meja kerja administrasi perawat, menanyakan berapa biaya pengobatan saya. Setelah selesai, sayapun pulang naik metro mini, turun di Jalan Mardani Raya yang berujung di jalan Percetakan Negara, di mana sekarang terdapat In Harmony Clinic. Alhamdulillah saya masih sempat menunaikan shalat Jum’at di masjid komplek Sekneg yang tidak jauh dari rumah kakak.

Karena kejadian itu saya lalu melakukan konsultasi kesehatan ke dokter. Sejak itu saya mulai akrab dengan ampul suntikan *B….gin. Bila pinggang saya mulai terasa sakit dengan gejala yang sama seperti saya alami sebelumnya, saya buru-buru pergi ke dokter atau klinik. Dokter yang memeriksa saya sudah berulang kali mengatakan bahwa saya harus di operasi untuk mengeluarkan batu yang ada di ginjal dan kantong kemih saya, atau ditembak dengan laser agar batunya hancur, dan keluar secara alami melalui saluran ureter dan uretra. Tapi usulan dokter itu saya jawab saja secara terus terang, bahwa keuangan saya tak mencukupi untuk melakukan operasi.

Setelah tahu bahwa saya mengidap penyakit batu ginjal atau batu saluran kantong kemih, saya lalu mencari pengobatan tradisional. Jamu-jamuan adalah pilihan saya, namun saya juga tak menghindari pengobatan modern yang diberikan oleh dokter. Terakhir saya diberi dokter resep dengan dua macam obat, kapsul dan tablet. Kapsulnya harus saya minum 4 kali sehari, sementara tabletnya diminum kalau sakit pinggang saya kambuh. Kapsul saya beli satu botol, isinya 60 butir, untuk dua minggu, sementara tablet hanya satu strip isi sepuluh tablet. Selain itu saya juga disuruh dokter untuk minum air putih minimal 2 liter sehari. Karena sangat ingin sembuh, saya membeli sebuar jerry can berkapasitas 5 liter. Saya berusaha untuk menghabiskan air satu jerry can penuh itu seharian, melebihi saran yang dianjurkan dokter, walau sering juga saya gagal untuk menghabiskannya, tapi yang pasti, saya minum air putih melebihi saran yang di anjurkan dokter tersebut, walau perut terasa eneg tiap sebentar di jejalin air, tapi saya tak menghiraukannya.

Setelah minum obat selama dua minggu, buang air kecil saya mulai agak lancar. Setelah kapsul botol pertama habis, saya lalu membeli botol kedua. Ketika isi botol kedua tinggal beberapa kapsul lagi, pagi hari sewaktu saya buang air kecil, saya merasakan ada benda lain yang ikut terbawa di saluran uretra. Saat dia keluar bersama air seni, saya lalu memungutnya, terasa tajam menusuk jari saya. Saya lalu mencucinya di air kran. Selesai mandi saya lalu membawanya ke toko lalu melihatnya lebih jelas dengan mencopot lensa kamera, dan terlihatlah sejenis batuan yang bentuknya seperti batu karang yang bentuknya tak beraturan, tapi tonjolan batunya tajam.

Keinginan sembuh saya semakin meningkat dengan keluarnya batu yang bersembunyi di ginjal atau di saluran kantong kemih saya. Hingga obat kapsul yang di botol kedua habis, saya menemukan tiga batu-batuan yang keluar dari tubuh saya. Sejak itu pinggang saya tidak pernah lagi sakit dan buang air kecilpun lancar. Enam bulan berikutnya, buang air kecil saya mulai abnormal lagi disertai dengan sakit di pinggang. Karena sudah berpengalaman sebelumnya, saya langsung saja membeli satu botol kapsul seperti obat yang sebelumnya. Habis satu botol, saya beli botol kedua. Saat minum obat secara rutin itu, saya merasakan ada butiran-butiran halus yang ikut keluar mengiringi urine saya. Saya yakin itu adalah batu karang halus yang mengendap di ginjal atau kantong kemih saya, yang terkikis oleh kapsul hingga halus, lalu terbawa urine saat saya buang air kecil.

Karena punya pengalaman kena sakit kencing batu, maka setiap ada teman yang mengeluhkan hal yang sama, saya lalu menganjurkan teman tersebut mencoba obat yang diresepkan dokter kepada saya. Saya berani menganjurkan obat kapsul tersebut, karena isi kapsul tersebut adalah jamu yang bahan bakunya adalah kembang kumis kucing atau kejibeling. Saya sendiri, setiap enam bulan sekali berusaha untuk membeli sebotol kapsul tersebut untuk pencegahan, agar kencing batu tersebut tidak kembali lagi.

Setelah tiga puluh tahun lebih berlalu, dengan diimbangi dengan olah raga dan minum air putih yang rutin setiap hari, sampai sekarang Alhamdulillah saya tidak pernah kena sakit kencing batu lagi.

 

 

 

 

Note:

Saya tidak menyebutkan secara jelas nama obatnya di sini untuk menghindarkan pembaca memakainya tanpa berkonsultasi ke dokter, yang berkemungkinan akan mengakibatkan hal yang negative karena ketidak cocokan obat.

Terimakasih


read more