11

Sebagai wiraswastawan yang bekerja di rumah, saya memang tak punya pengalaman yang dapat diceritakan bagaimana rasanya liburan di rumah. Karena setiap hari saya berada di rumah, kecuali kalau lagi ada acara keluar, apakah memotret pengantin, ulang tahun atau acara lainnya juga acara blogger gathering atau kopdar.Watch Full Movie Online Streaming Online and Download

Berada di rumah sepanjang hari memang adakalanya membuat jenuh,  memandang kemanapun tak satu juga yang membuat hati tertarik, apalagi kalau pikiran lagi suntuk, maka apa saja yang terlihat tak satupun yang membuat nyaman. Namun ada satu yang selalu menjadi hiburan, yaitu si kecil Rizqy dengan segala macam tingkah polahnya, kehadirannya membuat keluarga kembali bercahaya. Kesepian yang menghinggapi sejak sepasang anak kami telah dewasa dan bekerja terobati lagi, ada hiburan yang tak bisa digantikan dengan yang lain. Suara ketawanya yang renyah menyemarakkan hari-hari yang lama sepi, senyumnya membangkitkan semangat hidup yang mulai redup.

Awal 2006. Kami, dalam hal ini saya dan istri saya, cukup kaget saat mengetahui istri saya hamil lagi, setelah 21 tahun kosong. Antara percaya dan tidak percaya kami melihat dua garis merah pada alat selftest kehamilan yang dibeli istri saya, setelah mengetahui dia tidak datang bulan. Ada semacam kegundahan saat kami mengetahui bahwa kami akan kedatangan seorang anggota keluarga lagi. Kegundahan itu dipicu oleh ucapan bidan yang mengatakan akan membantu ke rumah sakit bila diperlukan saat persalinan istri saya. Alasannya mengatakan itu karena jarak kelahiran anak kami yang 21 tahun, juga karena faktor usia istri saya yang tidak muda lagi, 42 tahun. Dikhawatirkan tidak bisa melahirkan dengan normal sehingga harus melalui proses operasi.

Mendengar penjelasan bidan itu, akhirnya kami tidak jadi menjalani pemeriksaan rutin dengan dia. Saya berfikir, kalau dia sudah merasakan bahwa akan ada kemungkinan dia akan membutuhkan pertolongan rumah sakit pada saat proses persalinan istri saya, maka kenapa tidak saat itu juga kami melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit? Maka pemeriksaan berikutnya kami langsung mendaftar dan melakukan pemeriksaan rutin di Rumah Sakit Tarakan. Hal lain yang juga jadi pertimbangan kami dalam memilih langsung melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit adalah untuk berhemat, karena kalau benar terjadi seperti yang dikhawatirkan bidan itu, kami tak harus merogoh kantong dua kali, untuk bidan dan rumah sakit. Pertimbangan ekonomis ini juga masuk dalam hitungan kami, karena kami tidak bisa menjamin atau memprediksi pada saat dibutuhkan berapa dana persalinan yang harus disiapkan.

Dalam kecemasan yang tidak jelas itu, saya selalu menyandarkan diri pada kekuasaan Allah. Saya menanamkan dalam hati saya, bahwa Allah maha tahu apa yang baik dan tidak baik bagi kami. Pasti ada hikmah atas kehadiran si kecil yang akan meramaikan rumah kami ini nanti. Suatu hal yang agak menguntungkan kami adalah, istri saya selalu memakai pakaian longgar, sehingga kehamilannya tidak begitu kentara sehingga tidak sampai membuat kehebohan di sekitar tempat kami tinggal. Kehamilannya baru terlihat jelas pada bulan ke enam, namun tetap tidak terlalu kelihatan menonjol, masih seimbang dengan fisik istri saya yang memang agak sedikit gemuk. Menunggu saat persalinan saya dan istri mulai mempersiapkan diri secara fisik, sehabis shalat subuh kami berjalan di sekitar Tomang, karena kehamilannya tidak begitu kentara orang maupun tetangga yang bertemu dijalanan menyangka kami hanya olah raga pagi, bukan olah raga untuk menyambut dan memperlancarkan proses persalinan.

3 September 2006, lahirlah anak ke tiga kami, laki-laki dengan proses persalinan yang normal. Kebahagiaan atas kedatangan si kecil menyelimuti kami sekeluarga. Karena kehadirannya merupakan anugerah atau rizki yang sangat besar dan berharga buat kami, maka kami namailah dia dengan Muhammad Rizqy Akbar. Menjelang usia tiga tahun di bulan Juli tahun 2009, Nurul anak kami yang pertama menikah. Setelah menikah Nurul tinggal bersama keluarga suaminya di Pondok Labu.  Dua tahun berikutnya adiknya Al Fajri juga mendapatkan jodohnya. Setelah menikah, Al Fajri rupanya ikut tinggal di rumah keluarga istrinya di Klender.

Setelah kedua anak saya menikah, tinggallah kami bertiga di Tomang. Di sinilah baru saya merasakan hikmah atas kehadiran Rizqy di tengah keluarga kami. Sebagai fotografer dan juga aktif sebagai blogger, saya sering keluar rumah. Di saat saya keluar rumah inilah kehadiran Rizqy ini benar-benar dirasakan oleh istri saya. Dengan adanya Rizqy istri saya punya teman di rumah, tidak kesepian seperti sebelum Rizqy lahir dulu, sekarang istri saya punya teman untuk bermain dan bercanda. Sebuah hikmah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, dan membuktikan bahwa Allah itu lebih tahu apa yang kami butuhkan di saat yang tepat, bukan memberikan apa yang kami inginkan.

Alhamdulillah.

Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?


read more