jam digital 2

 

Saat saya bekerja sebagai fotografer di PT Stanvac Indonesia yang berkantor di Ratu Plaza pada tahun 1985 – 1987, saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Walau harus berawal dari kejadian yang memalukan.

Perusahaan yang bergerak di bidang penambangan, explorasi dan produksi minyak bumi itu mempunyai ladang minyak di Sumatera. Diantaranya Palembang, Pendopo dan Lirik. Bahkan lapangan minyak Pertamina Plaju, awalnya adalah ladang minyak yang di temukan dan dikelola oleh Stanvac. Setelah kontrak bagi hasilnya habis, maka ladang minyak Plaju itu diserahkan kepada Pemerintah, dalam hal ini Pertamina.

Sebagai sebuah perusahaan, Stanvac juga menjalankan program CSR di tengah masyarakat yang ingin mereka bantu. Dari pelaksanaan program CSR ini pulalah kejadian yang memalukan ini saya alami. Peristiwanya sebenarnya sederhana, dan sangat mungkin terjadi pada setiap orang. Karena hal ini terjadi tanpa kesengajaan.

Saat itu bulan puasa. Sebagaimana saya jalani setiap hari, dari rumah kontrakan di Kampung Bali, Kalideres. Sehabis shalat subuh saya berjalan kaki ke Terminal Kalideres yang jaraknya dari rumah sekitar 1 km. Sampai di terminal, berangkat naik bus tingkat PPD nomor 20 tujuan Blok M. Di atas bis, saya biasa mencari tempat duduk di pinggir dekat jendela. Selama dalam perjalanan saya tidur, sebagai pengganti jam tidur yang terpakai buat bangun makan sahur. Biasanya, ketika melintas di jembatan Semanggi, saya sudah terbangun dari tidur pulas saya di atas bis tersebut. Karena dari Semanggi ke Ratu Plaza hanya berjarak 2 halte lagi, halte Polda Metro dan halte Gelora Bung Karno sebelum halte Ratu Plaza.

Karena cuaca pagi itu cukup dingin, untuk mendapatkan sedikit kehangatan saya kembali menyender ke kaca bis di samping saya, tapi rupanya disitulah fatalnya, rupanya kehangatan yang saya dapatkan itu membuat saya tertidur kembali, dan tidur saya cukup pulas. Saat saya terbangun lagi, saya sudah melewati halte Ratu Plaza dan sudah hampir sampai di Masjud Agung Al Azhar, Kebayoran Baru. Saya segera turun dari bis dan berjalan cepat balik menuju Ratu Plaza. Saya sudah cemas kalau sampai saya terlambat tiba di kantor, sementara pagi itu rombongan kantor harus pergi ke sebuah Panti Asuhan untuk mengantarkan bantuan CSR perusahaan berupa barang dan uang.Watch Full Movie Online Streaming Online and Download

Saat sampai di pelataran parkir Ratu Plaza, saya tidak melihat kendaraan yang akan berangkat. “Untunglah…” kata saya dalam hati, lalu berjalan menuju lobby lantai dasar Ratu Plaza Office Tower, terus naik lift menuju lantai 8, di mana di salah satu ruangan di sudut yang menghadap ke jalan Sudirman, ruang Public Affair tempat saya bekerja. Sampai di ruangan, saya tidak melihat seorangpun selain sekretaris PA Dept.

“Ya, kamu telat!” kata sang sekretaris. “Rombongan sudah berangkat…” katanya menambahkan. Saya langsung lemas, keringat dingin mengucur dari seluruh tubuh saya. Sambil melihat jam dinding saya lalu mencari kursi tempat duduk. Jam 07.05, berarti saya telat 5 menit dari jadwal keberangkatan yang telah ditetapkan. Rupanya saya tadi salah menduga, saya kira bus yang akan membawa rombongan belum datang, makanya saya merasa tenang dan merasa tidak terlambat. Rupanya justru bus saat itu telah berangkat, bahkan kalau saya sempat menoleh ke jalan, barangkali bus tersebut baru saja meninggalkan pekarangan Ratu Plaza menuju tempat acara.

Disiplin dan ketepatan waktu. Itulah yang saya pelajari dari pengalaman yang terjadi saat itu. Walau manager maupun staf PA lainnya tidak memarahi saya. Namun rasa bersalah saya telah membuat saya malu menatap mereka saat mereka kembali ke kantor.

Dari pengalaman itulah, hingga kini saya selalu berusaha datang tepat waktu atau lebih cepat dari jadwal, di setiap acara yang saya ikuti. Biarlah saya yang menunggu sebelum yang lain datang, toh dalam menunggu itu saya bisa mempelajari situasi acara nantinya dan bisa lebih santai menunggu acara dimulai.


read more