Aku masuk ke dalam kamar itu, baru saja mataku selesai menyapu ruangan dan terhenti pada sesuatu yang tergeletak di atas tempat tidur, lampu tiba-tiba mati, dan…

 

Ini kisah tahun 1964, saat aku masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Aku memang telat masuk sekolah, masuk sekolah kelas 1 pada usia 9 tahun. Itu disebabkan karena tidak ada yang memasukkan aku ke sekolah, karena aku yatim piatu. Aku masuk sekolah di kampung atas bantuan etek atau bibi adik sepupu ibuku, ketika dia memasukkan anaknya ke Sekolah Dasar aku sekalian dibawa oleh dia. Seminggu bersekolah, aku pindah ke Payakumbuh. Tinggal di Panti Asuhan Aisyiyah Payakumbuh di Komplek Perguruan Muhammadiyah, Bunian, Payakumbuh.

Pada suatu hari… hehehe ingat buku cerita zaman saya dulu yang sering memulai kisahnya dengan Pada suatu hari, dan pak guru di depan kelaspun juga suka memulai ceritanya dengan Pada suatu hari… saya lagi asyik bermain di halaman sekolah seorang diri, halaman sekolah itu juga merupakan halaman asrama, karena bangunan sekolah dan asrama terintegrasi dalam satu komplek, bedanya hanya asrama terletak di bagian belakang, dan sekolah di bagian depan seperti dua huruf L yang tumpang tindih, ujung bagian bawah L yang diatas bersambung dengan ujung atas L yang berada di bawah. Ih, ribet jelasinnya... Berhadapan dengan bangunan sekolah, juga terdapat deretan rumah petak yang terdiri dari 4 rumah yang diisi oleh keluarga pimpinan panti dan guru.

Saat lagi asyik main itu, saya dipanggil oleh Am, anak bungsu pimpinan tertinggi Panti Asuhan, yang usianya beberapa tahun di atas saya dan sudah duduk di SMP. Saya mendatanginya yang saat itu sedang berdiri menunggu saya di depan rumah petak yang paling ujung ,dan menanyakan ada apa? Dia tidak menjawab tapi langsung mengajak saya ke bagian dalam rumah terus ke salah satu kamar yang terletak di bagian belakang. Saat akan membuka pintu kamar belakang itu, dia bilang: “Ada mainan buat kamu di dalam…” Setelah itu dia lalu membuka pintu dan menyuruh aku masuk, sementara dia tetap tinggal di luar.

Aku masuk ke dalam kamar itu, baru saja mataku selesai menyapu ruangan dan terhenti pada sesuatu yang tergeletak di atas tempat tidur, lampu tiba-tiba mati. Dalam keadaan ketakutan aku lalu balik kanan menuju pintu, tapi pintu telah dikunci dari luar. Aku berteriak sekencang-kencangnya sambil mengguncang-guncang pintu. Terdengar suara ketawa cekikikan dari luar, yang semakin membuat aku marah karena merasa sudah di kerjai. Rasa takut dan marah menjadi satu, membuat aku semakin keras menggedor pintu dari balik kegelapan kamar itu. Tidak gelap total sebenarnya, tapi justru cahaya remang-remang yang tempias dari loteng maupun jendela membuat kamar itu terasa semakin menyeramkan, dan dari tempat tidur sesuatu yang terbujur kaku itu membuat aku bertambah panik dan semakin keras berteriak.

Rupanya kehebohan dan teriakanku terdengar oleh banyak orang, tapi karena Am dan temannya yang tadi bersembunyi kelihatan sedang tertawa-tawa di depan pintu, maka mereka yang mendengarkan teriakanku juga diam saja. Rupanya ada yang melapor kepada pimpinan asrama, beliau yang kami panggil Adang itupun datang ke kamar tempat aku disekap oleh Am dan teman-temannya. Melihat Adang datang yang juga diiringi oleh beberapa orang yang ingin tahu ada kejadian apa, merekapun diam tak berkutik sambil terus berusaha menahan ketawanya. Salah seorang menyalakan lampu yang memang saklarnya berada di luar kamar. Setelah lampu nyala pintu pun terbuka, mereka semua disuruh masuk ke kamar, dan masing-masing kupingnya kebagian sentilan oleh Adang. Disaat aku masih menangis terisak-isak dekat pintu itu, Am dan temannya disuruh merapikan tempat tidur. Rupanya mereka menyusun bantal dan bantal guling di atas tempat tidur, lalu menutupinya dengan kain panjang, sehingga kelihatan seperti mayat yang sedang terbujur, dan itulah yang membuat aku ketakutan setengah mati saat pertama melihat yang kemudian disusul dengan dimatikannya lampu oleh mereka. Kejadian yang masih sering teringat dan membuat aku tertawa sendiri. Edan…

 


read more