Selesai mengikuti acara peresmian kantor baru Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) di Icon Business Park BSD City, Serpong, Tangerang. Saya pulang dengan nebeng bersama Babeh Helmi yang naik Uber Car, serta rekan lain bung Fajar Eri Dianto dari Telkom, yang ingin kembali ke kantornya di Kebon Sirih, sementara Babeh Helmi langsung pulang ke Setia Budi.

Sewaktu masih ngobrol di tempat acara sebelum memesan taxi Uber Car, saya bilang sama Babeh Helmi, saya mau turun di rest area Pinang km 13,5 jalan tol Jakarta Merak. Ketika Uber Car yang dipesan Babeh Helmi sudah datang, kembali saya katakan ke pengemudinya bahwa saya akan turun di rest area Pinang jalan tol Jakarta -Merak.

Dibawah siraman hujan gerimis yang menyiram Jakarta dan Tangerang yang turun sejenak setelah azan Magrib berkumandang, Taksi Uber yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Icon E-business Park. Setelah berjalan beberapa saat, siraman hujan yang membuat suasana menjadi dingin dan membuat matapun mengantuk. Sementara Rizqy sudah duluan tertidur sambil menyender ke saya. Tak lama kemudian saya pun tertidur.

Panggilan Babeh Helmy yang mengatakan tidak menemukan Rest Area km 13,5 membuat saya terbangun dari tidur. Sambil melihat ke Jalanan, dan kemudian melihat tanda Km 9 baru kami sadar, bahwa sopir Taksi Uber itu telah mengambil jalan yang salah. Dia mengambil jalan tol Serpong – Meruya, bukan jalan tol Jakarta Merak, walah….

Menyadari kami telah melewati jalan tol yang salah, saya lalu mengatakan akan turun di Kebun Jeruk saja dekat RCTI. Dari sana saya dan Rizqy bisa menyambung dengan naik bus jurusan Tangerang dan nanti turun di Rest Area km 13,5 Pinang dan dari sana berjalan ke rumah di Kunciran Mas.

Rupanya hujan sedang berbaik hati menyirami Tangerang dan Jakarta sekaligus, sebentar lebat lalu tak berapa lama kembali gerimis dan berulang terus. Ketika masuk tol Jakarta – Merak di Puri Kembangan, hujan lagi royal turun dari langit, mengucur deras bagai air ditumpahkan. Melihat keadaan seperti itu, saya lalu bilang ke Babeh Helmy bahwa saya tidak mungkin turun di RCTI. Karena kalau saya tetap turun disana saya tidak mungkin menyeberang melalui jembatan Jalan Panjang yg memotong diatas jalan tol Jakarta – Merak, karena hujan akan membuat saya dan Rizqy basah kuyup dan kedinginan disertai ancaman penyakit dan lalu lintas yang ramai. Sayapun lalu mengatakan kepada sopir akan turun di depan restoran Sentral di Tomang Raya yang berhadapan dengan halte busway Tomang Mandala, sambil menunggu bus yang datang dari Senen. Tapi usulan saya ini kemudian saya anulir lagi, karena menunggu bus di Tomang Raya pasti akan memakan waktu yang lebih lama, sehingga saya lalu berubah pikiran dan minta turun di depan Taman Anggrek saja. Dari sana saya bisa menyebrang, lalu menunggu bus jurusan Tangerang di halte di depan Telkom Jakarta Barat. Tawaran saya inipun kemudian disetujui oleh Babeh Helmy, sementara hujan juga terus turun mengguyur Jakarta tak kunjung berhenti.

Sampai di halte bus Taman Anggrek, saya dan Rizqy turun dari Uber Car, setelah mengucapkan terimakasih kepada Babeh Helmy dan yang lainnya, sejenak kemudian mereka pun meneruskan perjalanannya.

Di bawah percikan air hujan yang menetes dari atap halte, saya dan Rizqy lalu berjalan dan kemudian menaiki jembatan penyeberangan. Tanpa menghiraukan tempiasan air hujan yang di tiup angin ke jembatan, kami meneruskan perjalanan mendaki tangga jembatan penyeberangan, saya di depan dan Rizqy menyusul di belakang saya. Saat sudah sampai diatas jembatan yang juga agak ramai, sesekali saya menoleh kebelakang, melihat Rizqy berjalan dengan penuh semangat.

Turun dari jembatan penyeberangan, saya menunggu sejenak untuk menyeberang ke Jalur kendaraan yang akan menuju Tangerang yang terletak antara jalan tol dalam kota dengan jalur lambat. Setelah kendaraan agak lengang dan melambat karena tertahan oleh Kopaja yang menurunkan penumpang tidak pada tempatnya, saya dan Rizqy lalu menyeberang, lalu menunggu bus di bawah tangga jembatan yang menuju halte busway. Sesekali tetesan air dari atas tangga dan tempiasan hujan yang ditiup angin mengenai saya maupun Rizqy. Saya lalu memeluk Rizqy agar dia tidak terlalu kedinginan, saya bersyukur juga, karena dia cukup tangguh tanpa mengeluh melewati situasi yang kurang nyaman itu, dingin dan basah.

Setelah menunggu sekitar 10 menit, bus 157 yang akan kami tumpangi terlihat memasuki jalur Jakarta – Tangerang. Beberapa penumpang yang menunggu di depan kami telah bersiap. Saya dan Rizqy juga lalu melangkahi pagar pembatas jalan dengan kolong tangga penyeberangan. Saat bus berhenti, saya dan Rizqy segera naik dari pintu depan, sementara tiga perempuan tadi naik dari pintu belakang. Alhamdulillah, kami mendapatkan satu bangku kosong. Awalnya saya biarkan Rizqy menduduki bangku itu. Tapi khawatir dia akan mengantuk dan tertidur nanti, saya lalu menyuruhnya berdiri, saya lalu duduk menggantikannya, kemudian Rizqy duduk di atas kaki saya sambil menyender ke saya. Benar saja, belum berapa jauh bus berjalan, Rizqy tertidur karena kelelahan dan kedinginan. Tak lama kemudian kondektur bus melaksanakan tugasnya, saya lalu memberikan uang 10 ribu, dia lalu mengembalikan 5500, rupanya Rizqy dihitung gratis.

Saat sampai di Gerbang Tol Kebun Jeruk di depan RCTI, orang sebangku saya yang duduk di pinggir, turun. Wanita yang btadinya duduk ditengah begeser ke pinggir. Saya lalu memindahkan Rizqy dari pangkuan saya dan menempati bangku yang kosong di tengah itu. Setelah bus berjalan, kondektur kembali menemui saya menanyakan apakah Rizqy duduk? Saya mengerti maksud dia, ingin minta tambahan ongkos untuk bangku yang diduduki Rizqy. Saya lalu memberikan uang 5 ribu dan dia mengembalikannya 5 ratus rupiah.

Kecapekan berjalan sesore itu, sayapun tertidur bareng Rizqy. Saking pulasnya, saya tidak tahu kalau bus sudah berhenti di rest area Km 13,5 Pinang. Bus tidak memasuki rest area, hany berhenti di pinggir jalan. Sebagian penumpang turun, setelah itu bus berjalan lagi. Saat bus berjalan itulah saya terbangun, lalu melihat penumpang yang tadi berdiri sudah tidak ada. Saya lalu melihat keluar jendela bus sebelah kiri. Benar saja, bus yang saya tumpangi tengah  melaju di depan rest area. Sayapun segera berteriak: “pinggir…! lalu berdiri dan berjalan menuju pintu belakang, sambil sekali lagi meneriakkan: tunggu! Seorang pedagang asongan yang ikut di dalam bus lalu mengeluarkan uang logaman, lalu mengetuk besi tempat pegangan penumpang, sambil berteriak: “ada yang ketiduran!”

Mendengar hal itu sopir bus lalu meminggirkan busnya, Rizqy yang ketakutan berdiri di tangga saya tenangkan dengan memegang tangannya. Begitu bus berhenti, saya segera turun sambil tetap memegang tangan Rizqy. Setelah sampai di bawah, barulah Rizqy tenang dan kecemasan dan rasa takutnya hilang.

Cukup jauh juga kami berjalan menuju rest area, tapi sebelum sampai disana, saya melihat ada tangga yang dibentangkan antara pinggir jalan tol dan dinding pembatas jalan dengan jalan arteri yang ada disisi jalan tol. Kembali Rizqy takut untuk menyeberang, karena posisi tangga yang membentang antara jalan tol dengan dinding melangkahi got sedalam hampir dua meter. Saya lalu melangkahi tangga, lalu melihat ke dinding sebelahnya, ada tangga atau tidak. Alhamdulillah ada tangga kayu disana yang cukup kuat untuk menahan orang dewasa sekalipun.

Saya menyeberang lebih dulu, sebelah kali saya menginjak ujung tangga yang menempel ke dinding, sementara yang satu lagi ke anak tangga yang membentang. Saya lalu mengulurkan tanga ke Rizqy. Untung saja saat itu keberaniannya mulai tumbuh, dia lalu mengulurkan tangan kirinya dan mulai melangkah menginjak anak tangga di depannya. Untunglah anak tangganya cukup kuat dan tidak licin walau sudah basah tersiram hujan. Setelah dia sampai di dinding, saya lalu menuruni tangga dinding sebelah, dan menyuruh Rizqy menyusul saya sambil tetap berpegangan tangan. Saya semakin tenang setelah sampai di tanah, sambil tetap memegangi Rizqy. Tak lama diapun berhasil menuruni tangga kayu itu dengan baik dan kami berdua sampai di jalan.

Saya lalu mengajak Rizqy ke pangkalan ojek, hujan sudah berhenti, walau masih menyisakan sedikit gerimis. Hanya sekitar 5 menit kami sampai di rumah. Dalam situasi normal, saya biasanya hanya berjalan kaki dari rest area menuju rumah. Tapi karena sudah malam dan gerimis masih turun walau tidak begitu rapat, malam itu kami naik ojek. Alhamdulillah, jam sepuluh kurang beberapa menit kami sampai di rumah, mengakhiri keseruan perjalanan pulang malam itu.


read more