Indra dengan tangan kiri yg hanya sampai lengan atas, dan kaki kiri yang hanya ada tumit

Indra dengan tangan kiri yg hanya sampai lengan atas, dan kaki kanan yang hanya ada tumit.

Sering kita dibuat miris oleh pengemis-pengemis yang menghampiri, apakah itu di dalam bus kota, di pasar-pasar, jalanan atau tempat keramaian lainnya seperti restoran yang membuat tidak nyaman mereka yang lagi menghadapi hidangannya. Berbagai cara mereka lakukan dalam mengemis, yang diperhalus bahasanya jadi “pengamen”. Apakah dengan membawa alat musik sendirian atau berombongan, atau hanya dengan bermodal suara, yang sering diistilahkan dengan orasi yang sering ditemui di dalam bus kota. Dengan tubuh yang sehat dan tak terlihat ada kekurangan pada fisik mereka, tanpa merasa sungkan atau malu, mereka beraksi sepanjang hari.

Tapi berlawanan dengan apa yang mereka lakukan, masih banyak anak-anak muda lainnya yang masih punya harga diri yang kuat. Mereka mau bekerja apa saja untuk mendapatkan uang yang halal dari hasil keringatnya sendiri tanpa harus menadahkan tangan. Kita melihat banyak pamulung yang berkeliling dari tong sampah ke tong sampah lainnya, mengais rizki dengan mengumpulkan barang bekas apa saja, kardus, plastik atau botol maupun gelas plastik bekas, lalu menjualnya ke pengumpul yang lebih besar. Setelah itu menikmati hasil jerih payah cucuran keringat mereka dengan penuh rasa syukur nikmat. Salah satu diantara mereka yang tak mau memanfaatkan kecacatan tubuhnya untuk mengemis itu, kita bisa berkenalan dengan Indra. Seorang pedagang keset di Pasar Kunciran Mas Permai, Tangerang.

“Kalau sudah dimulai, susah untuk berhenti…!”. Demikian jawaban Indra saat saya tanyakan pandangannya tentang pengemis yang berbadan sehat dan bertubuh lengkap begitu banyak bersileweran di pasar, terminal bus atau tempat keramaian lainnya.

Hal ini saya tanyakan ketika saya berkenalan dan ngobrol dengan Indra di tempat dia berdagang di kaki lima Pasar Pagi Kunciran Mas Permai, Tangerang, tadi pagi 2/7/2016. Indra yang tinggal di Kalideres, Jakarta Barat. Harus berangkat pagi-pagi agar mendapatkan tempat berjualan di Pasar Kunciran Mas Permai itu, mencari tempat yang kosong, karena dia bukanlah pedagang tetap yang sudah lama dan punya tempat sendiri berdagang disana. Hal ini sudah dilakoninya selama dua tahun. Sebelumnya Indra pernah jadi marbot atau petugas kebersihan di sebuah masjid di Cengkareng. Pada saat terjadi penggantian pengurus masjid, terjadi pergeseran antara pengurus lama yang berkiblat ke Muhammadiyah dengan pengurus baru yang lebih condong ke NU. Situasi dengan pengurus baru tersebut membuat Indra kurang nyaman, sehingga dia akhirnya mengundurkan diri.

 

Dengan bantuan "tangan kiri"nya Indra merapikan uang penjualan keset yang diterimanya dari pembeli.

Dengan bantuan “tangan kiri”nya Indra merapikan uang penjualan keset yang diterimanya dari pembeli.

 

Dengan sedikit modal yang ada Indra memulai berdagang keset pembersih sepatu yang biasa diletakkan di depan pintu. Karena hasilnya cukup buat menghidupi Indra bersama istri dan dua anaknya, usaha tersebut tetap dilakoninya hingga kini.

Indra (41 tahun) yang mulai merantau ke Jakarta sejak tahun 1993, berangkat dari kampung halamannya di Payakumbuh, Sumatera Barat, kini punya istri yang berasal dari Tegal dan di karuniai sepasang anak, yang wanita duduk di kelas 6 dan adiknya laki-laki di kelas 4 Sekolah Dasar. Satu lagi kehebatan Indra adalah, dia mengendarai sepeda motor Honda Beat yang dikendarainya dengan sebelah tangan pulang pergi ke tempat berdagang, atau pada saat berbelanja dagangannya ke pasar Jatinegara atau Pasar Pagi, Jakarta Kota.

IMG_20160702_070804

Indra yang ramah dan penuh semangat di lapak tempat dia berdagang di pasar pagi Kunciran Mas Permai

 

Indra yang selalu senyum menyapa para pengunjung pasar tempat dia berdagang.

Indra yang selalu senyum menyapa para pengunjung pasar tempat dia berdagang.


read more