img_8232aaa

Ratna Susianawati dari KPPPA.

 

80 persen penduduk Indonesia adalah perempuan dan anak-anak. Demikian ditegaskan oleh Ratna Susianawati dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Bidang Kesetaraan Gender Infrastruktur dan Lingkungan.

Oleh Karena itu, kalau kita bicara isu soal perempuan dan anak, ada hal-hal yang ingin kita garis bawahi dari awal, partisipasi perempuan sangat besar kekuatan dan potensinya dalam mendukung keberhasilan pembangunan, demikian lanjut Ratna. Dalam acara talkshow bersama blogger di Binus University, FX Plaza, Senayan Jakarta di penghujung Oktober lalu yang bertajuk: Power of Content 3end Bersama Serempak.id

Apa itu Serempak?

Pada tahun 2010, inisiasi berdirinya Serempak. Foundernya Martha Simanjuntak dari IWITA, pada saat itu memunculkan ide-ide kreatif untuk sebagai bentuk dukungan dari masyarakat kepada pemerintah, karena isunya yang khusus pada perempuan dan anak, tentunya yang menjadi partner adalah Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Jadi sejak tahun 2010 yang lalu Serempak telah mencoba mendisain berbagai upaya apa yang bisa dilakukan supaya terjalin komunikasi yang intens antara pemerintah dengan masyarakat. Melihat perkembangan tehnologi dan dinamika yang terjadi, kita harus berbasis IT, informasi, tehnologi dan komunikasi.

Serempak lalu memformulasikan isu-isu dan perkembangan terkini yang bisa sebarluaskan kepada masyarakat. Karena masyarakatlah yang sebetulnya pemanfaat dan penerima utama dari pembangunan. Supaya nanti dalam prosesnya kerangka kebijakan yang kita susun tidak salah sasaran, maka kemudian dibuatlah sebuah website yang isinya seluruhnya berbicara tentang seputar perempuan dan perlindungan anak. Progresnya luarbiasa, jalannya cepat sekali.

 

Ratna di depan para Blogger

Ratna di depan para Blogger

Mulai 2016 ini Serempak ingin menjadikan website ini menjadi portal interaktif yang membangun komunikasi antara masyarakat dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dan mengharapkan dukungan dari masyarakat untuk memudahkan KPPPA kedepan mengeluarkan kebijakan-kebijakan atau program-program yang relevan yang kini memang dibutuhkan oleh masyarakat. Nanti masukan ini akan disaring untuk ditampilkan dan akan terus meng-update dan mereview konten-onten yang ada, tidak hanya sebatas hubungan komunikasi dengan portal interaktif, tapi juga akan melakukan kegiatan-kegiatan kongkrit seperti kampanye sosial, dan akan turun langsung ke tengah masyarakat. Melakukan roadshow seperti yang telah di lakukan di tiga kota, dimana salah satunya adalah di Surabaya.

Serempak ingin mengenali kekuatan perempuan itu dari berbagai sisi, seperti di Surabaya tersebut adalah barometer dari UKM perempuan di Indonesia. Lalu di Makasar yang mempunyai kekuatan melalui bisnis online. Kemudian Jakarta yang merupakan window show dan miniaturnya Indonesia lebih konkrit lagi pemanfaatan IT dari berbagai lini. Konten-konten Serempak bisa meng-counter isyu-isyu kekerasan terhadap perempuan dan anak. bagaimana bisa meningkatkan dan mendorong kualitas hidup perempuan khususnya dalam bidang komunikasi, informasi dan tehnologi.

Karenanya mulai sekarang kita harus mulai membuka diri dengan adanya MEA dan dinamika yang berkembang di luar dan dalam negeri. Namun yang selalu diharapkan kita harus selalu memfilter nilai-nilai asing yang masuk yang tidak sesuai dan mempertahankan nilai-nilai lokal yang kita miliki, yaitu Pancasila. Jangan sampai kita kehilangan nilai-nilai itu dan terjerumus gara-gara tehnologi.

Para Blogger yang hadir dengan memakai pakaian tradisional berbagai daerah Indonesia

Sebagian dari para Blogger yang hadir dengan memakai pakaian tradisional berbagai daerah di Indonesia

3end sebagai promosi utama KPPPA

Apakah itu 3end dan kenapa hal ini menjadi promosi utama dari program KPPPA. 3end ini sebetulnya menjadi ide dasar pada saat Menteri ditanyakan oleh presiden, apa yang menjadi prioritas KPPPA sampai tahun 2019. Tolong rumuskan arah dan kebijakan terbesar Kementerian PPPA itu apa. Sampai tiga tahun kedepan 2019 kita akan bersama-sama untuk mengakhiri atau paling tidak meminimalisir terjadinya:

1, Kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Kalau berbicara isyu kekerasan, hasilnya luar biasa. Hampir tiap kali di media kita mendengar, terutama kejahatan seksual terhadap anak. Belum lama ini telah disahkan Perpu yang lebih populer dengan Perpu Kebiri. sebetulnya itu adalah perubahan kedua atas Undang-undang nomor 35 tahun 2014. Undang-undang yang pertama yaitu Undang-undang nomor 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak, kemudian di revisi menjadi UU nomor 35 tahun 2014, diubah lagi, direvisi lagi menjadi UU nomor 1 tahun 2016.

Undang-undang ini juga mengundang pro dan kontra di tengah masyarakat. Tetapi ini dasar utamanya adalah memberikan efek jera kepada para pelaku kejahatan seksual. Fenomena inilah yang menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi Kementerian PPPA. Bagaimana upaya edukasi kalau kita bicara korban kekerasan ini yang terbesar adalah perempuan dan anak-anak

2. Mengakhiri atau meminimalisir praktek perdagangan orang atau human trafficking.

Kalau kita bicara perdagangan orang, ini adalah transnational crime, atau kejahatan lintas negara, selain narkoba dan perdagangan senjata gelap. Kita juga harus waspada, karena Indonesia adalah center atau pusat dari perdagangan orang. Karena Indonesia adalah pengirim tenaga kerja terbesar di dunia. Ini adalah juga menjadi sasaran human traficking. Modus-modusnya tidak hanya terang-terangan dengan pemalsuan identitas juga sudah mulai terang-terangan dengan pengiriman tenaga kerja yang seharusnya dijanjikan bekerja di pabrik, tapi sampai di negara tujuan mereka dipekerjakan di klub, atau klub plus, plus.

3. Faktor ekonomi.

Ini juga menjadi upaya Kementerian PPPA untuk meningkatkan taraf ekonomi kaum perempuan. Karena kalau kita berbicara tentang perempuan yang jumlahnya hampir separo dari penduduk Indonesia, adalah perempuan pelaku ekonomi. Maereka yang bergerak dalam kegiatan perekonomian dalam bentuk usaha kecil, menengah dan mikro, 65 persen itu adalah perempuan.

 

Bersambung

 

 


read more