Maman Suherman

Maman Suherman

Narasumber ke dua dalam Gathering Serempak dengan para Blogger adalah Maman Suherman, yang sering kita temui di acara Indonesia Lawak Klub di Trans TV.

Persoalan perkosaan bukan persoalan rok mini.

21 Oktober kemarin saya ke Sulawesi, tanah kelahiran saya di Palu, dalam rangka memperingati hari Aksara. Pada hari itu saya mendengar kabar, di tempat saya waktu kecil di Matirobolu, Bone. Ada seorang ibu dengan seorang anaknya hangus terbakar, suaminya bekerja di Kalimantan. Orang mengira dia meninggal hanya karena ledakan tabung gas di rumahnya. Setelah diusut, ternyata ada satu anaknya yang selamat walau dalam keadaan terluka dan dia mengatakan ini bukan kecelakaan, bukan kebakaran, tetapi dibakar Karena ibunya gagal diperkosa oleh tetanganya. Karena gagal diperkosa lalu dibunuh,  untuk menghilangkan jejak dibakarlah rumah tersebut. Akhirnya pelakunya tertangkap, yang ternyata adalah tetangga samping rumahnya, yang mengetahui bahwa perempuan kalau ditinggal laki-laki  berada dalam posisi lemah berarti bisa dikuasai. Ternyata perempuan itu melawan, dan cara si pemerkosa untuk menghindari pelaporan adalah dengan membunuh.

Ini mengingatkan saya kembali ke tahun 2011. Masih di daerah saya di Sulawesi Selatan, di Bantaeng. Seorang ibu pukul empat subuh sedang memeluk bayinya 8 bulan, bayinya tiba-tiba hilang. Setengah tujuh malam bayi tersebut terikat di atas kapal sudah diperkosa, bayi delapan bulan!

Sejak saat itu saya mengatakan, persoalan pemerkosaan bukan karena persoalan rok mini, tapi Karena persoalan otak mini pelakunya. Ini yang harus kita ubah cara pandang bahwa korbanlah yang memancing, padahal sebaliknya betapa konyolnya laki-laki demikian mudah untuk terpancing.

 

img_8241aaa

 

Mari kita buka data catatan tahunan Komnas Perempuan, yang sudah memberikan data yang tahun 2016 saja sudah ada 321.752 kekerasan seksual terhadap perempuan. Artinya apa, artinya setiap 24 jam terjadi 35 kali kekerasan seksual terhadap perempuan. Ada 35 perempuan jadi korban kekerasan seksual setiap hari. Tiap jam hampir dua orang perempuan jadi korban kekerasan seksual, negara diam. Sepertinya negara diam, kita pun diam, kita baru ribut kalau dolar menjadi 13.000! Tetapi kalau ada 20 perempuan diperkosa, dan 35 perempuan mengalami kekerasan seksual setiap hari, kita menganggap tidak ada pengaruhnya buat negeri ini. Itu satu poin.

Yang kedua, data dari human trafficking mengatakan bahwa Indonesia adalah negara terbesar bagi korban perdagangan orang. Bahkan organisasi Migran Internasional mengatakan 50 persen TKI di luar negeri ditengarai menjadi korban perdagangan manusia. Dua poin ini saja sudah menjadi sebuah sinyal, mari sama-sama menyalakan tanda bahaya. Kita semuanya telah mengalami gawat darurat dalam hal ini, sehingga menurut saya sudah saatnya untuk bersama-sama dengan Kementerian Perempuan meneriakkan akhiri 3.

– Akhiri kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.

– Akhiri perdagangan manusia, terutama yang paling tinggi adalah perdagangan perempuan dan anak, penculikan anak sangat tinggi. Sehigga Indonesia menjadi negara tujuan sex tourism dan pedophilia dunia .

– Akhiri kesenjangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan, bias gender dan ekonomi juga masih tinggi.

Cara pandang kita sebagai penulis bahkan masih menempatkan kalau perempuan bekerja di luar rumah itu semata-mata tambahan. Padahal cara pandang seperti ini yang mulai harus kita ubah, bahwa perempuan pun tolong mulai dilepas dari cara pandang 5 P, kalau saya bicara tentang infotainment.

img_8242aaaa

Kalau bicara tentang artis tentang perempuan, tadi pagi say abaca berita: alhamdulillah adiknya Rafli Ahmad sekarang sudah bisa masak telor. Perspektif seperti ini seolah-olah dipukul rata bahwa perempuan di Indonesia itu cuma ada di wilayah 4 P. Bicara perempuan berarti bicara peraduan, bicara peraduan bicara pinggang, bicara tentang pigura, perempuan harus cantik. Jauh sedikit bicara tentang pergaulan, perempuan dianggap makhluk yang paling suka bergosip. Sehingga infotainment ditaruh di jam-jam dimana perempuan itu ada di rumah, menunggu anaknya pulang sekolah. Empat poin ini masih menonjol tinggi dalam pemberitaan kita. Tapi satu yang sering dilupakan, bahwa perempuan pun adalah Pilar utama keluarga. Jadi 5 P ini, bagaimana 4 P yang pertama kita turunkan, perempuan tidak semata ada di ruang pergaulan, peraduan, pinggang, pigura, tidak sekadar semata bicara cantik.

Satu lagi adalah mengenai unit pengaduan bagi perempuan. Butuh sesegera mungkin untuk mengintregasikan unit pengaduan, yang sampai saat ini masih belum tuntas. Bagaimana mendorong untuk setiap Polsek punya unit perlindungan perempuan dan anak. Dibutuhkan ruang pengaduan yang aman dan nyaman bagi korban kekerasan untuk mengadukan persoalannya, bukannya malah diintimidasi sehingga korban merasa tidak nyaman, yang kemudian malah menyalahkan dirinya sendiri.

Saya berharap pusat koordinasi pelayanan terpadu di 34 titik dibangun. Pusat krisis ibu dan anak di 400 titik harus di bangun di seluruh Indonesia, kelompok perlindungan anak disetiap desa harus ada untuk menjadi indikator lahirnya desa ramah anak dan kota ramah anak. Telpon sahabat anakpun masih kurang dimanfaatkan desa, padahal itu adalah program unggulan Kementerian Perempuan. Yang juga menjadi PR, adalah berdirinya satgas perlindungan terhadap perdagangan anak yang harus ada di pelabuhan dan bandara di seluruh Indonesia. Karena itu adalah pintu keluar masuknya perdagangan manusia.

Poin-poin kecil inilah yang harus muncul di dalam tulisan-tulisan kita di berbagai media termasuk teman-teman bloger, bahwa permasalahan perempuan bukan persoalan perempuan, tapi persoalan kemanusiaan.

 

Bersambung

 


read more