img_20161120_192445

Sebuah komentar di status saya dari seorang teman menyapa:

“Hari ini ada di mana? di Jakarta kah?”

“Saya di Tangerang pak dokter”

Lalu komentar beralih ke status saya yang lain, berupa kenangan saya dua tahun yang lalu yang ditampilkan oleh Facebook, foto saya lagi mejeng di samping X banner promosi novel saya, Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI. Disini sang teman malah ikut mempromosikan saya. Selanjutnya obrolanpun beralih ke inbox Facebook dan kemudian beralih lagi ke WA.

Sebenarnya bukanlah sesuatu yang luar bisa bila teman-teman FB saya ngajak inbox-an atau ngobrol lewat WhatsApp. Namun pagi itu saya mendapatkan sesuatu yang luar biasa.

“Sore kita makan bersama?”

Belum sempat saya memberikan jawaban atas tawaran itu, telah disambung lagi:

“Kita makan Pizza kayu di Meruya, Pizza dibakar dengan bahan bakar kayu”

img-20161120-wa0000

 

Dokter Kusmanto, demikian nama teman tersebut, seorang dokter dan juga seorang fotografer hebat. Teman yang bertemu karena sama-sama suka menulis di Kompasiana. Kami berkenalan melalui ruang komentar di Kompasiana, saling memberi komentar di setiap artikel yang kami posting, sebagaimana juga dengan penulis lainnya. Ini adalah kejutan kedua diberikan dokter Kusmanto kepada saya. Kejutan pertama yaitu saat ulang tahun saya tiga tahun yang lalu. Sebagai hadiah ulang tahun untuk saya, dokter Kusmanto menuliskan sebuah artikel berjudul: Dian Kelana, Bertarung Sengit Demi Menjadi Manusia. Sebuah artikel ilmiah bagaimana proses terjadinya manusia di dalam rahim sang ibu. Sebuah artikel yang cukup berat sebenarnya, tapi karena ditulis oleh sang pakar yang hebat, dapat dinikmati oleh siapapun tanpa mengerutkan kening karena diuraikan secara sederhana namun tetap mendetail.

***

Rencananya saya akan berangkat ke tempat pertemuan setelah shalat ashar. Tapi karena kemarinnya hujan, sepatu saya tinggalkan di studio foto milik teman di Kota Bambu dan pulang ke Kunciran dengan memakai sandal jepit. Jadinya saya berangkat setelah shalat zuhur, karena harus mengambil sepatu dulu ke Kota Bambu. Dari Kota Bambu selesai shalat ashar  saya memesan ojek online. Dalam perjalanan menuju Meruya Ilir, saat di Kemanggisan turun hujan cukup lebat. Untung saja pengemudi ojeknya mempunyai jaket hujan cadangan, sehingga saya tidak sampai basah di perjalanan selanjutnya.

Saya belum tahu posisi Kedai Kita, restoran pizza tempat kami bertemu. Tapi karena dipandu oleh aplikasi GPS, pengemudi ojek yang saya tumpangi tidak mengalami kesulitan mencari alamatnya, mendekati pukul setengah lima saya sampai di alamat tempat kami bertemu. Setelah turun dari ojek yang saya tumpangi, saya lalu menuju pintu masuk. Ke penjaga pintu saya menanyakan apakah sudah ada yang booking tempat untuk acara sore ini sambil menyebutkan nama pak dokter. Rupanya belum ada, tapi saya disuruh menunggu saja di salah satu meja kosong yang kebetulan berada di pojok dekat pintu masuk.

Setelah duduk saya lalu mengeluarkan handphone dan melihat grup chating dengan pak dokter dan teman-teman lain yang juga diundang sore itu.

“Kita lima menit lagi sampai” demikian pesan chating yang dikirim ibu Siti Kusmanto. Untuk membalas pesan beliau saya mengirim foto suasana restoran Kedai Kita. Melihat foto yang saya kirim, lalu dibalas oleh ibu Siti Kusmanto:

“Masuk saja pak”

“Iya ibu, saya langsung masuk, karena diluar masih hujan…”

Seperti dikatakan dalam chatingnya, sekitar lima menit kemudian dokter Kusmanto beserta ibu Siti Kusmanto merapat di Kedai Kita. Begitu masuk dan bersalaman pak dokter mengajak saya menuju meja yang lebih besar di dalam restoran Kedai Kita, di pinggir dekat dinding persis di bawah papan nama restoran Kedai Kita.

Setelah duduk dan memesan makanan kami ngobrol seputar blog, pertemanan di FB dan di Kompasiana. Namun sebelum obrolan kami berlanjut, saya lalu mengeluarkan 2 novel saya Seorang Balita Di Tengah Pergolakan PRRIlalu menyerahkannya kepada ibu Siti Kusmanto sambil mengucapkan selamat ulang tahun. Benar, acara makan-makan kami sore tersebut adalah dalam rangka ulang tahun yang tertunda ibu Siti Kusmanto yang harusnya berlangsung bulan September lalu. Sayangnya acara tersebut tidak bisa dilansungkan tepat waktu karena menjelang acara ulang tahun tersebut dirayakan, ibu Siti Kusmanto sakit gigi dan harus di cabut.

img_20161125_090844_796

Yuni Olive bersama novel Seorang Balita di Tengah Pergolakan PRRI. Ini Dia Hasil Penantian Selama 5 Tahun!

 

 

Dokter Kusmanto mengatakan sudah cukup lama tidak menulis di Kompasiana, gara-gara Kompasiana sering error dan susah dibuka. Saya sendiri mengatakan kalau sudah tidak aktif lagi di Kompasiana sejak enam bulan belakangan ini, dan lebih sering menulis di personal blog saya. Dalam keasyikan ngobrol itu makanan yang kami pesan pun tiba, dokter Kusmanto pun segera mengajak saya untuk langsung menyantap hidangan yang telah terhidang di hadapan kami.

Selagi kami asyik makan sambil ngobrol, dua teman lagi datang, laki-laki dan perempuan. Melihat mereka yang kelihatan  sudah berusia di atas kepala 5 tersebut, saya menduga mereka sepasang suami istri. Setelah keduanya duduk di samping saya, kamipun melanjutkan makan kami yang tertunda sambil meneruskan ngobrol. Namun satu hal yang mengherankan saya di saat kami makan tersebut hingga selesai, saya tidak sekalipun melihat dokter Kusmanto maupun ibu Siti Kusmanto menawarkan kepada kedua tamu tadi menu makanan yang terletak di atas meja, agar mereka juga ikut makan bersama kami. Sebagai juga tamu, saya tentu tidak etis untuk menawarkannya. Makanya saya hanya diam saja, sambil tetap bertanya-tanya kenapa kedua tamu ini tidak ditawari makan oleh dokter Kusmanto ataupun oleh ibu Kusmanto. Sambil ngobrol, saya diperkenalkan oleh dokter Kusmanto kepada pasangan suami istri Edo dan Loona Randing. Ibu Siti Kusmanto juga memberikan salah satu novel saya kepada pasangan tersebut.

Selesai kami makan, tak lama kemudian datang dua tamu lagi, juga satu perempuan dan satu laki-laki, dan yang pasti mereka lebih muda dari kami. Saat kami berkenalan yang perempuan menyebutkan nama Yuni Olive dan yang laki-laki Yance. Dokter Kusmanto juga memperkenalkan kalau kedua orang ini juga adalah fotografer yang handal. Obrolan kamipun semakin meluas ke masalah dunia fotografi dan perkembangannya yang pesat, sampai kepada semacam adagium di mana di kalangan dunia fotografi ini ada dua Agama.

Di saat Yuni dan Yance selesai memesan menu mereka, pak Edo dan ibu Loona bangki dari kursinya dan masuk ke bagian dalam restoran. Saat itulah saya menanyakan kepada pak Kusmanto apa yang sedari tadi menggantung di pikiran saya, kenapa dia tidak menawarkan kedua tamu tersebut makan.

“Mereka adalah pemilik restoran ini…!” kata dokter Kusmanto sambil tersenyum. Mendengar hal itu pecahlah tertawa kami atas pertanyaan saya dan jawaban sang dokter. Dan tertawa kami semakin meledak ketika hal ini disampaikan dokter kepada pak Edo dan ibu Loona saat mereka telah kembali dan duduk lagi bersama kami. Hingga akhirnya pembicaraan beralih ke seputar berdirinya Kedai Kita tersebut.

Saat magrib tiba, kami lalu shalat di mushalla yang terdapat di depan restoran.  Asyiknya obrolan kami sore itu berakhir menjelang pukul 19.30. Tiga jam berlalu tanpa terasa dalam kehangatan pertemanan dunia maya yang dipertemukan di dunia nyata. Walau baru kali itu bertemu, bahkan empat diantaranya baru kenal di Kedai Kita tersebut. Tidak mengurangi kehangatan acara makan malam dalam rangka ulang tahun ibu Siti Kusmanto tersebut. Sebenarnya masih ada teman lain yang diundang oleh dokter Kusmanto. Namun mereka berhalangan hadir, karena masih bekerja atau bahkan ada yang sedang berada di luar kota.

Selamat ulang tahun ibu Siti Kusmanto. Walau terlambat, tapi tidak mengurangi nilai ketulusan yang kita rasakan malam tersebut. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan yang baik bagi ibu dan dokter sekeluarga. Semoga hidangan sore itu menjadi perekat persahabatan kita semua, hingga panggilan datang menjemput kita satu persatu ke haribaanNya pada saat yang telah ditetapkanNya nanti.

 

 

 


read more