Sering kita mendengar dari obrolan sehari-hari atau membaca berita di media, ada anak-anak muda yang berprestasi dan mempunyai keahlian khusus gagal mengembangkan keahliannya karena masalah klasik, tidak punya modal untuk meneruskan usahanya apalagi untuk mengembangkan atau meningkatkan mutu hasil kerjanya. Mereka yang kreatif dan inovatif ini seakan menghadapi tembok besar dan tinggi saat mencoba mencari atau menambah permodalan melalui institusi perbankan. Alasannya juga klasik, tidak punya sesuatu untuk dijadikan jaminan pinjaman mereka ke bank. Hingga akhirnya kreasi yang dihasilkan dari inovasi mereka, mandeg di tengah jalan.

Sebaliknya, pihak perbankan bingung bagaimana menyalurkan likuiditas mereka yang menumpuk agar terserap pasar. Sehingga pergerakan ekonomi negara semakin naik, angkatan kerja terserap pasar dan hasil produksi dari mereka yang kreatif ini juga terserap pasar dan laku terjual.

Melihat keadaan yang kurang menguntungkan ini, sembilan tahun yang lalu, Bank Mandiri melakukan sebuah terobosan yang memperlihatkan hasil yang cukup baik. Mereka menjaring mereka yang punya potensi besar di tengah masyarakat ini dalam sebuah wadah yang mereka beri julukan Ajang Wirausaha Muda Mandiri yang disingkat WMM.

Buah dari pemikiran cemerlang Bank Mandiri itu berhasil menjadikan Ajang Wirausaha Muda Mandiri ini melahirkan lebih dari 25 ribu wirausaha muda, yang diberikan pembinaan dan pengembangan bisnis baik melalui workshop, coaching, promosi, pemasaran hingga pembiayaan dari bank terbesar di Tanah Air tersebut. Banyak pengusaha muda inovatif yang kini sukses setelah mengikuti ajang Wirausaha Muda Mandiri. Mereka tersebar di seluruh penjuru Nusantara.

 

Sebut saja Hendy Setiono, pria kelahiran 30 Maret 1983 ini, sukses menjadi pengusaha kebab dengan merek Baba Rafi yang bahkan sudah terkenal hingga ke negeri jiran, setelah menjadi juara I Wirausaha Muda Mandiri tahun 2007. Usahanya semula hanya bermodal Rp 4 juta, tapi kini telah memiliki lebih dari 750 outlet di Indonesia dan Malaysia. Usahanya tidak hanya berhenti di Baba Rafi, tapi ekspansi ke waralaba bisnis Piramizza dan Ayam Bakar Mas Mono.
Di Kalimantan Barat ada pemilik Sang Bintang School Fahrurrazi, pemilik Renata Spa F Wan Sonia, pemilik SSCO Micro Syariah Kemal Reza, pemilik O-Degree Cosmetic Mardalina, pemilik Raja Uduk Rizal Kurniady, dan pemilik Bio Filt Indonesia Boy Rangga. Mereka semua, setelah mengikuti ajang Wirausaha Muda Mandiri, bergabung dalam komunitas pengembangann diri dan kewirausahaan Mandiri Wirausaha Forum Chapter Kalbar.

“Ajang tahunan WMM menjadi bukti kuatnya komitmen Bank Mandiri dalam mendorong penguatan kualitas dan kuantitas pengusaha muda pencipta lapangan kerja di Tanah Air. Untuk itu, perseroan terus mengembangkan ajang WMM ini agar dapat menginspirasi dan menarik minat para inovator dan kreator muda di berbagai bidang, termasuk fintech untuk berkompetisi,” tutur Sekretaris Perusahaan Rohan Hafas. Perseroan juga berupaya mendorong para pemenang dan finalis untuk melindungi hak kekayaan intelektual terkait bisnis yang digeluti melalui berbagai program pelatihan dan pembinaan kewirausahaan sehingga dapat digunakan secara optimal sebagai aset produktif.

 

 

Presiden kreatipz sekaligus Presiden Forum WMM Chapter Kalbar Beny Than Heri mengatakan, di Wirausaha Muda Mandiri, kita tidak sekadar belajar bagaimana menjadi wirausaha yang baik, tapi lebih dari itu, terus menjadi Generasi Muda yang Inovatif dan Peduli.
“Ajang Wirausaha Muda Mandiri sangat berkualitas dan sangat disayangkan bila tidak dimanfaatkan dengan turut serta,” jelas Fahrurrazi, pemilik Sang Bintang School dan finalis WMM 2008. Fahrurrazi sukses menjalankan lembaga belajar English 6 Minggu Bisa, setelah menemukan filosofi pendidikan bahwa “Belajar Itu Mudah”. Dengan filosofi tersebut, Fahrurrazi lantas mendirikan lembaga belajar English 6 Minggu Bisa dengan merekrut pengajar bergelar Sarjana Ekonomi. “Ekonomi sebagai studi ilmu yang mengajarkan keefektifan dan efisiensi menjadi inspirasi lahirnya program efektif di Sang Bintang School,” kata dia.

Juara I WMM 2007 Elana Gumilang, menjalankan bisnis sebagai pengembang perumahan RSS di Bogor, telah memiliki nilai proyek sebesar Rp 500 miliar pada tahun 2012. Di Batam ada pengusaha terkenal oleh-oleh Khas Batam, yakni Keik Pisang Villa, Denni Delyandri, yang menjadi pemenang kedua WMM 2008. Kini, omzet Keik Pisang Villa pada 2012 lalu telah mencapai Rp 20 miliar. Di Karawang, juara I WMM 2012 direbut oleh Mery Yani, pengusaha Sumber Telur Kilau, memiliki omzet Rp 4,5 miliar setelah mengikuti WMM.

 

Di Bandung Nurana Indah P menjadi Juara I Mandiri Youth Technopreneur 2011, dengan bisnis pembangkit listrik tenaga arus laut dengan nilai proyek Rp 50 miliar. Di Palembang ada MGS Syaiful Fadli, juara II WMM 2010, yang memiliki perusahaan CV Sehati Property dengan omzet Rp 100 miliar pada tahun 2012. “WMM mengubah pola pikir saya terhadap suatu usaha dan banyak pelajaran yang berharga saya dapatkan,” jelas Rendy Febrian, pemilik Medan Kerang dan alumni WMM 2015. Ajang WMM Ciptakan Pengusaha Unggul.

Kisah-kisah di atas menjadi bukti bahwa banyak sekali bibit-bibit pengusaha muda di Tanah Air yang bisa sukses berkat inovasi dan kerja kerasnya. Keterlibatan semua pihak (stakeholders), baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, perguruan tinggi, hingga perbankan berperan penting dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi tumbuh kembangnya wirausaha muda yang tangguh, visioner, inovatif, serta berkeinginan kuat untuk berkontribusi positif bagi masyarakat.

Dengan banyaknya lahir wirausaha muda, daya saing Indonesia sebagai bangsa akan semakin kuat. Melalui tangan-tangan wirausaha muda, akan banyak tercipta lapangan pekerjaan dan inovasi teknologi. Apalagi keberadaan wirausaha muda juga menjadi prasyarat penting bagi Indonesia untuk menjadi negara maju. Kemajuan suatu bangsa sangat tergantung pada populasi entrepreneur yang minimal harus ada 2% dari total populasi negara tersebut. Bandingkan dengan Indonesia yang populasi entrepreneur-nya baru 1,65% pada 2013.

Melalui penciptaan lapangan pekerjaan yang dilakukan oleh para wirausahawan dapat mendorong terjadinya pemerataan pendapatan. Ekonomi domestik juga menjadi kuat, karena berkembangnya para pengusaha domestik, sekaligus memperkuat domestic demand. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar luar negeri. Dengan prestasi yang sudah ditoreh alumni Wirausaha Muda Mandiri, ada baiknya para wirausaha muda di penjuru Nusantara menjajal kompetisi ini. Tidak sia-sia, karena hal ini bagaikan membuka pintu dan kunci bagi kesuksesan di masa mendatang.

Ayo anak muda, tunjukkan prestasi serta keunggulanmu! Gali potensimu mulai saat ini juga, berkreasi dan berinovasi dalam kompetisi Wirausaha Muda Mandiri…


read more