Kostum Dayak yang dimodifikasi. (foto:TS)

Cilegon yang terkenal karena industri baja dengan Kratau Steel sebagai Icon juga sebagai perusahaan baja terbesar di Asia Tenggara dan kemudian disusul dengan beberapa pabrik bahan kimia, 27 April lalu berulang tahun. Ulang tahun ke-19 yang diperingati dengan puncaknya pada malam Minggu 28 April lalu dengan acara bertema Cilegon Ethnic Carnival. Karnaval yang menampilkan berbagai macam etnis dan budaya, mulai dari tuan rumah beserta para perantau yang berasal dari berbagai daerah Indonesia yang berada di Propinsi ujung barat Pulau Jawa itu.

Bulan belum sempurna menerangi langit Cilegon selepas Isya malam itu, namun cahaya lampu sepanjang jalan Sudirman telah datang mengalahkannya, hingga akhirnya dia bersembunyi di balik awan. Jalan Sudirman yang terang benderang itu mulai dipadati warga yang datang berkunjung, untuk menyaksikan pesta ulang tahun kota mereka tercinta. Tenda sepanjang 250 meter di kiri-kanan jalan, menunjukkan, di sanalah puncak acara itu bermula.

Dok.pribadi

Panggung Utama yang membentang selebar jalan Sudirman, diapit Gedung DPRD dan Kantor Walikota Cilegon, bermandikan cahaya aneka warna lampu sorot dari berbagai sudut. Beralasan karpet dan berlatar belakang putih dengan teks tema acara malam itu; Cilegon Ethnic Carnival di bagian atas,  dan sub tema, Ethnic Multi Cultural in Harmony. di bagian bawah. Sub tema ini dipakai sebagai penjelmaan bahwa semua kultur dan etnis di tanah air hidup harmonis di Bumi Baja Cilegon. Dari Betawi, Sunda, Jawa, Batak, Minahasa, Dayak, Bali, Papua, Ambon, Lampung, Aceh hingga Padang yang terkenal dengan bisnis kuliner rumah makannya.

Dok.pribadi

Di sisi lain panggung utama yang berjarak hanya beberapa meter dan memanjang sejajar jalan Sudirman, terdapat pula panggung khusus tempat duduk para pejabat, mulai dari tingkat kecamatan, Kotamadya, propinsi hingga tingkat nasional, sipil maupun militer. Diantara yang hadir telihat dari Kodim, Polres dan DPRD.

Juga hadir  Perwakilan Kementrian Pariwisata Asisten Deputi Bidang Pemasaran Regional 2, Ni Komang Ayu Asiti, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eneng Nurcahyati, unsur Forkominda, Pelaksana Tugas Walikota Cilegon, Edi Ariadi, Sekretaris Daerah, Sari Suryati, Kepala Dinas Pariwisata Cilegon, Hari Mardiana, juga beberapa wisatawan Belanda, Pejabat Eselon II,III,IV dan tamu undangan lainnya.

Dok.pribadi

Selepas acara seremonial, dari pengeras suara terdengar lantang suara pemandu acara bahwa karnaval segera dimulai:

“Inilah peserta dari paguyuban Jakarta di Cilegon Ethnic Carnival 2018 …!”

Dari sudut kanan panggung terlihat kemerlip kunang-kunang beraneka warna mendekati panggung dan lalu menaikinya. Membentuk tak ubahnya puteri bersayap, ketika bergerak. Mengikuti music:

Nyok kita main ondel-ondel …!

Dok.pribadi

Musik yang menghentak mampu menggoyangkan kaki bahkan seluruh tubuh. Mengiringi sang wanita cantik berjalan, berputar dan menjelajahi panggung setinggi satu meter. Berdiri sejenak di tengah panggung, menatap lurus ke depan, arah timur, di mana Tugu Cilegon berdiri dengan gagahnya, selanjutnya sang putri menuju sisi lain panggung. Sepatu dengan hak setinggi sepuluh centimeter, membuatnya harus ekstra hati-hati menuruni tangga kecil di pinggir panggung, untuk kembali ke jalan melanjutkan karnaval yang berakhir di rumah dinas walikota.

Dok.pribadi

Selanjutnya menyusul satu persatu naik ke panggung utama para peserta yang berasal dari berbagai daerah. Diiringi dengan musik pengiring dari daerah masing-masing serta ulasan dari pembawa acara, mereka menampilkan busana pakaian adat ataupun tradisi budaya dari daerah mereka masing-masing baik yang tradisional maupun yang modifikasi.

Malah busana modifikasi baik yang tradisional maupun yang modern yang bentuk dan ukurannya juga luarbiasa, begitu tampil meriah beraneka warna memikat mata para pengunjung.  Tak kurang Para pendekar Samurai pun ikut berpartisipasi, tidak usah ditanya apakah mereka dari Jepang atau bukan, namun kehadiran mereka ikut menghibur para penonton, dewasa maupun anak-anak.

Dok.pribadi

Bukan hanya busana, beberapa daerah malah ikut menampilkan kesenian serta tradisi budaya dari daerah masing-masing, seperti Reog dari Ponorogo, Kereta Kencana dari Jawa Barat, Tabuik yang diiringi dengan Tari Galombang yang hanya bisa disaksikan sekali setahun di pantai Pariaman, Sumatera Barat.

Dok.pribadi

Antusiasnya warga Cilegon menyambut pesta karnaval ulang tahun kotanya, terlihat saat para peserta karnaval melewati mereka. Warga yang menonton karnaval, tanpa sungkan berteriak memanggil para peserta untuk berhenti sejenak untuk diabadikan dengan kamera handphone canggih mereka. Bahkan diantaranya tak segan-segan masuk ke tengah barisan karnaval untuk berselfie ria dengan peserta yang mereka sukai.

Dok.pribadi

Merasa kehadiran mereka mendapatkan sambutan yang meriah, para peserta karnaval pun tak merasa enak untuk menolak permintaan para penonton yang bersemangat itu, maka dengan senyum yang tak lepas dari bibir mereka, jadilah selfie itu menjadi pelayanan wajib mereka untuk dokumentasi dan kenangan indah bagi para penggemar mereka di sepanjang perjalanan karnaval.

Bisa dibayangkan, perjalanan yang lumayan jauh dari panggung utama menuju rumah dinas walikota yang juga berhadapan dengan masjid Agung Cilegon. Dengan beban kostum yang lumayan berat menempel di tubuhnya, namun tidak boleh memperlihatkan kelelahan yang mereka rasakan dengan senantiasa menebarkan senyum yang mengembang sepanjang perjalanan.

Dok.pribadi

Melihat antusiasme warga Cilegon dalam menyambut pesta ulang tahun kotanya, sudah selayaknya hal ini menjadi perhatian Pemda Cilegon maupun Pemda Banten, begitu juga dinas pariwisata daerah untuk menjadikan Cilegon Ethnic Carnival ini menjadi kalender tahunan. Kita sudah melihat contoh bagaimana acara tahunan Jember Fashion Carnaval yang telah mendunia dan menjadi objek wisata dan mendatangkan turis mancanegara setiap tahun, dan warga Jember pun ikut kecipratan hasil dari acara ini. Bahkan sebagian peserta Cilegon Ethnic Carnival juga mendapat inspirasi dari JFC dalam desain tata busana penampilan mereka. Semoga

Wahana baru Alun-alun Cilegon

Dalam menyambut ulang tahun kotanya ini, warga Cilegon tidak hanya menyaksikan karnaval di malam Minggu 28 April. Malah sehari sebelumnya mereka juga mendapatkan hadiah istimewa dari pemda mereka, yaitu, Alun-alun Kota Cilegon. Gagasan  yang terinspirasi dari Walikota H. Iman Ariyadi, kini menjadi daerah tujuan wisata baru bagi warga Cilegon, diresmikan Jumat (2/5) sebagai ruang publik bagi warga untuk berbagai aktifitas. Disini terdapat air mancur yang tiap Sabtu dan Minggu, dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB, diaktifkan. Diperindah dengan sorotan cahaya lampu aneka warna, sehingga semakin indah terlihat dalam kegelapan malam.

Air Mancur di malam hari. Foto: Kang Nasir Rosyid

Kolam Air mancur di siamh hari Foto: Isson Khairul

Ada pula arena untuk berolahraga serta track untuk jogging. Untuk memenuhi kebutuhan tubuh atas asupan makanan, juga terdapat kawasan kuliner, dengan beragam makanan dan minuman yang siap memanjakan selera, yang diisi oleh para pelaku UKM bidang kuliner . Taman Kota seluas 3 hektar tersebut, menjadi pusat aktivitas warga, untuk berolahraga, berkesenian, dan berekreasi. Bagi yang ingin mencari cinderamata, hasil karya kerajinan tangan para pekerja seni, juga bisa kita dapatkan di sana.

Alun-alun yang luas untuk berbagai kegiatan. Foto: Isson Khairul

Jogging track sebelah kanan dan Arena kuliner sebelah kiri/ Foto: Isson Khairul

Arena promosi, kios kuliner serta cendramata hasil kerajinan warga sekitar Foto: Isson Khairul.

Demo masak bersama chef profesional yang disaksikan langsung oleh para pengunjung. Foto: Isson Khairul.

Foto: Kolaborasi antara Thamrin Sonata, Isson Khairul dan Kang Nasir Rosyid.


read more