1965

 

Walau Panti Asuhan atau asrama kami sudah pindah dari Bunian yang batasnya dengan pasar Payakumbuh hanya pagar belakang kantor Bupati 50 Kota,  ke Padang Tiakar yang jauhnya sekitar 1,5 kilometer, tidak membuat aku merasa berjarak dengan pasar tempat aku bermain setiap hari. Bila lonceng bubaran sekolah telah berbunyi, aku segera pulang ke asrama.

Sampai di asrama hal pertama yang aku lakukan sebagaimana teman lain adalah shalat zuhur. Selesai shalat kami lalu mengambil jatah makan siang kami yang sudah dibagi rata untuk masing-masing anak, dengan sedikit perbedaan pada takaran nasi. Untuk anak-anak tingkat Sekolah Dasar nasinya tidak sebanyak untuk yang telah SMP atau SMA, yang dalam istilah kami di asrama namanya “nasi gadang dan nasi ketek”.

Selesai makan, aku langsung berjalan ke pasar Payakumbuh. Karena arena bermainku selalu di pasar, maka di asrama aku dijuluki pimpinan Panti sebagai preman pasar, padahal baru kelas 2 SD! hehehe… Untung saja teman-teman tak pernah memanggil atau ikut-ikutan memberikan julukan preman pasar itu kepadaku.

Sampai di pasar, hal pertama yang aku lakukan adalah singgah ke Pangkas Sinamar yang berlokasi di jalan Karya. Sampai di sana aku membaca koran Haluan yang terbit hari itu. Aku tak pernah memilih berita yang aku baca, aku juga tidak tahu apa itu berita politik, ekonomi, kriminal atau yang lainnya, kecuali berita olahraga, pilihan pertama bila aku membuka Harian Haluan itu. Aku bisa menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk membaca isi koran itu, sehingga begitu selesai membaca wawasan dan pengetahuan umumku semakin bertambah. Untungnya saat itu sebelum meletusnya G 30 S PKI, jadi isi beritanya masih bersih dari kejadian yang merenggut nyawa ribuan manusia itu, selain 7 jenderal yang terkubur di Lubang Buaya.

Bila hari Minggu atau hari libur, maka durasi aku di pasar itu lebih panjang lagi. Kalau tidak ada kegiatan berkebun bersama atau gotong royong lainnya di asrama, maka pukul 8 pagi selesai sarapan bubur putih yang ditemani sayur sisa semalam yang kadang rasanya sudah berubah, aku sudah meluncur ke pasar. Karena masih pagi, pangkas Sinamar belum buka, maka aku sering pergi ke pustaka Hizra, agen surat kabar di Payakumbuh. Tapi karena tidak ada tempat duduk dan membaca korannya juga sambil mengintip koran yang masih terlipat, maka acara bacanya tidak sepuas seperti di Pangkas Sinamar.

Selesai membaca koran aku lalu pergi ke los tembakau, menuju lokasi kuliner yang berada di samping los tembakau berupa warung dengan payung raksasa berdiameter 3 meter, tempat bermacam pedagang membuka warung menjual lontong, cendol, es tebak, soto dan sebagainya. Aku pergi ke warung cendol pak Bahar, membantu mencuci piring, sendok, mangkok dan gelas kotor dari pelanggan yang barusan jajan di sana. Bila hari libur warung cendol itu cukup ramai, sehingga sering pemiliknya kewalahan melayani pelanggan.

Karena kebandelanku yang sudah sedemikain rupa menurut pimpinan asrama, maka suatu kali aku bertemu dengan salah seorang kakak senior di Panti, yang biasa kami panggil Uda Helmi di pasar. Saat itu aku sedang bermain di lokasi pasar malam yang saat itu masih sepi karena masih siang. Saat melihat-lihat pedaganag memajang dan merapikan dagangannya. Saat itulah seseorang memanggilku, saat aku melihat ke arahnya baru aku tahu kalau kakak senior itu yang datang.

Tanpa banyak tanya dia lalu memegang tanganku dan menggiringku ke kantor polisi atau tepatnya pos polisi yang berada di samping kantor bupati, dan tidak begitu jauh dari tempat kami berdiri. Dalam hati aku bertanya untuk apa aku dibawa ke pos polisi?. Pertanyaan itu baru terjawab saat kami sudah masuk dan duduk di dalam pos polisi tersebut. Kami duduk di bangku panjang yang ada di dalam kantor polisi itu. Aku disuruh duduk di ujung bagian dalam, sementara uda Helmi duduk di tengah yang lebih dekat ke pintu keluar. Mungkin dia berpikiranuntuk berjaga-jaga kalau aku akan lari saat diinterogasi polisi.

Setelah kami duduk lalu polisi bertanya kepada uda Helmi, apa tujuan kami ke kantor polisi tersebut. Uda Helmi lalu menceritakan kenakalanku yang selalu bermain di pasar, menjadi preman pasar dan jarang berada di asrama. Pokoknya semua kebandelanku di ceritakan disana, dan dia minta pak polisi memberi pelajaran kepadaku agar berhenti jadi preman pasar dan kembali berada di asrama sebagai anak panti yang patuh dan rajin belajar.

Pengalamanku sering berada di camp tentara saat terjadi pergolakan PRRI 7 tahun sebelumnya, membuatku tak merasa takut saat berhadapan dengan polisi itu. Walau polisi tersebut saat itu mengeluarkan pistolnya, aku cuek saja, karena aku pernah melihat berbagai macam senjata di camp tentara yang berada di nagari Magek yang bersebelahan dengan kampungku Kamang. Ukuran senjatanyapun bermacam-macam, mulai dari pistol maupun senjata laras panjang.

Oleh karena itu aku sudah yakin polisi itu tidak akan menembak aku, mungkin maksudnya hanya untuk menakut-nakuti aku dengan meletakkan pistolnya di atas meja sambil sesekali memegang dan membersihkan pistol tersebut, sambil tetap berbicara menasehatiku yang kadang disertai ancaman akan dikurung di pos polisi tersebut.

Selesai di interogasi yang lebih banyak berisi nasehat oleh pak polisi, kami lalu pulang ke asrama. Aku tidak tahu apa yang diceritakan uda Helmi kepada ibu pimpinan panti tentang keberhasilannya menggiring aku ke kantor polisi, yang jelas dari jauh mereka begitu serius mendengarnya, sementara aku masa bodoh saja duduk di aula, sambil sesekali melirik ke tempat mereka ngobrol. Tapi yang pasti, besoknya pulang sekolah aku sudah bermain di pasar lagi! Dasar anak badung, hehehe…

 

Artikel ini juga di terbitkan di www.kompasiana.com/diankelana


read more