Merantau ke Pekan Baru (24)

Tinggal bersama kedua orang kakakku, merupakan pengalaman yang sangat menyenangkan bagiku. Tinggal di kota dengan berbagai macam keadaan dan situasinya, tadinya hanyalah ada dalam bayangan dan angan-anganku, dari cerita-cerita orang-orang kampungku yang pulang dari rantau. Kini bersama kedua kakakku aku mengalaminya sendiri.

Walau kami tinggal pada sebuah kamar yang ukurannya hanya sebesar rumah saruang, tempat kami berlalu lalang turun naik rumah gadang di kampung setiap hari, tapi cukuplah. Untuk tempat kami tinggal dan berlindung dari sengatan panasnya matahari, maupun dinginnya udara malam.

Selain di Pekanbaru, kami juga mempunyai dunsanak di Minas dan Rumbai, kota kecil diseberang sungai Siak, kota yang penduduknya adalah para karyawan Caltex. Walau dunsanak jauh, tapi karena sama-sama berada dirantau, terasa sebagai keluarga dekat.

Sekali aku dibawa kesana oleh anduang Ipah, pergi bersilaturahmi menemui mereka yang juga bekerja di Caltex.

Dari pekanbaru, tepatnya persis diseberang jembatan ponton, kami naik bus khusus untuk para keluarga karyawan Caltex. Selama perjalanan, aku tak melihat stokar atau kenek bus itu meminta ongkos kepada penumpang. Ketika kutanyakan kepada kakakku, dia mengatakan bahwa bus itu gratis, karena bus itu milik Caltex dan disediakan untuk para karyawan dan keluarganya. Aku hanya membatin, alangkah senangnya pulang pergi ke Pekanbaru naik bus tanpa bayar.

Tak lama setelah sampai di rumah famili yang kami tuju di Rumbai, kami di guyur hujan lebat, sehingga tidak sempat berjalan-jalan melihat komplek perumahan Caltex itu.  Aku hanya sempat memandangnya dari dalam bus, sewaktu kami pulang kembali ke Pekan Baru. Rumah-rumah yang tersusun rapi, bentuk dan ukurannya sama berbaris satu blok satu blok, dengan sekeliling halaman ditanami beraneka ragam bunga yang sedang mekar.

Satu hal yang kurasakan di sana adalah suasananya sama seperti suasana di kampung kami, sepi. Walau rumahnya banyak serta tertata rapi dan cukup luas, tapi aku tak melihat suasana lalu lintas yang ramai seperti di Pekanbaru. Begitu juga tidak ada orang yang berjualan di pinggir jalan, maupun orang-orang yang berjalan kesana-kemari. Yang sering terllihat adalah anggota petugas keamanan yang disana di panggil cops.

Aku dan anduang Ipahpun tak sempat bermalam disana, karena besoknya anduang Ipah juga harus pergi bekerja ke loket penjualan tiket kapal di pinggir sungai Siak. Dengan bus Caltex yang lewat setiap setengah jam itu, kami kembali ke Pekanbaru. Masih dalam guyuran hujan yang turun cukup lebat dan lama.

Sampai di terminal terakhir bus Caltex di dekat jembatan ponton sungai Siak, kami turun dari bus. Menyeberangi Sungai Siak dengan berjalan kaki di atas jembatan ponton, dan terus berjalan kaki ke tempat tinggal kami di rumah ibu Jawa dekat Pasar Bawah. Untunglah hujan hanya di sekitar Rumbai, sehingga kami tak sampai berbasah-basah waktu berjalan pulang kerumah.

Sampai di rumah aku membayangkan, alangkah senangnya seandainya kami juga punya rumah dan tinggal di tempat yang baru kami kunjungi itu.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.