89 Buruh Migran Indonesia Ikuti Wisuda Sarjana di Hongkong

wisuda2

Sebagian dari BMI Hongkonyang mengikuti Wisuda sarjana hari Minggu lalu, Diantaranya Nissa Mariyana nomor dua dari kiri jilbab warna pink dan Suprapti, tengah belakang pakai jilbab merah. (foto koleksi Suprapti)

Di tengah maraknya pemberitaan tentang nasib yang dialami Erwiana, salah seorang Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong yang disiksa majikannya. Sehingga harus pulang ke Indonesia dengan tubuh penuh luka dan kini kasusnya di tangan kepolisian Hongkong. Sebuah berita yang membanggakan dan juga mengharukan, hari Minggu 26 Januari kemarin juga berlangsung di Hongkong.

Berita tersebut adalah, dilantiknya 89 orang Buruh Migran Indonesia diantara 120 mahasiswa yang telah menyelesaikan studinya di Saint Mary’s University. Sebuah universitas swasta yang berpusat di Philipina dan membuka cabangnya di Hongkong.

Suasana Wisuda

Suasana saat berlangsungnya acara Wisuda

Berangkat dari kampung masing-masing hanya berijazah SMA, SMK atau Madrasah Aliyah. Hanya dengan satu tujuan, memperbaiki nasib dan mencari peruntungan. Karena negeri ini tak bisa memberikan apa yang mereka harapkan. Betapa banyak kisah tragis dan sedih yang dialami para BMI ini. Kesulitan bahasa, pengalaman yang minim. permainan agen PJTKI. Serta tak jelasnya peran BNP2TKI yang hanya rajin menjadikan para BMI ini sebagai sapi perah dengan adanya KTKLN.

Yang paling menyakitkan, bila bertemu dengan majikan seperti yang dialami Erwiana. Banyak kisah memilukan yang tak terungkap kepermukaan, sebagaimana ditulis oleh Fera Nuraini dan banyak BMI lain yang di tulis di blog mereka masing-masing.

Dari jutaan BMI/TKI yang bertaburan di berbagai penjuru dunia itu dan ratusan ribu yang berada di Hongkong. Beruntunglah beberapa diantara mereka mendapatkan majikan yang baik, bahkan benar-benar baik. Majikan yang tak hanya memberikan kesempatan untuk buruhnya menikmati semua haknya. Malah ikut mendukung agar sang buruh bisa melanjutkan cita-cita mereka menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

 

Suprapti dan Nissa Mariyana

Suprapti dan Mariyana (foto: Ananda Ida)

 

Inilah yang di dapatkan oleh Suprapti dan Mariyana, dua diantara 89 Buruh Migran Indonesia yang beruntung ikut wisuda Minggu kemarin.

Majikan Suprapti bahkan terpilih sebagai Best Boss bersama 4 orang majikan lainnya, dalam rangka pemilihan Best Boss atau majikan terbaik yang diadakan oleh Mandiri Sahabatku & Universitas Ciputra, Cabang Hongkong tanggal 20 Januari lalu.

Dengan terbukanya kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ini, diharapkan semakin banyak lagi para BMI yang melanjutkan jenjang pendidikan mereka di Hongkong. Sehingga saat kontrak mereka habis nanti dan tak memperpanjangnya, lalu kembali ke Indonesia. Mereka sudah mempunyai bekal yang lebih baik untuk masa depannya. Dengan ilmu yang dimiliki, mereka lebih bisa mengembangkan kemampuannya, dibanding hanya sebagai jebolan pembantu rumah tangga.

wisuda

Wajah-wajah para BMI yang memancarkan kebahagiaan

Sewaktu saya ngobrol jarak jauh dengan Suprapti (saya tidak mau menyebutnya sebagai wawancara, karena kami ngobrol sebagai ayah dan anak). Dia mengatakan, bila dia pulang nanti dia bercita-cita jadi guru. Tapi keinginan utamanya adalah  fokus dulu pada rencana mendirikan rumah baca. Suprapti yang di FB punya akun Chilix Chiliks ingin berbagi dulu mulai dari yang terdekat, keluarga dan lalu masyarakat sekitar.

Berbeda dengan Suprapti yang bercita-cita jadi pendidik atau guru. Maka Mariyana, sebagai langkah awal penanaman modal untuk masa depannya adalah berternak kambing dan ayam,  yang saat ini di kelola oleh kedua orang tuanya di kampung halaman mereka di Desa Bibrik, Madiun.

V

Nissa Mariyana diantara teman wisudawati

Disamping telah lulus dengan gelar BSEM atau Bachelor of Science in Entrepreneurial Management, Suprapti dan Mariyana juga tengah menunggu gelar kedua mereka dari Universitas Adhi Niaga, Jakarta, yang juga membuka cabang di Hongkong . Karena dalam perkuliahan ini keduanya mengambil double degree, dua mata kuliah dalam masa yang sama di universitas berbeda. Keduanya kini tinggal menyelesaikan masa kuliah kurang satu semester. Bila ini tuntas, keduanya boleh pulang dengan dua gelar terandang didada. Sarjana Ekonomi dan Sarjana Entrepreneur. Sesuatu yang tak terbayangkan saat keduanya melangkah meninggalkan kampung halamannya lebih dari empat tahun yang lalu.

 


5 Comments

  1. Halo Pak Dian. Mampir ya. Bagus blognya. Saya akan kutip utk tulisan. Mampir2 juga ya ke http://lifeschool.wordpress.com. Terima kasih & salam utk keluarga.

  2. Terimakasih bung Bhayu telah singgah di Blog saya. Segera saya akan singgah kesana

    Salam

  3. Wah kerennnnn.. rezeki yang sangat bagus. Cuma niat untuk bekerja, jadi mendapat berkat lebih. hebat, keren.. berarti gak semua majikan di luar sana kejam ya, terbukti dari kak Suprapti dan Nissa, 2 dari 89 buruh yang diwisuda.

  4. Diana Bayu

    Congrat….semoga kedepannya bisa menjadi orang yg slalu rendah hati ibarat pohon padi semakin berisi semakin merunduk..:-)

    Maaf…kalau boleh bagi” tips doongx…bagaimana caranya mengambil doble degree….?? Sedangkan waktu yg di berikn oleh majikan hanya terbatas…??

  5. congrat ya mbak…..moga saya bisa nyusul hhhh