Awalnya Allah Mengambilnya, Kemudian Menggantinya Berlipat Ganda

Busway

Sekembalinya saya dari Grapari Telkomsel di Central Park, saat berjalan di jembatan penyeberangan menuju halte Telkom, saya mengeluarkan handphone dari kantong celana sebelah kiri. Begitu handphone keluar dari kantong, tiga lembar uang kertas masing-masing berwarna coklat, merah dan hijau, ikut menempel di handphone. Saya mengambil ketiga lembar uang yang terlipat tidak karuan itu dan memasukkannya kembali ke kantong celana. Saya memang jarang melipat dan menyusun rapi uang yang ada di kantong kemeja atau celana,  kebiasaan yang tidak pernah berubah sejak kecil. Kecuali di saat-saat tertentu, bila jumlahnya cukup banyak.  🙂

Saya mengaktifkan handphone, lalu membuka aplikasi Gojek, karena mau pergi ke Kota Bambu. Tidak ada sinyal 4G di handphone dan aplikasi Gojek pun tak bereaksi saat dibuka. Baru saya ingat kalau paket data kartu halo saya sudah habis sejak sehari sebelumnya. Ingat hal itu saya lalu turun tangga menuju halte busway Central Park yang menuju arah Slipi dan batal naik Gojek. Untung kartu Flazz saya masih punya saldo, sehingga saya bisa masuk ke ruang tunggu busway.

Saat busway datang ternyata penumpangnya tidak begitu ramai, saya dapat tempat duduk kursi nomor dua dari pintu, di sebelah kursi prioritas yang diduduki seorang kakek yang usianya nampaknya lebih tua dari saya.

Saat busway berjalan melewati persimpangan jembatan layang Tomang, saya kembali mengeluarkan handphone dari kantong celana sebelah kiri seperti sebelumnya. Setelah melihat dan membaca pesan yang masuk, handphone kembali saya kangtongi.  Saat melewati RS Harapan Kita, seorang penumpang yang duduk di bangku seberang yang berhadapan dengan kami, lalu berbicara kepada bapak yang duduk di kursi prioritas. 

“Pak, uangnya jatuh!” kata penumpang yang duduk di seberang.
Dengan pandangan penuh tanda tanya, si bapak melihat ke arah penumpang yang berbicara tadi. “Uangnya jatuh, Pak!” kata si penumpang tadi sambil menunjuk ke kolong kursi yang diduduki si bapak.

Si bapak lalu melihat ke kolong kursi prioritas yang didudukinya, tepat di antara kursi saya dan dia, selembar uang berwarna hijau tergeletak. Bapak itu lalu mengambilnya, lalu memasukkan uang itu ke kantong celana sebelah kirinya. 

Satu perasaan timbul di hati saya, jangan-jangan itu uang saya yang jatuh saat mengeluarkan handphone barusan. Tapi untuk mengklaim kepada si bapak, timbul keraguan, jangan-jangan itu memang uang dia yang jatuh, sebuah perasaan lain muncul, kalau memang itu uang saya yang jatuh, mungkin itu cara Allah mengambilnya dari saya untuk diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan, saya harus mengikhlaskannya. Akhirnya keinginan untuk mengklaim uang itu kepada si bapak saya urungkan. Kalaupun benar itu uang saya yang jatuh, saya harus mengikhlaskannya.

Sampai di halte busway Slipi Kemanggisan, saya turun dan berjalan melewati kolong jembatan layang Jalan Brigjen Katamso. Sambil menunggu angkot JB 03 Tanah Abang Abang – Grogol, rasa penasaran menyuruh saya untuk merogoh kantong dimana uang tadi saya simpan. Benar saja, yang tertinggal hanya dua lembar uang kertas berwarna coklat dan merah, uang kertas warna hijaunya tidak ada! 

Saya memasukkan lagi kedua lembar uang itu ke tempat asalnya. Sambil berdoa, semoga uang saya yang hilang itu bermanfaat bagi yang menemukannya. Kalau seandainya uang itu yang tadi di busway, semoga uang yang tidak seberapa itu, lebih bermanfaat untuk menutupi kebutuhan si bapak.

Esok harinya, saya mengikuti acara peluncuran sebuah produk di restoran The Hook, Senopati. Beserta rekan blogger lainnya. Selesai acara saya berencana mau pergi ke Cyber Building, di Kuningan Barat. Karena belum shalat zuhur, saya lalu pergi ke masjid Darut Tauhid di dekat Pasar Santa. Selesai shalat dan mau berangkat, hujan turun. Walau tidak lama, tapi cukup untuk mengubah rencana perjalanan saya. 

Saat hujan, saya teringat ada pelanggan servis komputer yang rumahnya tidak jauh dari masjid, yaitu di jalan Wijaya Timur, Petogogan. Karena sudah mendekati sore, saya batalkan untuk pergi ke gedung Cyber. Saya lalu jalan kaki ke Wijaya Timur untuk bersilaturrahim, karena hampir setengah tahun tidak pernah ke sana. 

Benar saja, begitu saya bertemu tuan rumah, mereka begitu surprise mendapat kunjungan saya, obrolan panjang pun tak terelakkan. Saat melihat komputer yang sering saya servis, sayapun lalu mengeceknya. Tidak tahunya komputernya sudah begitu lelet kerjanya. Begitu diperiksa lebih jauh, saya jadi senyum sendiri melihat ada tiga antivirus terinstal di sana, Mc Afe, AVG dan Avast. Bagaimana nggak akan lelet, ibarat satu kamar dijaga tiga orang cleaning service dari perusahaan yang berbeda, dengan kepentingan yang berbeda dan menganggap diri paling pintar yang akhirnya saling sikut, hehehe…

Saat akan pulang, sayapun di kasih amplop. Saya menolak, karena merasa tidak mengerjakan apa-apa, dan kedatangan saya juga bukan karena di panggil untuk memperbaiki komputer mereka, tapi hanya untuk bersilaturrahim. Tapi saya dipaksa untuk menerimanya, “buat ongkos becak…” kata si ibu,yang akhirnya dengan berat hati saya terima juga.

Sampai di rumah amplopnya saya buka, isinya; 10 kalilipat dari uang yang jatuh di busway kemarin! Alhamdulillah…

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.