Allah menyuruh saya pulang dengan mengirimi tiket pesawat

Sebuah salinan bukti pembelian tiket pesawat Lion Air, mendarat mulus di layar handphone saya melalui sebuah pesan di WhatsApp. Di sana tertera nama lengkap saya, persis seperti yang tertulis di KTP seumur hidup saya.

Sambil menatap foto tangkapan layar handphone tersebut dengan perasaan yang belum sepenuhnya yakin, saya membatin. Allah menjawab doa-doa yang saya panjatkan pada setiap selesai shalat, maupun pada setiap kesempatan saya bisa melafazkan doa melalui mulut, ataupun hanya bisikan dalam hati.  

Pulang kampung, demikianlah ucapan jutaan perantau yang hidup jauh, mulai yang hanya berjarak puluhan hingga ratusan, bahkan ribuan kilometer dari kampung halaman mereka, bila hari raya Idulfitri tiba.

Sebuah perjalanan yang sebenarnya bersifat pribadi, namun secara serentak diikuti oleh jutaan manusia yang menyebut diri mereka perantau. Tidak ada komando, perintah atau himbauan. Namun kerinduan akan orang tua, para kerabat dan sanak saudara maupun tanah kelahiranlah yang menggerakkan mereka untuk pulang setahun sekali. Bergembira sekaligus juga memohon maaf terhadap orang tua maupun anggota keluarga lainnya serta handai tolan sekampung dan sehalaman.

Tidak semua perantau punya kesempatan untuk pulang, banyak alasan yang menyebabkan mereka tak bisa bertemu orang tua tercinta, maupun sanak saudara. Bagi mereka yang kurang beruntung, tidak bisa pulang karena tidak bisa meninggalkan tugas atau situasi keuangan yang tidak memungkinkan, kiriman doa lah yang mereka antarkan di setiap saat dan kesempatan, atau ketika melaksanakan ibadah yang dilakukan.

Saya termasuk kelompok kedua, tidak bisa pulang kampung. Walau kami pada awalnya bersama anak-anak, menantu dan cucu-cucu telah merencanakan untuk pulang, namun pada hari H-nya kami gagal berangkat.

Kerinduan akan kampung halaman maupun sanak saudara, tetap terpendam dalam hati. Apalagi di keluarga kami, tiga orang kakak saya yang semuanya telah berusia di atas 70 bahkan ada yang sudah lebih dari 80 tahun. Serta ketiganya juga sudah kehilangan suami yang telah lebih dahulu pergi dipanggil Sang Pemiliknya, tetap terbayang di ruang mata.

Kakak tertua yang berusia lebih dari 80 tahun. Walau punya 5 anak, tapi semuanya berada di perantauan, kini hidup sendiri apa adanya. Hanya berbatas dinding rumah, kakak kedua juga tinggal sendiri. Satu-satunya anak yang masih hidup, tinggal dan bekerja di Jakarta dan alhamdulillah bisa pulang setiap lebaran tiba. Kakak ketiga yang tadinya juga tinggal di kampung, saat ini tinggal bersama anaknya di Duri, Riau.

Dalam kehidupan, saya mempercayai, selalu ada hikmah pada setiap kejadian. Begitupun dengan tiket yang mengantarkan saya pulang kampung ini. Bagaimana kisahnya, akan saya ceritakan pada artikel berikutnya, setelah saya sampai di kampung nanti. Insya Allah.

Join the Conversation

11 Comments

    1. Senang banget bisa pulang kampung, dan selamat juga bisa ada rezeki untuk pergi kesana. saya sendiri ga pernah pulang kampung.

      1. Najmi:
        Balik ke Jakarta, kondisi fisik saya drop, karena naik bus selama 41 jam. Makanya belum sempat menulis sambungannya, apalagi kerjaan menumpuk

        1. Selvijua:
          Alhamdulillah, sudah tiga tahun tidak bisa pulang. Allah memberi jalan, hingga akhirnya sempat juga melihat kampung dengan segala kondisinya.

    1. Betul, ibu Sum. Allah memberi kejutan tak terduga, sehingga saya bisa melihat kampung lagi setelah 3 tahun tidak pernah pulang.

    1. Aduh, Vharanie. Kembali ke Jakarta badan rasanya remuk gara-gara 41 jam dalam perjalanan dengan bus, kurang istirahat jadinya fisiknya ngedrop, hingga nggak sempat menulis sambungannya.

    1. Sudah tentu Yanti. Karena sudah tiga tahun tidak bisa pulang, akhirnya ada kesempatan juga bersua lagi dengan keluarga besar di kampung.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.