Berdamai Dengan Musibah

Minggu lalu menjelang puasa, kedua anak saya datang ke rumah di Tangerang. Karena masih berada di studio di Jakarta, saya tidak tahu kedatangan mereka. Karena berangkat dari Klender jam 10 malam, mereka baru sampai di rumah sudah menjelang tengah malam.

Karena akan menyambut datangnya bulan Ramadhan, anak-anak lalu mengajak bundanya pergi belanja sembako untuk persediaan. Pulang dari pasar, sebagian belanjannya lalu dimasukkan ke dalam kulkas.

Sabtu, dua hari menjelang awal Ramadhan, kulkas rusak. Karena tidak ada tempat menyimpan, sebagian isi kulkas yang tidak bisa tahan lama, diberikan kepada tetangga. Saya diberitahu lewat telpon, tapi karena ada teman yang sudah pulang duluan, saya tidak bisa meninggalkan studio untuk pulang ke Tangerang. Walau studio agak sepi, tapi tidak bisa juga hanya ditungguin satu orang.

Puasa pertama hari Senin, saat santai di Studio, saya melihat bengkak di kaki saya semakin membesar, dan terasa mengganggu saat shalat,juga kalau berjalan, karena sendal yang saya pakai sudah terasa sempit. Hari Selasa saya pergi ke Puskesmas Tomang. Setelah melakukan pemeriksaan, dokter puskesmas menyarankan saya untuk melakukan pemeriksaan yang lebih intens ke dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit. Saya lalu memilih Rumah Sakit Sumber Waras sebagai tempat rujukan, karena dekat dari Puskesmas.

Berbekal surat pengantar rujukan dari Puskesmas, dengan gojek saya pergi ke RS Sumber Waras. Setelah mendaftar di ruang pendaftaran, lalu antri di ruang tunggu poli penyakit dalam. Tibalah giliran saya diperiksa oleh dokter Edi, spesialis penyakit dalam.

Setelah melakukan pemeriksaan dokter mengatakan, kemungkinan bengkaknya kaki saya karena efek dari obat darah tinggi yang saya konsumsi setiap hari. Dokter lalu menawarkan obat pengganti dan juga obat untuk mengurangi pembengkakan di kaki saya. Sayangnya obat pengganti yang diberikan dokter belum bisa saya dapatkan hari itu karena lagi ada gangguan di sistem jaringan BPJS, sehingga saya disuruh datang esok harinya untuk mengambil obat tersebut.

Rabu pagi saya pergi ke kantor client di Puri Kembangan. Setelah urusan selesai, saya berencana mengambil obat ke Sumber Waras. Saat transit di halte busway Rawa Buaya handphone saya berdering. Ketika diangkat seorang asisten dari Client saya di Kebayoran Baru mengatakan bahwa bossnya masuk ICU.

Tanpa berpikir panjang lagi saya lalu meneruskan perjalanan saya menuju rumah client saya tersebut, untuk menanyakan keadaan si pasien. Rupanya di rumah tidak ada orang selain asisten rumah tangga. Saya lalu langsung menuju rumah sakit Pelni dimana pasien dirawat.

Di RS Pelni saya langsung menuju ruang perawatan ICU dan bertemu istri pasien yang mengantar saya ke ruang perawatan. Saat bertemu dengan sang client, seorang pensiunan di perusahaan yang berada di kampungnya Andrea Hirata, yang sudah berlangganan servis komputer dengan saya sejak tahun 1997, dan sudah seperti keluarga sendiri, saya berusaha menahan diri dan juga rasa sesak di dada.

Pasien saat itu sedang di suapi oleh perawat pribadi yang telah mendampingi pasien beberapa bulan belakangan. Saat diberitahu kedatangan saya, pasien agak lupa. Beratnya sakit yang dideritanya membuatnya sering kehilangan daya ingat. Namun begitu daya ingatnya kembali, beliau tersenyum kepada saya, membuat hati jadi luruh, dan tanpa terasa ada genangan di pelupuk mata.

Sebenarnya saya ingin menemani lebih lama, tapi karena saya harus mengambil obat saya ke Sumber Waras. saya terpaksa pamit lebih cepat.

Selesai shalat dzuhur di masjid yang berada di samping RS Pelni, saya menlanjutkan perjalanan dengan gojek, meninggalkan RS Pelni menuju RS Sumber Waras. Antri sejenak di bagian farmasi Sumber Waras, saya akhirnya mendapatkan obat saya, pengganti obat sebelumnya. Keluar dari Sumber Waras saya langsung naik busway menuju Kalideres, lalu disambung lagi beberapa kali naik angkot, dan terakhir setelah berbuka puasa di masjid At-Taqwa Sepatan, saya melanjutkan perjalanan pulang dengan gojek.

Pagi ini saya lalu memeriksa kulkas yang rusak, alhamdulillah sekitar satu jam kemudian, kulkas tersebut kembali bekerja.

Dari sekian kejadian yang menimpa saya maupun orang-orang disekitar saya serta keluarga, saya belajar banyak bagaimana berdamai dengan musibah, menyikapinya dan menyadari bahwa tiada satu kejadianpun yang lepas dari pengetahuan Allah, dan saya harus menerimanya dengan ikhlas.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *