Berkelana di Ranah Minang (2): Padang, Antara Was-was dan Kepasrahan

Pukul 12 lewat beberapa menit, penumpang pesawat Lion Air menuju Padang dipersilakan naik pesawat di pintu 14. Para penumpang yang tadinya berkumpul di pintu 12 sesuai dengan yang tertera di tiket, terpaksa harus keluar dari ruang tunggu pintu 12 dan berrebutan menuju pintu 14.

Saya berusaha menahan diri agar tidak ikut-ikutan berebutan keluar dari pintu 12, dan berjalan santai menuju ruang tunggu keberangkatan pintu 14.

Dari ruang tunggu pintu 14 kami tak lagi harus menunggu, tapi langsung menuju pesawat yang telah menunggu di tempat parkir. Saya berjalan santai menuju pesawat, dan berjalan lebih belakangan karena ingin mengabadikan pesawat tanpa terhalang oleh penumpang yang antri menaiki pesawat.

Naik pesawat paling belakangan juga menguntungkan bagi saya, karena begitu naik mayoritas penumpang telah duduk di tempatnya masing-masing. Sehingga saya dapat berjalan menuju tempat duduk saya bangku dengan omor 39C tanpa harus berdesakan dengan penumpang lain, sementara tas punggung masih bertengger di tempatnya.

Kalau Anda sudah biasa naik pesawat Lion Air Boing 737-900 ER, maka Anda pasti sudah tahu posisi bangku atau seat 39C itu sebelah mana. Yaitu barisan kursi paling belakang, dimana bangku tempat duduknya tak bisa direbahkan, karena sudah mentok dengan dinding WC!

Bagaikan kenek angkot yang naik belakangan, begitu selesai meletakkan tas punggung saya di bagasi, kemudian lalu duduk sayapun lalu nyeletuk: “Tarik mang…!

Bagaikan gayung bersambut, operator pesawatpun menyambutnya dengan ucapan meyuruh mengencangkan tali ikat pinggang pengaman, dilanjutkan dengan peragaan pemakaian peralatan keselamatan bila terjadi kecelakaan atau nyemplung di laut.

Sementara sang pramugari asyik bekerja bak peragawti, pesawatpun mulai bergerak meninggalkan lapangan parkir menuju taxi way yang berakhir di ujung landasan dan kemudian menuju run way atau landas pacu.

Tapi sebelum memutar ke landas pacu, pesawat berhenti. Rupanya ada pesawat lain yang akan mendarat, sehingga kami harus memberi prioritas buat mereka yang akan turun lebih dahulu. Agar mereka tak turun secara paksa mencium bumi gara-gara kehabisan bensin di udara.

Tapi seperti Belanda minta tanah, kata orang kampungku. Di kasih satu mau dua, dikasih semeter mau sehektar. Begitu juga pesawat yang mau turun ini, sudah di kasih kesempatan turun satu, eh…. masih ada saja lagi yang mau turun. Dikasih lagi, masih ada saja lagi yang minta prioritas. Hingga akhirnya kami harus mempersilakan 4 pesawat turun berurutan, hingga kami harus menunggu sekitar duapuluh menit. Busyet dah…..

Setelah pesawat kami meluncur di landas pacu dan lalu terbang bak elang raksasa, barulah saya menyadari. Hm, tidak terasa….. sudah hampir 25 tahun saya tak naik pesawat terbang, gara-gara keenakan mudik ke Padang naik bus, yang berhenti langsung di jalan kecil langsung menuju rumah.

Capek mengobrol sama tetangga sebelah, saya akhirnya tertidur. Ketika terbangun rupanya kami sudah sampai di atas pulau Pisang dan pulau Angsa Dua yang tidak jauh dari pantai Padang. Sejenak awak pesawatpun mengumumkan bahwa beberapa saat lagi pesawat akan mendarat di Lapangan Terbang Internasional Minangkabau.

Setelah mendarat cukup mulus dan berhenti di lapangan parkir, sayapun turun dari pesawat. Karena duduk paling belakang, sayapun turun lewat pintu belakang.

Ada keuntungan dan kerugian yang saya dapatkan turun dari pintu belakang ini, dibanding dengan penumpang yang turun dari pintu depan.

Kerugiannya, saya harus langsung diterpa panasnya matahari yang menyengat di lapangan parkir pesawat. Sementara penumpang yang turun di pintu depan, bisa berjalan santai melewati garbarata atau belalai yang terhubung antara pesawat dengan ruang kedatangan penumpang.

Untungnya, saya bisa mengabadikan dengan kamera saya, sisi dalam gerbang kedatangan Bandara Minangkabau ini.

Sampai di teras gedung bandara saya mengaktifkan kembali hp yang selama penerbangan tadi dimatikan. Disana saya melihat sms dari anak saya yang tadi mengantar, menanyakan apakah saya sudah sampai. Selagi membaca sms hubungan teleponpun masuk, ketika saya lihat rupanya dari cucu saya sekeluarga yang datang menjemput.

Setelah berkenalan dengan istri dan keluarganya yang baru sekali ini bertemu, kamipun meluncur menuju kota Padang, melihat keadaan kota Padang yang setahun lalu luluh lantak di hantam gempa. Namun sebelum berkeliling, kami menyempatkan diri singgah makan sate KMS di jalan Patimura, yang menurut ceritanya adalah sate yang paling top di kota Padang saat ini.

Kabar ini pun tampaknya tak salah, setelah saya ikut menikmatinya. Hanya saja mungkin karena faktor usia, saya merasakan dagingnya agak kurang matang rebusnya, sehingga saya tak bisa mengunyahnya hingga tuntas.

Setelah makan sate, kamipun berkeliling. Melihat kondisi kota Padang setelah setahun di hoyak gempa.

Kota Padang memang terlihat telah menggeliat dari keterpurukannya karena di hantam gempa. Tapi juga tak bisa di pungkiri, gerak kehidupan rakyat juga tak bisa disembunyikan dari rasa cemas dan was-was.

Ketika terakhir saya berkunjung kesini tahun 2005 silam, kehidupan rakyat terlihat begitu penuh optimis dan semarak. Pusat perdagangan di pasar raya begitu memperlihatkan masa depan yang cerah, dengan toko-toko yang isinya penuh sesak. Kemacetanpun bukan lagi suatu hal yang aneh. Namu kini, dari penglihatan yang hanya sepintas saja sudah kelihatan Padang memang belum sepenuhnya pulih.

Jantung penduduknya belum sepenuhnya bisa berdetak normal. Isu begitu mudah di percaya, dan juga begitu mudahnya berhembus. Sehingga pedagang tak lagi berani menumpuk persediaan, membuat toko-toko seperti kehabisan stok.

Belum sepenuhnya memang, kota Padang sempat saya kunjungi. Saya hanya mencoba mengunjungi beberapa tempat yang pada saat gempa dulu hancur. Seperti hotel Bumi Minang yang sampai saat ini masih dibiarkan sebagaimana keadaannya ketika di timpa gempa dulu. Tetangganya, hotel Ambacang telah mulai berbenah dan saat ini tengah mengerjakan fondasi untuk bangunan baru.

Gedung Primagama sudah diratakan, tapi belum kelihatan aktifitas yang nyata. Gedung bank Mandiri yang berada di jalan Bagindo Azis Khan, kelihatan juga telah mulai direnovasi, kerangka bangunan gonjong, ciri khas bangunan Minangkabau, yang terbuat dari kerangka besi beton telah terpasang di puncaknya.

Masih banyak yang belum sempat saya lihat, semoga dengan waktu kunjungan yang terbatas ini, saya masih punya kesempatan untuk mengunjunginya, insya Allah…

 

 

Selamat datang di Bandara Internasional Minangkabau

 

Hotel Bumi Minang, belum tersentuh perbaikan

 

 

Salah satu sudut Hotel Bumi Minang

 

Hotel Ambacang, mulai membangun fondasi

 

 

Gedung Bank Mandiri, mulai direnovasi
Gedung Primagama, baru diratakan belum terlihat aktifitas pembangunan

 

 

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *