Berkelana di Ranah Minang (5) Muaro, Nafas Kehidupan Orang Padang Sejak Dulu Kala

Awal pusat sejarah dan kehidupan kota Padang ada di Muara atau orang Padang menyebutnya Muaro.

Muaro adalah muaranya Batang (sungai) Arau. Hulunya adalah bukit-bukit yang mengelilingi Kota Padang. Dari dan ke Muaro inilah denyut nadi kehidupan warga Padang pada jaman dahulu bemula. Begitu juga awal penjajahan bangsa asing. Seperti kehadiran VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pada tahun 1663.

Melalui Muaro ini pulalah François Thomas Le Même, seorang bajak laut dariPerancis yang bermarkas diMauritius dengan kapal utama berkuatan 12 meriam, menguasai dan menjarah kota Padang pada tahun 1793.

Melalui Muaro ini pulalah kemudian pada tahun 1795, kota Padang diambil alih oleh Inggris dan menjadi daerah kekuasaannya, akibat kekalahan Belanda dalamperang Anglo-Belanda ke-4. Namun pada tahun 1819, pasca peperangan era Napoleon, Belanda mengklaim kawasan ini yang kemudian dikukuhkan melalui perjanjian Traktat London yang ditandatangani tanggal 17 Maret 1824

Selain dari Teluk Bayur, dari Muaro ini jugalah masuknya tentara pendudukanJepang pada tanggal 17 Maret 1942.

Kini walaupun pelabuhan Teluk Bayur telah menjadi Pelabuhan Samudera, namun Muaro tetap bertahan sebagai bagian dari penyambung nafas kehidupan warga Padang. Walau tidak lagi mayoritas.

Ribuan penduduk Kepulauan Mentawai masih membutuhkan kehadiran Muaro ini. Dari sanalah kapal-kapal kecil berlayar pulang dan pergi membawa bekal bahan kebutuhan pokok penduduk Kepulauan Mentawai dan sekitarnya. Begitu juga sebagian nelayan Padang yang sudah memakai kapal bermotor, menjadikan Muaro ini sebagi tempat sandar kapal maupun perahu mereka.

Ribuan kisah dan cerita telah berlaku dan terjadi disini, termasuk diantaranya kisah si Malin Kundang yang terkenal sebagai anak durhaka yang tidak mengakui ibu kandungnya sendiri yang sudah tua dan renta. Hingga akhirnya disumpahi sang ibu yang kecewa dengan anaknya hingga menjadi batu.

Begitupun kisah Siti Nurbaya yang terkena kawin paksa dengan Datuk Maringgih karena hutang si orang tua yang terjebak kelicikan dengan sang Datuk. Ketika mati, akhirnya di kubur di bukit di samping Muaro ini.

Cukup sudah saya berkisah, kita lihat saja bagaimana keadaan Muaro pada saat ini.

13038182741577734700
Parkir

 

13038184391911520023
Tenang dan damai, semoga prahara itu tak terulang lagi

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.