Tragedi Sepatu Baru

  Tulisan sebelumnya : Merantau ke Pekanbaru (31 Tamat) Setibanya aku dan Tuan Maia di kampung, aku terpaksa menginap di rumah keluarga istrinya, di Pintu Koto, perhentian terakhir oplet yang menambang dari Kamang Ilia ke Bukittinggi. Karena kami sampai di Pintu Koto hari sudah tengah malam. Dari perhentian oplet ke rumahnya kami berjalan kaki hanya beberapa menit. Besoknya […]

Merantau ke Pekan Baru (30)

Dikejar Bayang-bayang Ketakutan   Hari masih pagi, anduang  Ipah dan anduang Pidan sudah berangkat ketempat kerja masing-masing. Anduang Pidan ke kompeksi pakaian, disana dia bekerja sebagai tukang jahit. Anduang Ipah ke Sungai Siak, dekat jembatan ponton yang menghubungkan kota Pakanbaru dengan kota Rumbai. Jembatan yang selalu aku kagumi. Karena dia akan terbelah dua ditengahnya, ke masing-masing sisi […]

Merantau ke Pekan Baru (28)

Setelah dikurung di kamar gantung, akhirnya aku kembali ke Pasar Bawah, bersama anduang Ipah dan Pidan. Pengembaraanku di jalanan kota Pekanbaru kembali berlanjut. Pagi itu setelah kedua kakakku pergi ketempat kerjanya masing-masing, akupun pergi meninggalkan rumah tempat kost kami. Pertama aku pergi ke pabrik roti yang hanya berjarak dua tiang listrik dari rumah kami. Aku melihat […]

Merantau ke Pekan Baru (27)

Bosan duduk di tangga, aku turun dan masuk kedalam oloh, melihat kesibukan para tukang yang sedang bekerja itu lebih dekat. Aku berpindah-pindah dari bangku yang satu ke bangku yang lain. Setiap bangku di isi satu tukang, dan setiap tukang membuat perabot yang berbeda. Tidak setiap tukang bisa mengerjakan semua pesanan, tergantung pengalamam dan masa kerja […]