Detik-detik yang menentukan

Jalan Raya Pasar Minggu

Kisah sebelumnya:
http://diankelana.web.id/jam-jam-penuh-ketegangan/

Masih ada waktu 50 menit kata saya dalam hati, sambil berjalan menuju jalan MT Haryono yang berada di depan saya, kemudian terus menyeberang melewati kolong jalan layang dan tiba di sisi selatan jalan tersebut.

Dari pinggir jalan saya melihat gedung berwarna coklat. Posisinya yang strategis pas di sudut persimpangan jalan MT Haryono dan jalan Pasar Minggu, pasti akan memudahkan siapapun yang mencarinya. Agar tak repot mencari, saya langsung bertanya kepada petugas security yang berada di gerbang pintu masuk. Menanyakan pintu masuk MayBank. Setelah dijelaskan sambil melihat ke arah gedung, saya berjalan mengikuti arahan petugas security tersebut.

Dalam perjalanan menuju bank, sebuah pesan WhatsApp masuk. Terlihat sebuah gambar hasil tangkapan layar laporan transaksi bank yang menyatakan transferan yang dikirim ke rekening saya, sudah masuk. Berikut pesan selanjutnya yang menyuruh saya untuk membeli US 300 dollar. Hanya saja karena tulisan di gambar tangkapan layar tersebut cukup kecil, saya tidak bisa membacanya dengan jelas, sayapun tak menanyakannya lebih lanjut karena saya sudah sampai di depan pintu MayBank.

Seorang petugas security menyambut saya di balik pintu MayBank, dan pertanyaan standar kembali dia ajukan.

“Ada yang bisa kami bantu, pak?”
“Saya mau beli US dolar, pak, bisa?”
“Bisa pak, tapi kita akan lihat dulu berapa rate hari ini…” kata sang petugas sambil menunjuk sebuah monitor yang menempel di dinding salah satu sisi lobby bank itu. Saya mengikuti dengan mata arah telunjuknya. Kami menunggu sejenak, sambil tetap melihat pergerakan tampilan nilai tukar uang rupiah terhadap uang asing hari itu, yang bergantian tampil di layar monitor. Sang petugas pun menyiapkan selembar kertas dan ballpen di tangannya.

“Nah itu dia, pak!” kata sang petugas yang dengan sigap mencatat di kertas yang sudah disiapkannya. Kertas tersebut lalu diserahkannya kepada saya, dan sayapun membaca catatan nilai tukar yang tertulis di kertas tersebut.

“Oke, pak. Saya akan beli, tapi saya akan mengambil uang dulu. ATM BCA ada nggak dekat sini, pak?”
“Nggak ada, pak. Coba bapak lihat di samping gedung kita ini ada Indomaret, mungkin disana ada…”
“Oke, pak. Terimakasih, saya akan coba lihat ke sana…”

Keluar dari bank, hal pertama yang saya lakukan adalah membalas pesan di WhatsApp, menanyakan berapa uang yang barusan di transfer. Sambil berjalan menuju Indomaret, pesan di WhatsApp kembali masuk, dan di sana tertulis angka 4,5 juta, berikut di bawahnya gambar tangkapan layar bukti transfer yang dia kirim ulang. Di sudut kanan bawahnya juga tertera waktu pengiriman pesan, pukul 10.25.

Saya tidak menemukan Indomaret di samping bank yang bersisian dengan jalan raya Pasar Minggu tersebut, seperti yang dikatakan petugas tadi. Saya lalu menanyakan dimana ATM BCA kepada seorang petugas parkir yang ada disana. Sang petugas mengatakan bahwa tidak ada ATM BCA dekat sana, tapi dia menyarankan untuk pergi ke SPBU Pertamina yang berada di seberang jalan raya Pasar Minggu tersebut.

“Di pom bensin itu ada ATM, pak…” kata sang petugas parkir.

Setelah mengucapkan terimakasih, saya mengikuti arahan petugas parkir. Menyeberangi jalan raya Pasar Minggu, lalu berjalan ke arah selatan beberapa meter menuju pom bensin, seperti yang dikatakannya.

Saat saya sampai, saya lihat area pom bensin atau SPBU Pertamina tersebut cukup luas dan memanjang ke arah barat. Sekitar 100 meter dari pinggir jalan.

Sebenarnya saya agak ragu untuk masuk kesana, karena saya tidak melihat neon box ATM BCA, yang biasanya selalu ada disetiap lokasi ATMnya. Tapi, agar tidak penasaran saya tetap masuk, walau harus dengan langkah yang semakin dipercepat.

Benar saja, saya menemukan ada dua ATM di bagian ujung lokasi pengisian BBM. Tapi keduanya bukan ATM BCA!

Dengan langkah yang semakin dipercepat saya meninggalkan lokasi pom bensin. Sambil celengukan kiri-kanan jalan diiringi pesan melalui WhatsApp yang datang bertubi-tubi menanyakan posisi dan perkembangan perjalanan saya dalam mendapatkan ATM dan membeli dollar. Begitu juga telepon yang bergantian masuk dari Bukittinggi dan agen yang sudah menunggu saya di kedutaan sebuah negara di Asia Tengah.

Capek berjalan dengan langkah yang boleh dikatakan setengah berlari dengan tubuh yang sudah mandi keringat, akhirnya saya memesan Grab. Tak lama ada pengemudi yang menerima order saya, tapi di aplikasi saya melihat waktu kedatangannya 4 menit, rasanya itu terlalu lama, apalagi kemacetan yang putus sambung di sepanjang jalan raya Pasar Minggu tersebut. Ingin saya membatalkan order, untung saja kesadaran saya mengingatkan, apakah saya akan mendapatkan penggantinya dalam wakru yang cepat dan waktu kedatangan yang juga seketika? Sementara jam di aplikasi sudah menunjukkan pukul 10.31.

Saya segera naik ojek yang saya order, dan berpesan kepada pengemudinya agar membantu melihat ATM BCA dalam perjalanan menyusuri jalan. Ojek saya arahkan menuju ke Selatan, dengan pertimbangan semakin dekat ke titik temu kami dengan agen yang sudah pasti tak mungkin lagi di Gelael.

Handphone saya tak berhenti berdering, tapi saya tidak bisa menjawabnya karena berada di kantong samping celana saya. Saya khawatir bila saya mengeluarkannya dari kantong, alat komunikasi saya satu-satunya itu jatuh dan rusak, sehingga malah akan mengacaukan mission impossible yang saya jalani saat itu. Dan lagi berisiknya suara kendaraan dan hembusan angin sepanjang jalan, akan membuat saya tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

Saya tidak tahu bagaimana kepanikan dua orang yang tak putusnya mengontak saya itu. Karena deadline kami adalah pukul 11.00. Sementara saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10.37, belum ketemu ATM, belum mencari money changer lalu berjalan lagi mencari dimana lokasi sang agen!

Bersambung

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.