Diajak Ngabuburit Oleh Bus Transjakarta

 

Selesai mengikuti peluncuran sebuah merek smartphone di Ballroom Hotel Grand Sheraton Gandaria City kemarin sore (4/6/18). Dibawah terik matahari yang masih menyengat sekitar pukul 16, saya berjalan menuju halte busway Kebayoran Lama yang jaraknya dari hotel sekitar 1 kilometer. Rencananya saya akan naik bus Transjakarta jurusan Kebayoran Lama – Grogol yang melewati Slipi, nanti dari Slipi menyambung dengan mikrolet jurusan Tanah Abang.

Tidak ingin kartu Danamon Flazz saya kehabisan saldo untuk naik busway, di Halte Busway Kebayoran Lama itu saya lalu mengisi deposit duapuluh ribu. Saat menunggu kartu flazz saya diisi seorang penumpang mendekat ke loket, lalu minta tiket transit ke Tanah Abang.

Selesai menambah saldo saya lalu menanyakan kepada petugas loket apakah saya bisa memakai kartu Danamon Flazz di busway yang ke Tanah Abang itu, yang kemudian dijawab bisa. Sayapun lalu berjalan menuju bus Trasjakarta jurusan Tanah Abang tersebut. Hal itu saya lakukan karena bus yang jurusan Kebayoran Lama – Grogol belum ada di halte.

Saat saya naik dan mencari tempat duduk di dalam bus Tranjakarta tersebut, terlihat hanya beberapa orang penumpang, tidak sampai sepuluh orang. Tidak menunggu lama, bus pun berjalan.

Ini adalah pertama kali saya menaiki busway jurusan Kebayoran Lama – Tanah Abang, jadi saya tidak begitu tahu jalur mana yang akan di tempuhnya, saya hanya mengira-ngira. Yang saya yakini bus ini akan melewati kawasan Permta Hijau dan terus melewati Stasiun Palmerah. Yang belum bisa saya pastikan adalah sampai di Slipi bus ini akan melewati jalur mana, apakah akan belok kiri melewati perapan Slipi, lalu belok kanan lagi melewati Petamburan, atau dari Palmerah lurus menuju Pejompongan dan nanti di Karet belok kiri menuju Tanah Abang.

Jam baru melewati beberapa menit dari pukul empat sore, saya memperkirakan akan sampai di studio di Kota Bambu sebelum magrib, bahkan mungkin bisa istirahat sejenak menunggu datangnya azan magrib, saatnya bebuka puasa. Karena kalau diambil garis lurus, jarak Kebayoran Lama ke Kota Bambu ini hanya sekitar 6 kilometer.

Setelah memutar berbalik arah di halte Kebayoran Lama, bus melaju sepanjang Simprug lalu menanjak di jembatan layang Permata Hijau lalu memutar kekiri 360 derajat sambil menurun menuju kawasan Permata Hijau, Stasiun Palmerah dan Jembatan layang Slipi.

Karena saat itu memang jamnya bubaran kantor, maka sepanjang jalanan yang saya lewati sudah mulai padat merayap, dan semakin padat hingga sampai di Jembatan layang Slipi pukul 5 lewat beberapa menit.

Seperti dugaan saya semula, saat sampai di Jembatan Slipi, bus Transjakarta yang saya tumpangi ini mengambil jalur lurus ke arah Pejompongan. Dengan bermuaranya kendaraan yang dari arah Permata Hijau dan dari arah Grogol di bawah jembatan Slipi ini, maka jalur yang menuju Pejompongan ini semakin padat, sehingga kendaraan yang lewat disana mulai merayap, macet.

Mengalami macet sepanjang jalan Pejompongan, saya membatin kalau harapan untuk sampai di Kota Bambu sebelum azan magrib semakin menipis.Hanya saja saya tidak tahu posisi saya nanti saat datangnya azan magrib. Harapan saya mudah-mudahan jangan di saat saya masih dalam perjalanan dengan bus Transjakarta ini, sebab saya tidak punya persiapan untuk berbuka di atas kendaraan, walaupun saya membawa bekal yang diberikan saat usai acara tadi, tapi saya merasa tidak nyaman berbuka sendiri di dalam bus, sementara penumpang yang lain masih puasa karena tidak punya bekal.

Pergerakan bus semakin tersendat saat mendekati persimpangan Karet. Jam di handphone saya sudah menunjukkan pukul 17.29, berarti 18 menit lagi menjelang datangnya azan magrib.

Saat melewati persimpangan Karet dan memasuki jalan Mas Mansyur menuju Tanah Abang, jalan bus lumayan bisa lebih cepat dari sebelumnya, karena kemacetannya tidak separah di Pejompongan. Hanya saja waktu berbuka juga semakin dekat, hanya tinggal beberapa menit.

Sampai di halte terakhir bus Tranjakarta yang berada dekat masjid Al-Makmur, Tanah Abang. Saya turun dan segera berjalan melewati pasar Tanah Abang Blok B. Persis saat berjalan di bawah jembatan Metro Tanah Abang di depan Blok A, azan magrib pun berkumandang…

Sambil tetap berjalan, saya melihat di sepanjang kaki lima orang sudah berbuka puasa, di warung-warung kaki lima maupun di dekat pedagang minuman kemasan. Tapi saya tidak begitu nyaman untuk ikut berbuka disana. Saat sampai di depan jalan Tanah Rendah, dikejauhan saya melihat ada mushalla, sayapun lalu berjalan menuju mushalla tersebut.

Baru saja saya sampai di depan mushalla yang dipadati orang yang lagi berbuka puasa dan belum sempat meletakkan tas dan tentengan, saya langsung disongsong dan disodori air minum oleh salah seorang pengurus mushalla, dan seorang lagi menyodorkan piring yang berisi lontong, gorengan, bakwan dan bihun untuk berbuka puasa.

Setelah meletakkan-tas dan tentengan, baru saya meminum air kemasan yang diberikan tadi, dan mengambil piring yang berisi takjil untuk berbuka puasa. Tapi sebelum memakan takjil saya lebih dulu mencuci tangan dan sekalian berwudhuk, persiapan untuk shalat magrib. Untuk menghargai takjil yang diberikan pengurus mushalla, saya tidak  mengeluarkan bekal yang diberikan di hotel Sheraton tadi, dan menikmati apa yang sudah terhidang di hadapan saya.

Selesai berbuka dan shalat magrib berjamaah, saya melanjutkan perjalanan ke Kota Bambu, jalan kaki lebih 1 kilometer melewati jembatan layang Jati Baru yang melintasi stasiun Tanah Abang, dengan kondisi yang lebih segar dari sebelumnya. Sambil jalan santai ditemani sore yang semakin gelap, pengalaman diajak ngabuburit oleh bus Trasnjakarta itupun membuat saya tersenyum…

 


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *