Disaat yang Tepat, CNI-Sun Chlorella Membantu Saya

 

Senin, 24 Juli 2017. Rajeg, Tangerang. Kepala terasa pusing saat membenahi barang-barang yang baru saja dipindahkan dari Kunciran. Ya, kami baru saja pindahan dari rumah sewa bulanan di Kunciran, ke rumah di daerah Rajeg, Tangerang.

Selasa. Akibat kena hujan gerimis kemarinnya, hari ini saya harus istirahat total di tempat tidur. Badan meriang, suhu tubuh tinggi mendekati 39° C, sudah pakai jaket, masih saja ditutup dengan selimut tebal. Setelah sempat tertidur begitu usai minum obat, saat terbangun badan basah oleh keringat. Walau suhu tubuhnya sudah mulai agak turun, tapi kepala rasanya mau pecah saking sakitnya. Ambil tablet obat sakit kepala yang terletak di bagian kepala tempat tidur, lalu langsung diminum dan didorong dengan bantuan air hangat, lalu tidur lagi!

Setelah bedrest selama tiga hari, hari Jumat tubuh saya mulai agak mendingan.Walau masih lemas, tapi saya tetap berjalan ke mesjid untuk melaksanakan shalat jumat. Si bungsu Rizqy yang saya harapkan untuk menjadi teman menuju masjid yang jaraknya sekitar 300 meter dari rumah, justru tidak bisa ikut. Alasannya pusing sambil tiduran di kasur, hingga akhirnya saya jalan sendiri menuju masjid.

Pulang dari masjid selesai jumatan, sampai di rumah, saya dapati Rizqy sudah mulai muntah-muntah, suhu badannya pun meninggi. Berselang hanya sekitar 15 menit, Rizqy muntah lagi, begitu seterusnya. Ibunya setiap sebentar ke kamar mandi membersihkan baskom tempat muntahan Rizqy. Sementara saya hanya bisa membantu memijit tubuh Rizqy saat dia muntah, karena kondisi saya juga belum pulih benar.

Setelah semalaman begadang, Sabtu pagi saya langsung memanggil Uber Car untuk membawa Rizqy ke rumah sakit Sumber Waras, rumah sakit langganan KJS kami sekeluarga. Sampai di RS, saat mau mengambil uang ke ATM untuk membayar mobil yang kami tumpangi, si pengemudi malah mengatakan, “Nanti saja pak, transfer saja. Nanti saya akan sms nomor rekening saya…! katanya sambil bersiap mengantar penumpang lain ke jalan Sudirman. Saat itu kami memang menaiki Uber Pool. Dimana sang pengemudi boleh menaikkan penumpang lain yang searah dengan penumpang sebelumnya, dalam hal ini, saya, Rizqy dan ibunya.

Kami langsung masuk ruang IGD RS Sumber Waras. Namun saat mendaftar dan menyerahkan kartu KJS, sang petugas pendaftaran menyuruh saya untuk minta surat rujukan ke Puskesmas. Tanpa berfikir panjang lagi, saya segera naik ojek menuju puskesmas Tomang yang terletak di jalan Pulo Macan. Sementara Rizqy bersama ibunya menunggu di rumah sakit. Begitu sampai di sana, saya mendapati gedung puskesmas tempat kami biasa berobat, sudah rata dengan tanah!

Saya lalu menanyakan kepada warga yang berada di sana, Puskesmasnya pindah ke mana. Lalu dikatakan kalau Puskesmasnya sudah pindah ke dekat kantor kelurahan baru, dekat jalan Mandala Selatan.

Karena sudah tahu lokasinya dan tidak begitu jauh dari jalan Pulo Macan, saya memutuskan berjalan kaki saja. Rupanya lokasi Puskesmas itu tidak berada di sekitar Kelurahan, tapi sekitar 300 meteran dari sana dan berada di jalan yang berbeda yang sebelumnya saya sempat lewati pertigaannya.

Dengan keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh dan juga baju beserta lapisan dalam jaket yang saya pakai, saya menemukan Puskesmas yang saja tuju. Saya langsung masuk dan menuju meja pendaftaran. Kebetulan meja pendaftaran lagi kosong, sehingga saya bisa langsung berbicara kepada petugasnya, meminta surat rujukan ke rumah sakit. Suatu hal yang membuat saya tak bisa berkata apa-apa lagi adalah saat petugas berkata: “Puskesmas tidak bisa mengeluarkan surat rujukan ke rumah sakit pada hari Sabtu. Begitu peraturan yang dikeluarkan oleh BPJS. Kalau bapak ingin protes, silakan bapak protes ke BPJS!

Dengan kondisi phisik dan psikis yang sudah tidak karuan, saya tidak ingin berdebat dengan petugas Puskesmas tersebut. Capek, suhu tubuh yang juga mulai meningkat serta batuk yang juga sudah mulai intim mengikuti kemana pergi, saya hanya bisa mengucapkan terimakasih kepada sang petugas, lalu dengan langkah gontai berjalan kaki menuju RS Sumber Waras. Dalam perjalanan menuju Sumber Waras yang berjarak sekitar setengah kilo itu, saya memikirkan langkah apa yang harus lakukan selanjutnya.

Begitu sampai di Sumber Waras, saya langsung menemui Rizqy dan ibunya. Lalu mengajak mereka pergi dari sana sambil memesan Uber Car lagi. Begitu Uber Car datang, kami tinggalkan rumah sakit tersebut. Dalam perjalanan menuju Petojo Utara tersebut, Rizqy sempat muntah dua kali. Dalam hati saya berdoa, semoga Allah memberi kekuatan kepada anak saya hingga sore nanti, saat saya akan melakukan langkah berikutnya untuk pengobatan sakitnya.

Kami sampai di Petojo utara. Turun dari Uber Car saya lalu menggendong Rizqy menuju rumah pamannya. Saya sudah memutuskan kami akan istirahat di sana hingga sore nanti. Sementara Nurul, putri tertua saya sudah menyarankan melalui telepon agar Rizqy dibawa ke klinik terdekat. Tapi saya tidak melaksanakan permintaannya, karena saya tahu bahwa yang dibutuhkan Rizqy saat ini adalah infus! Bila dibawa ke klinik paling hanya akan diberi obat-obatan, dan itu tidak akan ada gunanya, karena begitu diminumkan kepada Rizqy, hanya dalam waktu 5 menit bahkan kurang, obat itu akan dimuntahkan lagi. Yang saya harapkan saat ini hanyalah Rizqy tidak sampai mengalami dehidrasi, karena minimnya asupan makanan atau minuman yang mengaliri tubuhnya. Makanya setiap habis muntah, Rizqy selalu kami suruh minum. Walau beberapa saat kemudian minuman itu akan kembali dimuntahkannya. Saya tahu, saat ini saya sedang berjudi dengan waktu dan kekuatan Rizqy hingga sore nanti. Tapi hanya inilah satu-satunya jalan yang bisa saya lakukan, di saat kondisi kesehatan saya juga dalam bermasalah!

Lewat jam 5 sore saya memesan Uber Car lagi. Sambil mengirim sms kepada pengemudi Uber Car yang kami tumpangi tadi pagi, agar dia segera mengirimkan nomor rekeningnya, sehingga saya saya bisa segera membayar ongkos perjalanan kami dari Rajeg ke Sumber Waras.

Setelah Uber Car datang, kami segera menuju rumah sakit dengan tambahan bekal ransum dari keluarga pamannya Rizqy. Hanya berkisar 15 menit kami sampai di RS Sumber Waras lagi.

Saya menyuruh pengemudi Uber Car agar langsung menuju IGD. Begitu sampai kami disamperi petugas security yang kemudian segera mengambil kursi roda untuk membawa Rizqy ke ruang IGD. Setelah membayar Uber Car, saya langsung menyusul masuk ke ruang IGD. Saat sampai di dalam Rizqy masih di kursi roda, dan belum mendapatkan penanganan. Saya lalu menemui dokter jaga dan menjelaskan kondisi Rizqy. Dokter lalu melakukan pepemeriksaan setelah Rizqy di baringkan di salah satu tempat tidur.  Tak lama kemudian dokter lalu menyuruh perawat memasang infus.

Dengan terpasangnya infus, sayapun baru bisa merasa sedikit lega. Melihat tetesan cairan infus yang mengalir begitu cepat, saya juga yakin, bahwa kemungkinan Rizqy akan mengalami dehidrasi sudah mulai hilang. Benar saja, tidak sampai setengah jam, cairan infus Rizqy sudah kosong dan diganti dengan yang baru lagi. Saat diinfus, Rizqy masih sempat muntah dua kali. Namun memasuki infus kedua, dia sudah agak tenang. Suhu tubuhnya yang tadinya 39 derajat, sedikit demi sedikit mulai menurun. Setelah mendapatkan hasil lab atas pemeriksaan darah Rizqy, jam 3 dini hari, Rizqy dibawa ke kamar rawat inap di lantai 5.

Melihat kondisi Rizqy yang semakin membaik, pagi hari Minggu saya pergi ke Kota Bambu. Ke Studio Foto teman yang masih ada hubungan keluarga dengan istri saya. Saya sudah mendapat pemberitahuan ada sebuah kiriman untuk saya yang diantarkan oleh petugas TIKI ke sana. Setelah mengambil kiriman di studio saya lalu ke kamar kos yang berada di belakang studio. Setelah mandi dan berganti baju yang berulang kali basah oleh keringat kemarinnya, saya lalu membuka kiriman yang sudah saya tunggu-tunggu itu. Ada dua paket yang saya terima, pertama Hot Dark Chocolate dan CNI  Sun Chlorella tablet.

Kenapa saya begitu antusias menerima dua paket ini? Ini tak lain karena saat itu saya memang sangat membutuhkan keduanya. Kondisi phisik yang begitu drop setelah sakit dan belum juga sembuh, ditambah dengan kecapekan dan begadang semalaman saat mengurusi Rizqy ke rumah sakit. Kehadiran Hot Dark Chocolate ini sangat membantu saya menghangatkan tubuh saat pagi hari, juga saat begadang menunggui Rizqy di rumah sakit malam harinya. Begitu juga, kondisi phisik saya yang belum sepenuhnya sembuh, membutuhkan CNI Sun Chlorella untuk mengembalikan saya agar kembali pada kondisi normal.

CNI Sun Chlorella

Saya pertama kali mendengar nama produk CNI-Sun Chlorella ini di awal tahun tujuh puluhan, saat masih di Padang. Iklannya melalui radio maupun media luar ruang saat itu mulai terdengar gencar dan juga terpampang di papan reklame pinggir jalan. Saat itu siaran televisi masih belum begitu bisa dinikmati di Padang, kecuali hanya oleh orang-orang kaya. Itupun juga dalam tampilan siaran hitam putih, dan baru bisa dinikmati jam 5 sore. Tapi karena saat itu usia saya masih muda, saya merasakan belum membutuhkan suplemen makanan bergizi tinggi ini.

Menginjak Jakarta 1978, lalu mulai punya usaha sendiri. Seorang teman lalu mengajak saya untuk berbisnis, diantaranya mempromosikan produk CNI ini. Hanya saja karena saya tidak berbakat sebagai pedagang, apalagi menawarkan produk kepada calon konsumen, dengan halus saya menolaknya, dan meneruskan usaha saya sebagai fotografer. Namun teman lain yang juga ikut berbisnis sampingan sebagai tenaga pemasaran produk CNI ini, sempat memberi saya sampel produk untuk saya nikmati sendiri, dan alhamdulillah saya bisa merasakan khasiat dari produk yang saya konsumsi tersebut. Makanya saya begitu antusias saat menerima kiriman produk ini. Apalagi kedatangannya benar-benar disaat saya sangat membutuhkannya.

Pemulihan kesehatan dengan CNI-Sun Chlorella.

Setelah dirawat dua hari, akhirnya Senin sore Rizqy sudah di perbolehkan pulang dari Rumah Sakit Sumber Waras. Kepulangannya yang cepat ini, juga memberikan kesempatan bagi saya untuk recovery, istirahat penuh di rumah. Karena hari Jumat hingga Minggu saya harus hadir sebagai Juri di Olimpade TIK Nasional di aula gedung Kemendikbud, Senayan. Masa recovery atau pemulihan kesehatan saya ini, juga sangat terbantu oleh CNI-Sun Chlorella. Saya sengaja hanya mengkonsumsi tablet hijau tersebut hanya 5 butir perhari, disamping untuk berhemat hingga masa konsumsinya menjadi 6 hari, juga karena saya tidak ingin masa pemulihan saya berlangsung terlalu cepat, serta untuk menghindari efek samping bila CNI-Sun Chlorella ini mempunyai kontra indikasi dengan obat yang saya minum. Tapi syukurlah kecemasan saya itu tidak terbukti, sehingga saya tetap dapat merasakan manfaat dari khasiat CNI-Sun Chlorella ini.

Kehadiran produk ini, akhirnya memang benar-benar membantu saya tetap fit untuk aktif dan bisa hadir sebagai Juri bersama Ani Berta di Olimpiade TIK Nasional yang diadakan Komunitas Guru TIK yang dilangsungkan di Aula Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tanggal 4 hingga 6 Agustus lalu. Dimana Ani Berta hadir sebagai Juri Lomba Blog dan saya sebagai Juri lomba Fotografi.

Manfaat dan Kegunaan CNI-Sun Chlorella

  • Memenuhi kebutuhan gizi, sehingga meningkatkan kesehatan tubuh secara optimal.
  • Karena mengandung protein yang tinggi dan asam animo yang lengkap, CNI-Sun Chlorella baik untuk pertumbuhan dan perkembangan anak.
  • Memperbaiki kerusakan sel dan jaringan tubuh
  • Meningkatkan fungsi pembuangan racun atau kotoran dari dalam tubuh (proses detoksifikasi).
  • Menormalkan tekanan darah.
  • CNI-Sun Chlorella memiliki zat besi dan klorofil dalam jumlah yang cukup banyak, sehigga mampu mencegah dan mengatasi anemia.
  • Tingginya klorofil, beta karoten pada CNI-Sun Chlorella membuatnya efektif untuk mencegah dan membantu pemulihan penderita tumor dan kanker.

Karena saya sudah merasakan bukti khasiatnya. Khususnya CNI-Sun Clorella, yang dengan mudah di dapatkan di https://www.geraicni.com/product  maka saya tak ragu juga menyarankannya juga untuk Anda.

 


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *