Fatamorgana…

“Uda, biko sore tolong antakan awak ka Subarang Padang, da!

Srrr…, dadaku berdegup kencang. Gadis pemilik rumah yang disewa oleh bosku untuk studio reklame, yang kuincar diam-diam, minta tolong di antarkan kerumah kakaknya di Subarang Padang. Aku bagaikan kejatuhan bintang dari langit, mendengar permintaannya itu. Adakah selama ini dia juga memperhatikan aku, sebagaimana aku diam-diam tertarik dan mulai jatuh cinta padanya?

Konsentrasi kerjaku mulai buyar, khayalanku menerawang jauh. Aku tak sabar menunggu jam kerjaku selesai. Rasanya semua yang ada di hadapanku begitu indah, seindah bayangan-bayangan yang berkelebat di mataku, maupun rencana-rencana yang terbersit di hatiku.

Jam 5 sore aku membereskan semua peralatan kerjaku, lalu shalat ashar. Selesai shalat aku bersiap siap untuk berangkat dan nampaknya aku tak perlu menunggu lama. Dia muncul dari dalam rumah, aku tak bisa menyebutkan betapa cantiknya dia saat itu. Debaran jantungku semakin tak menentu, karena ini adalah pertama kalinya aku berjalan bersama seorang gadis, sejak aku merantau ke kota Padang ini.

Kami pamit pada ibu dan kakaknya yang mengantar hingga pintu rumah. Baru saja aku melangkahkan kaki, aku tersandung. Untunglah aku tak sampai jatuh, aku memang gugup, jantungku berdebar keras, keringat dingin membasahi tubuhku, dan aku tak tahu harus berbuat ataupun berkata apa.

Kami melangkah berdampingan keluar dari pekarangan rumah yang bagian depannya di jadikan studio itu. Wangi parfum yang dipakainya bertiup lembut menyapa hidungku, hal itu semakin membuat aku merasa terbang di awang-awang.

Kami menaiki bemo yang melintas di jalan Ujung Gurun itu. Darahku berdesir, ketika tangan kami bersentuhan saat hendak duduk. Bemo mulai bergerak membawa kami, mulutku terkunci. Aku tak tahu harus bagaimana membuka percakapan di antara kami. Padahal sehari-harinya kami sering bertegur sapa. Tapi kini, mulutku kelu dan nampaknya diapun mengalami hal yang sama, diam membisu. Sementara benih benih cinta yang selama ini kupendam, seakan mendapatkan peluang untuk mendapatkan balasan.

Suasana mulai mencair ketika kami harus berganti kendaraan di terminal oplet. Turun dari bemo aku mengeluarkan uang dari kantongku untuk membayar ongkos, tapi dengan cepat dia melarang aku membayarnya. Dia memegang pergelangan tanganku yang sedang memegang uang dengan tangan kirinya, sambil menyodorkan uang yang ada di tangan kanannya kepada sopir bemo.

Aku terkesiap, ketika tangannya menggengam pergelangan tanganku. Kembali debaran jantungku menghentak menghantam dadaku. Aku merasa serba salah serta salah tingkah dan lagi-lagi tak tahu harus berbuat apa.

Kami menaiki oplet yang menuju Teluk Bayur. Walau hanya sepatah dua patah, kami mulai mengobrol. Hal itu membuat perasaanku semakin berbunga-bunga, walau yang kami omongkan itu bukanlah kata-kata cinta.

Di Subarang Padang kami turun dari oplet yang kami tumpangi. Memasuki gang beberapa meter, lalu sampai di rumah yang kami tuju. Ada rasa bangga berjalan berdampingan dengan seorang gadis cantik disampingku, gadis yang selama ini mengguncang hatiku, bila aku berdekatan dengannya.

Kami sampai dirumah yang dituju. Setelah mengucapkan salam, kami disambut oleh kakaknya, lalu mengajak masuk kedalam rumahnya. Aku tinggal sendiri di ruang tamu, karena dia ikut masuk kedalam.

Beberapa saat kemudian dia keluar dari dalam rumah, kali ini tak sendiri. Seorang pemuda sebayaku mengiringinya sambil menggandeng tangannya. Setelah dekat dia lalu memperkenalkanya padaku.

“Kenalkan, uda. Iko kawan awak…” katanya sambil menggandeng tangan sang teman.

Aku terkejut bagai disambar halilintar, namun tanganku tetap ku ulurkan, walau mulutku terkunci.

Tanpa kembali ketempat dudukku, dengan bibir gemetar aku minta izin untuk kembali pulang, dengan alasan waktu magrib sudah dekat. Diiringi ucapan terima kasihnya, aku membalikkan badan dan langsung berjalan meninggalkan rumah itu.

Aku keluar meninggalkan pekarangan rumah itu dengan pandangan nanar, aku berjalan bagaikan tak menginjak bumi. Sukmaku bagaikan terbang meninggalkan ragaku, hawa panas terasa di sekitar mataku.

Tanpa menghiraukan oplet yang menawarkan jasanya, aku berjalan pulang. Sayup-sayup aku mendengar suara Eddy Silitonga melantunkan lagu yang saat itu sedang populer di radio.

 

biar, biarlah sedih
asalkan kau bahagia
biar, biarlah sedih
usah kau kenang lagi
biarlah kini…
hidupku sendiri

sunyi, biarlah sunyi
tanpa kasih dan sayang…
biar, biarlah sunyi
meski hatiku pedih
walaupun sedih…
kucoba bernyanyi

walaupun hidupku
tak seindah pelangi
walaupun laguku
tak seindah lestari

biarlah kini…
hidupku sendiri


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *