Hujan dan Banjir, Akhirnya Membatalkan Perjalanan Kami

Banjir menutupi jalanan di komplek Pondok Ungu Permai, Sektor 5, Bekasi.

Senin 5/2 kemarin saya dan kakak berencana mau ke Mojokerto, menemui keponakan beserta keluarganya yang berada di sana, sekalian untuk mencoba pengobatan kakak yang terkena stroke ringan dua tahun lalu, secara tradisional. Tiket kereta yang sudah dibelikan jauh hari oleh keponakan di sini sudah oke, tinggal print di Stasiun Senen. Karena rumah kami berjauhan, maka saya harus datang ke rumahnya di Pondok Ungu Permai, Bekasi,  Minggu sore dan nginap agar kami bisa bareng naik taksi online dari sana menuju Stasiun Senen.

Minggu malam Senin hujan turun cukup deras dan berulang kali, hingga jalanan di seputar Sektor 5 dan sekitarnya terendam air cukup dalam. Habis shalat subuh di masjid yang halamannya juga terendam air hingga mata kaki, kami berbenah. Jam 6, saya dan kakak sudah rapi dan siap berangkat. Teman kakak si pemilik taksi online, juga sudah dihubungi dan siap datang untuk mengantar kami.

Saat menunggu taksi datang, hujan turun lagi lumayan lebat. Saya yang mengalami macetnya jalan antara Pulo Gadung hingga Ujung Menteng karena adanya perombakan jalan raya Bekasi kemarin sore, sudah merasa gelisah. Sambil memperkirakan perjalanan dari rumah kakak ke Stasiun Senen akan memakan waktu sekitar 3 jam.

Lewat jam 7, taksi belum datang. Tak lama kemudian handphone kakak berdering, rupanya dari pengemudi taksi. Selesai menelpon kakak mengatakan taksi tidak bisa masuk, karena genangan air di perempatan Marrakash tidak bisa dilewati. Kami sudah pasrah, tak mungkin lagi mencari taksi lain, kalaupun dapat, melihat kondisi banjir dan membayangkan kemacetan yang akan kami hadapi, tidak mungkin akan sampai di Stasiun Senen kurang dari 3 jam!

Dalam suasana tidak menentu tersebut, keponakan laki bilang: “Kita coba saja naik kereta ke Senen, paling juga satu jam” katanya. “Kita cari saja lagi GrabCar buat ke stasiun Bekasi…” dia melanjutkan. Saya lalu membuka aplikasi Uber, mudah-mudahan ada yang mau ambil order dan bisa masuk. Agar pengemudi lebih mudah menemui kami, kami lalu berjalan menuju jalan lingkar komplek tempat kendaraan umum lebih mudah ditemui. Sementara ponakan memesan GrabCar. Tidak berapa lama ada Uber Car yang mengambil order, melalui chat pengemudi menanyakan posisi kami, setelah saya beritahu kami disuruh menunggu, dari peta yang terdapat di aplikasi terlihat posisinya cukup jauh, tertera perkiraan waktu kedatangan 24 menit. Mengingat lamanya waktu tunggu, timbul keinginan untuk membatalkan order dan membuat order baru, tapi sebaliknya juga ada keraguan kalau nanti bikin order baru akan memakan waktu lebih lama lagi.

Dalam masa keraguan tersebut pengemudi taksi mengirim chat lagi. “Cancel saja ordernya, bu! Banjir di sini macet, saya tidak bisa bergerak…”

“Ok, silakan mas batalkan…” jawab saya lemas.

Setelah dia membatalkan order, rupanya ada UberX lain yang masuk, semangat saya timbul lagi. Apalagi yang ini lebih dekat, seperti yang diperlihatkan di aplikasi, hanya sekitar 7 menit waktu tempuh. Saya melihat jam, pukul 7.35.

Baru saja saya menarik nafas lega, pengemudi UberX ini mengirim chat kalau dia juga kejebak banjir dan menyuruh saya membatalkan order. Dengan perasaan kesal saya lalu menyuruh dia yang membatalkan order, tapi dia bersikukuh kalau saya yang harus membatalkan. Saya tahu ini trik dia, bila dia yang membatalkan, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi kalau saya yang membatalkan, dia akan tetap mendapatkan keuntungan, justru saya yang akan kena pinalti karena waktu pemesanan sudah lebih dari 5 menit. Karena dia ngotot menyuruh saya yang harus membatalkan order, kesal HP lalu saya matikan. Keponakan yang tadi juga memesan GrabCar, akhirnya juga mengatakan kalau GrabCar yang dia pesan juga tidak berani masuk ke tempat kami menunggu, dengan alasan yang sama, macet dan banjir.

 

Tiket Kereta Api yang akhirnya hangus karena tidak terpakai

 

Karena sudah lewat jam delapan, dan tidak ada lagi harapan untuk bisa mendapatkan kendaraan untuk berangkat ke stasiun, kami kembali ke rumah. Rencana keberangkatan ke Mojokerto terpaksa dibatalkan, 2 tiket Kereta Gaya Baru dibiarkan hangus. Rencana untuk pergi berobatpun tertunda.

Sudah pasti batal berangkat, sayapun bersiap kembali pulang ke Tangerang. Walau hujan tak lagi turun saya tetap belum bisa langsung berangkat, karena jalanan masih tertutup banjir. Sehabis shalat zuhur dan makan siang, saya meninggalkan rumah kakak. Alhamdulillah jalanan sudah kering, hanya genangan kecil di beberapa tempat.

 

 


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *