Jam-jam Penuh Ketegangan

Soho Pancoran. Foto: Lucky I. Ismail

Senin, 17 Juni 2019

Jam menunjukkan pukul 9 lewat beberapa menit. Saya naik bus Transjakarta menuju Pancoran. Teman yang di Bukittinggi telah memberikan nama orang yang harus saya temui. Saya telah mengontak dia melalui WA, dan kami berjanji bertemu pukul 11.00 di Supermarket Gelael, yang lokasinya tidak begitu jauh dari Patung Dirgantara, Pancoran. Disanalah nanti transaksi kami akan berlangsung.

Turun dari bus Transjakarta, bergegas saya berjalan menuju gedung terdekat. Ada hal lain yang juga harus saya selesaikan sesegera mungkin. Timer yang secara alami telah memberikan isyarat, membuat saya tidak bisa santai membuang waktu, sebelum meledak di tempat yang sedang saya tuju.

Saya menyeberangi jalan MT Haryono yang mengarah ke Cawang. Saya memasuki halaman sebuah gedung pencakar langit yang berada di sebelah kiri jalan. Sebuah plank merek bertulisan SOHO terpampang di dinding gedung. Saya lalu membuntuti seorang wanita yang akan masuk gedung di lobby utama. Setelah sampai di lobby saya menahan langkah saya dan membiarkan si wanita yang tadi saya buntuti berjalan sendirian.

Saya berhenti sejenak diruangan yang cukup lega tersebut. Lobby gedung itu masih sepi, yang terlihat hanya seorang petugas kebersihan menunaikan tugasnya. Merapikan lagi ruangan yang sudah tertata rapi itu.

Mata saya menyapu seluruh ruangan, lalu melihat sebuah tanda yang saya cari, lalu tanpa menimbulkan kecurigaan petugas security yang berada dekat pintu masuk, saya berjalan menuju tanda yang saya lihat barusan. Saya berjalan lebih cepat namun tetap berusaha tidak menimbulkan kecurigaan. Begitu saya sampai di tanda yang saya lihat tadi, saya lalu cepat-cepat menyelinap masuk lewat pintu yang ada di sampingnya. Sementara alarm yang berada di tubuh saya berdetak makin cepat.

Ada beberapa pintu di ruangan yang saya masuki, namun saya tak bisa berpikir lebih lama lagi pintu mana yang harus saya masuki. Saya langsung menerobos salah satu pintu yang setengah terbuka, begitu sampai di dalam dengan cepat saya menutup dan mengunci pintunya. Untung tak seorangpun yang berada di dalam ruangan itu.

Setelah membuka tali ikatan yang membelit pinggang dan yang lainnya, pelan-pelan saya duduk di satu-satunya tempat duduk di ruangan itu. Dengan tenang saya lalu membuang benda yang memicu alarm yang ada di tubuh saya tadi aktif dan bereaksi.

Begitu benda itu nyemplung di lubang bangku yang saya duduki, saya pun bernafas lega. Beberapa saat kemudian saya lalu memutar sebuah tombol yang ada di samping, seketika air muncrat dari bawah membersihkan apa yang harus dibersihkan. Setelah merapikan pakaian, hal terakhir yang saya lakukan adalah menekan sebua tombol yang ada di belakang bangku yang saya duduki tadi. Dengan segera air mengucur kencang menghanyutkan benda yang baru saja saya buang, aman!

Saya keluar dari ruangan itu, lalu menuju ruangan lain di sebelah lobby, di sana beberapa meja dan kursi tertata dengan apik. Di dekatnya terdapat sebuah bar atau meja panjang yang di belakangnya terlihat ruangan tempat memasak. Rupanya sebuah cafe yang masih tutup.

Saya melihat jam yang ada di handphone, pukul 09.40. Saya lalu duduk di salah satu kursi, menunggu pukul 11.00, waktu yang kami sepakati untuk bertemu dengan sang penghubung.

Sambil duduk, saya melihat seorang laki-laki masuk ke ruangan yang saya tinggalkan tadi. Begitu pintu tertutup, mata saya beralih ke tulisan yang ada di sana. Dari tempat duduk saya, tulisan itu masih terbaca dengan jelas: TOILET.

Sambil memegang handphone, dalam hati saya bergumam; masih ada cukup waktu buat santai dan fesbukan. Saya lalu bersandar di kursi yang saya duduki.

Tapi dugaan saya salah, belum sampai lima menit, handphone saya berdering. Setelah saya angkat terdengar suara seoran wanita, dia yang telah membelikan saya tiket pesawat ke Padang untuk menunaikan tugas yang tengah saya jalani saat ini.

“Assalamualaikum, Ci…”

“Alaikumsalam, pak. Ada tempat penjualan uang dollar ndak di tempat bapak sekarang?”

“Belum tahu Ci, saya akan lihat dulu…”

“Minta tolong ya, pak, soalnya visanya harus dibayar dengan dollar…” Cici, nama panggilan wanita yang barusan menelpon itu, memutuskan hubungan telepon.

Saya segera bangkit dari kursi, lalu mendekati petugas kebersihan yang masih berada di lobby. Setelah dekat, saya menanyakan apakah ada money changer di sekitar gedung ini. Sang petugas kebersihan menjawab “money changer nggak ada pak, tapi coba bapak naik ke lantai dua, di sana ada travel biro. Mereka kadang juga suka jual dollar…”

Saya bergegas naik escalator, menuju lantai dua dan mencari travel biro yang dimaksud. Saat saya menemukannya, pas juga ada seorang sedang membuka kunci pintunya. Rupanya dia juga baru datang.
“Permisi, mas, numpang tanya. Disini ada jual dollar, nggak?”
“Maaf, pak. Kita nggak menjual dollar…”
“Oke, terimakasih, mas…”

Saat memutar badan hendak menuju escalator, tidak jauh dari travel biro, masih di lantai yang sama, saya melihat kantor Bank Mandiri. Segera saya berjalan menuju bank tersebut. Begitu sampai di pintu, seorang petugas security menyambut saya. Tanpa basa-basi saya lalu menanyakan, apakah Bank Mandiri menjual dollar, yang kemudian dijawab oleh sang petugas kalau mereka tidak menjualnya, sambil menyarankan saya untuk pergi ke MayBank yang berada di seberang gedung SOHO.

Saya lalu bergegas menuju escalator, lalu turun sambil tetap berjalan melangkahi anak tangga escalator yang sedang bergerak turun itu. Sampai di lobby saya lalu berjalan cepat mendekati petugas security. Sebelumnya, sebuah pesan melalui WhatsApp dari Cici, masuk, menanyakan nomor rekening saya.

Begitu sampai di tempat petugas security berdiri, saya lalu menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang saya tanyakan kepada orang-orang sebelumnya. Sang petugas lalu menyarankan saya untuk pergi ke seberang jalan, dan menanyakan di beberapa bank yang ada di seberang gedung SOHO Pancoran tersebut.

Setelah mengucapkan terima kasih, saya lalu berjalan meninggalkan gedung tersebut. Namun saat masih di halaman gedung, saya menyempatkan diri membalas pesan Cici di WhatsApp, mengirimkan nomor rekening saya. Jam di handphone saya sudah menunjukkan pukul 10.10. Nafas saya mulai sesak karena berjalan cepat sejak dari lobby hingga ke lantai dua, lalu kembali ke lobby lagi dan kini siap menyeberangi jalan MT Haryono.

Bersambung

Artikel sebelumnya: Allah Menyuruh Saya Pulang Dengan Mengirimi Tiket Pesawat

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.