Kegagalan Membayang di Ambang Mata!

Google

Kisah sebelumnya:
http://diankelana.web.id/detik-detik-yang-menentukan/

Pada jarak sekitar seratus meter dari posisi Grab yang saya tumpangi, saya melihat sebuah neon box ATM BCA dan memberitahukannya kepada pengemudi Grab. Untunglah posisinya ada di sebelah kiri jalan sehingga kami tak harus memutar lagi di jalan yang tersendat itu.

Belum lagi Grab parkir dengan benar, saya sudah turun dari sepeda motor buatan Jepang itu. Segera berlari menuju ATM yang kebetulan kosong, mengeluarkan kartu ATM dari tas selempang yang tergantung di pundak saya, memasukkan kartu ke mesin ATM, menunggu mesin loading, memasukkan password, memencet pilihan tarikan tunai, lalu mengetikkan angka 4.500.000 lalu mengklik tombol mesin ATM.

Sambil menghela nafas, saya menunggu mesin ATM itu bekerja. Saya biasanya cukup sabar menunggu mesin ATM bekerja, tapi saat itu saya merasakan mesin uang itu bekerja lambat sekali, sementara waktu berjalan terus dan saya harus menuntaskan pekerjaan saya dalam waktu kurang dari 20 menit!

Masalah muncul di saat tak diharapkan, mesin ATM itu tidak mengeluarkan uang yang saya minta! Panik, stress, kesal bercampur aduk menjadi satu.

Silakan masukkan nilai yang lebih rendah untuk mengambil uang anda

Membaca tulisan yang terpampang di monitor mesin ATM itu, baru saya ingat kalau mesin hanya bisa mengeluarkan maksimal 25 lembar uang kertas dalam setiap tarikan. Huh, kenapa hal ini tidak terpikirkan sebelumnya? Karena mesin ATM itu hanya mempunyai uang pecahan 50 ribu rupiah di dalamnya, maka tarikan maksimal yang bisa saya lakukan hanya 1.250.000 rupiah. Saat akan mengetikkan jumlah maksimal yang akan saya tarik itu, sekilas mata saya melihat kalau jumlah tersebut sudah tersedia sebagai salah satu pilihan auto di monitor. Ah, kenapa di saat terdesak waktu yang semakin mepet ini hal sepele seperti ini kok jadi hilang di ingatan?

Walau uang yang ditransfer hanya 4,5 juta, untuk menghemat waktu saya memencet tombol pilihan maksimal tarikan itu sebanyak empat kali. Setiap mesin ATM memuntahkan 25 lembar uang kertas berwarna biru itu, saya kembali memencet tombol yang sama, hingga akhirnya seratus lembar uang 50 ribu itu memenuhi tangan kiri saya. Setelah memasukkan uang ke dalam tas, saya segera menuju Grab yang dengan sabar menunggu.

Setelah naik Grab dan bergerak keluar dari lokasi ATM, saat menunggu jalan di depan kami agak renggang dari padatnya lalu lintas, di seberang jalan tidak jauh dari posisi kami berhenti, saya melihat ada Bank BRI. Saya segera turun dari Grab dan mengatakan kepada pengemudinya agar menunggu saya di halaman parkir Bank BRI yang ada di seberang jalan tersebut. Saya tidak mau kehilangan waktu untuk ikut memutar bersama Grab di tempat pemutaran jalan raya Pasar Minggu tersebut, yang lokasinya cukup jauh dari tempat kami berdiri.

Tanpa menunggu jawaban pengemudi Grab, saya berjalan cepat menyeberang jalan, memotong arus di sela-sela kendaraan yang berjalan lambat di kedua sisi jalan.

Sampai di pintu masuk BRI, kembali seorang petugas security menyambut saya. Setelah mengatakan akan membali dollar, sang petugas lalu menekan tombol mesin yang ada di sampingnya untuk mengambil nomor antrian, dan beberapa saat kemudian menyerahkan selembar kertas bernomor yang keluar dari mesin tersebut kepada saya, lalu menunjukkan teller yang akan melayani saya nantinya. Sambil mendengarkan arahan dari sang petugas, mata saya sekilas melihat jam yang menempel di dinding, persis di belakang meja sang teller. jam menunjukkan Pukul 10.50.

Saya melihat nomor antrian yang diberikan kepada saya, di kertas tersebut tertulis C2. Saya lalu melihat layar monitor informasi, terlihat saat itu teller sedang melayani customer C1. Alhamdulillah, saya tidak akan menunggu terlalu lama.

Dengan adanya kepastian saya bisa membeli dollar di BRI tersebut, rencana awal membeli dollar di MayBank, Pancoran, terpaksa saya batalkan. Karena posisi saya saat itu sudah cukup jauh dari lokasi bank tersebut.

Menunggu giliran untuk dilayani teller, baru saya sempat menjawab panggilan telepon yang sedari tadi berbunyi sambung menyambung dari dua lokasi berbeda, Bukittinggi dan dari sang agen yang saat itu sudah menunggu di Kedutaan, yang berdasarkan informasi yang diberikan, lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat saya berada.

Karena tidak ingin mengganggu suasana di ruang tunggu bank dan juga karena sedang berkonsentrasi menunggu panggilan teller, saya hanya menjawab singkat dengan mengatakan bahwa saya saat itu sedang berada di BRI.

Berselang dua menit, terdengar suara teller memanggil nomor C2. Saya segera merapat ke meja panjang dimana sang teller berada. Tanpa menunggu sang teller bertanya, saya langsung mengatakan ingin membeli US dollar sebanyak 300 dollar.

“Kita cek dulu rate hari ini, ya, pak!” jawab sang teller sambil memainkan mouse dan keyboard komputer yang ada di hadapannya. Karena sudah tahu kisaran harga nilai tukar yang berlaku hari itu, sebenarnya saya ingin mengatakan untuk langsung transaksi saja, agar tidak menghabiskan waktu saya yang semakin pendek, hanya tinggal 8 menit!
Tapi, karena sadar itu adalah prosedur standar yang harus dilakukan sang teller, saya harus menahan diri.

Tanpa melihat rate yang ditulis sang teller di secarik kertas yang disodorkan, saya dengan cepat mengatakan “Oke, saya butuh 300 dollar…” Lalu segera membuka tas dan mengeluarkan uang yang barusan saya ambil di ATM. Sementara sang teller menghitung berapa nilai transaksi yang harus saya bayarkan untuk pembelian dollar sebanyak itu.

Kembali sang teller mengulurkan secarik kertas yang berisi angka total harga yang harus saya bayar. Setelah melihatnya nilainya, saya langsung menyerahkan sejumlah uang yang ada di genggaman saya, yang tak lama kemudian teller memberikan uang kembalian berikut invoice bukti transaksi.

“Tunggu ya, pak!” kata sang teller, yang kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu yang berjarak hanya beberapa langkah di samping kanannya, membuka pintu dan menghilang ke ruang lain yang ada di belakang ruang kerjanya.

Begitu dia menghilang di balik pintu, mata saya segera beralih ke jam yang menempel di dinding, pukul 10.56 dan rasanya jam bergerak begitu cepat, sementara pelayanan terasa berjalan begitu lambat.

Sebenarnya cukup banyak bangku yang disediakan untuk tempat duduk para nasabah atau tamu yang mempunyai urusan dengan bank tersebut. Tapi suasana tegang mengingat waktu yang semakin pendek, membuat saya tak punya keinginan untuk duduk. Yang saya inginkan saat itu adalah sang teller segera keluar dari ruang belakang sambil memegang dollar dalam genggamannya, menyerahkannya kepada saya, dan saya segara kabur dari sana.

10.57, pintu belakang belum terbuka.
10.58, teller masih belum muncul. Panggilan telepon kembali sambung menyambung, tapi saya sengaja mendiamkannya, karena saya tidak ingin kepanikan mereka ikut mempengaruhi saya yang mungkin saja bisa membuat saya ikut “meledak”, sementara saya sendiri juga sudah merasakan tekanan yang cukup berat menunggu lambatnya sang teller kembali ke tempat saya menunggu.

10.59, beberapa pesan WhatsApp juga masuk, tapi saya tidak membacanya. Karena tanpa membacanya saja tensi saya juga sudah di atas normal, dan saya sudah bisa menduga pesan apa saja yang ada disana.

11.00 Teng!!!
Saya mengalihkan pandangan saya dari pintu tempat menghilangnya teller tadi. Saya tidak ingin nafas saya semakin sesak, tenggat waktu saya sudah habis. Saya juga sudah membayangkan kepanikan di dua tempat berbeda. Yang jauhnya ratusan kilometer dari tempat saya berdiri, maupun yang mungkin hanya sekitar 1 kilometer di selatan sana.

Beratnya tekanan yang saya rasakan, apalagi telah melewati deadline, membuat saya hanya bisa pasrah. Apapun yang akan terjadi setelah ini, hingga saya bertemu dengan sang agen nanti, saya akan menerimanya dengan segala konsekwensinya. Saya hanya menjalankan amanah yang menurut saya saya laksanakan dengan penuh ikhlas, tapi entahlah menurut penilaian Tuhan, maupun oleh orang yang memberi kepercayaan kepada saya. Saya tidak tahu apakah ini nanti akan berakibat panjang atau pendek, berakhir baik atau buruk buat saya.

Mata saya terasa berat, namun bunyi pintu terbuka menyadarkan saya dari lamunan. Dari balik pintu sang teller berjalan mendatangai saya, terlihat jelas di genggamannya terselip apa yang saya tunggu.

“Maaf ya, pak, agak lama. Bapak tidak duduk di kursi, ya?” tanya sang teller sambil menyerahkan uang yang ada dalam genggamannya. Saya hanya menjawab sapaan sang teller dengan senyuman, lalu memasukkan 3 lembar dollar ratusan yang baru saya terima ke dalam tas, lalu bergegas berjalan keluar bank.

Bersambung

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.