Mari Kembali ke Sajadah Polos

Sajadah dengan pola kotak-kotak dan bergambar

Ramadhan telah datang, umatpun menyambut dengan gembira. Masjid-masjid ramai dengan jamaah, khususnya shalat tarawih. Di beberapa tempat Masjid maupun mushalla tidak cukup menampung jamaah yang datang berbondong-bondong. Sehingga luber ke teras hingga halaman masjid maupun mushalla.

Untuk shalat wajib lima  waktu pun masjid lebih ramai dari biasanya. Bila hari-hari biasa jamaah hanya beberapa orang, namun di bulan ramadhan ini masjid ramai dikunjungi umat setiap datang waktu shalat wajib. Semuanya ingin mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, menanami ladang amal yang selama ini dibiarkan semak terbengkalai, untuk mendapatkan Rahmat dan Maghfirah dari Allah subhanahuwataala.

Namun sangat disayangkan semangat beribadah dan meramaikan masjid dan mushalla di bulan puasa ini, tidak diikuiti dengan pengetahuan maupun ilmu bagaimana shalat berjamaah yang benar dan sesuai dengan apa yang di ajarkan oleh nabi Muhammad SAW yang kemudian dipraktekkan para sahabatnya maupun umat setelah mereka.

Disamping awamnya para jamaah shalat berjamaah ini, juga didukung atau sebaliknya dikacaukan oleh desain perlengkapan shalat dalam hal ini sajadah yang diproduksi oleh pabrik dengan bentuk kotak persegi panjang dengan diberi hiasan gambar masjid atau ka’bah di tengahnya, seperti sajadah lembaran untuk satu orang.

Bagi jamaah yang masih awam ini, mereka menganggap bahwa setiap kotak pada sajadah yang sudah berpola dan bergambar ini adalah untuk masing-masing satu orang. Padahal ini adalah anggapan yang salah. Karena bila hal ini diterapkan, maka bagi jamaah yang badannya besar mungkin pas untuk satu kotak. Beda halnya dengan jamaah yang badannya kecil, ukuran kotak ini akan terlalu besar buat dia. Bila diikuti pula oleh jamaah di sampingnya dengan memakai satu kotak juga, maka akan terlihatlah bahwa saf yang mereka tempati itu renggang atau bolong-bolong yang berakibat saf mereka itu terputus dan menjadikan shalat berjamaah mereka itu berpotensi tidak sah atau batal. Bagi jamaah yang sudah mengerti situasi dan rukun syarat shalat berjamaah, maka dia tidak akan berpatokan pada kotak-kotak ini, melainkan akan langsung merapatkan diri kepada jamaah di sampingnya yang lebih dekat kepada imam.

Diantara beberapa rukun maupun syarat sahnya shalat berjamaah, adalah saf yanglurus dan rapat. Hal ini selalu diucapkan oleh imam yang memimpin shalat setiap akan melakukan shalat berjamaah. Tapi karena kurangnya pemahaman akan hal ini, maka kurang diindahkan oleh jamaah yang berada di belakang imam, kecuali hanya beberapa orang yang mungkin mengetahui dan menyadari hal itu, maka merekapun membuat barisan atau saf itu rapat dan lurus tanpa harus berpatokan kepada kotak-kotak sajadah yang salah desain tersebut.

Untuk mengatasi sajadah yang salah desain ini, ada baiknya para pengurus masjid kini mengganti sajadah itu dengan sajadah yang polos tanpa pola. Disamping itu juga senantiasa lebih intensif mengingatkan jamaah, bahwa saf yang rapat dan lurus itu adalah mutlak dalam shalat berjamaah. Sehingga tak kelihatan lagi saf dengan jamaah yang berdiri jarang-jarang atau bolong di antara sesama mereka, seperti barisan biji jagung yang kurang pupuk, jarang dan tak beraturan.

Join the Conversation

2 Comments

    1. Alhamdulillah, allah telah menyadarkan kita dari ketidak tahuan itu, semoga kita tidak lagi termasuk orang merugi karena kesalahan dalam menunaikan shalat berjamaah kita…. amiin.

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *