Mari Memelihara Kelestarian Hutan Dengan HCS Approach Toolkit 2.0

 

Hutan adalah paru-paru dunia. Hutan yang lestari akan menjadikan dunia ini tetap nyaman di huni oleh setiap makhluk, baik itu manusia, begitupun dengan hewan. Sebaliknya, hutan yang dibiarkan habis karena digunduli, baik untuk kegiatan industri ataupun untuk kelangsungan hidup manusia yang berada dilingkungan hutan itu, akan menjadikan kehidupan semua makhluk tidak di bumi ini tidak akan nyaman, yang berujung pada percepatan ancaman kepunahan seluruh penghuni bumi.

Kehidupan kita tidak akan pernah lepas dari apa yang kita dapatkan dari hasil hutan. Mulai dari rumah dengan segala isinya, hingga ke perlengkapan dan kebutuhan kita sehari-hari, bahkan sampai kepada benda yang pemakaiannya sangat pribadi, khususnya pada wanita. Sebuah contoh kecil, bisa kita bayangkan, berapa juta lembar tissue yang dipakai orang setiap hari? semua itu berasal dari kayu hasil hutan!

 

Mari hidup berdampingan dengan damai, karena kita akan saling melindungi.

 

Lihatlah, betapa banyak hewan-hewan yang kini terancam kepunahan. Karena mereka telah kehabisan habitat untuk bernaung, hingga akhirnya mereka semakin dekat ke perkampungan, dan itu merupakan kesalahan yang tak terelakkan. Karena di perkampungan mereka menjadi sasaran perburuan manusia yang juga merasa terancam kehidupannya, sehingga akhirnya semakin mempercepat kepunahan makhluk yang tak berdosa itu.

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk melanjutkan kehidupan yang damai dengan alam dan hutan yang juga terjaga kelestariannya serta hewan-hewan itu luput dari kepunahannya?

 

Orang Utan

Bila hutan kita habis, kita tidak akan pernah melihat hewan lucu ini lagi.

 

Jawabannya adalah: HCS Approach Toolkit 2.0

Sebuah metodologi gabungan baru yang berlaku secara global untuk melindungi hutan alam dan mengidentifikasi lahan-lahan yang dapat diolah sebagai areal produksi komoditas secara bertanggung-jawab, telah diluncurkan oleh koalisi antara industri dan Organisasi Non-Pemerintah(LSM). High Carbon Stock (HCS) Approach Toolkit merupakan sebuah terobosan bagi berbagai perusahaan, masyarakat, institusi dan praktisi teknis yang memiliki komitmen bersama untuk melindungi hutan alam sekunder yang tengah mengalami regenerasi, yang menyediakan cadangan karbon penting, habitat bagi keanekaragaman hayati dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

 

 

“Membiarkan deforestasi atau pembabatan hutan alam demi perkebunan sudah merupakan suatu hal di masa lalu. Hari ini, kami meluncurkan sebuah toolkit dengan metodologi yang memberikan panduan teknis yang praktis dan terbukti kuat secara ilmiah, untuk mengidentifikasi dan melindungi hutan alam tropis,” kata Grant Rosoman selaku Co-Chair dari High Carbon Stock (HCS) Steering Group.

“Selama dua tahun, para pemangku kepentingan telah menyatukan berbagai upaya untuk menyepakati satu-satunya pendekatan global untuk menerapkan praktek ‘Non-Deforestasi’. Metodologi yang dihasilkan telah memperluas persyaratan sosialnya, pengenalan dan penerapan terhadap data cadangan karbon,yang mencakup teknologi baru termasuk penggunaan LiDAR, untuk mengoptimalisasi konservasi dan hasil produksi serta dapat diadaptasi bagi petani-petani kecil.”

“Koalisi yang unik ini telah bersatu, dalam menanggapi meningkatnya kekhawatiran akan dampak pembabatan hutan alam tropis terhadap iklim, satwa dan hak-hak masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan. Kami menyambut positif atas diterapkannya metodologi ini dalam skala yang luas untuk mendukung hak-hak dan mata pencaharian masyarakat lokal, menjaga kadar karbon hutan dan keanekaragaman hayati serta kegiatan pengembangan terhadap lahan-lahan olahan secara bertanggung-jawab,” tambahnya.

Versi pertama dari HCS Approach Toolkit sebelumnya telah dirilis pada April 2015. Versi baru yang telah disempurnakan yang dirilis hari ini telah meliputi penelitian ilmiah terbaru, evaluasi dari percobaan lapangan, serta topik-topik baru dan masukan-masukan dari berbagai kelompok kerja HCS Approach Steering Group, sebuah organisasi keanggotaan yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan yang mengatur HCS Approach. Toolkit baru ini juga menyajikan penyempurnaan, penambahan dan perubahan-perubahan penting pada metodologinya, sebagai hasil dari ‘Kesepakatan Konvergensi’ antara HCS Approach dan HCS Study, pada November 2016 lalu. Dengan telah dilengkapinya HCS Approach Toolkit Versi 2.0, HCS Steering Group saat ini dapat fokus pada uji coba metodologinya, agar dapat disesuaikan bagi para petani kecil, serta memperkuat persyaratan sosial yang dikembangkan sebagai bagian dari proses konvergensi HCS.

 

Klasifikasi hutan berdasarkan kerapatannya yang terkait dengan stok karbonnya

 

Toolkit ini dimaksudkan untuk digunakan oleh praktisi yang hendak memastikan tidak dilakukannya pembukaan hutan di dalam konsesi yang diperuntukkan sebagai areal penanaman baru. Metodologi HCS Approach Toolkit Versi 2.0 ini akan mendapatkan hasil yang paling baik jika diterapkan oleh tim yang terdiri dari para ahli dengan berbagai keahlian. Keahlian tersebut dapat berbeda-beda, mulai dari analisis hak kepemilikan lahan dan pemetaan partisipatif hingga analisis citra satelit, inventarisasi hutan, kajian keanekaragaman hayati dan perencanaan lanskap. Maka dari itu, bab-bab berikut ini lebih bersifat teknis dengan tujuan praktisi terlatih dapat menggunakannya di lapangan untuk mengimplementasikan HCS Approach Toolkit Versi 2.0 dengan hanya sedikit panduan tambahan.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, HCS Approach Toolkit Versi 2.0 ini dimaksudkan untuk diintegrasikan dengan perencanaan pemanfaatan lahan secara keseluruhan yang juga melindungi kawasan NKT, lahan gambut dan lahan-lahan lain yang penting untuk masyarakat. Karena proses-proses tersebut telah dijabarkan dengan baik oleh sumber lainnya, maka toolkit ini tidak membahas proses tersebut secara rinci dengan asumsi bahwa ketika studi HCS  dimulai, maka kajian berkualitas tinggi mengenai nilai-nilai lain tersebut telah dilakukan. Meskipun demikian, para penulis telah berusaha sebaik mungkin untuk menyoroti tahapan-tahapan tersebut di dalam metodologi HCS dimana kajian-kajian lain diperlukan secara khusus.

 

Anggota Steering Group HCS Approach terhitung Mei 2017:

• Asian Agri

• Asia Pulp & Paper (Executive Committee)

• BASF

• Conservation International

• Daemeter

• EcoNusantara

• Forest Heroes

• Forest Peoples Programme (Executive Committee)

• Golden Agri-Resources (Executive Committee)

• Golden Veroleum (Liberia) Inc.

• Greenpeace (Executive Committee)

• Mighty

• Musim Mas

• National Wildlife Federation

• New Britain Palm Oil Ltd.

• Proforest

• P&G

• Rainforest Action Network (Executive Committee)

• Rainforest Alliance

• TFT (Executive Committee)

• Unilever (Executive Committee)

• Union of Concerned Scientists

• Wilmar International Ltd. (Executive Committee)

• WWF (Executive Committee)

 

Tentang HCS Steering Group

HCS Approach Steering Group adalah sebuah organisasi yang terdiri dari berbagai pemangku kepentingan, yang dibentuk pada tahun 2014 untuk mengelola HCS Approach. Steering Group (SG) dibentuk agar dapat mengawasi pengembangan selanjutnya dari metodologi tersebut, termasuk penyempurnaan terhadap definisi, objektif dan hubungan dengan pendekatan-pendekatan lainnya, untuk menghentikan praktek penggundulan hutan. SG pun memandu implementasi dari metodologi tersebut, berkomunikasi/berinteraksi dengan para pemangku kepentingan dan mengembangkan/menjalankan pengelolaan terhadap model dari metodologi tersebut.

 

Garis besar dari HCS Approach

 

HCS Approach Toolkit V2.0 terdiri dari 7 modul dan selengkapnya bisa dilihat di link bawah ini, dan baru tersedia dalam bahasa Inggris. HCS Toolkit V 2.0 dalam berbagai bahasa akan segera menyusul.

Language Link
English

 

Ikhtisar  7 modul HCS Aproach Toolkit

Bagi yang ingin melihat HCS Approach Toolkit V 1.0 yang dirilis bulan April 2015, bisa melalui link yang ada di bawah ini yang tersedia dalam 5 bahasa:

Language Link
English Complete Toolkit V1.0_Eng
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_Eng
Bahasa Indonesia Complete Toolkit V1.0_BM
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_BM
French Complete Toolkit V1.0_French
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_French
Portuguese Complete Toolkit V1.0_Portuguese
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_Portuguese
Spanish Complete Toolkit V1.0_Spanish
Toolkit V1.0 Chapters 1-7_Spanish

 

Hutan yang lestari dan terjaga, akan menjadikan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak pewaris negeri ini.

 

Jelaslah sudah, bahwa masa depan kita maupun generasi pewaris negeri ini akan ditentukan dengan bagaimana kita memelihara dan menjaga kelestarian hutan kita. HCS Aproach Toolkit 2.0 hanyalah sarana untuk memelihara maupun melestarikan hutan kita itu. Dia tidak akan berarti apa-apa bila kita mengabaikannya! Kepunahan akan semakin cepat mendatangi kita maupun hewan-hewan yang sudah langka itu. Kerja sama semua pihak yang berkepentingan harus bergandengan tangan dalam memelihara hutan kita dan memperpanjang usia kehidupan bumi ini dengan segala isinya. Tidak ada yang boleh berpangku tangan sambil menonton dengan pandangan masa bodoh. Hidup kita, masa depan kita, ditentukan bagaimana kita mengaplikasikan HCS Approach Toolkit 2.0 secara baik dan benar.

 

Sumber:
http://highcarbonstock.org/the-hcs-approach-toolkit/
Twitter: @Highcarbonstock
Youtube: High Carbon StockApproach

 

Semua foto dan desain grafis milik http:http://highcarbonstock.org/


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *