Menelusuri 3 Propinsi 6,5 Jam Diiringi Hujan

 

 

Batal berangkat ke Mojokerto, saya kembali ke Tangerang. Cukup lama saya menunggu banjir surut dan jalanan kering, hingga selesai shalat zuhur dan makan siang dengan nasi bungkus buat bekal di Kereta yang disiapkan oleh istri kakak.

Jam 14 kurang beberapa menit saya meninggalkan rumah kakak. Sambil berjalan ke jalan raya saya mengeluarkan handphone untuk memesan Uber. Belum sempat mendapatkan Uber motor, saya melihat ada angkot Koasi ngetem menunggu penumpang. Sambil berjalan menuju angkot saya segera mematikan aplikasi Uber yang masih sibuk mencari pengemudi yang berada di sekitar sana.

Saya naik angkot yang masih kosong tersebut, rupanya anggkot ini baru beroperasi karena banjir sudah surut dan jalan sudah kering. Angkot segera berjalan santai sambil mencari tambahan penumpang, setelah naik beberapa penumpang lagi baru pengemudinya menambah kecepatan sambil matanya tetap liar mencari calon penumpang yang berdiri di pinggir jalan.

Saat angkot melewati kawasan pabrik Pondok Ungu, hujan gerimis mulai turun yang semakin lama semakin lebat. Sampai di pertigaan jalan raya Bekasi dekat pabrik penyulingan air Aqua, hujan semakin lebat. Saya yang tadinya ingin turun dan lalu berjalan ke halte bus Transjakarta yang berada di gerbang komplek perumahan Harapan Indah, akhirnya mengurungkan niat dan meneruskan perjalanan bersama angkot.

Sampai di depan stasiun Bekasi saya turun dari angkot, hujan gerimis masih turun tapi tidak terlalu rapat. Sambil berjalan menuju gerbang stasiun saya mengeluarkan dua kartu Flazz untuk ditempelkan di pintu masuk peron. Saya lupa, mana diantara kedua kartu tersebut yang masih berisi saldo untuk membayar tiket kereta commuterline menuju Jakarta.

Saat menempelkan kartu Flazz di scanner pintu masuk peron, tak satu juga diantara kedua kartu itu yang berhasil, padahal saya yakin salah satu diantara kedua kartu itu masih berisi cukup saldo untuk membayar tiket kereta. Melihat saya gagal berulangkali tersebut, seorang petugas menghampiri saya lalu mencoba kembali melakukan scanning. Gagal dengan kartu pertama si petugas lalu bilang; “kartunya belum diaktifasi, pak! Katanya. Saya lalu menyerahkan kartu yang satu lagi, sama saja! Petugas lalu menyuruh saya mengaktifkan kartu Flazz saya, “silakan bapak aktifkan dulu kartunya di kotak merah itu…” kata petugas tersebut. Rupanya kedua kartu Flazz saya tersebut belum diaktifasi untuk dipakai sebagai pembayaran tiket kereta commuterline.

Setelah menempelkan kartu Flazz di kotak activator yang ditunjuk petugas tersebut, saya kembali ke pintu masuk. Benar saja begitu kartu saya tempelkan, lampu hijau segera menyala dan palang pintunya bisa didorong dan saya berhasil masuk ke peron stasiun.

Saat masih celengukan mencari jalur kereta yang menuju Jakarta Kota, dari pengeras suara stasiun operator mengatakan kereta jurusan Jakarta Kota ada di jalur 3, saya pun berjalan ke jalur tiga.  Tapi baru saja aya berdiri menunggu kereta, operator mengumumkan lagi ada kereta dari Cikarang yang juga menuju ke Jakarta kota akan masuk di jalur 1. Kerumunan penumpang yang tadinya sudah menumpuk di jalur 3 akhirnya berbondong menuju jalur 1.

Setelah kereta dari Cikarang masuk dan berhenti, begitu pintu terbuka penumpang berebutan masuk. Walau tidak terlalu berdesakan, tapi di dalam kereta tersebut cukup banyak penumpang yang berdiri, saya pun tidak kebagian tempat duduk. Rupanya cukup banyak juga penumpang yang naik di stasiun Cikarang dan stasiun lainnya sebelum sampai di stasiun Bekasi ini. Teringat saat pertama masuk peron stasiun bahwa kereta jurusan Jakarta Kota juga akan masuk di jalur 3, saya lalu turun lagi dari kereta dan berjalan kembali ke jalur 3, beberapa saat kemudian kereta di jalur 1 berangkat.

Tidak sampai lima menit setelah kereta di jalur 1 berangkat, kereta jurusan Jakarta Kota berikutnya pun masuk di jalur 3. Karena sebagian besar penumpang telah tersedot ke kereta sebelumnya, maka penumpang yang menunggu kereta di jalur 3 ini tidak lagi banyak, sehingga saat naik kereta tidak lagi berebutan dan semuanya mendapat tempat duduk.

Saya tidak tahu pasti berapa lama kereta yang saya tumpangi ini berhenti, mungkin sekitar 10 menit. Karena banyak juga penumpang yang baru naik, akhirnya saat berangkat meninggalkan stasiun Bekasi, kerta ini penuh juga, terlihat ada beberapa penumpang yang berdiri karena tidak kebagian tempat duduk.

Sendiri di gerbong yang sudah ditinggalkan penumpangnya, merasa jadi bos kereta api… hehehe

Sepanjang perjalanan, beberapa kali hujan menyirami kereta yang saya tumpangi. Karena suhu udara cukup dingin, saya sempat tertidur dan baru terbangun saat kereta sudah sampai di Stasiun Manggarai. Saat terbangun saya lihat kereta sudah nyaris kosong, bahkan gerbong yang saya tumpangi malah berisi cuma saya sendiri, sementara gerbong depan dan belakangnya lumayan berisi beberapa orang.

Karena saya memakai kartu Flazz, saya tidak terlalu terikat di stasiun mana saya akan turun. Saya hanya memikirkan di stasiun mana saya akan turun agar memudahkan saya transit naik bus Transjakarta. Berbeda dengan kalau saya membeli tiket sekali jalan untuk satu tujuan, bila saya tidak turun di stasiun yang saya sebutkan saat membeli tiket, ada kemungkinn saya akan kena denda!

Saya berusaha menahan kantuk yang kadang membuat saya sempat terpejam beberapa menit hingga melewati stasiun Cikini dan baru terbangun lagi ketika mendekati stasiun Gondangdia. Untuk melawan kantuk, saya mengeluarkan handphone lalu online melihat foto-foto teman di Instagram dan juga Facebook. Karena kereta tidak berhenti di stasiun Gambir, perjalanan kereta dari Gondangdia ke stasiun berikutnya terasa lebih cepat.

Saya turun di stasiun Juanda. Tempat ini saya pilih karena lebih dekat ke halte bus Transjakarta yang berada di depan stasiun Juanda dan berhadapan dengan masjid Istiqlal. Sebelum berjalan menuju halte bus Transjakarta, saya lalu mencari mushalla yang ada di lantai dasar stasiun untuk shalat ashar. Selesai shalat saya lalu berjalan menuju halte bus. Keluar dari stasiun hujan masih turun, walau tidak begitu lebat, tapi lumayanlah buat memerciki kepala serta baju yang saya pakai berikut tas yang saya sandang. Walau saya membawa payung, tapi rasanya tanggung untuk mengeluarkannya dari tas, karena area terbuka yang langsung kena hujan saat turun dari tangga penyeberangan ke halte bus Transjakarta hanya sekitar 15 meter.

Setelah masuk ke halte bus Transjakarta dengan memakai kartu Flazz yang tadi juga dipakai untuk naik kereta, saya lalu menunggu bus jurusan Kalideres. Agar kebagian tempat duduk, saya menaiki bus yang datang dari arah Harmoni menuju halte terakhir di Pasar Baru. Saat penumpang turun di Pasar Baru, saya satu-satunya penumpang yang tidak ikut turun. Seperti dugaan saya sebelumnya, bus tersebut segera penuh oleh penumpang.

Hujan dan cuaca dingin kembali membuat saya tertidur di dalam bus yang membawa saya ke Kalideres. Saya terbangun saat bus berhenti di halte Rawa Buaya, Cengkareng. Karena tidurnya cukup pulas, membuat saya terbangun dengan kondisi yang lebih segar. Saya mengambil handphone dan mencoba online, rupanya baterai Samsung J7P  saya tinggal 16 persen, saya lalu mengambil powerbank dan kabel data, sejenak kemudian pengisian baterai handphone tersebut berjalan lancar.

Sampai di terminal Kalideres dan turun dari bus, saya berhenti sejenak di halte, tidak langsung turun. Hujan dan genangan air masih menjadi kendala bagi saya untuk berjalan menuju terminal angkot F2 yang menuju Cadas, Tangerang, yang jaraknya dari halte bus  Transjakarta sekitar 100 meter. Akhirnya setelah berfikir sejenak saya mengambil keputusan untuk naik angkot jurusan Kota Bumi yang melintas di depan halte bus Transjakarta. Karena hujan agak lebat, saya terpaksa memakai payung menuju angkot yang berhenti hanya sekitar 10 meter di depan saya. Untunglah angkot yang saya tumpangi itu langsung jalan dan tidak ngetem menunggu penumpang di terminal. Hanya saja keluar dari terminal angkot berjalan lebih santai sementara pengemudinya meneriakkan “Bumi, bumi, Kota Bumi…! Di sepanjang jalan depan terminal hingga di depan pasar Hipli Semanan.

Saat melewati kawasan Batu Ceper, terdengar azan magrib berkumandang, saya membatin, semoga angkot yang saya tumpangi ini bisa sampai di pertigaan Nanggrek sebelum Isya dan melaksanakan shalat Magrib di masjid yang berada di sudut pertigaan tersebut. Karena saya tidak yakin perjalanan saya kali ini memenuhi syarat untuk melakukan shalat jamak Magrib dengan Isya.

Rupanya doa saya dikabulkan Allah. Begitu angkot yang saya tumpangi sampai di Nangrek, setelah turun dan membayar ongkos angkot, saya bergegas menuju masjid, bersuci di toilet yang terpisah agak jauh dari tempat wudhuk, lalu berwudhuk dan setelahnya langsung masuk masjid dan shalat Magrib. Selesai shalat Magrib saya lalu melihat jam dan jadwal shalat Isya. Rupanya masih ada waktu 12 menit menjelang masuknya waktu shalat Isya. Saya memilih beristirahat sambil menunggu datangnya waktu shalat Isya, agar bisa shalat berjamaah dan bisa langsung istirahat saat sampai di rumah.

Selesai shalat Isya saya duduk di teras masjid, mengambil handphone yang masih di charge dan membuka aplikasi Uber untuk mengantar saya pulang. Tidak lama menunggu, saya mendapatkan Uber pesanan saya. Menempuh perjalanan terakhir sepanjang 10 km lebih alhamdulillah lancar tanpa hujan, saya sampai di rumah pukul 20.33. Perjalanan 6,5 jam dengan berganti 5 moda transportasi: Koasi, Kereta Commuterline, Bus Transjakarta, Angkot KWK dan terakhir ojek online Uber. Total perjalanan sekitar 80 kilometer.

Karena kepulangan saya di luar rencana, dimana seharusnya saya sedang dalam perjalanan menuju Mojokerto, maka saya tidak menemukan nasi di rumah. Untung toko sebelah masih buka, maka makan malamnya cukup dengan Sarimi isi 2! Alhamdulillah…


Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *